Tragedi Malam Pertama

Tragedi Malam Pertama
bab 13


__ADS_3

Pagi itu Daniel dan Julius berangkat ke kantornya untuk bekerja sedangkan Marcell karena dia masih dalam pemilihan, dirinya tidak ke kantor dan memilih untuk tetap di rumah sembari menjalani proses penyembuhan luka yang dideritanya.


Meski dirinya sudah merasakan baik-baik saja dan lukanya juga sudah mengering tapi Dokter menyarankan agar Marcell tidak banyak bergerak dulu dalam beberapa hari ini.


Di rumah Daniel dan keluarganya. Semua orang sudah menjalankan aktivitasnya masing-masing termasuk dengan Merlyne.


Ya, hari ini Merlyne ada reunian bersama teman-teman lamanya, jadi pagi itu setelah Daniel dan Julius pergi, dirinya pun ikut pergi.


Di dapur. Chintya sedang mencuci piring kotor bekas mereka sarapan.


"Mbak Chintya biar Siti aja yang nyuci piring," ucap Siti.


"Nggak apa-apa Mbak, aku aja."


"Sekarang kan gak ada Ibu jadi Mbak Chintya istirahat aja di kamar."


"Biarin aja, aku bisa kok Mbak. Mbak kerjain yang lain aja."


"Tapi Mbak Chintya, ini kan seharusnya kerjaan saya."


"Nggak apa Mbak, lagian aku gak merasa terpaksa melakukan ini."


"Ya udah, kalau gitu saya mau nyapu halaman ya Mbak."


"Iya, silahkan."


Siti pun pergi meninggalkan Chintya yang sedang mencuci piring itu.


Grep!


Tiba-tiba Marcell memeluk Chintya dari belakang.


Chintya yang terkejut langsung memukul kepala Marcell dengan centong yang sedang dia cuci.


Sontak Marcell langsung kesakitan dan buru-buru melepaskan tangannya yang melingkar di perut Chintya sambil meraung kesakitan.


"Astaghfirullah Mas, Mas kamu gakpapa?"


Chintya langsung menghentikan aktivitasnya lalu menghampiri dan melihat kening Marcell yang baru kena pukul olehnya.

__ADS_1


"Aw sakit. Kamu tega banget sih masa suami sendiri dipukul pakai sendok nasi," ucap Marcell sembari terus memegangi keningnya yang terasa sakit.


Niatnya ingin romantis namun yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasinya. Marcell malah mendapat pukulan dari sang istri yang merasa terkejut dengan kehadirannya.


"Maaf Mas tadi aku refleks aja gitu lagian kamu meluk kok gak bilang-bilang, untung bukan pisau yang aku pegang tadi."


"Aku kan mau meluk kamu. Aku juga gak ada rencana mau meluk kamu, tiba-tiba pas aku ngeliat kamu dari belakang entah kenapa tanganku tergerak memeluk kamu."


"Maaf ya Mas, aku gak sengaja tadi. Coba aku lihat lukanya berdarah gak."


Chintya meraih tangan Marcell lalu melihat kening sang suami.


"Gak berdarah sih tapi memar. Ayo aku kompres biar gak sakit-sakit banget."


"Nggak usah, aku gak apa-apa kok. Kamu lanjut aja nyuci piringnya."


"Beneran? Serius nih?"


"Iya, serius banget malah."


"Ya udah kamu duduk aja di situ ya liatin aku nyuci piring."


Marcell berdiri lalu melangkah menghampiri Chintya!


"Tapi aku maunya meluk kamu kayak gini," ucap Marcell sembari memeluk Chintya dari belakang.


"Kalau gini gimana aku nyuci piringnya?"


"Ya yang kerja kan tangan kamu bukan badan kamu jadi aku tetap peluk kamu dan kamu tetap cuci piringnya."


Chintya memutar badannya dan kini menjadi menghadap Marcell.


"Mas kamu gak puas apa dari semalam meluk aku terus."


Marcell menempelkan keningnya ke kening Chintya!


"Aku gak akan pernah bosan sama kamu. Meski setiap detik kita bersama, aku gak akan pernah bosan."


"Gombal."

__ADS_1


"Nggak gombal sayang, aku serius."


Dari belakang mereka tepatnya dari balik tembok pembatas antara dapur dan ruang keluarga. Siti memperhatikan pasangan pengantin baru itu dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.


"Mereka mesra banget, entah apa yang terjadi kedepannya saat Mas Marcell tahu kalau Ibu tidak menyukai Mbak Chintya dan apa Mbak Chintya mampu bertahan dengan Mas Marcell dalam keadaan ibu mertuanya yang selalu memaki nya," ucap Siti didalam hatinya.


**********


Siang hari saat Merlyne sudah selesai reunian bersama teman-temannya. Dia akan pulang namun sebelum itu dirinya menyempatkan datang ke toko tas favoritnya.


Dirinya ingin membeli tas baru setelah lumayan lama tidak berbelanja.


"Hai Tante Merlyne," ucap seorang gadis pada Merlyne saat Merlyne baru masuk ke dalam toko khusus tas mewah itu.


"Soraya? Hai sayang, kapan pulang dari Amerika?" ucap Merlyne sembari memeluk Soraya hangat.


"Baru beberapa hati Tante. Gimana kabar Tante dan keluarga?"


"Baik, Alhamdulillah baik. Kamu sendiri bagaimana? Orang tuamu gimana?"


"Kami semua baik-baik aja Tante."


"Kamu mau belanja di sini juga?"


"Iya Tante, aku mau beli tas."


"Tante juga, yuk kita cari bersama."


Merlyne dan Aya pun mencari tas yang mereka inginkan dan yang cocok untuk mereka pakai.


**********


Di kediaman Alice.


"Pak Ujang, maaf ya atas sikap saya tadi. Saya lagi kacau dan jadinya Bapak deh yang kena sasaran kemarahan saya," ucap Alice setelah mulai tenang.


"Gak apa-apa Non lagian ini sudah tugas Bapak membersihkan dan merawat rumah ini."


"Sekali lagi saya minta maaf ya"

__ADS_1


bersambung


__ADS_2