Transmigrasi Alesha

Transmigrasi Alesha
PROLOG


__ADS_3

"Ikut gue!"


Dia hanya pasrah saat kerah bajunya ditarik layaknya seekor kucing. Berontak pun percuma, karena ini semua kesalahannya. Ia dibawa ke bagian belakang sekolah, yang jarang dilalui oleh para warga sekolah.


"Lo ngapain bawa gue ke sini?" tanyanya saat tarikan di kerah bajunya terlepas.


"Sebagai hukuman karena lo udah ngilangin novel milik kakak gue, gue mau lo ambil buah mangga itu buat gue."


Kepalanya menengadah, seketika mulutnya terbuka.


"Salsa! Lo gila? Nih pohon lumayan tinggi!"


Dia tidak terima jika harus menaiki pohon mangga yang tingginya bisa disebut lumayan. Apalagi dia cewek, mana pake rok, lagi.


"Gue gak peduli, Alesha Anastasya. Salah siapa lo ngilangin novel milik kakak gue yang lagi hamil. Nah, ini kan jadinya. Dia ngidam pengen mangga muda," jelas Salsa yang merupakan sahabat Alesha.


"Beli, kan, bisa!"


"Dia mau yang langsung dari pohonnya."


Alesha berdecak kesal, sedangkan Salsa hanya terkekeh pelan.


"Karena gue baik hati. Gue udah siapin tangga buat lo ngambil buah mangganya."


Memang ada sebuah tangga terletak di samping pohon mangga tersebut. Jadi sepertinya ia tidak perlu memanjat.


"Kalo ketauan guru, gimana?" tanya Alesha.


"Tenang, Al. Gak bakalan ketauan, kok."


"Awas, ya. Kalo ketauan lo yang tanggung jawab," ucap Alesha seraya menatap sahabatnya tajam.


"Iya, bawel. Cepetan ambil mangganya."


"Iss, sabar, lah!"


Salsa tidak salah melakukan hal ini. Salah siapa Alesha teledor menghilangkan novel milik kakaknya. Padahal gadis itu sudah berjanji akan mengembalikannya dalam tiga hari, namun ternyata sudah seminggu berlalu pun novelnya tidak dikembalikan.


Dengan hati-hati Alesha mulai menaiki satu persatu anak tangga. Dia juga sesekali melihat sekitar, takut tiba-tiba ada guru yang memergoki aktivitasnya mencuri mangga. Sedangkan Salsa memegangi tangganya, untuk berjaga-jaga agar Alesha tidak terjatuh.


"Satu cukup gak, Salsa?" tanya Alesha sedikit berteriak.


"Kakak gue maunya tiga."


"Agak ngelunjak, ya," gerutu Alesha.


Salsa terkekeh mendengar gerutuan Alesha. Tanpa butuh waktu lama,Alesha berhasil mendapatkan tiga buah mangga muda.


"Lo bisa gak turunnya?" tanya Salsa sedikit khawatir.


"Ya kali, bisa naik gak bisa turun."


"Yaudah, hati-hati."


Alesha mulai menurunkan kaki kirinya. Dibandingkan dengan menaiki tangga, dia lebih takut saat turunnya. Tangga yang dipijaknya sedikit bergoyang.


"Hati-hati, Al," pesan Salsa seraya masih memegangi tangga.


Tanpa mereka berdua sadari, seorang guru pria berjalan dengan tergesa ke arah mereka. Menatap tajam ke arah dua muridnya yang sudah sangat lancang mencuri mangga milik sekolah.


"BERANI-BERANINYA KALIAN MENCURI DI SEKOLAH

__ADS_1


Keduanya terlonjak kaget. Akibat terkejut dengan teriakan sang guru, Salsa tanpa sengaja melepaskan pegangan tangannya. Dan Alesha yang sama terkejutnya kehilangan keseimbangan, sehingga ....


BRUK!!


"ALESHA!"


\*\*\*\*\*\*\* ***BAB 1***: ***Beda raga*** \*\*\*\*\*\*\*\*


"Shh...."


Ringisan kecil terdengar dari mulut gadis yang kini terbaring di atas brankar. Ia mencoba membuka matanya perlahan. Pandangan yang pertama kali ia lihat adalah ruangan yang tidak terlalu besar, ada sebuah lemari kaca yang berisi obat-obatan beserta peralatan kesehatan lainnya, dan sebuah sofa panjang.


Dia berusaha untuk duduk. Kepalanya terasa sangat pening sekali. Ia mencoba mengingat-ngingat kenapa dirinya bisa berada di UKS.


"Aiss, gara-gara si Salsa nih gue jadi pingsan."


Ya, dia adalah Alesha Anastasya. Ia ingat mengapa dirinya bisa berada di sini. Saat akan tengah turun dari tangga ia terjatuh karena kurangnya keseimbangan.


"Bentar, keknya ada yang aneh," ujarnya entah kepada siapa.


"Perasaan UKS sekolah gue gak kaya gini, deh.""UKS sekolah gue kan kotor, dan gak ada lemari kaca begini, adanya lemari kayu yang udah mau roboh."


Saat di tengah-tengah kebingungannya. Tiba-tiba pintu UKS terbuka lebar, menampilkan seorang gadis dengan bando merah yang terpajang di kepalanya.


"Al, lo gak papa, kan? Kepala lo gak ada yang luka sama sekali, kan?"


Alesha hanya terdiam. Dia bingung siapa orang tersebut. Mengapa orang itu seperti mengenal dirinya, padahal ia sama sekali tidak kenal.


Ah, pasti anggota PMR, batinnya.


"Gue gak papa. Salsa mana?"


"Salsa? Salsa siapa?" tanyanya dengan raut wajah bingung.


"Sahabat lo cuma gue, Al."


"Ha?" Alesha cengo. Sejak kapan orang ini menjadi sahabatnya? Jelas-jelas dia


tidak mengenalnya sama sekali.


"Nama lo siapa?"


"Aneh lo, Al. Gue Melita, Melita bintang cahya." Ada nada sedikit kesal di setiap perkataannya.


"Lo kenapa sih, Al? Amnesia gara-gara kena pukul bola basket?" lanjutnya.


"Bola basket? Jelas-jelas gue pingsan gara-gara jatuh dari pohon mangga."


"Pohon mangga apanya, sih? Lo pingsan gara-gara kena pukul bola basket sama si Alvaska !" ucap Melita sedikit ngegas.


Alesha terdiam. Nama yang barusan disebutkan sangat asing di telinganya. Tetapi, sepertinya ia pernah mendengar nama itu.


"melita.....Alva-ALVASKA?!"


"Iya, Alvaska. Alvaska Galendra wiliam."


Kedua bola matanya membulat sempurna. Alvaska Galendra Wiliam? Itu adalah nama sang tokoh utama dalam novel milik kakaknya Salsa. Tidak mungkin jika ia masuk ke dalam novel.


"Nama gue siapa?" tanya Alesha untuk memastikan.


"Lo Alesha. Alesha liondra."

__ADS_1


Seketika bahunya melemas. Tidak mungkin dia mengalami transmigrasi. Lalu bagaimana nasib tubuhnya di dunia nyata?


"Ales, lo beneran amnesia?" tanya melita mulai panik.


Alesha tersadar dari lamunannya dan langsung tertawa hambar.


"Hahaha Gue cuma kena pukul bola basket, bukan jatuh dari lantai dua. Yakali, amnesia," ucapnya seraya masih tertawa.


melita menatapnya ngeri saat mendengar tawa Alesha. Saat itu bel tanda istirahat selesai berbunyi.


"Gue kira lo beneran amnesia. Syukurlah kalo engga."


Syukurlah kalo engga."


"Lo mau balik ke kelas, atau istirahat di sini?"


"Gue di sini aja, kepala gue masih sedikit pusing," jawab Alesha.


"Okay. Nanti gue izinan ke Bu Henara, gue balik ke kelas dulu."


Sepeninggalnya melita, Alesha termenung. Dia memikirkan kenapa bisa dirinya bertransmigrasi ke dunia novel? Sangat tidak masuk akal. Yang lebih parahnya, ia menempati tubuh sang antagonis.


Alesha liondra. Ia merupakan antagonis cantik dalam novel yang kini ditempati oleh Alesha Anastasya. Awalnya Alesha adalah sang protagonis, namun setelah kedatangan murid baru di kelasnya yang bernama bella Amira putri. Dia berubah menjadi sang antagonis.


Kenapa? Itu dikarenakan sang tokoh utama laki-laki menyukai gadis bernama Morra. Dia adalah Alvaska Galendra wiliam, sang ketua Zelvaros.


Anggota Zelvaros terdiri lebih dari tiga puluh anggota, dan yang pertama kali yang membentuk Zelvaros adalah abang Alesha, Aldevano Levarendo.


Alesha merupakan anak terakhir dari dua bersaudara. Dia dan Devano hanya berbeda setahun.


Awalnya Alesha selalu diperlakukan layaknya seorang queen oleh semua orang disekitarnya, termasuk anggota Zelvaros. Namun semuanya berubah saat Alvaska menyukai morra.


Alesha marah besar saat mengetahui bahwa mereka berdua diam-diam menjalin hubungan dibelakangnya. Dari awal bertemu dengan Alvaska, Alesha sudah menaruh perasaan lebih. Namun Alvaska selalu mengabaikannya dan berasumsi kalau Alesha hanya bercanda.


Sejak saat itu juga, Alesha selalu membully morra secara terang-terangan. Sehingga semua orang memberi cap sebagai antagonis kepada dirinya. Devano yang merupakan abangnya pun ikut membencinya, karena dia tidak suka melihat Alesha yang membully orang lain, apalagi morra yang menurutnya tidak salah sama sekali.


Karena kebenciannya terhadap morra yang semakin menjadi. Alesha selalu menghalalkan segala cara untuk membuat gadis itu lenyap. Namun di ending cerita, Alesha meninggal secara mengenaskan karena ketauan mencelakai gadis milik ketua Zelvaros. Dan pelaku pembunuhnya adalah Alvaska sendiri.


Alur cerita yang sangat klise, seperti kebanyakan cerita lainnya.


"Gak! Gue gak boleh mati konyol gara-gara cinta!" ujar Alesha tersadar dari lamunannya. Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Gue rasa ini cuma mimpi."


Alesha mencubit lengannya untuk memastikan ini mimpi atau tidak.


"Aw! Kok sakit anjir. Berarti gue gak lagi mimpi dong?" tanyanya entah kepada siapa.


"Gak elit banget, sih. Masa cuma gara-gara gue jatuh dari pohon mangga nyampe transmigrasi kek gini."


Mata Alesha menangkap sebuah benda pipih di atas meja samping brankar. Sudah bisa dipastikan itu ponsel miliknya sekarang. Ia segera mengambil ponsel tersebut dan membuka aplikasi kamera.


Alesha terbengong melihat wajahnya di layar kamera. Kedua matanya mengerjap beberapa kali.


"Kok muka gue masih sama? Perasaan kalo gue baca cerita yang transmigrasi gitu, wajahnya berubah jadi cantik. Lah, napa wajah gue gak berubah?"


Alesha jadi bingung sendiri. Dia menghela napas panjang seraya kembali merebahkan tubuhnya.


"Kalo gue di sini, berarti di dunia nyata gue metong, dong?"


Kedua matanya membola saat sadar akan ucapannya sendiri.

__ADS_1


"HUAAA... EMAK, ARAYA GAK MAU MATI"!! .


see you


__ADS_2