
-HAPPYREADING-
"CANGCIMEN-CANGCIMEN KUACI PERMEN." ... KACANG
"Berisik, lo! Bukannya salam malah cosplay jadi pedagang cangcimen," tegur Jefran.
"Assalamualaikum ya ah–"
Buk!
Belum juga Aslan menyelesaikan perkataannya, sebuah bantal sofa melayang ke wajahnya.
"Alvero biadab! Belum juga gue selesai ngomong maen lempar aja. Untung aja wajah ganteng gue permanen."
"Gue udah tau otak sesat lo," ujar Alvero.
"Jahat amat lo, ro. Otak gue kan masih suci bersih kaya kertas hvs."
Alvero tidak membalas perkataan Aslan. Jika ia terus membalas perkataannya, berarti tidak ada bedanya dia sama Aslan.
"Si Alvaska sama si Jefrin kemana?"
tanya Aslan seraya mengambil minuman yang sudah tersedia.
"Si Jefrin lagi ganti baju. Kalo si Alvaska lagi nganterin si Morra," jawab Jefran si tuan rumah.
Mereka sedang berada di rumah si kembar Jefran dan Jefrin. Berhubungan kedua orang tua mereka bekerja di luar negeri, jadi anggota inti Zelvaros sering menghabiskan waktu di rumah mereka.
"Wuih, panjang umur juga lo, ska."
Aslan berseru saat melihat Alvaska memasuki kediaman si kembar. Laki-laki itu masih mengenakan baju seragam sekolahnya.
"Gimana ayang gue? Lo anterin dia selamat sampe rumah, kan?"
Bukannya mendapatkan jawaban, Aslan malah mendapatkan tatapan tajam milik Alvaska.
"Buset, pawangnya serem amat. Pantes si Esha udah gak deket-deket lo lagi," ucap Aslan tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Berbicara soal si Esha. Gue jadi heran kenapa dia tiba-tiba berubah," celetuk Jefran.
"Mungkin dia udah cape ngejar-ngejar manusia tak punya hati kaya si Alvaska" saut Alvero blak-blakan.
Sedangkan Alvaska hanya acuh saja. Hal seperti ini sudah sering ia dapatkan.
"Kalo dia berhenti ngejar-ngejar si Alvaska, kenapa dia juga kaya ngehindar dari kita?" Tiba-tiba Jefrin datang dan bergabung ke dalam pembicaraan mereka.
"Nah, bener tuh. Seolah-olah dia kaya bukan Esha yang kita kenal."
__ADS_1
"Kaya satu tubuh tapi beda orang," ucap Jefrin menambahkan ucapan Aslan.
Mereka berlima terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing. Memikirkan kenapa Alesha yang mereka kenal tiba-tiba berubah begitu saja.
"Awal mula dia berubah, waktu kepalanya kena bola basket ulah si Alvaska, kan?" tanya Jefran.
"Nah, bener. Besoknya dia langsung pindah tempat duduk."
Alvaska yang menjadi pusat perhatian hanya menghela napas.
"Gue udah minta maaf soal itu."
"Kapan?" tanya mereka hampir bersamaan.
"Beberapa hari yang lalu."
"Si Esha maafin lo?" tanya Alvero, yang langsung mendapatkan anggukkan kepala dari Alvaska.
"Dia masih suka buli si Morra gak, sih?"
"Kayaknya udah engga." Jefrin menjawab pertanyaan kembarannya.
"Atau jangan-jangan, ini salah satu rencana si Esha buat ngambil perhatian kita lagi. Bisa aja, kan?"
Mereka semua diam, tidak ada yang menjawab ucapan Aslan. Mereka teringat bagaimana hubungan Zelvaros dengan Alesha, namun semuanya kini telah berubah.
Jika di belahan bumi lain sedang membicarakan seorang Alesha liondra. Sedangkan yang tengah mereka bicarakan sedang asik berjalan-jalan di taman sendirian.
Alesha melihat pemandangan di sekelilingnya. Banyak sekali orang-orang yang sedang berada di taman ini, dari mulai anak-anak sampai orang dewasa.
Dia menarik napas panjang lalu dihembuskannya secara perlahan.
"Gue rindu rumah."
Di sini Alesha memang mendapatkan apa yang tidak ia dapatkan di dunianya. Jika dia mau sesuatu, maka dengan mudah dia bisa mendapatkannya. Akan tetapi, Alesha juga merindukan kehidupannya dulu. Dia rindu orang tuanya, adiknya, Salsa, dan kehidupan monotonnya.
"Gue pikir yang namanya transmigrasi tuh cuma mitos, ternyata malah terjadi sama gue sekarang.
"Bisa gak, ya. Gue balik ke dunia asli gue?"
Alesha menendang-nendang kakinya
dengan kesal.
"Ibu ... Alesha mau pulang," rengeknya entah kepada siapa.
Dia tidak peduli jika ada seseorang yang melihat kelakuannya barusan. Dia hanya sedang kesal kepada dirinya sendiri, kenapa bisa-bisanya masuk ke dunia fiksi cuma gara-gara jatuh dari pohon mangga.
__ADS_1
Alesha memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang ada di taman. Dia memandang iri satu keluarga yang terlihat sangat bahagia sedang memakan sate bareng-bareng.
"Gak boleh iri! Gue juga punya keluarga kaya raya tujuh turunan," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
"Tapi mereka sibuk sama dunianya sendiri. Gak kaya orang tua gue di dunia nyata."
Bagaimanapun juga, Alesha berada di tempat yang asing. Ini jelas-jelas bukan dunianya.
Dia mencoba memejamkan kedua matanya. Menetralkan semua rasa berkecamuk di dalam hatinya.
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang dingin mengenai pipi sebelah kirinya. Saat ia membuka mata, betapa terkejutnya dia melihat seorang cowok yang bisa dibilang sangat Tampan duduk di sebelahnya.
Kedua mata Alesha sampai tidak berkedip melihat laki-laki itu, membuat orang yang ditatapnya terkekeh pelan.
"Jangan lupa kedip."
Alesha tersadar, dia pun segera berkedip beberapa kali. Laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya melihat apa yang dilakukan oleh Alesha.
"Lo ngapain di sini sendirian? Mana masih pake baju sekolah."
"Lo kenal gue?"
Bukannya menjawab, Alesha malah balik bertanya.
"Yakali gue gak kenal sama lo."
"Lo siapanya gue? Fans? Mantan? Atau ... musuh?" tanya Alesha beruntun.
Laki-laki tersebut malah tertawa pelan.
"Lo lupa siapa gue?"
Alesha terlihat berpikir sesaat. "Ya, anggap saja begitu."
"Wajar sih, kalo misalkan lo lupa siapa gue. Kita aja terakhir ketemu dua bulan yang lalu."
Alesha bingung harus meresponnya bagaimana. Jika ia mengeluarkan suaranya, takut salah bicara.
Dia terlihat mengulurkan tangan kanannya, yang Alesha sambut dengan senang hati. Kapan lagi yakan, salaman sama cogan fiksi.
"Gue Sagara AlThalarix."
Seketika tubuh Alesha menegang saat mendengar nama tersebut.
"Sagara AlThalarix? Sang antagonis pria utama?"
-bunga suci-
__ADS_1