
-HAPPYREADING-
***
Lama kelamaan Alesha merasa bosan. Dia ingin sekali memakan aneka gorengan di hadapannya. Sesekali ia juga berbicara dengan anggota Ravloska, kecuali Galen. Melihat manik matanya saja sudah membuat Alesha merinding.
"Lo gak haus sama sekali, Al?" tanya Sadewa.
"Buka aja masker, lo. Gue yakin kita
kuat melihat kecantikan yang lo punya," tambah Jairo.
"Haha, enggak, deh. Aurat soalnya."
"Aurat-aurat, rambut lo aja kemana-mana!" sungut Jairo sedikit emosi.
"Ngomongnya biasa aja, Ja. Air liur lo muncrat ke wajah gue," ucap Sagara menyeka wajahnya. Sedangkan si pelaku hanya nyengir kuda.
Ponsel Alesha bergetar tanda sebuah pesan masuk. Dia tersenyum cerah saat menerima pesan tersebut.
"Gue harus pergi sekarang."
Ucapan Alesha mampu membuat mereka seketika menghentikan aktivitasnya.
"Lah, mau kemana? Si Sagara aja masih di sini," ujar Sadewa.
"Temen gue sebentar lagi dateng, jadi sori banget gue harus pergi sekarang."
"Temen lo siapa? Cewe atau cowo?
Kalo cewe, cantik gak?"
Sadewa menggeplak kepala Jairo. "Otak lo isinya cewe mulu. Nilai lo merah semua, noh!"
"Eh, yang paling penting itu nyari cewe buat masa depan. Soal nilai belakangan."
"Semerdeka lo aja!"
Alesha mengalihkan pandangannya kepada Sagara.
"Thanks, udah ajak gue bolos, Saga."
Alesha mengeluarkan uang berwarna biru dan menyodorkannya ke cowok itu.
"Lo kira gue ojek?" tanya Sagara.
"Lah, gue kan udah janji mau bayar lo."
"Duit gue banyak, simpen aja buat keperluan lo," tolak Sagara sombong.
"Idih, duit gue juga banyak kali," balas Alesha tidak mau kalah.
Sagara tersenyum sinis. "Palingan itu
duit orang tua lo."
"Dih, lo juga sama. Palingan duit punya bokap lo!" Alesha jelas tidak mau kalah.
Jairo dan Sadewa melongo melihat kedua manusia yang sedang berdebat.
"Baru kali ini gue liat orang adu kesombongan secara langsung," gumam Jairo.
__ADS_1
Tid!
Suara klakson mobil menyadarkan mereka. Alesha melirik ke arah mobil tersebut, seketika senyumnya semakin mengembang.
"Temen gue udah datang, gue duluan ya. Seneng bisa ketemu sama kalian," pamit Alesha.
"Ya, lain kali ikut lagi sama si Sagara. Biar bisa ketemu lagi," ucap Sadewa.
"Kalau kesini lagi, jangan lupa bawa cewe cantik buat gue." Alesha memutar bola matanya malas mendengarkan ucapan Jairo.
"Hati-hati."
Alesha hanya mengangguk. "Makasih, Saga. Gue duluan, ya."
Sebelum pergi Alesha sempat melirik ke arah Galen yang masih acuh saja. Dia menghela napasnya lalu berjalan menuju mobil berwarna merah yang sudah menunggunya.
"Bye, Alesha yang cantik pamit. Jangan pada kangen sama gue!" teriak Alesha sembari masuk ke dalam mobil.
Mereka bertiga hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Alesha.
Setelah Alesha masuk ke dalam mobil, barulah Galen menoleh ke mobil tersebut. Sudut bibir kanannya terangkat, lalu kembali fokus ke aktivitasnya.
***
"Otak lo dimana sih? Bisa-bisanya lo bolos cuma gara-gara telat datang!"
Alesha melepas masker yang membuatnya sangat pengap. Ia menghirup udara dengan serakah lalu menghembuskannya perlahan.
"Gue males dihukum, ya mendingan bolos," jawab Alesha.
"Kalo lo mau bolos, kenapa lo nyuruh gue buat jemput?!" sungut Melita yang sangat kesal kepada sahabatnya.
"Kamsahamnida," ucap Alesha sedikit membungkuk.
Melita memijit pelipisnya dengan sebelah tangan, karena tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menyetir. Sepertinya percuma saja dia marah-marah, Alesha tidak akan memperdulikannya.
Semenjak kejadian Alesha pingsan beberapa hari lalu, ia merasa Alesha sedikit aneh. Tingkah lakunya semakin diluar nalar. Bisa-bisanya Alesha membolos cuma gara-gara telat. Padahal Alesha yang ia tau, sangat menghindari apa yang namanya melanggar sebuah peraturan.
"Di absensi lo ditulis sakit."
Alesha melotot, menoleh ke Melita. "Heh, sembarangan! Gue sehat wal 'afiat gini dibilang sakit. Pasti lo yang bilang kalo gue sakit, kan?"
"Bukan gue, tapi si Alvero."
"Alvero? Kok bisa?" tanya Alesha.
Melita mengedikkan bahunya. "Mana gue tau. Gue pikir lo ngasih kabar ke dia."
"Idih, buat apa gue kasih kabar ke dia?"
"Siapa tau, kan."
"Wah ... ada udang dibalik gajah, nih."
"Dibalik batu, bego! Bukan dibalik gajah, matilah tuh udang," koreksi Melita.
Alesha mencoba mengingat seperti apa peran Alvero yang diceritakan di novel. Alvero merupakan salah satu anggota yang masih sedikit peduli kepada Alesha, tidak seperti yang lainnya.
"Al," panggil Melita.
"Apaan?"
__ADS_1
"Lo tadi di warung itu gak sendirian, kan? Siapa mereka? Gue yakin mereka bukan anak sekolah kita karena seragamnya aja beda."
Apakah Alesha harus berkata yang sebenarnya kepada Melita kalau mereka adalah anggota Ravloska? Walaupun Melita bisa dipercaya, tetapi dia harus tetap waspada.
Dia tidak tau siapa impostor yang sebenarnya.
"Mereka temen gue."
"Temen? Sejak kapan lo punya temen cowo selain Zelvaros?" tanya Melita seolah-olah kurang puas dengan jawabannya.
"Sejak tadi," jawab Alesha tanpa beban.
"Terserah lo, Al! Depresot gue
lama-lama sama lo."
Alesha hanya mengedikkan bahunya acuh. Apanya yang salah? Dia menjawabnya dengan sangat jujur, bukan?
"MEl."
"Kenapa?" tanya Melita tanpa menoleh.
"Lo bisa nyetir mobil, kan?"
"Kalo gue gak bisa nyetir mobil, ini gue lagi ngapain? Dorong mobil?!" sungut Melita.
Alesha menjentikkan jarinya. "Nah, bagus! Ajarin gue bawa motor, dong!"
Tak!
Melita menjitak kepala Alesha gemas. "Lo nanya gue bisa nyetir mobil apa kagak, tapi kenapa lo malah minta ajarin bawa motor? Waras, lo?"
"Melita, yang gue denger dari orang-orang, kalau bisa naik sepeda berarti bisa naik motor. Nah, lo bisa nyetir mobil, berarti bisa bawa motor!"
"Pemikiran macam apa itu?" Melita memegang kepalanya yang terasa pusing. Sepertinya menghadapi Alesha akan membuat dirinya darah tinggi.
"Yaudah, kalo lo gak bisa bawa motor. Ajarin gue nyetir mobil," pungkas Alesha.
"Lo yakin?" tanya Melita dengan ragu. Alesha menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Gue akan bantu lo."
"Wuih... beneran, Mel?" tanya Alesha
memastikan.
"Iya. Mau mulai kapan lo latihan nyetir?"
"Sekarang!"
Melita melotot. "Yakali sekarang?"
"Pliss, Mel .... " pinta Alesha memohon.
Melita menghela napas pasrah. "Baiklah, sekarang."
Sudut mulut Alesha terangkat. Dia sudah tidak sabar untuk belajar menyetir, jadi dia tidak memerlukan supir pribadinya lagi.
-bunga suci-
DOUBLE UP? GAK GAESS!!
__ADS_1