Transmigrasi Alesha

Transmigrasi Alesha
18. Balapan


__ADS_3

-HAPPYREADING-


***


"Semuanya udah siap?"


Dia mengacungkan kedua jari jempol tangannya. "Beres."


Alvaska mengangguk puas dengan


kinerja yang dilakukan oleh


teman-temannya.


"Lo yakin malam ini lo yang maju?" tanya Aslan dengan nada ragu.


"Emang kenapa? Biasanya juga si Alvaska yang maju buat balapan," saut Jefrin.


"Tadi pagi kan adiknya si Alvaska ditendang sama si Esha."


Alvaska melotot kepada Aslan. Bisa-bisanya laki-laki itu membahas kejadian memalukan yang terjadi tadi pagi.


"Si Esha berani juga sama si Alvaska. Dulu aja boro-boro nendang, ngebentak si Alvaska aja dia gak berani," ucap Jefran.


"Dia tuh bener-bener kek bukan sha yang kita kenal. Kelakuannya beda drastis sama yang dulu."


"Tapi dia masih aja buli si Morra." Jefrin menambahkan ucapan Sadewa.


Alvaska membuang napasnya kasar. Ia


mengedarkan matanya ke sekeliling,


mencari seseorang.


"Si Devano, Bima, sama Alvero pada kemana?" tanyanya kepada mereka.


Aslan dan Jefrin hanya saling pandang satu sama lain, lalu mengedikkan bahunya tanda tidak tau.


"Si Devano sama si Bima lagi menuju ke sini, kalo si Alvero gue gak tau," jawab Jefran.


"Lah, itu si Alvero!" seru Jefrin seraya menunjuk Alvero yang tengah berjalan ke arah mereka.


"Dari mana aja lo?" tanya Alvaska sembari salaman ala cowok.


"Barusan ada keperluan mendadak,


jadinya agak telat."


Alvero melihat motor yang akan dipakai Alvaska untuk balapan. "Udah di cek semua? Gak ada yang bermasalah?"


"Tenang aja, semuanya udah di cek sama Sadewa yang gantengnya permanen," jawab Sadewa dengan bangga.


"Bagus."


Bersamaan dengan itu, Devano dan Bima juga sampai di tempat balapan. Devano langsung menghampiri Alvaska.


"Kalahkan mereka, gue percayakan sama lo."


Alvaska tersenyum sinis. "Lo tenang aja, gue akan buat mereka kalah." "Bagus!"


Saat itu tiba-tiba semua orang yang ada di sana bersorak. Anggota Zelvaros spontan menoleh ke arah yang membuat semua orang berteriak heboh.


Empat pengendara motor yang menjadi pusat perhatian, berhenti tepat di depan anggota Zelvaros. Satu persatu dari mereka membuka helmnya masing-masing, membuat teriakan kembali terdengar.

__ADS_1


Saat mengetahui siapa mereka, anggota Zelvaros semuanya langsung memasang wajah tak bersahabat.


"Long time no see, Zelvaros."


Alvaska menatap orang tersebut dengan tatapan tajam. Mereka berempat turun dari motornya masing-masing dan langsung berhadapan dengan Zelvaros.


"Lo gak ada niatan buat nyapa gue balik?"


"Gak usah pura-pura baik sama gue, Sagara Althalarix," desis Alvaska.


Sagara terkekeh pelan mendengar lawan bicaranya yang sangat tidak bersahabat sama sekali.


"Gue pikir lo gak bakalan dateng, ternyata dugaan gue salah. Siap untuk kalah malam ini, Alvaska?"


Alvaska mengatupkan rahangnya. Sedangkan Sagara mempertahankan senyuman yang seperti seringaian.


"Sampai bertemu di garis start," ucap Sagara sambil berlalu pergi meninggalkan mereka diikuti oleh Sadewa, Galen, dan Jairo di belakangnya. Bahkan Jairo sempat-sempatnya mengibaskan rambutnya tepat di depan Zelvaros.


"Anjir, sombong banget mereka. Dipikir kita gak bisa kalahin mereka apa?!" ujar Bima emosi.


"Anak Ravloska emang sialan," tambah Devano.


Alvaska mengepalkan kedua tangannya. Raut wajahnya benar-benar menyeramkan saat ini.


"Sialan lo, Sagara. Malam ini lo yang akan kalah, bukan gue," desisnya.


***


Suara deru motor saling bersahutan satu sama lain. Tepat di garis start berjajar lima pengendara motor yang menjadi peserta balapan malam ini.


Alvaska menoleh ke kanan, melihat Sagara dengan tajam. Sagara menampilkan senyuman smirknya sembari memakai helmnya.


"Gue yakin si Alvaska yang bakalan menang."


"Tapi si Sagara jangan diragukan, dia sama jagonya dengan si Alvaska," ucap Jefrin menimpali perkataan kembarannya.


"Kalian siap?"


"Satu....


"Dua


Suara deru motor semakin terdengar keras, mereka mulai ancang-ancang untuk menancapkan gasnya.


"Tiga!"


Motor mereka langsung melesat saat bendera dikibarkan bersamaan dengan sorakan para penonton.


Dari awal balapan tersebut sudah terlihat sengit dengan Sagara memimpin paling depan. Sedangkan Alvaska berada di urutan kedua.


"SEMANGAT BRO! JANGAN KASIH PELUANG BUAT MEREKA!" teriak Jairo yang tidak mungkin akan terdengar oleh Sagara.


Aslan mendelik tidak suka kepada Jairo, dia tidak boleh kalah dari laki-laki itu.


"ALVASKA, GUE YAKIN LO BAKALAN KALAHIN MEREKA!"


"Idih, mimpi!" ujar Jairo yang mendengar teriakan Aslan.


Alvaska dan Sagara saling kejar-kejaran. Terkadang Alvaska berada di posisi paling depan, namun kemudian Sagara menyalipnya kembali.


'Lo harus kalah Sagara!'


'Lo gak akan bisa kalahin gue, Alvaska!'

__ADS_1


Keduanya berambisi untuk menang. Bukan karena menginginkan hadiahnya, tapi untuk sebuah harga diri mereka.


Sagara menambah kecepatan motornya, begitu pun dengan Alvaska. Garis finish sudah terlihat oleh mata mereka. Bahkan teriakan penonton pun mulai terdengar.


Baik Alvaska maupun Sagara sama-sama menambahkan kecepatan laju motor mereka. Namun tanpa disangka-sangka, tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi Semua orang yang ada di sana berhamburan pergi dari area balapan.


'****!'


Sagara langsung mengambil arah yang berbeda, berusaha menjauh dari area balapan. Begitupun dengan Alvaska dan yang lainnya.


Sagara terus menggerutu dalam hati. Dia pasti bisa mengalahkan ketua Zelvaros jika saja para polisi tidak datang.


'Sialan, siapa yang berani-beraninya manggil polisi ke sini?!'


***


"Bang, satenya dua puluh tusuk dimakan di sini, ya."


"Siap, Neng."


Alesha mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari tempat untuk dirinya duduk.


Dia tiba-tiba saja ingin memakan sate yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya, jadinya dia meminta supir pribadinya untuk makan bareng, namun supirnya malah memilih menunggu di dalam mobil.


"Di antara beribu-ribu cowok yang ada di dunia, gak ada yang jadi pasangan gue gitu? Miris banget jadi gue."


"Pas jadi Alesha Anastasya gak pernah pacaran dari orok, masa jadi Alesha Liondra juga nasibnya sama?"


Sate pesanannya sudah datang. Alesha mulai fokus memakan satu persatu sate miliknya.


"Enak banget, njir. Keknya gue harus beli satu bungkus buat besok pagi," monolognya dengan mulut yang penuh dengan sate.


"Bang, satenya sepuluh tusuk dibungkus."


"Saya juga, Bang," ucap temannya.


Alesha menoleh ke arah orang yang sedang memesan sate. Dia tidak sengaja mendengar percakapan mereka.


"Bang, tau tempat yang biasa dijadikan balapan sama anak-anak remaja, gak?" tanya salah satu kepada penjual sate.


"Saya mana tau tempat begituan, Pak.


Orang tiap hari saya jualan di sini." Tiba-tiba Alesha bangkit menghampiri


mereka.


"Pak polisi lagi nyari tempat yang biasa dipake buat balapan, ya?" tanya Alesha ramah.


"Iya, Dek. Kenapa?" tanya salah satu pak polisi.


"Wah, kebetulan sekali Pak. Teman-teman saya malam ini sedang balapan, Bapak bisa pergi ke sana untuk melakukan operasi."


"Benarkah? Kamu tau tempatnya?"


Alesha menggeleng. "Engga tau, sih. Tapi katanya gak jauh dari sini."


"Baiklah, terima kasih atas informasinya."


"Sama-sama, Pak," ucap Alesha sambil sedikit menunduk.


Dengan hati yang bangga Alesha kembali ke tempatnya dan melanjutkan acara makannya.


"Baik banget gue jadi manusia, berguna juga gue hidup."

__ADS_1


-Bunga Suci-


-see you-


__ADS_2