Transmigrasi Alesha

Transmigrasi Alesha
17. Queen Zelvaros


__ADS_3

-HAPPY READING-


***


"Well, pahlawan kesiangan lo berdua udah datang."


Alesha melipat kedua tangannya di depan dada sembari memberikan seringai miring.


"Salah gue sama lo apa sih, Al? Gue cuma belain sahabat gue aja, apa salah?!"


Alesha melirik Zoya dengan bibir yang mengerucut.


"Najis, playing victim!" cibir Melita.


Alesha kembali memperdekat jaraknya dengan gadis itu. Ia tidak memperdulikan keberadaan Zelvaros di sana.


Zoya terlihat menahan napas saat Alesha sudah berdiri di hadapannya. Tangan kanan Alesha terangkat, Zoya spontan memejamkan matanya seraya sedikit mundur. Namun dia tidak merasakan apapun di pipinya, ia memberanikan diri untuk membuka mata.


Pertama kali yang ia lihat adalah Alesha yang sedang menyugarkan rambutnya ke belakang sembari tersenyum meremehkan.


"Kenapa? Takut ditampar balik?" tanya Alesha sambil terkekeh.


Merasa direndahkan, Zoya hanya menatap Alesha tajam dengan wajah memerah karena marah.


Alesha ganti melirik ke arah Morra yang berdiri tepat di samping Zoya. Posisi mereka berdua saling berhadapan, anak-anak Zelvaros mulai was-was dengan pergerakan Alesha.


"Morra, ini sahabat lo?" tanya Alesha menunjuk Zoya.


Morra mengangguk. "I-iya Alesha."


Alesha menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Gue iri sama lo yang punya sahabat kaya dia. Beda banget sama sahabat gue yang kek titisan setan."


"Kampret!" umpat Melita.


Tangan kanan Alesha terulur mengelus kepala Morra, membuat gadis itu sedikit takut.


"Lo beruntung banget, sih. Bisa dapetin si Alvaska sama sahabat kaya si Zoyanjing."


Zoya menggeram mendengar Alesha menyebut namanya seperti itu. Alesha terus mengelus surai lembut milik Morra, sampai ....


Plak!


"ALESHA!!"


"LO DIEM!" gertak Alesha saat Alvaska membentaknya dan berjalan ke arah mereka.


Alvaska mendorong tubuh Alesha sampai tubuhnya menabrak meja.


"Kampret lo Alvaska!" desis Alesha.


"Alvaska jangan!" ucap Morra menarik tangan laki-laki itu saat menghampiri Alesha.


"Berani-beraninya lo nampar Morra?!" tanya Alvaska penuh penekanan.


"Oh, jelas! Gue kan pemberani, gak kayak cewe lo, meleyot."


"Gue pikir lo bener-bener gak akan ganggu Morra lagi, ternyata kelakuan lo


masih sama, cewe iblis!"


Bug!


"Jangan panggil gue cewe iblis, kalo kelakuan lo gak lebih suci dari gue!"

__ADS_1


Semua orang yang menyaksikan kejadian barusan meringis saat Alesha menendang aset berharga milik Alvaska. Alvaska hanya bisa menatap Alesha dengan tajam sembari menahan rasa sakit akibat tendangan yang diterimanya.


"Sakitnya nyampe sini," ucap Aslan spontan memegang miliknya.


"Lo ngapain anjir?!" tegur Jefrin yang berdiri tepat di sebelahnya, tidak habis pikir dengan kelakuan Aslan.


"Lo!"


Alesha mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Alvaska ingin sekali menghabisi gadis di hadapannya ini, namun rasa sakit yang ia terima masih terasa.


"Awas lo, Alesha!" tekan Alvaska sembari berlalu keluar kelas dengan berjalan tertatih-tatih diikuti anggota Zelvaros lainnya.


Alesha tertawa terbahak-bahak melihat Alvaska yang seperti itu.


"Haha anjir, ngakak. Salah siapa berani sama gue?" ucapnya puas.


Alesha kembali mengalihkan pandangannya kepada Zoya dan Morra yang masih ada di sana tidak menyusul sang pahlawan kesiangannya.


"Katanya belain si Morra ... kenapa gak gantiin posisi dia pas gue tampar pipinya?"


"Sialan lo Alesha!" desisnya.


Araya setengah tersenyum, ia melirik Morra yang selalu menunduk tidak berani menatap matanya.


"Awalnya gue iri sama lo Morra, karena punya sahabat yang katanya mau belain lo. Tapi gak jadi deh, soalnya sahabat gue rela bolos demi gue."


"Dasar anak kampret! Gue bela-belain izin atas nama keluarga, lo dengan mudahnya bilang gue bolos demi lo," gerutu Melita.


"Oh, ya satu lagi!" ucap Alesha, Morra memberanikan diri menatapnya.


"Kayaknya masa depan lo terancam, Ra. Coba aja cowo brengsek lo gak dorong gue, gak akan gue tendang adiknya."


Alesha memandang Morra dan Zoya secara bergantian.


***


"Argh! Sakit banget kampret!"


"Belum juga sembuh malah kena tampar, awas aja lo Zoyanjing."


Saat Alesha pergi dari kelas, dia pergi menuju UKS dan izin ke guru dengan alasan sakit. Melita sempat akan menemaninya di sini, namun Alesha langsung mengusirnya.


Alesha mengompres pipinya menggunakan air dingin yang diberi oleh petugas PMR tadi. Sesekali dirinya meringis saat merasakan perih di pipinya.


"Gue buat salah apa sih dulu, bisa-bisanya transmigrasi ke tubuh orang yang punya banyak musuh."


Pintu UKS terbuka, Alesha menoleh ke arah pintu. Keningnya mengernyit saat mengetahui siapa orang yang baru saja masuk.


"Ngapain lo ke sini?"


Bukannya menjawab pertanyaan Alesha, orang itu malah mendudukkan tubuhnya di samping Alesha. Dia mengulurkan sebuah obat.


"Biar sakitnya mendingan."


Alesha menerimanya dengan ragu, ia membolak-balik kemasan obat tersebut.


"Ini bukan racun, kan?"


"Kalo pun iya gue racunin lo, gak akan gue lakuin di sekolah."


"Sialan lo, Ro!"


Alesha meminum obat tersebut tanpa air, dan mengunyahnya seperti permen.


"Gak pahit?" tanya Alvero.

__ADS_1


"Yang namanya obat ya pahit, bego. Yang manis itu omongan cowo brengsek kaya si Alvaska."


Alvero menghela napas pelan. "Gue udah bilang sama lo, Sha. Jangan buat masalah lagi, ujung-ujungnya lo juga yang kena."


Alesha memutar bola matanya dengan malas. "Ro, dari awal bukan gue yang memulai, tapi kalian."


"Apa yang lo mau sekarang?"


"Punya banyak duit," jawab Alesha.


"Bukan itu. Apa yang lo mau mengenai semuanya yang terjadi?"


Alesha terlihat berpikir beberapa saat.


Dan Alvero menunggunya dengan


sabar.


"Yang gue mau sekarang cuma satu."


"Apa?"


"Biarin gue hidup dengan tenang," pinta Alesha menatap kedua mata milik Alvero.


"Gue udah gak ganggu kehidupan kalian lagi, gue udah gak cari masalah sama 'queen' kalian lagi, tapi mereka berdualah yang selalu cari gara-gara sama gue."


Alesha sengaja menekankan bagian kata queen.


"Gue juga udah gak ada perasaan apapun sama si alvaska, yang ingin gue lakuin sekarang cuma habisin duit bokap, itu aja."


Alvero terdiam, lalu mengangguk.


"Permintaan lo diterima. Akan gue sampein ke anak Zelvaros yang lain."


Alesha menepuk kepala Alvero


beberapa kali secara pelan.


"Anak baik."


"Lo pikir gue anjing?"


"Lo sendiri yang berpikiran kalo lo anjing, bukan gue."


Alvero lebih memilih mengalah saja. Dibandingkan dengan anggota Zelvaros yang lain, Alvero lah yang paling dekat dan mengerti Alesha. Saat anak-anak Zelvaros yang lain menjauhinya, Alvero diam-diam


Alesha menepuk kepala Alvero beberapa kali secara pelan.


"Anak baik."


"Lo pikir gue anjing?"


"Lo sendiri yang berpikiran kalo lo anjing, bukan gue."


Alvero lebih memilih mengalah saja. Dibandingkan dengan anggota Zelvaros yang lain, Alvero lah yang paling dekat dan mengerti Alesha. Saat anak-anak Zelvaros yang lain menjauhinya, Alvero diam-diam mendukungnya dari belakang. Bahkan dengan Devano yang merupakan abangnya sendiri, Alesha tidak sedekat seperti dirinya dengan Alvero.


"Sha."


"Apaan?" tanya Alesha yang sedang mengompres pipinya kembali.


"Apapun yang terjadi sekarang, cuma lo yang jadi queen Zelvaros, gak ada yang lain."


-Bunga Suci-


-see you-

__ADS_1


__ADS_2