Transmigrasi Alesha

Transmigrasi Alesha
23. Sasaran Utama


__ADS_3

-HAPPYREADING-


***


"π‘¨π’π’—π’‚π’”π’Œπ’‚."


"π‘¨π’π’—π’‚π’”π’Œπ’‚ π’π’‚π’π’•π’Š π’‘π’–π’π’‚π’π’ˆπ’π’šπ’‚ π’ƒπ’‚π’“π’†π’π’ˆ, y𝒂."


"π‘¨π’π’—π’‚π’”π’Œπ’‚ π’Œπ’‚π’‘π’‚π’ π’Žπ’‚π’Šπ’ π’Œπ’† π’“π’–π’Žπ’‚π’‰?" "π‘¨π’π’—π’‚π’”π’Œπ’‚ π’Œπ’π’Œ π’”π’†π’Œπ’‚π’“π’‚π’π’ˆ 𝒃𝒆𝒓𝒖𝒃𝒂𝒉?"


"π‘¨π’π’—π’‚π’”π’Œπ’‚. 𝑲𝒂𝒕𝒂 π‘Άπ’“π’‚π’π’ˆ-π’π’“π’‚π’π’ˆ π’Œπ’‚π’Žπ’– π’”π’–π’Œπ’‚ π’”π’‚π’Žπ’‚ 𝑴𝒐𝒓𝒓𝒂, 𝒂𝒑𝒂 π’Šπ’šπ’‚?"


"π‘¨π’π’—π’‚π’”π’Œπ’‚ π’‹π’‚π’π’ˆπ’‚π’ π’”π’–π’Œπ’‚ 𝑴𝒐𝒓𝒓𝒂, π’…π’Šπ’‚ π’ˆπ’‚π’Œ π’ƒπ’‚π’Šπ’Œ."


"π‘¨π’π’—π’‚π’”π’Œπ’‚ π’‹π’‚π’–π’‰π’Š 𝑴𝒐𝒓𝒓𝒂! 𝑬𝒔𝒉𝒂 π’ˆπ’‚π’Œ π’”π’–π’Œπ’‚ π’π’Šπ’‚π’• π‘¨π’π’—π’‚π’”π’Œπ’‚ π‘«π’†π’Œπ’†π’•-π’…π’†π’Œπ’†π’• π’”π’‚π’Žπ’‚ π’„π’†π’˜π’†π’Œ π’ˆπ’‚π’•π’†π’ π’Šπ’•π’–."


Belakangan ini Alvaska terus memikirkan gadis bernama Alesha. Alesha benar-benar berbanding terbalik dengan Alesha yang dulu. Yang Alvaska tau, Alesha adalah sosok gadis lembut, sangat feminim, dan juga polos. Namun sekarang sangat bertolak belakang.


"Alvaska, aku rasa punya kamu bagian yang ini kurang tepat."


Merasa tidak mendapatkan respon, Morra yang fokusnya ke buku kini beralih kepada cowok di sampingnya.


"Alvaska," panggilnya.


"Kenapa? Kerjaan gue ada yang salah?" jawab Alvaska seperti terkejut.


Morra menggeleng seraya tersenyum tipis.


"Sorry, gue enggak fokus."


"Mikirin Alesha?"


Morra terkekeh pelan saat Alvaska tidak menjawab pertanyaannya.


"Dari awal kita pacaran kamu selalu kayak gini, ska. Kamu selalu mikirin Alesha hampir setiap kita lagi berdua."


"Aku tau, kamu ngajak aku pacaran bukan atas dasar suka. Tapi kamu risih terhadap sikap Alesha ke kamu. Benar, kan?"


"Gue bener-bener suka sama lo, sejak pertama liat lo," jelas Alvaska.


"Enggak, Ska. Kamu ke aku cuma sebatas penasaran aja, hati kamu cuma buat Alesha."


Morra menghela napas berat. "Awalnya aku nerima kamu karena kasihan liat kamu kayak risih sama Alesha, aku berpikir kalo Alesha itu gak baik. Tapi ternyata, dia berbanding terbalik. Malah kesannya kayak aku yang jahat."


"Tapi maaf, Ska. Aku jatuh cinta sama kamu."


"Kenapa minta maaf? Lo pacar gue," ujar Alvaska.


"Tapi hati kamu buat Alesha. Dulu kamu emang gak sadar, tapi setelah Alesha berubah, kamu jadi sadar, kalo kamu juga punya perasaan yang sama dengan Alesha, kan?"


Alvaska terdiam. Semua yang dikatakan oleh Morra benar.


"Semuanya udah terlambat. Gue punya lo saat ini," ucap Alvaska.


"Perbaiki semuanya Ska, gak ada kata terlambat."

__ADS_1


Alvaska diam. Haruskah dia mengikuti perkataan Morra? Tapi Alesha benar-benar sudah berubah sekarang. Dan Alvaska juga sudah ada Morra. Dia tidak boleh serakah, bukan? Tapi, masalah perasaan gak bisa diatur.


***


Alesha melemparkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Ia merasa kelelahan setelah satu jam yang lalu membereskan apartemen Sagara.


"Cape banget hidup, pengen jadi batu aja gue."


Alesha bangkit dari posisinya saat teringat sesuatu. Dia berjalan menuju sebuah laci kecil, dia mengambil buku berukuran sedang berwarna ungu.


"Gue gak boleh berleha-leha lagi. Gue harus cari tau apa yang dimaksud si Esha dalam buku ini."


Alesha membaca sebagian isi buku tersebut, lalu menghela napas.


"Gue gak tau apa yang sebenarnya terjadi sama lo, Sha. Apa yang lo tulis di buku ini, gak ada di novel yang gue baca."


Alesha kembali merebahkan badannya ke kasur. Memandang langit-langit kamar. Meratapi nasibnya yang kian memburuk.


"Gue pikir dengan gue ubah alurnya, semuanya akan baik-baik saja. Kenapa malah makin menjadi?"


"Mana si Sagara kampret bilang gue jadi bagian Ravloska. Bikin beban hidup gue makin bertambah aja," gerutu Alesha.


"Misi gue kan harusnya ngabisin duit bokap, bukan mecahin teka-teki hidupnya si Alesha Liondra!"


"Woi, ini penulisnya siapa, sih? Ngeselin banget sumpah!"


Alesha membalikkan posisi tubuhnya menjadi tengkurap.


"Sha, lo balik dong. Gue gak suka jadi lo, hidup lo rumit banget walaupun banyak duit," lirih Alesha.


"SHA MAKANANNYA UDAH JADI!"


"Iya Ma, bentar!"


Arumi-Mama Alesha berteriak di depan pintu kamarnya. Saat pulang, Alesha melihat Mamanya yang sedang berkutat dengan alat-alat dapur. Ia meminta Mamanya untuk dibuatkan nasi goreng kesukaannya.


Alesha bergegas keluar dari kamar, menghampiri Mamanya yang sudah menunggu di ruang makan.


"Widih... kayaknya enak, nih," seru Alesha saat melihat nasi goreng yang terlihat menggiurkan.


"Nasi goreng spesial dari Mama untuk kamu."


Alesha menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Tumben. Kenapa, nih?" tanya Alesha curiga.


"Kenapa natap Mama kayak gitu? Gak percaya kamu?!"


"Percaya, Ma."


Alesha lebih mengalah saja ketimbang harus berdebat dengan Mamanya.


"Abang kamu mana? Tumben gak barengan."


"Esha kan udah gak bareng sama si dev -Bang Devano," saut Alesha.

__ADS_1


Arumi menggelengkan kepalanya. "Kalian berantem?"


"Enggak," jawab Alesha malas.


"Tumben Mama gak ngikut Papa, biasanya gak mau ketinggalan," lanjut Alesha mengalihkan pembicaraan.


"Percuma ngikut Papa kamu terus, Papa kamu tuh kalo udah kerja gak bisa ditanya kayak patung. Ya mending Mama di rumah aja."


Alesha mengangguk paham. "Lagian Mama ngapain ngikut Papa terus, mendingan diem di rumah dan bantu Esha habisin duit Papa."


"Heh, kurang ajar kamu!"


Alesha hanya tertawa tanpa suara karena mulutnya penuh dengan nasi goreng.


"Sha," panggil Mamanya dengan nada serius.


"Kenapa, Ma? Mama mau?" tanya Alesha yang mendapatkan gelengan kepala dari Arumi.


"Kamu ada di hadapan Mama. Tapi gak tau kenapa, Mama merindukan kamu."


Seketika Alesha yang sedang makan berhenti. Dia tidak tau harus meresponnya bagaimana.


"Mama ada-ada aja," balas Alesha sembari terkekeh.


Tiba-tiba Devano pulang, pandangan mereka beralih ke laki-laki itu.


"Devano!" panggil Mamanya.


Devano yang merasa terpanggil menoleh dan menghampiri mereka. Lalu menyalami tangan Arumi.


"Kenapa baru pulang?"


"Ada pelajaran tambahan," jawab Devano yang sudah duduk di samping Arumi.


"Kamu mau nasi goreng juga? Biar Mama masakin."


"Enggak usah, Ma. Devano makannya nanti aja," tolak Devano.


Devano sesekali melirik ke arah Alesha yang sedang fokus makan.


"Devano ke kamar dulu, mau istirahat."


"Iya, ganti baju sana. Jangan kayak adik kamu, seragamnya masih dipake," sindir Arumi.


"Mama nyindir Esha?"


"Kamu pikir Mama nyindir siapa? Bi Tiyem?"


"Siapa tau, kan," jawab Alesha mengedikkan bahunya.


Devano meninggalkan mereka berdua, Alesha melihat ke arah laki-laki yang merupakan abangnya itu.


'Lo sasaran utama yang harus gue selidiki, Devano.'


-see you semua, ketemu lagi bulan depanπŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2