Transmigrasi Alesha

Transmigrasi Alesha
24. Mengundurkan Diri


__ADS_3

-HAPPYREADING-


Sesekali Alesha menghabiskan waktunya untuk berkumpul bersama kedua orang tuanya, seperti sekarang ini. Jangan lupakan Devano, dia juga bergabung bersama mereka.


Mereka sedang menonton acara televisi yang menayangkan sebuah film pertengkaran rumah tangga.


"Kalo Mama jadi perempuan itu, Mama gak akan maafin Papa," ucap Arumi saat melihat adegan film suaminya yang berselingkuh dengan perempuan lain.


Alesha yang sedang bersandar di lengan Papanya mengangguk menyetujui ucapan Mamanya.


"Ceraikan aja, Ma. Ambil semua hartanya," tambah Alesha.


"Heh, malah kompor," tegur Papa Alesha.


Alesha menegakkan tubuhnya. "Gini ya, Pa. Dalam sebuah hubungan, kesalahan bisa dimaafkan, kecuali perselingkuhan."


"Iya kan, Bang?" tanya Alesha melirik Devano yang hanya menyimak.


Devano memandang Alesha lalu tersenyum yang terkesan sangat dipaksakan.


"Ya, lo bener."


Alesha menjentikkan jarinya. "Tuh kan, Bang Devano aja setuju. Yang namanya perselingkuhan itu gak bisa dimaafkan, apalagi selingkuhnya sama orang terdekat. Contohnya sama temen sendiri."


"Benar begitukan, abang ku sayang?" tanya Alesha sembari menyeringai.


Devano menatap adiknya tanpa ekspresi. Dia tau bahwa Alesha sedang menyindirnya.


"Good, Mama setuju sama yang kamu ucapkan," ujar Arumi.


"Tumben kamu pinter."


Alesha mengibaskan rambutnya ke belakang saat mendengar pujian dari Papanya.


"Papa baru sadar? Esha kan udah pinter sejak dalam kandungan," jawab Alesha membuat Irawan memutar bola matanya malas.


Alesha teringat akan sesuatu. Dia melihat kedua orang tuanya dengan lekat secara bergantian.


"Kenapa kamu?" tanya Arumi yang menyadari tatapan Alesha seperti ada maksud.


"Esha boleh minta sesuatu, gak?" "Sesuatu?" tanya Papanya.


Alesha mengangguk. "Iya, sesuatu."


"Asal jangan minta yang aneh-aneh, akan Papa kabulin."


"Esha mau mobil."


Jawaban Alesha nyaris membuat Irawan yang sedang meminum kopinya menyembur. Mereka terkejut dengan permintaan Alesha.


"Mobil? Kamu mau mati cepet? Naik sepeda aja gak bisa," saut Arumi.


"Esha bisa, Ma."


"Iya bisa, bisa naik mobilnya."


"Jangan minta yang aneh-aneh, Sha," tambah Devano.


Alesha menghela napas kesal. "Esha beneran bisa bawa mobil."


"Mama gak percaya. Lagian kalo kamu bisa, kapan belajar nyetir? Hari-hari kamu aja cuma sekolah, nonton drakor, makan sama tidur."


"Esha belajar nyetir sama Melita setiap pulang sekolah," jawab Alesha jujur. Walaupun tidak setiap hari, tapi dia sering belajar nyetir bersama sahabatnya.


"Papa gak percaya sebelum ada bukti," kata Irawan.


"Papa mau bukti? Esha bisa buktiin sekarang."


Papanya menggelengkan kepalanya. "Sekarang udah malem, kalian harus tidur, besok sekolah."


"Tapi Papa janji ya, beliin Esha mobil?" ujar Alesha sembari mengacungkan jari kelingkingnya.


Irawan mengangguk sembari mengaitkan jari kelingkingnya.


"Kalo kamu terbukti bisa nyetir, saat itu juga Papa langsung beli mobil buat kamu."


"DEAL!" teriak Alesha sebelum Papanya berubah pikiran.


"Mobil terlalu berbahaya, Sha."


Alesha melirik Devano, dia melayangkan tatapannya dengan tajam.


"Jangan merusak mimpi gue."


***


"Males banget harus antri."


Melita memandang seisi kantin dengan raut wajah malas. Dia sudah sangat kelaparan sekarang, tapi setiap penjual di kantin penuh dengan antrian.


"Lo mau pesen apa? Biar gue aja yang antri, lo nyari tempat," ucap Alesha.


"Samain aja, soal makanan gue gak ribet." Alesha mengangguk, dia memutuskan


untuk membeli siomay saja yang tidak

__ADS_1


terlalu mengantri.


"Bu, siomaynya dua," ucap Alesha dan Morra secara bersamaan.


"Ini mau siapa dulu?" tanya ibu kantin bingung.


Alesha melirik ke arah Morra yang


tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


"Kamu duluan aja, Al," ujar Morra.


Alesha tidak memperdulikan ucapan Morra. Lagian dia pikir dirinya lebih dulu datang ke sini.


"Satu jangan pake saus ya, Bu. Sekalian air mineralnya dua," pinta Alesha.


Alesha tidak terlalu suka dengan saus. Entah kenapa kepalanya suka tiba-tiba migrain setelah makan makanan yang ada sausnya.


"Ini pesanannya Neng."


Ibu kantin menyodorkan dua buah piring berisi siomay. Alesha segera membayarnya dan langsung berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata kepada Morra, karena sepertinya sangat tidak penting.


"Nih pesanan lo."


"Lo tau aja gue mau siomay," ucap Mlita saat Alesha membawa makanan mereka.


"Al, gue punya gosip terbaru."


Baru juga Alesha akan menyuapkan satu sendok siomay, Melita mulai mengajaknya berghibah.


"Gosip apaan?" tanya Alesha.


Mlita memajukan wajahnya, lalu berbisik. "Si Zoyanjing pacaran sama si Jefran."


"Tau dari mana lo?"


Melita mengibaskan rambutnya ke belakang sembari melahap satu buah tahu.


"Apa sih yang Mlita gak tau,"ujarnyasombong.


Alesha memicingkan kedua matanya,menatap Mlita penuh selidik.


"Gue jadi curiga, jangan-jangan yang pegang akun lambe turah sekolah kita itu elo."


"Sembarangan! Ya bukan, lah," sanggah Mlita.


"Kalo bukan lo, terus kenapa lo tau mereka pacaran?"


Mlita menghela napas jengah. "Gue tau dari anak-anak tukang gosip kelas sebelah."


"Al, cowok yang kemarin siapa?" tanya Melita tiba-tiba.


"Cowok?" Alesha terlihat berpikir sebentar. "Oh, itu Pak Fano, supir pribadi gue."


"Bukan yang itu bego! Yang kemaren pas balik sekolah, di gerbang," jelasnya.


Alesha tau siapa yang dimaksud oleh Mlita. Namun dia bingung harus berkata sejujurnya atau tidak, kalau cowok itu adalah Sagara.


"Lo gak tau dia siapa?" tanya Alesha.


"Ya kagak, lah. Seragamnya aja beda,


gimana gue mau tau."


"Dia temen gue."


"Sejak kapan? Kok gue baru tau.'


Alesha mendaratkan jitakannya di kening Melita. "Makanya hidup lo jangan gosip mulu."


"Apa hubungannya bego?!" tanya Melita tidak terima, yang dibalas oleh Alesha dengan mengedikkan bahunya.


Saat Alesha sedang asik-asiknya makan dan mengobrol dengan Melita, anggota Zelvaros datang ke meja mereka dan langsung duduk di sana.


"Lo pada ngapain duduk di sini? Sana pergi!" usir Melita tidak suka.


"Lo gak liat tempat lain penuh?" saut Aslan.


Melita melihat seisi kantin yang memang benar semua meja terlihat penuh. Sedangkan Alesha hanya acuh saja seolah-olah tidak menyadari kedatangan mereka.


"Kita boleh duduk di sini kan, Sha?"


Alesha melirik Jefran sekilas, lalu lanjut makan lagi. "Gue bukan kalian yang selalu seenaknya sama gue. Jadi gue gak akan larang, asalkan lo semua gak ganggu ketenangan gue."


"Mendingan kita cari tempat lain," usul Alvero.


"Udahlah di sini aja, Ro. Si Esha aja gak keberatan," saut Aslan.


Mereka mulai memesan makanan dan segera memakannya saat pesanannya datang. Tidak ada percakapan sama sekali di antara mereka.


"Sha, kok lo gak pernah bareng kita lagi?" tanya Jefrin memecahkan keheningan.


"Gue sibuk," jawab Alesha.


"Sibuk apaan lo? Mentok-mentok juga paling sibuk rebahan." Aslan menimpali.

__ADS_1


"Sibuk ngabisin duit bokap, kenapa? Mau bantuin?"


"Enggak, deh. Duit bokap gue juga banyak."


"Idih... duit bokap aja bangga," saut Jefrin menimpali ucapan Aslan barusan.


Kedua mata Alvaska terus memandang ke arah Alesha yang sibuk makan seraya bermain ponsel. Gadis itu benar-benar tidak menganggap mereka ada.


Uhuk!


Alesha tidak sengaja tersedak. Dua botol air mineral tiba-tiba berada tepat di depan wajahnya. Alesha melihat siapa pemilik kedua botol tersebut, yang ternyata adalah Alvaska dan Alvero.


Alesha tidak menerima salah satu dari keduanya, ia meminum air miliknya. Membuat kedua laki-laki itu menarik tangannya kembali. Sedangkan yang lainnya hanya melongo.


"Makanya Al, kalo makan jangan sambil main ponsel," tegur Melita sambil berusaha memecahkan suasana yang menjadi canggung.


"Lo gak papa?"


Seketika Alesha menghentikan aktivitasnya dan langsung menatap Alvaska tanpa berkedip.


"Gak usah pura-pura peduli sama gue."


Alesha melipat kedua tangannya di depan dada. Dia memandang anggota Zelvaros satu persatu.


"Mau kalian apa sih sebenarnya?"


"Maksud lo?" tanya si kembar barengan.


"Bukannya kalian gak peduli sama gue. Kenapa sekarang tiba-tiba peduli? Ada maksud?"


"Kita cuma mau memperbaiki hubungan di antara lo dan Zelvaros," jawab Alvaska.


Sebenarnya anggota Zelvaros sengaja memilih duduk bersama Alesha, karena ada maksud tertentu. Mereka ingin hubungan dengan Alesha kembali membaik.


"Memperbaiki hubungan? Gue sama Zelvaros?" ulang Alesha.


Mereka semua mengangguk, Alesha tersenyum dengan terpaksa.


"Gue kira yang plin-plan cuma si alvaska, ternyata lo semua sama."


"Sha, kita minta maaf," ucap Jefran.


"Minta maaf? Lebaran masih jauh, gak guna."


Alesha mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.


"Lo semua kayak gini gara-gara gue berubah, kan?" "Memperbaiki hubungan? Minta maaf?


Basi."


"Setelah apa yang kalian lakuin ke gue, kalian kembali seolah-olah gak terjadi apa-apa."


"Kita tau kita salah," timpal Alvaska.


"Bagus. Sadar diri itu emang penting."


"Apapun keadaannya, lo masih queen Zelvaros," saut Jefrin.


"Queen? Enggak salah? Setau gue, yang kalian perlakuin selayaknya ratu itu bukan gue, tapi si Morall."


"Morra, Al," koreksi Melita.


"Mau Morra, keran, ataupun koran gue gak peduli. Tapi yang pasti, posisi gue bukan queen kalian semenjak cewek itu datang."


Alesha memandang mereka satu persatu. "Kenapa diem? Apa yang gue omongin bener?"


Alesha tertawa pelan. "Zelvaros ... Zelvaros, kenapa kalian pada bodoh semua? Gak ada yang waras satu pun."


"Sha—"


"Ssttt... gue belum selesai ngomong, Ska," potong Alesha.


Alesha berdiri, membuat atensi semua orang yang ada di kantin melihat ke arahnya.


"Mulai dari sekarang, gue bukan anggota Zelvaros lagi."


Mereka yang mendengar ucapan Alesha terkejut tidak percaya.


"Mana bisa gitu, Sha. Lo bagian dari kita," sanggah Aslan.


"Bisa dong, kenapa gak bisa? Gue aja udah gak dianggap sama kalian. Jadi buat apa bertahan?"


"Sha—"


Baru juga Alvaska akan mengeluarkan suaranya, Alesha menempelkan jari telunjuk ke bibirnya sendiri.


"Keputusan gue gak akan berubah. Sampai mulut kalian berbusa pun gue akan tetap dengan keputusan yang gue ambil."


Alesha melirik ke arah Alvero. "Perkataan lo gak bisa dipercaya, Ro."


Alesha langsung berlalu pergi meninggalkan mereka, disusul dengan Melita yang mengekor di belakangnya. Alvero mengerti apa yang dimaksud oleh Alesha, percakapan antara dirinya dan gadis itu beberapa hari lalu saat di UKS.


-see you yorobun-


Hai, semua apa kabar? Semoga kalian sehat selalu, ya.

__ADS_1


__ADS_2