
-HAPPYREADING-
***
"ZELVAROS!!!"
Semua murid bersorak saat anggota Zelvaros meneriakkan nama mereka. Sekitar pinggir lapangan penuh oleh para murid yang menonton pertandingan antara anggota Zelvaros dan kelas tetangga mereka.
Semua kelas sedang jamkos karena para guru tengah mengadakan rapat. Dengan begitu, para murid mengisi jamkos mereka dengan menonton pertandingan basket antar kelas tersebut.
"Jefran semangat!"
Alesha berjengit kaget saat gadis di sebelahnya tiba-tiba berteriak. Dia adalah gadis yang tempo hari menyiramnya di kantin. Ya, dia adalah Zoya, sahabat Morra.
Sebenarnya Alesha sangat malas menonton pertandingan ini, namun Melita malah menyeretnya ke sini. Mau
tidak mau dia harus bergabung seperti murid yang lain.
"Jefran semangat! Lo pasti menang!"
"Zoya, jangan teriak-teriak. Malu diliatin orang-orang," tegur Morra.
"Apa salahnya nyemangatin ayang?"
Alesha rasanya ingin muntah saat mendengar jawaban Zoya.
"Seharusnya lo semangatin juga si Alvaska. Pasti dia bakalan seneng, secara lo kan pacarnya."
Zoya menekankan kata 'pacarnya' sembari sudut matanya melirik ke arah Alesha. Sedangkan Morra hanya tersipu malu mendengar perkataan Zoya.
"Nih, es krim pesanan lo."
Tiba-tiba Melita datang sembari membawa beberapa makanan ringan dari kantin beserta minuman, dan juga es krim pesanan Alesha.
"Makasih Melita buat es krim gratisnya," seru Alesha. Melita hanya memutar
bola matanya malas. Gara-gara ia menyeret Alesha ke lapangan, jadinya Alesha meminta es krim gratis sebagai imbalan.
Mereka mulai fokus melihat pertandingan yang sedang berlangsung.
"Oper gue, Ro!"
Alvero menoleh ke arah Jefran yang memberikan intruksi, dia mengangguk. Bukannya ia melempar ke arah Jefran, bolanya malah ia lempar ke Alvaska yang langsung diterimanya dengan gesit oleh laki-laki itu.
Para lawan kelabakan dengan taktik mereka. Alvaska berlari beberapa langkah dan melemparkan bola tersebut ke dalam ring basket.
Semua orang bersorak saat melihat kejadian barusan. Anak-anak Zelvaros saling tersenyum bangga, namun ini baru permulaan.
Pertandingan kembali berlanjut. Lagi-lagi Alvaska menguasai bolanya. Ia mendrible bola tersebut lalu di oper kepada Aslan, dan para lawan kecolongan lagi karena Zelvaros kembali mencetak poin.
"HUAA ... ZELVAROS FIGHTING!"
"ZELVAROS MERDEKA!"
"ZELVAROS IS THE KINGS!"
Disaat mereka semua memandang Zelvaros dengan takjub, lain halnya dengan Alesha. Gadis itu bahkan terlihat tidak niat berada di sana, ia hanya asik memakan es krimnya saja.
"Pacar lo keren banget, Ra," ucap Zoya heboh.
"Iya, Zelvaros keren," balas Morra.
Alesha merasakan tepukan pelan dibahunya. Ia melirik ke Melita dengan tatapan tanya.
"Tahan, jangan panas."
Kening Alesha mengernyit. Hei, siapa yang panas? Bahkan ia saja tidak peduli sama sekali mau mereka membicarakan Alvaska ataupun
__ADS_1
Zelvaros. Alesha tidak peduli!
Tim lawan mulai panas dengan Zelvaros yang terus-terusan mencetak poin. Salah satu dari tim lawan melempar bola ke arah temannya, namun malah diterima oleh Jefrin.
"Kayaknya lo mau kita satu tim," ledek Jefrin seraya menyeringai. Orang tersebut hanya menggeram kesal karena tidak tepat sasaran.
Jefrin melemparkannya ke Alvaska. Alvaska sedikit kesulitan untuk mencapai titik dimana ia memasukkan bolanya ke dalam ring basket.
Ia memberikan kode kepada Alvero agar menerima bola darinya. Alvero yang mengerti hanya mengangguk kecil.
Alvaska langsung melempar bolanya, namun sepertinya bola itu meleset karna saat ia melempar ada satu lawan yang menyenggol tubuhnya. Bukannya ke arah Alvero, tapi malah ke arah penonton.
Semua mata membulat saat melihat
bola tersebut melayang ke arah seorang gadis yang sedang asik dengan dunianya sendiri.
"Alesha awas!"
Brak!
Teriakan Melita terlambat menyadarkan Alesha. Bola tersebut sukses mengenai Alesha, sehingga membuat gadis tersebut terjatuh.
"Al, lo gak papa?" tanya Melita panik.
Alesha hanya diam saja dengan kepala menunduk. Membuat Melita semakin panik. Kini semua mata mengarah ke Alesha, ingin tau bagaimana keadaan gadis itu.
"Al...
Alesha bangun dari posisinya dengan wajah yang masih menunduk. Almamaternya penuh dengan es krim. Kedua tangannya terkepal sempurna.
"ALVASKA SETAN!"
Alesha berteriak sambil menatap
nyalang ke arah Alvaska. Semua murid terkejut melihat wajah Alesha yang tidak bisa dibilang baik-baik saja. Sudut bibirnya lebam, bahkan sedikit berdarah.
Alesha mengambil sisa es krim yang tumpah dan berjalan ke tengah lapang dengan tatapan yang tidak terlepas dari mata milik Alvaska.
Alesha melempar sisa es krim tersebut ke wajah Alvaska, membuat laki-laki itu memejamkan kedua matanya. Wajahnya sekarang sudah kotor karena terkena es krim Alesha.
"BERANI-BERANINYA LO JATUHIN ES KRIM GUE?!"
"Lo tau? Harga diri es krim ini lebih berharga daripada harga diri lo!"
Mulut semua orang menganga melihat kejadian tersebut. Alesha lebih membela es krimnya daripada dirinya sendiri? Yang benar saja?
"Wajah lo luka."
"Peduli apa lo sama gue, hah?!" sentak Alesha. "Oh, gue tau. Lo sengaja kan, ngelakuin hal ini ke gue? Gak puas pas waktu itu lo lempar kepala gue pake bola basket hingga pingsan?!"
Bukannya menjawab perkataan Alesha, fokus laki-laki itu hanya ke bibir Alesha yang lebam.
Bugh!
Alesha menendang tulang kering Alvaska, membuat laki-laki tersebut mengaduh.
"Gak usah so' peduli sama gue, ALVASKA," tekan Alesha.
Alesha tersenyum sinis melihat wajah Alvaska yang kotor dan juga tulang keringnya yang kesakitan.
"Lo harus ganti rugi sepuluh kali lipat buat es krim gue yang terbuang sia-sia!"
Setelah mengucapkannya, Alesha berlalu pergi meninggalkan area
lapangan. Melita langsung mengejar sahabatnya yang baru saja sukses membuat semua orang tercengang.
"Gila, wajah si Esha lebam," celetuk Aslan.
__ADS_1
"Pasti rasanya sakit, bola basket loh,"
sambung Jefrin.
Alvaska mendengar perkataan Aslan dan juga Jefrin. Dia juga langsung pergi meninggalkan lapangan.
***
"Ah... Pelan-pelan, Mel!"
"Gue udah lebih dari pelan, Al," ucap Melita jengah.
Mereka berdua sedang berada di UKS untuk mengobati wajah Alesha yang lebam.
"Sialan si Alvaska, wajah cantik gue jadi kaya gini sekarang," ucap Alesha sembari melihat kondisi wajahnya di cermin kecil yang ia bawa.
"Lagian kenapa lo gak ngehindar pas
bolanya melayang ke arah lo?" tanya Melita tengah membereskan kotak P3K.
"Namanya juga lagi menikmati makan es krim, jadinya gak sadar."
Melita menghela napas berat. "Saran gue
mending lo ke dokter, takut lebamnya
parah."
Baru juga Alesha akan membalas perkataan Melita, pintu UKS terbuka lebar. Alesha mengembuskan napas berat sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Gue ke kelas duluan."
Melita yang mengerti situasi langsung segera pergi dari sana.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
Alesha tidak bergeming.
"Esha."
Alesha tetap diam. Dia sangat tidak ingin melihat wajah orang itu sekarang.
"Esha, luka lo harus diobati."
Alesha berdecak kesal. "Cukup. Gue gak butuh rasa khawatir lo yang cuma pura-pura."
"Esha, gue peduli sama lo."
"Peduli? Sejak kapan? Tadi aja lo cuma diem liatin doang."
"Esha, luka lo bisa jadi serius."
Alesha bangkit dari posisinya, saling berhadapan dengan orang itu.
"Gue gak butuh belas kasihan dari lo."
"Esha-"
"Mana peran lo sebagai abang buat gue selama ini?"
Devano seketika terdiam. Saat kejadian tadi dia ada di sana, bahkan dia menyaksikan semuanya dari awal. Padahal Alesha berharap Devano akan menolongnya ketika bola melayang ke arah mereka, karena Devano berdiri tidak jauh darinya. Namun laki-laki yang merupakan abangnya itu malah melindungi sang protagonis utama, bukan dirinya.
Alesha melihat Alvaska yang juga memasuki ruangan UKS. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Alesha keluar dari UKS begitu saja.
Akan tetapi, sesuatu membuat Alesha penasaran.
Wajah Alvaska babak belur?
__ADS_1
-bunga suci-