Transmigrasi Alesha

Transmigrasi Alesha
14. Ravloska


__ADS_3

14.


-HAPPYREADING-


***


"Yah ... gerbangnya ditutup."


Alesha menatap nanar gerbang sekolah yang sudah tertutup sempurna. Dia memajukan bibir bawahnya karena sedih tidak bisa masuk ke dalam. Kalaupun bisa, pasti ia akan mendapatkan hukuman.


"Lo bisa lewat jalan yang biasa anak-anak lewati buat kabur," saran Sagara yang belum beranjak pergi.


"Belakang sekolah? Yakali gue harus manjat."


"Lewat gerbang juga bisa. Tapi resikonya lo bakal dapet hukuman."


Alesha terlalu malas untuk menjalani hukuman. Walaupun paling hukumannya hormat kepada bendera merah putih, atau juga membersihkan toilet belakang sekolah.


"Mau bolos bareng gue?"


Alesha menoleh ke arah Sagara yang masih setia duduk di atas kuda besinya.


"Lo gak bakalan ke sekolah?"


Sagara mengedikkan bahunya. "Kalo lo mau bolos, nanti gue temenin."


"Gak usah, gue masuk lewat gerbang aja. Masalah hukuman belakangan."


"Yakin?"


"Enggak, sih," jawab Alesha dengan nada memelas membuat laki-laki itu terkekeh.


"Kalo mau bolos, ayo bareng gue. Sekalian gue juga mau bolos," ajak Sagara sekali lagi.


"Lo niat bolos demi gue?" ucap Alesha dengan percaya dirinya.


"Kepedean lo. Gue bolos karena temen-temen gue juga bolos, bukan karena lo."


"Kirain demi gue," ucap Alesha sembari menatap Sagara datar.


"Kalo mau ikut bolos, buruan naik. Kelamaan di sini bisa ketauan penjaga sekolah."


Alesha melirik ke arah gerbang sekali lagi, lalu menghembuskan napasnya berat. Tidak ada salahnya membolos untuk kali ini saja, dia terlalu malas untuk menjalani hukuman.


Walaupun Alesha merasa tidak aman bersama Sagara. Laki-laki tersebut memang terlihat baik diluar, namun di novel yang Alesha baca bahwa Sagara adalah seseorang yang pandai bermuka dua.


Akan tetapi untuk saat ini, Alesha ingin tau bagaimana seorang Sagara yang sebenarnya. Apakah yang semua diceritakan di dalam novel itu benar atau tidak.


Sagara sendiri tidak satu sekolah dengan para tokoh utama, dia bersekolah di tempat sebelum Morra pindah ke SMA STARLING.


Sepanjang perjalanan keduanya tidak ada yang berbicara. Alesha sibuk mengingat setiap bagian cerita yang mungkin dia lupakan. Sesekali Sagara melirik ke kaca spion, bibirnya melengkung tipis tanpa sadar saat melihat wajah Alesha yang tertutup masker.


***


Indra penglihatan Melita sesekali melirik ke pintu. Dia menunggu dengan cemas karena sahabatnya yang tak kunjung datang, padahal jam pelajaran pertama sudah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu.


Dia sudah beberapa kali mencoba menghubungi Alesha, namun ponselnya tidak aktif sama sekali.


"Nih anak kemana, sih? Bikin gue khawatir aja."


Bagi Melita, Alesha adalah teman yang baik. Mungkin orang-orang yang tidak mengenal Alesha akan mengatakan kalau gadis itu seorang antagonis.


Padahal Alesha bukanlah antagonis, dia hanya bersikap seenaknya kepada Morra saja, karena sudah merebut Alvaska dan juga posisinya di Zelvaros. Selebihnya Alesha tidak peduli kepada siapapun, kecuali ada orang yang berani mengusiknya seperti Zoya.


"Melita!"


Melita tersentak saat guru yang sedang menjelaskan materi memanggil namanya.

__ADS_1


"Iya, Bu?" tanya Melita memberanikan diri.


"Teman kamu Alesha kemana? Kenapa dia tidak ada keterangan izin atau sakit sama sekali?"


"Saya tidak tau, Bu."


Melita tidak berani berbohong, karena guru tersebut merupakan guru BK.


"Alesha sakit."


Semua mata mengarah ke meja paling ujung, dia adalah Alvero Alvarez.


"Kalau sakit kenapa dia tidak menitipkan surat, padahal kakaknya juga bersekolah di sini?" tanya guru tersebut.


"Kata Devano suratnya tertinggal, jadi dia mengirimkan pesan ke saya."


Guru tersebut mengangguk percaya. "Baiklah, saya akan menuliskan Alesha hari ini sakit di absen."


"Terima kasih, Bu," ucap Alvero sopan.


Guru tersebut melanjutkan kembali materi yang sempat terhenti. Melita dan juga anggota Zelvaros menatap Alvero dengan pandangan seolah-olah meminta penjelasan.


"Emang beneran si Esha sakit? Kok lo bisa tau?" tanya Jefran kepo dengan sedikit berbisik karena takut ketauan guru.


"Itu cuma alasan, biar dia gak dipanggil BK karena gak ada keterangan hari ini."


Mulut Jefran ternganga lebar mendengar penjelasan Alvero.


"Jadi, lo bohong ke guru demi si Esha?"


Alvero memutar bola matanya malas. Sudah ia duga, pasti Jefran akan menanyakan beberapa pertanyaan.


"Lo diem atau gue sumpal mulut lo


pake kaos kaki?"


"Dasar mulut cabe!"


***


Sagara menghentikan motornya di sebuah warung. Di sana sudah ada tiga orang cowok memakai seragam yang sama dengan Sagara. Alesha segera turun dari motor dan mengikuti Sagara dari belakang.


"Widih... cewe yang ke berapa nih, Ra?"


"Baru lagi?"


Sagara tidak menghiraukan pertanyaan dari mereka yang merupakan temannya.


"Duduk, Al," ucap Sagara seraya memberikan ruang untuk Alesha duduk.


Alesha hanya menurut saja. Dia tau siapa ketiga orang tersebut.


"Boleh gak nih, kita kenalan?" tanya salah satu dari mereka yang tengah memakan bakwan.


"Kenalan sendiri," jawab Sagara.


Dia yang merasa mendapatkan lampu hijau dari Sagara segera mengelap tangannya ke baju teman satunya lagi.


"Najis, lo. Dikira baju gue lap tangan?!"


"Dikit doang, Wa."


"Dikit mata lo!" sungut Sadewa tidak terima.


Ada yang punya temen kaya gini juga?


Laki-laki yang barusan mengelap tangan ke baju yang bernama Sadewa mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Gue Jairo, panggil aja sayang."


Bug


Sadewa memukul kepala Jairo tanpa beban. "Punya temen jangan lo embat, geblek!"


"Kagak usah pukul kepala gue juga, sakit kampret!"


Alesha tertawa sembari menerima uluran tangan Jairo.


"Gue Alesha."


"Anjai, tangannya mulus bener euy!"


Sagara yang sudah jengah dengan kelakuan temannya segera melepaskan tangan Jairo dari tangan Alesha.


"Tangan lo gak higienis, terlalu banyak kuman."


"Kampret lo, Ra!"


Alesha melirik teman Sagara satunya lagi yang tampak sibuk dengan ponselnya. Dia tidak terganggu ataupun tertarik dengan kedatangannya.


"Dia Galen, orangnya emang gitu. Sibuk sama dunianya sendiri," jelas Sagara yang mengerti dengan pandangan Alesha.


"Kalo gue Sadewa, orang paling ganteng


di Ravloska."


"Ravloska?" beo Alesha. Dia merasa tidak asing dengan nama itu.


"Ya, Ravloska."


"Ravloska itu kita berempat," jelas Sagara.


Alesha mengangguk beberapa kali. Dia ingat sekarang, bahwa Sagara juga memiliki nama seperti Zelvaros. Dan namanya adalah Ravloska, yang memiliki empat anggota. Yaitu Sagara, Sadewa, Jairo, dan juga Galen.


Ravloska terkenal dengan sebutan raja balapan. Karena setiap ada balapan, selalu mereka menangkan. Akan tetapi mereka memiliki musuh yang juga sangat kuat, yaitu Zelvaros.


"Mau?"


Sagara menawarkan sebuah bakwan yang Alesha balas dengan gelengan kepala. Tidak mungkin ia membuka maskernya di sini. Pasti sangat memalukan.


Alesha harus menjadi cewek kalem di sini, karena dia sedang berada di kandang yang bisa dibilang musuhnya. Bagaimanapun juga dirinya masih bagian dari Zelvaros.


"Lo sakit, Al?" tanya Jairo.


"Gue gak sakit, kenapa?"


"Kalo gak sakit kenapa lo pake masker?"


"Oh, ini? Biar kalian gak terpesona akan kecantikan gue."


Sadewa dan Jairo melongo melihat tingkat kepedean Alesha.


"Lo."


Alesha menoleh ke arah orang yang barusan bersuara. Galen tengah menunjuk ke arahnya.


"Gue?" tanya Alesha menunjuk dirinya sendiri.


"Lo Alesha ...."


"Mampus! Jangan-jangan dia tau kalau dirinya bagian Zelvaros. Atau mungkin sebenarnya mereka sudah tau siapa dirinya? Dan Sagara sengaja membawanya ke sini dengan embel-embel mengajaknya bolos?


-bunga suci-


Bagaimana dengan chapter ini?

__ADS_1


__ADS_2