Transmigrasi Alesha

Transmigrasi Alesha
1. Welcome To Dunia Fiksi


__ADS_3

-HAPPYREADING-


"Nih, tas lo."


Dengan senang hati Alesha menerimanya. Kegiatan belajar mengajar hari ini sudah selesai. Beberapa siswa sudah pulang dan ada juga yang masih di sekolah untuk mengikuti kegiatan tambahan seperti ekstrakulikuler.


"Makasih," ucap Alesha.


"Apa? Lo bilang apa barusan?"


"Makasih."


"Coba ulangi?"


"Telinga lo budek apa gimana? Gue bilang, makasih," ucap Alesha jengah.


"Tumben bilang makasih, biasanya juga seenaknya lo sama gue."


Alesha menghela napasnya. Dia tau bagaimana sifat Alesha Liondra yang kadang seenaknya sendiri. Dan Melita satu-satunya orang yang mau menjadi sahabatnya, setelah dirinya dicap menjadi sang antagonis.


"Gue tadi liat abang lo udah balik duluan, termasuk si Alvaska," ucap Melita dengan nada tidak enak.


"Terus?"


"Mereka baliknya barengan, ada si morra juga."


"Oh."


Dengan santainya Alesha menjawab sembari keluar dari ruangan UKS diikuti oleh Melita di sampingnya.


"Oh?" ulang Melita bingung. "Lo gak marah?"


Alesha melirik ke arah Melita sembari mengedikkan bahunya acuh.

__ADS_1


"Buat apa gue marah? Itu terserah mereka. Gue udah cape sama semuanya. Dan setelah kejadian tadi yang gue kena pukul bola basket sama si Alvaska, gue jadi gak ada perasaan apapun sama dia."


"What?! Semudah itu?"


Alesha mengangguk. "Gue mau berubah. Gue cape dicap sebagai antagonis mulu, padahal gue gak salah."


Ya, menurut Alesha sendiri. Sebenarnya Alesha di dalam novel tidak salah sama sekali. Karena jauh sebelum datangnya Morra, Alesha dan Alvaska sangat begitu dekat, layaknya orang pacaran. Dan ketika Morra datang, semuanya berubah dalam sekejap, termasuk dengan Abangnya, Aldevano.


"Al....


"Apa?"


Alesha menghentikan langkah kakinya ketika Melita tiba-tiba berhenti dan memandang ke arahnya dengan tatapan yang menurutnya sangat aneh.


"Lo kenapa, sih?" tanya Alesha heran.


"Lo tau, Al?"


"Ya, kagak, lah. Lo kan belum ngomong apa-apa."


"Dan sekarang lo tobat. Gue seneng banget, gila!!" lanjut Melita menggebu-gebu.


"Ada hikmahnya juga kepala lo kena bola basket."


Alesha akui Melita sangat tulus mengatakan hal tersebut. Karena terlihat dari pancaran matanya yang tidak ada kebohongan sama sekali.


Padahal alasan dirinya mengatakan hal tadi, karena ia tidak mau berakhir dengan mati konyol gara-gara cinta, apalagi ditangan sang protagonis tokoh utama.


"Gue mau nanya," ucap Alesha tiba-tiba dengan raut wajah serius.


"Nanya apaan?"


"Yang bawa gue ke UKS tadi siapa?"

__ADS_1


Melita tampak berpikir. "Yang gue denger dari anak-anak sih, si Alvaska."


"Alvaska?"


***


Alesha memandang bangunan megah di hadapannya dengan kedua bola mata membulat sempurna.


"Ini beneran rumah gue?" tanya Alesha kepada dirinya sendiri.


Alesha pulang diantarkan oleh Melita dengan selamat. Tidak mungkin ia pulang sendiri, karena dia saja tidak tau alamat rumahnya dimana.


"Non Al ngapain atuh bengong di situ? Ayo masuk."


Alesha tersadar dari lamunannya saat laki-laki paruh baya dengan memakai seragam satpam membukakan pintu gerbang untuknya.


"Mang, ini rumah Alesha?"


"Lah, emang ini rumah Non Al. Non mah ada-ada aja pertanyaannya," ucap satpam tersebut yang diketahui namanya udin.


Alesha hanya nyengir saja. Ia langsung pamit kepada Mang udin dan melanjutkan langkah kakinya menuju pintu rumah.


Al merupakan nama panggilan yang hanya orang-orang tertentu yang bisa memanggilnya dengan sebutan itu. Hanya keluarganya dan anak-anak Zelvaros yang memanggil dirinya dengan nama tersebut.


Perlahan Alesha membuka pintu utama rumah. Saat pintu terbuka, hanya keheningan yang dapat Alesha rasakan. Tidak ada siapapun saat ia membuka pintu rumahnya.


"Beda banget sama kehidupan gue. Kalo gue pulang sekolah pasti ada nyokap yang nyambut kepulangan gue," monolognya.


Di kehidupannya dulu, Alesha memang bukan terlahir dari keluarga kaya raya seperti Alesha Liondra. Namun, semua kebutuhannya bisa terkecukupi. Dia memiliki kedua orang tua yang sangat menyayangi dirinya, dan juga adik laki-laki yang berusia tujuh tahun.


Saat Alesha pulang dari sekolah, biasanya Bunda Alesha sudah menunggu kedatangan dirinya, dan menyambutnya. Bahkan makanan untuk Alesha sudah tersedia di meja makan.


Alesha menghela napas panjang. Hatinya sedikit sesak saat mengingat keluarganya di dunia nyata. Ia merindukan mereka.

__ADS_1


"Mari kita lihat bagaimana kehidupan dunia fiksi yang sebenarnya."


-bunga suci-


__ADS_2