
-HAPPYREADING-
***
Alesha segera turun dari motor Sagara. Laki-laki itu mengantarkan Alesha sampai depan gerbang. Padahal Alesha sudah menolaknya, akan tetapi Sagara memaksa, alhasil dengan senang hati Alesha menerima tawarannya.
"Sana balik, udah malem."
"Dasar gak tau terima kasih," celetuk Sagara sambil menoyor kening Alesha pelan.
"Kamsahamnida," ucap Alesha sedikit membungkuk sopan.
Sagara hanya menggelengkan kepalanya. Ia mengeluarkan benda berbentuk pipih dari saku jaketnya, dan langsung disodorkan kepada Alesha.
"Ponsel? Lo ngasih ponsel buat gue?" tanya Alesha tidak mengerti.
"Gue minta nomor lo."
Alesha mengerjapkan matanya beberapa kali. Haruskah dia memberikan nomornya kepada Sagara?
"Kenapa lo minta nomor gue? Pasti mau pedekate, kan?"
Tak!
Sagara menjitak kepala Alesha dengan gemas.
"Tolong tingkat percaya diri lo kurangin dikit," jawab Sagara membuat Alesha mengerucutkan bibirnya.
Alesha mengambil ponsel dari tangan Sagara. Dia ragu untuk mengetikkan nomor teleponnya. Tidak sengaja, matanya melihat sebuah poster yang tertempel di tiang listrik tepat di belakang cowok itu. Sebuah ide muncul di kepalanya.
Alesha segera menekan tombol keyboard di ponsel Sagara, senyumnya terus mengembang.
"Nih," ujar Alesha sembari memberikan ponselnya kembali.
Sagara memeriksa nomor yang
barusan diketik oleh Alesha.
"Ini bener nomor lo, kan?" tanyanya ragu.
"Of course, gue gak mungkin nolak saat cowok ganteng kek lo minta nomor gue."
"Oke, thanks," ucap Sagara percaya. Alesha tidak melunturkan senyuman di wajahnya, membuat Sagara
mengernyitkan keningnya. "Kenapa lo? Senyam-senyum mulu."
"Gue lagi seneng, seneng... banget."
Sagara terkekeh. "Lo seneng karena gue minta nomor lo?"
Alesha mengangguk dengan semangat. "Yaudah, gue masuk dulu. Lo balik sana.
"Lo duluan," suruh Sagara.
Alesha maju beberapa langkah, lalu berbisik tepat di telinga Sagara.
"Kalo udah sampe rumah, jangan lupa telpon," bisiknya.
"Dasar gak ada jaim-jaimnya lo jadi cewek," ucap Sagara sembari tersenyum tipis.
"Bye, Sagara ganteng. Makasih udah nganterin gue!" ujar Alesha setengah berteriak seraya menutup pintu gerbang.
Sagara terus menggelengkan kepalanya melihat kelakuan ajaib Alesha. Dia melihat kembali nomor telepon yang Alesha ketik tadi.
"Baru kali ini gue ketemu sama cewe ajaib kayak lo."
Di sisi lain, Alesha berjalan memasuki rumahnya dengan tawa yang tidak bisa ia tahan lagi. Alesha terus membayangkan ekspresi Sagara saat menelpon nomor yang dia berikan tadi.
"Emang cari mati gue," gumam Alesha masih dengan sisa tawanya.
Apa kalian berpikir kalau Alesha akan memberikan nomornya begitu saja? Oh, tentu tidak. Alesha memang mengetikkan sebuah nomor di ponsel milik Sagara tadi, tapi itu bukan nomor telepon miliknya, melainkan nomor tukang sedot wc.
"Kira-kira dia beneran telpon gak, ya?" tanyanya entah kepada siapa.
"Sha."
__ADS_1
Alesha menoleh ke sumber suara, kedua matanya berbinar saat melihat kedua orang tuanya berdiri di dekat tangga dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Keduanya menatap Alesha tajam.
"Kok kalian pulang?"
"Heh! Pertanyaan macam apa itu? Kamu gak seneng Papa sama Mama pulang?" serang Mama Alesha.
"Jujur sih, enggak," jawab Alesha tanpa beban dan langsung mendapatkan tatapan melotot dari Mamanya.
Alesha menyengir. "Bercanda, Ma."
"Habis dari mana kamu? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Papa Alesha mengintrogasi.
"Habis ngabisin duit Papa tapi gak habis-habis."
Irawan spontan melotot mendengar jawaban putrinya. Begitupun dengan Arumi, Mama Alesha.
"Dasar anak kurang ajar! Siapa yang ngajarin kamu kayak gitu, ha?" tanya Arumi emosi.
"Ma, Pa, percuma kerja setiap hari kalau duitnya gak dipake. Lagian harta Papa kan banyak, gak akan habis tujuh turunan. Jadi Esha bantu buat habisin."
Irawan dan Arumi tidak habis pikir dengan jalan pikiran putrinya.
"Terserah kamu, Sha. Habisin aja semuanya," ucap Papa Alesha merasa depresot.
"Siap, komandan!" balas Alesha dengan semangat
Tanpa diketahui oleh siapapun, Devano berdiri di ujung tangga melihat interaksi keluarganya dengan senyum miris.
***
Keesokan harinya, sepanjang jam pelajaran Alesha tertidur. Semalam ia tidak bisa tidur, dan hanya tidur dua jam saja.
"Jadi itulah yang dinamakan macam-macam teori asam basa beserta pengertian dan rumus-rumusnya. Apa ada yang ingin ditanyakan?" tanya Pak Alam selaku guru Kimia.
Melita menyenggol bahu Alesha pelan, saat mata Pak Alam mengarah ke mereka.
berjalan ke arah meja mereka.
"Al .... " desis Melita mulai kesal dengan Alesha yang kebo.
Pak Alam berdiri di samping Alesha yang tertidur, Melita hanya menyengir. Semua mata murid di kelas mengarah ke mereka.
Namun tidak ada pergerakan sama sekali.
"Alesha Liondra."
Alesha tetap tidak terusik dengan panggilan Pak Alam.
"Buset, si Esha tidur atau latihan meninggal?" bisik Aslan.
"Lo diem," tegur Jefrin takut kena tegur.
Pak Alam menarik napas dalam-dalam.
"ALESYA LIONDRA!" teriak Pak Alam dengan sekali napas.
"SIAP, KOMANDAN!"
Alesha spontan langsung berdiri dengan posisi tangan kanannya memberi hormat. Semua yang ada di dalam ruangan dibuat melongo, mereka ingin tertawa namun harus ditahan karena tidak ingin membuat guru yang termasuk killer ini mengamuk.
"Eh, Bapak. Kenapa, Pak?" tanya Alesha salah tingkah.
"Bisa-bisanya kamu tidur di jam pelajaran saya! Sudah merasa pintar kamu, ha?!"
Alesha mengangguk. "Materi yang Bapak jelaskan, sudah saya kuasai, Pak."
Pak Alam melotot, namun Alesha tidak merasa takut sama sekali. Karena rasa takutnya kalah dengan rasa ngantuknya.
"Oh, begitu. Coba jelaskan apa itu teori asam basa menurut Arrhenius?" tantang Pak Alam.
"Menurut Arrhenius, asam merupakan senyawa yang jika dilarutkan dalam air dapat menghasilkan ion H+. Basa merupakan senyawa yang jika dilarutkan dalam air dapat menghasilkan ion OH-."
Semua orang dibuat terkejut dengan jawaban Alesha. Bagaimana bisa gadis itu menjawabnya padahal sejak awal jam pelajaran dia tertidur?
"Bagaimana, Pak? Apa jawaban saya benar?" tanya Alesha menyadarkan Pak Alam yang melongo.
__ADS_1
Pak Alam berdeham. "Ya, jawaban kamu sangat tepat. Bagaimana bisa kamu tau jawabannya?"
Alesha mengibaskan rambutnya ke belakang dengan bangga. "Saya sudah pintar sejak dalam kandungan, Pak."
Pak Alam yang sudah speechless merasa dijatuhkan seketika.
"Terserah kamu, Alesha. Lain kali jangan tidur di jam pelajaran saya lagi."
"Siap, Pak Alm-Pak Alam!"
Hampir saja Alesha terpeleset memanggil nama gurunya itu. Dan kenapa Alesha bisa menjawab pertanyaan dari Pak Alam? Karena di dunia nyata, Alesha termasuk ke jajaran murid yang bisa dibilang cukup pintar. Lagipula, materi yang dijelaskan oleh Pak Alam sudah dibahas di dunianya dulu.
Alesha tak sengaja melirik ke salah satu murid yang ada di kelasnya. Orang itu memandangnya dengan tatapan tidak suka.
Alesha tersenyum smirk lalu mengacungkan jari jempolnya dengan posisi terbalik.
Alesha berjalan berdampingan dengan Melita menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran hari ini sudah berakhir, waktunya mereka pulang ke rumah masing-masing.
"Tumben hari ini lo gak ekskul," ucap Alesha memecahkan keheningan di antara mereka.
"Harusnya sih gue ikut rapat osis, tapi gue disuruh nyokap balik cepet."
"Lo gak bawa mobil sendiri?"
Melita menggelengkan kepalanya. "Mobil gue lagi di bengkel, jadinya gue dianter jemput sama supirnya nyokap."
Alesha hanya manggut-manggut tanda mengerti. Mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah.
"Al, itu siapa anjir? Ganteng banget!"
"Lah, siapa?" tanya Alesha tidak
mengerti.
"Itu, tuh!" ucap Melita memalingkan wajah Alesha ke arah cowok di sebrang jalan.
Kedua mata Alesha seketika melebar saat matanya tak sengaja saling bertemu.
"Ganteng banget kan, Al? Kayaknya dia bukan murid sekolah kita, deh. Soalnya seragam yang dia pake beda sama punya kita."
Alesha tidak menggubris perkataan Melita. Rasanya dia ingin berlari dari sana saat ini juga saat orang itu menatap tajam ke arahnya.
"Dia ke sini, dia ke sini!" seru Melita heboh.
'Mampus! Mati gue.'
Melita heboh merapikan penampilannya, dari mulai rambut sampai baju. Ia langsung memasang senyuman paling manis sepanjang hidupnya saat laki-laki itu sudah di depan matanya.
"Ikut gue," ajak Sagara kepada Alesha.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Alesha panik.
Dia tidak takut Sagara akan marah soal nomor palsu yang diberikannya, tapi yang lebih ia takutkan adalah anggota Zelvaros melihat keberadaan Sagara di sini, apalagi tepat di hadapannya.
"Lo kenapa ngasih gue nomor tukang sedot wc?"
Alesha merapatkan bibirnya, jangan sampai tawanya meledak saat ini juga.
Alesha berdeham. "Nanti gue jelasin, tapi jangan di sini."
"Yaudah, buruan ikut gue."
Alesha mengangguk, dia beralih menatap Melita yang memandang mereka dengan ekspresi bingung.
"Gue duluan, Mel," pamit Alesha.
Alesha menoleh ke arah Melita. "Gue sama Alesha duluan."
Melita tersadar, dan menatap nanar
ke arah Alesha yang pergi bersama Sagara. "Baru mau caper, ternyata milik
temen."
"Kasian banget gue," ucap Melita mendramatis.
__ADS_1
-Bunga Suci-
- Hai Semua Pada Kangen ga nih sama transmigrasi alesha