Transmigrasi Alesha

Transmigrasi Alesha
20. Apakah Ini Benar, Atau Salah


__ADS_3

-HAPPYREADING-


Sejak kejadian dua hari yang lalu dimana Alesha menciduk Devano dan Morra berduaan di kafe, ia tidak pernah berbicara lagi dengan Devano. Kalaupun mereka bertemu di dalam rumah, keduanya hanya fokus ke aktivitas masing-masing.


"Kayaknya ada sesuatu yang gak gue ketahui."


"Jalan ceritanya kek gak sesuai sama yang gue baca. Atau gara-gara gue ubah alurnya, makanya jadi gini?"


"Atau si penulis sengaja gak menceritakan semuanya ke dalam novel?"


"Tau ah, pusing gue. Otak gue gak nyampe buat mikir teori beginian," ucap Alesha pasrah.


Alesha mengamati langit-langit kamarnya. Dia tiba-tiba teringat kepada sahabat di dunia nyatanya, yaitu Salsa.


"Coba aja lo gak nyuruh gue buat ambil mangga, pasti gue gak akan ada di sini."


"Tapi salah gue juga sih, ngilangin novel milik kakaknya si Salsa. Apa ini karma buat gue, ya? Karena udah ngilangin novel orang sekaligus nyolong mangga?"


Terdengar helaan napas dari mulut Alesha. "Gue bisa balik ke dunia gue lagi gak, ya?"


Alesha segera bangkit dari posisinya, ia mengambil jaket yang menggantung.


"Kalo gue di rumah, gue bakalan inget terus sama dunia gue."


Saat Alesha keluar dari kamar, tidak sengaja ia berpapasan dengan Devano yang sepertinya habis dari luar.


"Mau kemana lo?"


"Bukan urusan lo," jawab Alesha sembari melewati Devano begitu saja.


Alesha pergi ke taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Dia duduk di salah satu bangku yang ada di sana.


Sedari tadi otaknya terus berpikir tentang alur cerita yang sudah banyak diubahnya. Dari awal misi Alesha hanya menjauhi anggota Zelvaros dan para tokoh lainnya. Namun sialnya, bukannya menjauh, dia malah selalu berurusan dengan mereka semua.


"Kayaknya gue harus mengubah rencana awal. Gue harus cari tau apa yang gak diceritakan sama si penulis."


"Bentar, gue baru kepikiran. Kalo tubuh si Alesha Liondra sama gue, berarti dia kemana? Ke tubuh gue, kah? Tapi herannya, kenapa muka gue sama dia sama?"


Alesha menyandarkan tubuhnya, kedua matanya terpejam merasakan sensasi dinginnya udara malam hari.


"Hidup itu melelahkan."


"Alesha."


Kening Alesha mengernyit. Dia seperti mendengar seseorang memanggil namanya.


"Kek ada yang manggil gue, perasaan gue aja kali," ucapnya masih dengan mata terpejam.


"Araya."


Araya mencoba membuka matanya.


Ia terkejut saat melihat wajah Sagara tepat di depan matanya.


"Astagfirullah!"

__ADS_1


Saking terkejutnya, Alesha tidak sengaja mendorong tubuh Sagara, sehingga laki-laki itu terjatuh ke tanah.


"Anjir! Lo ngapain dorong gue?" tanya Sagara sambil kesakitan karena terjatuh.


"Sorry... sorry, gue gak sengaja."


Alesha langsung membantu laki-laki itu untuk bangun.


"Lo gak papa?" tanya Alesha merasa bersalah.


"Pantat gue sakit bego!"


"Ya, salah lo sendiri ngagetin gue. Coba aja wajah lo gak di depan mata gue, gak bakalan gue dorong."


"Lagian gue udah manggil nama lo, lo malah asik tidur," ujar Sagara tidak mau kalah.


"Terserah, lo. Gue males debat."


Mood Alesha memang sedang tidak baik-baik saja malam ini.


"Lagi ada masalah lo?"


Alesha melirik Sagara dengan ekspresi datar.


'Tampangnya baik, padahal aslinya bermuka dua.'


"Gue emang ganteng, gak perlu sampe segitunya natap gue."


"Kampret!" umpat Alesha membuat Sagara terkekeh pelan.


"Lo kenapa bisa ada di sini?" Bukannya menerima tawaran Sagara, Alesha malah melayangkan satu pertanyaan.


"Ngikutin gue, ya?" tebak Alesha dengan tingkat percaya diri tinggi. yang


"Kepedean lo! Gue abis kumpul sama temen gue, gak sengaja liat lo di sini. Makanya gue samperin."


Alesha memandang Sagara dengan ragu. Tidak puas dengan jawaban laki-laki itu.


"Kenapa lo natap gue kayak gitu?"


"Karena lo ganteng. Kalo lo jelek, gue males natap lo."


Alesha tidak sadar bahwa ucapannya


membuat Sagara seketika terdiam.


"Lah, malah diem. Baper, lo?" tanya Alesha dengan senyum seperti mengejek.


Alesha melongo mendengar perkataan Sagara. Kedua matanya menatap laki-laki itu tanpa berkedip.


"Nath," panggil Alesha masih melongo.


"Kenapa? Baper?"


Alesha menggeleng. "Seumur hidup, baru kali ini gue denger suara buaya."

__ADS_1


"Sialan lo!"


Alesha tertawa melihat Sagara yang tampak kesal. Dia tidak akan mudah untuk baper apalagi hanya dengan kata-kata.


"Gue Alesya Anastasya,gak bakalan baper modal kata-kata doang," ucap Alesha dengan bangga.


"Nama lo Alesha Anastasya?"


Alesha langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Bisa-bisanya ia keceplosan menyebutkan nama aslinya. Tetapi sepertinya Sagara tidak mengetahui nama asli seorang Alesha Liondra, jadi dia akan menggunakan nama aslinya terlanjur keceplosan.


"Iya, nama gue Alesha Anastasya."


Sagara hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkomentar apapun.


"Alesha," panggil Sagara.


"Apaan?"


"Lo kenal Zelvaros?"


Tubuh Alesha seketika mematung. Apa yang harus dia katakan? Atau jangan-jangan Sagara sudah mengetahui siapa dirinya?


"Zelvaros? Ah, ya. Gue tau, mereka seangkatan sama gue," jawab Alesha disertai cengiran.


"Mereka musuh Ravloska


Alesha menelan salivanya dengan susah payah.


"Terus?"


'Dasar bodoh lo Alesha! Malah nanya, terus.'


Sagara menatap Alesha dengan lekat, lalu tersenyum tipis.


"Gue bersyukur lo bukan Alesha yang dari bagian mereka."


'Mampus!'


Alesha menggigit bibir bagian dalamnya. Atmosfer di sekitarnya terasa sesak. Alesha hanya tersenyum yang terlihat sangat terpaksa.


"Kalo misalnya lo Alesha yang itu, mungkin gue akan bunuh lo saat ini juga."


Kedua mata Alesha membulat.


"B-bunuh gue?"


Sagara terkekeh pelan. "Bercanda. Gue gak akan ngelakuin hal itu ke lo, karena lo bukan Alesha Liondra."


Alesha merasa hidupnya berhenti detik itu juga. Bahkan bulu kuduknya seketika berdiri. Dia tidak tau sekarang tengah melakukan suatu kesalahan atau pilihan yang benar.


'SIAPAPUN TOLONG SELAMATKAN GUE DARI PSIKOPET BERWAJAH GANTENG INI!!'


-Bunga Suci


- see you

__ADS_1


__ADS_2