
-HAPPYREADING-
***
Alesha sesekali melirik Sagara yang hanya diam sejak tadi. Dia bingung kenapa Sagara malah membawa dirinya ke sebuah apartemen.
"Lo ngapain bawa gue ke sini?" tanya Alesha yang sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya.
"Ke apartemen gue," jawab Sagara sambil memencet tombol lift apartemennya berada.
Gadis itu mencoba mencerna setiap perkataan Sagara. Pintu lift terbuka, di dalam lift sudah ada seorang ibu-ibu.
"Ayo masuk," ajak Sagara.
"Lo pasti mau *****-***** gue, ya?"
Sagara melotot sempurna, begitu pun dengan ibu-ibu yang di dalam lift.
"Haha... dia kembaran saya. Kalo bercanda emang suka kelewatan," ucap Sagara saat menyadari bahwa mereka tidak hanya berdua.
Baru juga Alesha membuka mulut, Sagara sudah melayangkan tatapan mata melotot kepada gadis itu hingga Alesha kembali merapatkan bibirnya. Sagara langsung menarik tangan Alesha, masuk ke dalam lift.
Suasana dalam lift sangat canggung. Terlebih ibu-ibu itu terus memandang mereka dengan tatapan curiga.
"Kalian beneran kembaran?" tanya ibu tersebut.
"Bu-"
Sagara segera membekap mulut Alesha menggunakan tangannya.
"Iya kita kembaran. Ibu gak liat wajah kita sama?" tanya Sagara seraya tersenyum berusaha meyakinkan.
Ibu-ibu itu melihat wajah Sagara dan Alesha secara bergantian, lalu menggelengkan kepalanya.
"Wajah kalian gak ada mirip-miripnya."
Sagara menganga mendengar jawaban si Ibu. Dia bingung harus melakukan apa sekarang. Tangannya masih setia menutup mulut Alesha, agar gadis tersebut tidak berbicara yang tidak-tidak.
Pintu lift terbuka, Sagara menghela napas lega. Ia segera menyeret Alesha keluar dari lift, sembari mengangguk sopan dan tersenyum tipis kepada ibu-ibu yang masih di dalam lift.
Alesha memukul-mukul tangan Sagara yang membekam mulutnya. Sagara segera menjauhkan tangannya saat lift tersebut kembali tertutup.
"Lo mau gue mati?!" sungut Alesha emosi.
"Heh, lain kali kalo ngomong tau tempat! Bisa-bisanya lo berpikiran gue mau *****-grepein lo," balas Sagara tidak mau kalah.
"Kata orang-orang, kalo cowok bawa ceweknya ke hotel atau apartemen, pasti ada yang gak beres."
"Emang lo cewek gue?" timpal Sagara.
"Ya bukan, sih. Tapi gue kan juga cewek!"
Alesha tetap tidak mau kalah. Sagara memutar bola matanya malas.
"Gue gak demen sama cewek tepos," ujar Sagara sembari menekan kata sandi apartemennya.
Mata Alesha melebar, kedua tangannya terkepal saking kesalnya. Sedangkan Sagara sudah masuk ke dalam apartemen meninggalkannya.
"Jatuh cinta sama gue mampus lo, Sagara!" geramnya.
Alesha melirik ke belakang berusaha
melihat pantatnya. "Lah iya gue tepos."
"Lo mau masuk apa kagak? Gue tutup nih pintunya," ujar Sagara yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.
"Orang gak sabaran kuburannya sempit."
Alesha segera menyusul Sagara ke dalam apartemen. Dia bingung kenapa Sagara malah membawanya ke sini? Dia pikir Sagara hanya akan berbicara mengenai nomor palsu yang Alesha berikan. Tetapi, tanpa berbicara apapun, setelah meninggalkan area SMA STARLING Sagara langsung membawanya ke sini.
Saat dia masuk ke dalam apartemen, dia mendengar suara yang cukup rusuh. Ternyata sudah ada Jairo, Sadewa, dan Galen di sana.
"Kampret! Kalah lagi gue," umpat Jairo.
Sadewa tertawa terbahak-bahak. "Gue udah bilang sama lo, lo gak akan bisa lawan si Galen."
__ADS_1
Jairo melempar stick game dengan kesal. Mereka tidak menyadari kedatangan Sagara dan Alesha.
"Baru balik?" tanya Galen yang menyadari keberadaan Sagara.
Sagara hanya berdeham sebagai jawaban. Jairo dan Sadewa pun menoleh ke arah Sagara dan Alesha yang sudah duduk bergabung bersama mereka.
"Widih... cewek lo baru lagi, ga?" tanya Sadewa.
"Kemarin si Alesha, sekarang siapa?" tambah Jairo.
"Dia Alesha."
Jawaban Sagara membuat keduanya melongo. Mereka memandang Alesha sampai tidak berkedip.
"Lo ... Alesha?" tanya Sadewa seakan-akan tidak percaya.
Alesha menganggukkan kepalanya. "Ya, gue Alesha."
Sadewa menutup mulutnya tanda syok. Dia tidak bisa berkata-kata sama sekali. Sedangkan Galen terlihat tidak peduli. Jairo? Jangan ditanya.
"Al," panggil Jairo pelan.
"Kenapa lo?" tanya Alesha bingung. Karena Jairo memanggilnya dengan tatapan yang aneh.
"Pacaran, yuk."
Plak!
Sagara menampar pipi Jairo cukup kuat, membuat laki-laki itu mengaduh.
"Bangun, gak usah mimpi."
"Sialan lo, Ga!" umpatnya.
Alesha terkekeh melihat kelakuan mereka. Dia menyugarkan rambutnya ke belakang.
"Emang, ya. Kecantikan gue gak bisa diragukan lagi, nyampe si Jairo aja langsung ngajak pacaran."
Sagara menghela napas jengah. "Saran gue jangan ada yang puji nih cewek, tingkat kepercayaannya terlalu overload."
Sagara tidak menggubris perkataan Alesha. Dia lebih memilih pergi ke
dapur untuk mengambil minum.
"Udah berani buka aurat, lo?" sindir Sadewa mengingat percakapan mereka saat itu.
"Kampret lo, Dewa," balas Alesha yang merasa tersindir.
"Kalo aja lo jomblo, pasti langsung gue ajak nikah."
"Ayo, nikah! Gue jomblo kok, asal lo punya banyak duit gue mau," jawab Alesha dengan semangat saat mendengar ucapan Jairo.
"Kagak deh, gue lebih sayang nyawa. Si Sagara serem kalo ngamuk."
Alesha mengernyit. "Apa kaitannya sama dia?"
"Lo udah jadi milik dia," jawab Sadewa.
"Milik apanya? Tadi aja dia mau bunuh
gue."
"Si Sagara-"
"Gak usah dengerin mereka, gak guna," potong Sagara yang datang dari arah dapur seraya membawa minuman kaleng di tangannya.
"Sialan lo!" ucap Jairo dan Sadewa hampir barengan.
Sagara melemparkan satu kaleng minuman ke arah Alesha, dan langsung ditangkap oleh gadis itu dengan tepat sasaran.
"Lo bertiga balik sana," usir Sagara terang-terangan.
"Enggak! Gue mau di sini sama Alesha," tolak Jairo.
Sagara memutar bola matanya malas. "Ada yang mau gue omongin sama nih cewek."
__ADS_1
"Yaudah, tinggal ngomong apa susahnya," timpal Sadewa.
Galen tiba-tiba berdiri seraya menyampirkan tas sekolahnya di bahu.
"Gue balik duluan."
"Lah, kok balik?" tanya Sadewa.
"Gak denger ucapan si Sagara?"
"Iya-iya denger. Yok balik!" ajak Sadewa seraya menarik kerah baju Jairo layaknya anak kucing.
"Lah, kok pada balik? Baru juga gue nyampe," kata Alesha.
"Kita emang niatnya mau balik, karena udah dari pagi juga di sini."
Kalian tau apa maksud ucapan Sadewa? Ya, mereka membolos sekolah. Dari rumah masing-masing memakai seragam sekolah, tapi tujuan mereka ke apartemen Sagara.
Alesha hanya bisa merelakan mereka pulang. Padahal ia ingin bersama mereka lebih lama, karena dengan mereka moodnya sangat baik, berbanding terbalik ketika dirinya bersama Sagara.
Kini di apartemen Sagara hanya ada mereka berdua. Tiba-tiba Alesha merasakan atmosfer yang tidak mengenakan. Apalagi saat melihat wajah Sagara yang terlihat tidak bersahabat.
"Gue juga mau balik, deh," pamit Alesha gugup.
"Yang izinin lo buat balik siapa?"
Alesha mengerjapkan matanya beberapa kali. "Mereka aja udah balik, masa gue masih di sini?"
"Kenapa lo ngasih gue nomor tukang
sedot wc?"
Alesha terbelalak. Ia pikir laki-laki itu sudah melupakannya karena dari tadi tidak membahas soal nomor.
"Anu ... itu, itu gak sengaja," jawab Alesha.
"Jawaban lo gak meyakinkan."
Alesha menghela napasnya. "Gue gak terbiasa ngasih nomor ke orang lain. Jadi ya, gue kasih lo nomor tukang sedot wc aja biar lebih bermanfaat." "Gue? Orang lain?" Alesha mengangguk.
"Mulai dari sekarang, lo bagian dari Ravloska. Jadi, gue bukan orang lain lagi buat lo," kata Sagara tanpa nada ragu atau apapun.
Kedua mata Alesha membulat sempurna. "Gue? Ravloska?"
"Ya, gue mau lo jadi bagian Ravloska. Mereka bertiga juga bakalan setuju."
Dia tidak tau harus bagaimana sekarang.
Haruskah Alesha merasa senang? Atau sebaliknya?
Sagara mengambil ponsel Alesha yang berada di genggaman gadis itu. Ia mengetikkan sesuatu karena kebetulan ponselnya tidak di sandi.
"Ini nomor gue, hubungi gue kalo ada apa-apa," ujar Sagara mengembalikan ponselnya.
Alesha menatap nomor Sagara yang sudah tersimpan.
"Sebagai hukuman karena lo ngerjain gue. Gue mau lo bersihin apartemen gue."
"Gak mau! Lo pikir gue babu?!" sungut Alesha cepat.
"Gak nerima penolakan. Salah siapa ngerjain gue?"
"Tapi kan—"
Sagara menempelkan jari telunjuknya di bibir Alesha, membuatnya seketika terdiam.
"Nurut, atau gue *****-grepein lo?"
Alesha langsung menyingkirkan jari Sagara sembari menatap laki-laki itu tajam.
"Iya gue bersihin apartemen lo, puas?!"
Sagara tersenyum puas melihat Alesha yang menuruti perintahnya.
"Good girl."
__ADS_1
-bunga suci-