
-Happy Reading-
"Sumpah, Al. Lo tadi keren banget!"
Ini adalah ucapan yang ketiga puluh kalinya yang Melita lontarkan untuk Alesha. Dia saja sudah jengah mendengar kata-kata yang sama sedari pagi sampai sekarang istirahat.
"Pas lo narik kerahnya si Alvaska, beuh ... damagenya bukan main."
"Gue pikir bakalan ada adegan kek di drakor-drakor, ternyata lo malah dorong si Alvaska."
Alesha hanya mendengarkan ocehan Melita masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Dia hanya asik menyalin catatan milik Melita. Dia merelakan jam istirahatnya untuk mencatat pelajaran yang belum dia lengkapi.
"Al, kenapa gak sekalian lo cium aja si Alvaska?"
Uhuk!!
Alesha tersedak air liurnya sendiri. Melita yang merasa bersalah langsung memberinya air minum dalam botol.
"Lo pikir gue cewek apaan maen cium-cium?" sungut Alesha.
"Padahal momennya udah pas itu, Al."
"Pas matamu! Lagian gue heran deh sama lo. Perasaan setiap ada kejadian gue gak liat lo, tapi lo seolah-olah ada di tempat kejadian."
Melita tersenyum bangga. "Lo-nya aja yang gak liat gue."
Alesha kembali melanjutkan aktivitas menulisnya yang sempat terhenti. Di kelas hanya ada mereka berdua, karena murid yang lainnya sedang berada di kantin.
"Berarti pas kemarin gue disiram sama si Zoya, lo tau?" tanya Alesha yang langsung diangguki oleh Melita.
"Kenapa lo gak nolongin gue?"
Melita hanya nyengir menampilkan sederetan giginya yang rapi. Alesha hanya memutar bola matanya malas.
"Gue laper, nih. Ke kantin, yuk?" ajak Melita dengan wajah melas.
__ADS_1
"Lo aja sana, masih banyak yang belum gue tulis."
"Makanya kalo guru lagi kasih penjelasan, lo langsung tulis. Bukannya malah molor," sindir Melita secara terang-terangan.
"Berisik. Sana lo pergi."
"Ngusir, lo?"
"Iya. Sana-sana pergi."
Melita berdecak kesal, ia segera bangkit dan melangkahkan kakinya keluar kelas.
"Gue titip susu kotak satu, Mel!" teriak Alesha yang masih bisa terdengar oleh Melita.
Alasan utama kenapa Alesha tidak pergi ke kantin adalah karena ia terlalu malas mendengar orang-orang yang membicarakan dirinya. Dia juga tidak ingin bertemu dengan anak Zelvaros termasuk Alvaska. Walaupun mereka sekelas, tapi sepanjang pelajaran Alesha tidur. Dia sengaja melakukannya agar tidak melihat wajah Alvaska yang menurutnya sangat bisa memancing emosi.
Alesha mendengar seseorang memasuki kelasnya, dan Alesha pikir Melita telah kembali.
"Cepet amat lo ke kan-"
"Gue mau ngomong sama lo."
"Gue sibuk," jawab Alesha tanpa melihat sang lawan bicara.
Alvaska menarik buku Melita yang sedang Alesha salin. Raut wajah kesal terpancar di wajah cantiknya.
"Apaan sih, lo? Balikin bukunya!" pinta Alesha sambil berdiri mencoba meraih buku tersebut, namun Alvaska semakin menjauhkannya.
"Gue bakalan balikin nih buku, kalo gue selesai ngomong."
Alesha berdecak kesal dan kembali duduk. "Yaudah, buruan ngomong!"
Alvaska duduk di atas meja Alesha sembari menghadap ke gadis itu. Alesha sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Alvaska, namun dia sebisa mungkin bersikap biasa saja.
"Lo kenapa berubah?"
__ADS_1
Kedua alis Alesha terlihat menyatu. "Gue? Berubah?"
Alvaska menganggukkan kepalanya.
"Lo gak liat bentuk gue masih manusia? Gak berubah jadi ultraman sama sekali."
Alvaska terlihat menghela napasnya. "Kenapa lo ngehindar dari gue? Dan gak bersikap kaya biasanya?" jelas Alvaska.
"Kenapa, ya?" tanya Alesha dengan raut wajah seperti sedang berpikir keras.
"Bukannya ini yang lo mau?" Alesha menatap kedua mata milik laki-laki di hadapannya dengan tatapan datar.
"Denger Alvaska manusia itu gak akan selamanya sama. Setelah apa yang udah lo dan anak Zelvaros lakuin ke gue, lo pikir sikap gue akan tetap sama? Enggak."
"Dulu, gue mungkin emang bodoh. Ngejar-ngejar cowok yang jelas-jelas gak pernah menganggap keberadaan gue sama sekali."
"Jadi, mulai dari sekarang. Jangan beranggapan bahwa gue Alesha yang dulu."
"Gue udah gak ada rasa apapun lagi sama lo, Alvaska."
Perkataan Alesha mampu membuat Alvaska seketika terdiam. Alesha merasa kata-katanya sudah cukup membuat laki-laki itu mengerti. Dia harus segera menyelesaikannya sekarang, agar nyawanya tidak terancam.
"Alvaska."
Alesha melihat Morra yang memasuki area kelas dan memanggil nama cowok itu. Sedangkan Alvaska masih terdiam, sibuk dengan pikirannya.
Alesha tersenyum tipis seraya menepuk bahu Alvaska Setiap gerak-geriknya tak lepas dari mata Alvaska.
"Jaga cewek lo baik-baik. Gue gak bakalan ganggu lo berdua lagi, dan lo gak akan terbebani lagi sama gue, Alvaska Galendra Wiliam."
AlesAlesha langsung pergi meninggalkan Alvaska begitu saja. Saat melewati Morra, dia tidak menoleh sedikitpun. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari sana.
"Semuanya belum berakhir, Alesha liondra."
-bunga suci-
__ADS_1