Transmigrasi Alesha

Transmigrasi Alesha
13. Pertemuan Kedua


__ADS_3

-HAPPYREADING-


***


Alvaska mengantarkan Alesha sampai rumah dengan selamat. Akan tetapi gadis itu memasang wajah cemberut sepanjang perjalanan.


"Gak mau tau, lo harus anterin tas gue!" ucap Alesha saat turun dari motor.


"Nanti gue titipin ke si Devano."


"Oke. Sana lo balik," usir Alesha secara terang-terangan.


Alvaska menunjuk ke arah kepala gadis yang memakai masker hitam di hadapannya. Alesha yang tidak mengerti hanya menyatukan kedua alisnya.


"Apaan?"


"Helm."


Alesha tersadar bahwa helm yang dipakainya belum dilepas. Betapa malunya dia sekarang, sudah mengusir


ternyata helm milik Alvaska masih bertengger di kepalanya.


"Nih, hatur tengkyu," ucap Alesha sembari memberikan helm tersebut.


"Sha, " panggil Alvaska.


"Apa lagi? Helmnya kan udah gue lepas."


"Sorry."


Alesha melipat kedua tangannya di depan dada. Dia menatap Alvaska dengan tatapan datar.


"Lo gak cape minta maaf mulu, Ska? Perasaan setiap ketemu sama gue lo minta maaf mulu. Gue aja yang dengerinnya cape, apalagi lo yang selalu minta maaf tapi tetep diulangi."


Alesha yang melihat Alvaska hanya diam melanjutkan perkataannya.


"Jangan cuma gara-gara gue udah berubah, ngebuat lo jadi plin-plan, Ska. Lo udah punya Morra, jangan serakah."


Alesha menepuk dada Alvaska pelan.


"Thanks udah anter gue ke rumah sakit, gue maafin lo soal kejadian tadi."


Alesha segera masuk ke dalam gerbang, meninggalkan Alvaska yang terpaku di tempat.


Alesha tidak bodoh akan permintaan maaf yang selalu Alvaska lontarkan. Walaupun di kehidupan sebelumnya ia belum pernah berpacaran sama sekali, tapi Alesha bisa tau apa yang sedang dirasakan oleh Alvaska saat ini.


***


Alesha melihat kondisi wajahnya di cermin. Ia mendesah pelan saat melihat lebamnya masih terlihat ketara sekali.


"Kalo kek gini terus, nanti orang tuanya si Esha tau anaknya babak belur."


Alesha berdecak kesal. "Bola basket sialan!"


Perlahan Alesha menyentuh sudut bibirnya, kemudian meringis saat rasa perih ia rasakan.


"Jadi gini rasanya jadi cowok yang babak belur kalau gelut sama cowok lain."


"Diliat-liat, gue keren juga babak belur kek gini," puji Alesha kepada dirinya sendiri.


Tiba-tiba Alesha ingat Alvaska. Wajah laki-laki itu tadi babak belur. Ia ingin menanyakan kenapa bisa seperti itu, namun Alesha takut Alvaska malah salah paham dan menjadi besar kepala.


"Perasaan pas di lapangan wajahnya masih baik-baik aja. Gue juga gak nampar dia atau nonjok dia, tapi kok bisa babak belur?" ucap Alesha terus bermonolog.


Tok tok tok


Pintu kamar Alesha tiba-tiba ada yang mengetuk. Alesha melirik ke arah pintu dengan malas. Siapa lagi kalau bukan Devano? Karena kedua orang tuanya sedang berada di luar kota.


"Bentar!"


Alesha segera melangkah menuju pintu dan membukanya seperti tidak niat. Dan benar saja, dugaannya tidak meleset.


"Ada apa?" tanya Alesha to the point.


Devano menyodorkan sebuah tas yang merupakan milik Alesha. Alvaska menepati ucapannya.

__ADS_1


"Makasih," ucap Alesha sembari menerima tasnya.


"Gimana sama luka lo?"


"Gue udah periksa ke rumah sakit. Kata dokter gak terlalu serius, nanti juga sembuh," jelas Alesha.


Devano mengangguk paham. "Masih kerasa perih?"


"Iyalah! Lo gak liat lebamnya masih kek gini?!" sungut Alesha seraya menunjuk ke sudut bibirnya.


Lama-lama Alesha jadi emosi sendiri. Tadi saja dia tidak peduli dan malah melindungi Morra daripada dirinya yang merupakan adiknya sendiri.


"Gue kompres pake air dingin, mau? Biar gak terlalu bengkak."


Alesha ingin menerima tawaran dari Devano, akan tetapi rasa kesalnya lebih mendominasi sekarang.


"Gue cape, mau istirahat."


Dia bisa melihat raut kecewa terpancar di wajah Devano. Hei, jangan salahkan Alesha. Salah siapa Devano membuat Alesha kecewa.


"Yaudah, lo istirahat. Get well soon."


Devano meninggalkan Alesha begitu saja, padahal Alesha belum membalas ucapannya. Ia mengedikkan bahunya acuh, seraya menutup kembali pintu kamarnya.


***


Keesokan harinya, Alesha pergi ke sekolah dengan memakai masker. Bagaimana pun juga lukanya masih terlihat kebiruan.


Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Alesha membuka media


sosialnya. Ia melihat orang-orang membicarakannya di akun instagram lambe turah SMA STARLING.


'UNTUK PERTAMA KALINYA SEORANG ALESHA LIONDRA MENGAMUK KEPADA ALVASKA GALENDRA WILIAM AKIBAT MENUMPAHKAN ES KRIMNYA. PADAHAL WAJAHNYA SUDAH BABAK BELUR TERKENA BOLA BASKET. BUKANKAH ITU ANEH?'


"Siapa sii yang megang nih akun? Bikin gosip gak jelas maksudnya. Aneh apanya coba?"


Alesha menstalker akun tersebut. Pupil matanya membesar, mulutnya menganga lebar.


"Namanya doang lambe turah SMA STARLING. Tapi kebanyakan postingannya ghibahin gue."


Alesha terus berceloteh, membuat sang supir menggelengkan kepala melihat kelakuan anak majikannya.


Tiba-tiba mobil yang Alesha tumpangi berhenti.


"Kok berhenti, Pak?" tanya Alesha bingung.


"Sebentar, saya cek dulu."


Pak supir pergi mengecek mobil mereka, Alesha juga ikutan turun.


"Gimana, Pak?"


"Maaf, Non. Kayaknya mesin mobilnya rusak, harus dibawa ke bengkel."


"Yah, terus saya ke sekolahnya gimana? Masa mobil orang kaya mogok? Maksud saya, kok bisa mobilnya mogok?"


Alesha segera meralat perkataannya takut dicap sombong, padahal iya. Sekali-kali sombong akan harta orang gak papa, kan? Toh, sekarang jadi miliknya juga.


"Non Esha naik taxi aja, kalau nunggu mobil ini beres keburu siang."


"Kalau gitu saya juga tau, Pak.


Masalahnya, gak ada satupun taxi yang lewat," ucap Alesha sudah ketar-ketir.


Mereka sedang berada di kawasan yang jarang dilalui taxi ataupun semacam angkutan umum lainnya. Alesha melihat jam pada pergelangan tangannya, dua puluh menit lagi gerbang sekolah akan ditutup.


"Apa gue jalan kaki aja, ya? Tapi kayaknya gak bakalan sanggup."


Alesha melirik ke arah Pak supir yang masih berusaha menghidupkan mobil mereka. Tiba-tiba seorang pengendara motor berhenti tepat di depan mobil mereka.


Alesha bisa melihat bahwa orang itu merupakan anak sekolahan walaupun seragamnya terhalang oleh sebuah jaket. Kedua mata Alesha membulat sempurna saat orang itu membuka helmnya dan melihat siapa orang tersebut.


"Mobilnya mogok, Pak?" tanya orang itu ramah.


"Iya, Dek. Kayaknya mesinnya rusak."

__ADS_1


Alesha bisa melihat laki-laki itu tengah mengecek mesin mobilnya. Sebisa mungkin Alesha mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kalo gak salah di depan ada bengkel, nanti saya kasih tau ke mereka ada mobil mogok di sini. Biar nanti dibawa sama tim mereka."


"Terima kasih banyak, Dek."


"Iya Pak, sama-sama."


Laki-laki itu memicingkan kedua matanya saat melihat gelagat Alesha yang aneh. Sesekali Alesha melirik ke arahnya, dan langsung mengalihkannya begitu saja. Dengan ragu ia mendekat ke arah Alesha.


"Alesha?"


"Kok lo tau gue?!" ucap Alesha kaget. Padahal ia memakai masker, kenapa bisa mengenali wajahnya?


Laki-laki itu tertawa pelan melihat respon Alesha yang menurutnya sangat berlebihan.


"Sekalipun lo pake masker, gue masih mengenali lo dari kedua mata lo."


Alesha menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Jangan bilang kalo lo lupa siapa gue?"


"Eh? E-enggak, gue tau lo siapa," jawab Alesha gugup.


"Siapa emangnya?" goda laki-laki itu.


"Lo Sagara, kan? Sagara AlThalarix?"


Sagara menjentikkan jarinya. "Good, akhirnya lo inget nama gue."


Alesha hanya tersenyum kikuk. Walaupun dia tersenyum, Sagara tidak akan melihatnya karena dia memakai masker.


"Mau bareng?"


"Ha? Kemana?"


Sagara terkekeh pelan. "Emang lo maunya kemana? Ya, ke sekolah, lah."


Alesha jadi malu sendiri. Berbicara dengan Sagara membuatnya gugup setengah mati. Eits! Tapi Alesha bukan gugup karena dia suka kepada Sagara, melainkan karena laki-laki itu merupakan antagonis pria utama.


Sagara AlThalarix merupakan saudara tiri Morra Amanda. Sejak kecil kedatangan Morra menjadi anggota keluarganya, Sagara membenci gadis itu. Kedua orang tuanya lebih memperhatikan Morra daripada dirinya, apapun yang Morra minta selalu dituruti, berbeda dengannya. Padahal Morra hanya anak adopsi dari salah satu panti asuhan.


Kebencian Sagara semakin menjadi saat mengetahui Morra dekat dengan musuhnya, ketua Zelvaros. Dia selalu mencari cara agar bisa memusnahkan kedua orang itu.


Hingga suatu hari, dia bertemu dengan Alesha Liondra yang ia ketahui merupakan bagian dari Zelvaros dan sangat fanatik kepada ketuanya. Ia mengajak Alesha untuk kerja sama dengan jaminan Alvaska akan menjadi miliknya.


Alesha yang dibutakan dengan cinta menyetujuinya, hingga mereka melakukan kerja sama. Namun, sesuatu terjadi tanpa diduga. Sagara malah jatuh cinta kepada Morra karena kebaikan hati gadis itu. Dia yang tadinya bekerja sama dengan Alesha, malah mengkambing hitamkan Alesha kepada Alvaska. Hingga Alvaska naik pitam dan langsung membunuh Alesha saat itu juga.


Alesha bergidik ngeri saat mengingat bagian dari novel yang dibacanya.


"Hei, gue nanya malah bengong," ucap


Sagara menyadarkan Alesha.


"Ha? Apa? Lo ngomong apa tadi?"


Sagara menggelengkan kepalanya. "Lo mau bareng? Lima menit lagi lo bakalan telat."


Alesha melihat jam, matanya terbelalak.


"Ya ampun! Gue bisa telat ini!" ujar Alesha heboh.


"Lah, baru sadar?"


"Sagara, gue nebeng sama lo, ya? Nanti gue bayar."


Sagara hanya tersenyum melihat Alesha yang heboh sendiri.


"Yaudah, ayo berangkat."


Alesha tidak peduli bagaimana nasibnya ke depan. Yang paling penting sekarang dirinya tidak telat datang ke sekolah.


Persetan dengan semuanya! Nanti ya nanti, sekarang ya sekarang.


-bunga suci-

__ADS_1


__ADS_2