
-HAPPYREADING-
***
Hati Alvaska sungguh tidak merasa tenang. Sedari tadi pikirannya terus memikirkan keadaan Alesha. Dia sama sekali tidak berniat melemparkan bola basketnya ke arah Alesha, itu sebuah kecelakaan.
"Shh ... " rintih Alvaska saat merasakan perih di sudut bibirnya.
"Maaf-maaf, tahan bentar, ska."
Alvaska mengamati wajah gadis yang sedang mengobati lukanya. Gadis ini adalah pacarnya, Morra Amanda. Dia menyukai Morra pada pandangan pertama. Wajahnya yang cantik, tutur katanya yang lembut, serta otaknya yang pintar membuat Alvaska menginginkan gadis itu menjadi pacarnya. Dan sekarang, Morra menjadi miliknya.
Alvaska kira hubungan mereka akan berjalan dengan baik. Namun semuanya berubah saat Alesha mengetahui semuanya. Gadis yang merupakan bagian dari Zelvaros itu menentang keras hubungan mereka.
Bahkan tak segan-segan Alesha selalu membuli Morra setiap ada kesempatan.
Alesha juga selalu memaksa Alvaska untuk menjauhi Morra dan memutuskan hubungannya.
"Kok bisa babak belur kaya gini?" tanya Morra sembari membereskan alat-alat P3K.
"Namanya juga cowok."
"Berantem sama siapa?"
"Devano."
"Kak Devano? Kok bisa?" beo Morra.
"Dia marah soal Alesha," jelas Alvaska dengan singkat.
"Kamu udah minta maaf sama Alesha?" tanya Morra dibalas dengan gelengan kepala.
"Minta maaf sama Alesha, bawa dia ke rumah sakit. Aku takut lukanya serius, soalnya itu bola basket, bahaya banget."
"Kenapa?"
"Ha? Apanya yang kenapa?" Morra tidak mengerti apa maksud Alvaska.
"Kenapa lo masih baik sama dia, padahal dia selalu buli lo."
Morra terdiam, lalu dia menyunggingkan senyumnya.
"Alesha itu baik, aku ngerti gimana di posisi dia. Pasti sulit buat nerima semuanya."
Alvaska tersenyum. Tangannya terulur mengelus puncak kepala Morra.
"Gue gak salah pilih lo jadi pacar gue, Ra."
Morra tersipu malu. Ia mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Temuin Alesha, gih. Harus jadi cowok yang bertanggung jawab."
Alvaska menarik hidung Morra pelan seraya tersenyum.
"Gue temuin Alesha dulu."
Morra menganggukkan kepalanya. Alvaska langsung berlalu pergi mencari keberadaan Alesha. Selepas kepergian Alvaska, Morra menghembuskan napas berat.
"Gak boleh egois, Morra."
***
"Kok jadi biru keunguan, ya?"
Alesha terus melihat kondisi wajahnya di cermin kecil. Sesekali ia meringis melihat wajahnya seperti habis kena pukul orang.
"Untung gigi gue gak copot. Coba kalo copot, nanti kecantikan gue berkurang."
Melita memutar bola matanya malas. Sedari tadi Alesha terus berceloteh mengenai kondisi wajahnya. Namun saat ia menawarkan untuk ke rumah sakit, gadis itu malah menolak.
"Mending lo pulang duluan aja, Al. Terus ke rumah sakit, takutnya
kenapa-kenapa," saran Melita.
__ADS_1
"Apaan, sih? Lebay, lo. Cuma kena bola basket doang, juga."
"Mau gue anter?" tawar Melita.
"Gak usah, nanti juga sembuh sendiri."
Melita menyerah untuk membujuk gadis itu agar mau ke rumah sakit. Alesha yang luka, dia yang khawatir.
"Al, kalo gak salah pas di lapangan tadi ada abang lo, kan?"
Alesha yang sedang sibuk melihat wajahnya seketika menoleh, lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Dia abang lo bukan, sih? Bisa-bisanya dia malah ngelindungin si Morra, padahal bola melayang ke arah lo," ucap Melita dengan sedikit emosi.
"Namanya juga protagonis, pasti selalu ada pahlawan kesiangan," saut Alesha tidak peduli.
"Protagonis apaan? Dibentak doang langsung meleyot, cupu!"
Alesha tidak membalas perkataan Melita. Pandangannya tertuju ke cowok yang baru saja memasuki area kelas, dan terlihat berjalan ke arahnya.
"Si Alvaska menuju ke sini, Al," bisik Melita pelan.
Alesha hanya memandang Alvaska tanpa ekspresi. Dia penasaran, kenapa wajah laki-laki itu babak belur?
"Ikut gue."
Alesha menengadah, melihat wajah Alvaska. "Lo ngajak siapa? Melita?"
"Lah, kenapa jadi gue?" saut Melita yang menjadi terbawa-bawa.
Alvaska menarik tangan Alesha pelan, membuat gadis itu terkaget-kaget.
"Eh, apa-apaan, nih? Lepasin!"
"ALVASKA LO MAU BAWA ALESHA KEMANA?!" teriak Melita.
Alesha berusaha memberontak, namun Alvaska tidak melepaskan tangan gadis itu.
"Alvaska lo mau bawa gue kemana, ha? Lepasin woi!" teriak Alesha masih berusaha melepaskan tangan Alvaska.
"ASLAN TOLONGIN GUE, GUE MAU DICULIK."
Semua orang yang ada di koridor menoleh ke mereka saat mendengar teriakan Alesha.
"Gak ada yang namanya penculikan secara terang-terangan kaya gini," ujar Alvaska yang sudah jengah mendengar celotehan gadis itu.
"Yaudah, lepasin! Gak boleh bersentuhan, kita bukan mukhrim."
"Berisik!" tegas Alvaska langsung membuat Alesha seketika terdiam.
Alvaska membawa Alesha yang ke parkiran. Alesha ingin sekali memarahi laki-laki itu yang seenaknya menyeretnya begitu saja.
Alvaska memberikan helm ke Alesha, gadis itu menatapnya dengan sorot mata kebingungan.
"Pakai!"
"Gak mau!"
"Sha."
"Gue gak mau diculik sama lo!"
"Gak ada yang mau nyulik lo, Alesha," ucap Alvaska jengah.
"Terus lo mau ajak gue kemana kalo
bukan mau nyulik gue, ha?!"
Tanpa menghiraukan celotehan gadis itu, Alvaska memasangkan helm di kepala Alesha. Alesha menepis jauh-jauh tangan Alvaska.
"Gue bisa sendiri!" ketusnya.
Alvaska menaiki kuda besinya. Ia memperhatikan setiap gelagat yang Alesha lakukan.
__ADS_1
"Naik."
"Iya, bawel lo."
Alesha menurut saja, ia sudah pasrah sekarang. Mungkin waktunya sudah tiba ia akan mati dua kali. Padahal Alesha sudah berusaha menghindari Alvaska, tapi sepertinya semesta berkehendak lain.
Sepanjang perjalanan, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga setibanya di rumah sakit, Alvaska langsung memarkirkan motornya di parkiran.
"Lo ngapain bawa gue ke rumah sakit?"
"Lo diem dan nurut sama gue."
"Dih, siapa lo? Bokap gue juga bukan, seenaknya nyuruh-nyuruh."
Bagaimana pun juga, Alesha tetap menurut kepada Alvaska. Dia tidak tau apa maksud laki-laki itu membawanya ke rumah sakit.
Saat mengambil antrian, semua mata yang ada di sana memandang Alesha dengan tatapan yang berbeda-beda
Alesha yang menjadi pusat perhatian hanya meringis pelan.
Alvaska yang peka akan keadaan
menyodorkan sebuah masker ke Araya. "Peka juga lo," ucap Alesha langsung
memakai maskernya.
"Sama-sama."
"Dih, gue gak bilang makasih, juga."
Alvaska benar-benar lelah menghadapi Alesha. Dia lebih memilih memainkan ponselnya saja. Dia sabar menunggu Alesha diperiksa oleh dokter sembari bertukar pesan dengan Morra.
Alvaska gimana dengan Alesha?: Morra
Tanpa menunggu lama, ia langsung membalas pesannya.
Lagi diperiksa dokter.: Alvaska
Bertepatan dengan itu, Alesha keluar dari ruang pemeriksaan. Alvaska segera berdiri dan menghampiri Alesha.
"Apa kata dokter?"
"Apanya?"
Alvaska menghela napas berat. "Luka lo."
"Oh, ini. Katanya gak terlalu serius, nanti juga sembuh."
"Sori."
"Ha?" beo Alesha tidak mengerti.
"Sori udah buat lo terluka."
"Minta maaf buat luka yang mana, nih? Luka lama atau luka yang ini?" tanya Alesha yang langsung dimengerti oleh Alvaska.
"Semuanya."
"Luka yang lo buat terlalu banyak, ska. Tapi lo tenang aja, buat luka yang ini akan gue maafin kalo lo ganti rugi es krim gue sepuluh kali lipat. Gimana?"
Alvaska sadar, dia terlalu banyak membuat luka pada gadis di hadapannya sekarang. Dia mencoba
menyunggingkan senyumnya.
"Dua puluh kali lipat juga gue sanggup."
"Oke, tiga puluh kali lipat!" seru Alesha.
Mata Alvaska melebar mendengar ucapan Alesha. Dia ingin protes, tapi sadar akan kesalahannya terhadap gadis itu.
"Apapun bakalan gue lakuin, asal lo bisa maafin gue, sha."
-bunga suci-
__ADS_1
Hai, Semuanya.
Makasih Buat Semangat dan votmen dari kalian semua 💖