Transmigrasi Alesha

Transmigrasi Alesha
5. Serangan Centong Sayur


__ADS_3

-Happy Reading-


Alesha berjalan sendirian. Sahabatnya Melita pamit pergi duluan karena ada jadwal ekstrakurikuler. Alesha yang pada dasarnya seorang STO (siswa tanpa organisasi) jadi tidak memiliki kegiatan saat bel pulang berbunyi.


Seharian ini dia tidak ada interaksi apapun dengan para tokoh utama. Walaupun Alesha sadar kalau mereka selalu memperhatikan dirinya, termasuk dengan Alvaska.


Kedua matanya membola saat melihat dari arah depan Alvaska tengah berjalan ke arahnya. Kalau dia berbalik arah, sangat ketara sekali bahwa dirinya menghindari laki-laki itu.


Sepertinya Alvaska akan bermain basket, terlihat dari pakaian yang dikenakannya sekarang. Karena setau Alesha, Alvaska merupakan ketua basket di SMA Starling ini.


Alesha memasang wajahnya sebiasa mungkin saat jarak diantara mereka tinggal beberapa langkah lagi.


Kini mereka berdua saling berhadapan satu sama lain. Alesha bergerak ke arah kiri karena Alvaska menghalangi jalannya, namun laki-laki itu melakukan hal yang sama. Alesha kembali bergerak ke kanan, tetapi Alvaska tetap mengikutinya. Terus saja seperti itu sampai Alesha jadi jengah sendiri.


"Lo bisa minggir? Gue mau lewat," ucap Alesha tak bersahabat.


"Lo ngehindar dari gue?"


Kening Alesha mengernyit. "Ngomong apa sih, lo? Gue bilang awas juga!"


"Gue minta maaf."


Alesha menghela napas. Sepertinya dia harus menghadapi Alvaska untuk saat ini saja. Dia menatap kedua mata Alvaska, dan Alesha akui bahwa laki-laki di hadapannya sekarang visualnya sangat tidak bisa diragukan sama sekali. Namun mengingat nasibnya ada di tangan laki-laki itu, Alesha mengenyahkan pendapatnya barusan.


"Malah diem, katanya mau minta maaf.


Jadi gak, nih?" tanya Alesha tidak sabar. Ia ingin cepat-cepat menjauh dari Alvaska.


"Sori, buat kejadian kemaren. Gue gak bermaksud pukul kepala lo pake bola basket, gue gak sengaja."


"Oke, gue maafin kesalahan lo. Sekarang lo minggir, gue mau lewat," balas Alesha membuat Alvaska sedikit terhenyak.


Melihat Alvaska yang hanya diam membuat kesabaran Alesha habis. Ia sedikit mendorong tubuh laki-laki itu dan meninggalkannya begitu saja.


Alvaska menatap kepergian Alesha dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


"Dia berubah?"


***


"Hah! Gabut banget gue."


Alesha menutup laptopnya saat drama korea yang ditontonnya sudah selesai. Ia merebahkan badannya di atas kasur empuknya. Tangannya meraba-raba mencari ponsel. Ia segera membuka layar kunci ponsel dan melihat apakah ada notifikasi masuk atau tidak, tapi ternyata tidak ada satupun notifikasi yang masuk.


"Gini amat nasib jomblo."

__ADS_1


Tiba-tiba perutnya berbunyi begitu saja. Ia merasa lapar padahal sudah makan malam.


"Semenjak di sini perut gue bawaannya laper mulu, heran. Tau aja nih perut kalo gue anak orang kaya."


Alesha membenarkan posisinya menjadi duduk. Kedua matanya melihat sekeliling, mencoba mencari apakah ada cemilan di kamarnya atau tidak.


"Gak ada cemilan satu pun. Mana gue males banget buat turun ke bawah. Apalagi kalo ketemu sama abang durjanah," gerutunya. Alesha masih kesal terhadap kejadian malam kemarin.


"Bodo, ah. Daripada cacing di perut gue mati kelaparan."


Alesha keluar dari kamarnya, dan pergi ke dapur. Suasana di lantai satu sangat sepi. Tidak ada siapapun di sini.


Namun dirinya dikejutkan saat melihat laki-laki yang sedang celingak-celinguk sembari membuka kulkas.


"Eh, anjir. Itu maling, kah? Gue harus ngapain ini?"


"Teriak atau gue gebukin dia pake tangan gue sendiri?"


"Rumah segede ini kok bisa kemasukan maling, sih? Mana malingnya gak modal banget lagi, nyolongnya makanan bukan duit."


Alesha segera menyadarkan dirinya dari lamunan. Ia mencoba mencari benda yang setidaknya bisa ia gunakan untuk melawan si maling.


Matanya berbinar saat melihat sebuah centong sayur di rak piring. Ia segera mengambilnya dan berjalan perlahan menghampiri maling tersebut.


Tiba-tiba orang tersebut berbalik badan. Alesha secara spontan langsung memukul orang tersebut menggunakan centong sayur dengan membabi buta.


"Mau kabur kemana lo, hah? Bisa-bisanya lo maling di rumah gue!"


"Rasain nih pukulan centong sayur gue!"


Alesha terus memukul tanpa ampun. Sedangkan orang tersebut berusaha menghindar seraya mengaduh.


"Aw! Sakit anjir!"


"Sakit? Salah siapa lo jadi maling, hah?!"


"Gue bukan maling woi!!"


"Mana ada maling yang ngaku. Sekalinya maling tetep maling!"


Alesha terus memukul laki-laki itu.


Bahkan sekarang mereka berdua saling kejar-kejaran.


"Udah woi! Gue bukan maling!" teriak orang itu frustasi.

__ADS_1


"Gak usah bohong! Gue tau lo maling


gak modal!"


"Udah, woi! Ampun!!"


"Ada apa ini ribut-ribut?"


Alesha langsung menghentikan aktivitasnya saat suara Aldevano terdengar di telinganya. Ia menelan salivanya dengan susah payah ketika enam cowok tengah menatap ke arahnya dengan tatapan bingung dan terkejut.


"Nih, adek lo yang mulai."


"Kok jadi gue? Salah siapa lo maling di rumah gue?!" sungut Alesha tak mau kalah.


"Maling? Lo maling apaan?" tanya Aslan.


"Gue gak maling apa-apa, njir. Gue"Gue gak maling apa-apa, njir. Gue cuma mau ambil minuman yang ada di kulkas. Tiba-tiba si Esha datang sambil mukul gue pake centong sayur. Dikira gue Malin Kundang?"


"Sangkuriang, bego. Bukan Malin Kundang," ucap Alesha mengoreksi.


Alesha sadar kalau orang yang dipukulnya ternyata salah satu anggota Zelvaros. Dan Alesha melihat wajah yang sama tengah berdiri di samping abangnya.


"Berarti nih orang antara si Jefran atau si Jefrin."


Alesha melihat Devano yang menatapnya dengan tatapan penuh intimidasi.


"Esha, minta maaf."


Alesha menghela napas saat Devano menyuruhnya untuk minta maaf. Padahal ini bukan sepenuhnya salah dia. Menurutnya, Jefran juga salah karena celingukan layaknya seorang maling.


"Sori, gue gak tau kalo itu lo, Jefrin" ucap Alesha dengan nada melas.


"Jefrin? Gue Jefran. Noh, itu si Jefrin," ucap Jefran emosi sambil menunjuk ke arah Jefrin.


Alesha meringis saat perkiraannya salah. Namun dia langsung tersenyum lebar.


"Iya-iya lo Jefran. Gue minta maaf, dimaafin gak, nih?" tanya Alesha seraya mengulurkan tangan kanannya.


Keenam cowok di sana hanya memperhatikan interaksi antara Alesha dan Jefran. Tanpa ragu Jefran langsung menerima uluran tangan Alesha, membuat senyum gadis itu mengembang.


"Makasih Jefran ganteng udah maafin gue. Sebagai permintaan maaf gue, besok gue traktir lo makan baksonya Ibu kantin," ujar Alesha tanpa melunturkan senyumannya.


Tanpa mereka sadari, senyuman Alesha menular ke mereka, termasuk Alvaska dan Devano. Hal seperti ini dulu seringterjadi. Namun semuanya sudah berubah setelah kedatangan sang protagonis.


-bunga suci-

__ADS_1


__ADS_2