
-HAPPYREADING-
***
HINDARI Alvaska!
Tulisan tersebut terpampang jelas di cermin yang ada di kamarnya. Alesha menghela napas melihat tulisan tersebut.
"Pokoknya sebisa mungkin gue harus menghindar dari si Alvaska. Gue gak mau mati dua kali."
Alesha akan mengubah alur cerita ini. Tidak apa alurnya menjadi rusak, yang paling penting adalah nyawa dirinya sendiri. Lagipula, dia tidak mengenal Alvaska sama sekali. Jadi dia yakin, semuanya akan berjalan dengan lancar, mungkin.
Untuk saat ini Alesha belum bertemu dengan tokoh cerita lainnya. Dia hanya baru bertemu dengan Melita, Mang Udin, dan Bi Darmi asisten rumah tangganya. Setau Alesha berdasarkan cerita yang dibacanya, kedua orang tuanya selalu pulang malam, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Begitupun dengan Aldevano. Abangnya lebih sering menghabiskan waktu di basecamp Zelvaros.
Tiba-tiba cacing di dalam perutnya berbunyi nyaring. Alesha pun spontan mengelus perutnya.
"Nih cacing tau aja gue belum makan. Sabar, ya, abis ini kita makan mie instan," monolognya seraya mengelus perutnya seperti orang hamil.
Alesha langsung turun menuju lantai satu, dia pergi ke area dapur mencoba mencari mie instan.
"Non Al lagi cari apa di dapur? Non Al mau makan?" tanya Bi Darmi tiba-tiba datang entah dari mana.
"Iya, Bi. Cacing di perut Alesha udah pada konser."
"Mau makan apa emang? Biar Bibi masakin."
"Gak usah deh, Bi. Mendingan Bibi istirahat aja, Alesha bisa sendiri, kok," tolak Alesha. Ia sudah biasa memasak sendiri apalagi ini cuma mau masak mie instan, sangat lah gampang.
"Non Al kan gak bisa masak, biar Bibi aja yang masakin," ucap Bi Darmi dengan pendiriannya.
"Gak perlu, Bi. Alesha cuma mau masak air pake mie."
"Ya sudah, kalo perlu bantuan panggil Bibi."
"Siap, Bi Darmi!"
Alesha memberi gaya hormat kepada Bi Darmi. Sedangkan Bi Darmi hanya tersenyum kecil seraya berlalu pergi.
Alesha mulai fokus dengan benda-benda di hadapan matanya. Ia tau kalau seorang Alesha Liondra sangat payah dengan apa yang namanya 'memasak'. Namun, sekarang hanya ada Alesha Anastasya, yang sudah akrab dengan barang-barang di dapur.
Alesha mulai menyalakan kompor, dan menuangkan air secukupnya ke dalam panci kecil khusus untuk merebus mie. Semua bumbu ia campurkan ketika mienya sudah berada di atas piring. Ia menghirup aroma mie tersebut dengan mata terpejam.
"Emang paling enak buat dimakan malam-malam itu cuma mie."
Alesha berencana akan memakan mienya di kamar saja sembari menonton drakor. Namun saat ia berbalik badan, dirinya dikejutkan dengan seseorang yang sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan matanya yang datar.
"Astaga!" ucap Alesha terkejut. "Hampir aja mie gue jatuh."
Alesha melihat kondisi mienya yang nyaris mendarat di lantai karena saking terkejutnya. Ia tersadar dengan orang yang ada di hadapannya.
"Nih cowok ganteng banget anjir."
__ADS_1
"Bentar, nih cowok ngapain ada di rumah gue? Ini si Devano abangnya si Al, kah?"
"Wajahnya gak cocok buat jadi abang gue, cocoknya jadi jodoh gue kalo modelannya kek begini."
"Minggir!"
Ucapan yang terkesan mengusir tersebut langsung menyadarkan Alesha dari lamunannya. Ia mendengus kesal saat Devano sedikit menyenggol tubuhnya.
"Santai dong, Bang. Gak usah pake nyenggol juga," kesal Alesha, yang tidak digubrisnya oleh laki-laki itu.
Merasa terkacangi, Alesha mendenguskan napasnya kesal.
"Dasar Abang durjanah!" ucapnya
seraya berlalu pergi meninggalkan
area dapur.
Sepeninggalnya Alesha, Devano terdiam. Sebenarnya ia tidak punya tujuan apapun datang ke dapur. Dia hanya penasaran apa yang sedang Alesha lakukan di dapur. Dan ia sangat terkejut ketika melihat adiknya tengah memasak sendiri. Padahal semasa hidup Alesha, gadis itu tidak pernah memegang apa yang namanya kompor ataupun peralatan memasak lainnya.
Dia juga semakin heran saat melihat respon Alesha ketika dirinya tanpa sengaja menyenggol dan berbicara ketus seperti sebuah usiran. Padahal selama ini Alesha tidak pernah berkata seperti tadi. Mau bagaimanapun sikap Devano kepadanya, ia akan tetap bergelayut manja ketika ada Devano dihadapannya.
"Dia terlihat, berbeda?"
***
Keesokan harinya Alesha pergi ke sekolah seperti biasa. Dia berangkat bersama supir pribadinya. Hal itu mengundang kebingungan kedua orang tua dan juga Devano, karena biasanya ia akan memaksa ikut bersama Devano. Tetapi tadi pagi ia ingin berangkat bersama supir pribadinya saja.
Alesha menatap murid-murid yang berlalu lalang di sekitarnya. Ia bingung dimana letak kelasnya. Alesha hanya melangkahkan kakinya berjalan di koridor. Semua mata mengarah ke arahnya, tetapi ia acuh saja.
"Nasib orang cantik, ya gini. Diliatin mulu sama orang-orang."
"Kelas gue dimana, sih? Mana si Melita gak keliatan batang idungnya, lagi."
Alesha terus menggerutu di dalam hatinya. Ia sedikit tidak nyaman berjalan sendirian dengan semua mata mengarah ke arahnya.
"Alesha!"
Panjang umur!
Alesha menoleh dan mendapati Melita yang tengah berjalan ke arahnya.
"Baru dateng lo?" tanya Alesha yang padahal ia sudah tau bahwa gadis itu memang baru datang.
"Iya. Lo kenapa gak bareng sama abang lo?"
Alesha mengernyit. "Dari mana lo tau?"
"Gue denger dari anak-anak di parkiran, katanya lo gak bareng sama Bang Devano."
"Dasar mulut manusia tukang ghibah! Bisa-bisanya ngeghibahin gue padahal masih pagi," celotehnya.
__ADS_1
Melita tertawa pelan. "Haha, baru sadar lo? Biasanya juga lo jadi bahan ghibah anak-anak sekolah ini."
"Sialan lo."
Tanpa terasa mereka sudah sampai di kelasnya. Lagi-lagi semua mata tertuju ke arah Alesha. Sedangkan Alesha hanya acuh saja, ia lebih memilih duduk di samping Melita.
"Lo ngapain duduk di sini?" tanya Melita bingung.
"Emangnya kenapa? Ini kan tempat gue," jawab Alesha sama bingungnya.
"Tempat lo bukan di sini."
"Lah? Gue kan temen lo. Terus kalo bukan di sini, tempat duduk gue dimana?"
"Noh, di sana."
Melita menunjuk ke arah meja yang ada di sampingnya. Ia semakin kebingungan, kenapa dia dan Melita duduk terpisah? Padahal mereka sahabatan.
"Gue duduk sama siapa?"
"Ya sama si Alvaska, lah. Emangnya siapa lagi?!"
Alesha seketika terdiam. Jadi dia dan cowok itu sekelas? Bagaimana bisa?
Sepertinya Alesha melupakan sebagian alur ceritanya. Ia tidak tau kalau mereka sekelas.
"Lo dari kemaren aneh, Al. Gak amnesia, kan?" tanya Melita.
"Mulai sekarang gue duduk sama lo, ya?"
Bukannya menjawab pertanyaan Melita, Alesha malah melayangkan pertanyaan lain.
"Kenapa? Lo kan biasanya juga duduk di sana."
"Lo lupa sama apa yang gue ucapin kemaren?"
Melita mengingatnya. "Gue pikir lo gak serius sama ucapan lo."
"Ya, serius, lah. Jadi, boleh kan gue duduk sama lo mulai sekarang?" ucap Alesha sembari menampilkan tatapan memelas.
"Iya-iya boleh."
Senyuman di wajahnya seketika merekah. Ia senang bukan main. Tidak mungkin Alesha duduk dengan Alvaska, ia harus menghindari laki-laki itu mulai sekarang, walaupun sepertinya akan sangat sulit.
"SELAMAT MORNING EPRIBADEH!!"
Teriakan tersebut menggelegar seisi kelas. Terlihat lima orang cowok dan dua orang cewek memasuki area kelas. Semua mata yang tadinya mengarah ke Alesha, kini teralihkan ke mereka.
Alesha tau siapa mereka. Alesha tau siapa orang dari salah satu mereka yang kini tengah menatapnya dengan tatapan datar dan tanpa ekspresi.
Dia, Alvaska Galendra wiliam.
__ADS_1
-batas suci-