
-HAPPY READING-
***
Posisi sudah nyaman, cemilan sudah siap, jaringan wifi lancar, saatnya menonton drakor dimulai.
Malam minggu Alesha hanya sekedar menonton drama korea, tidak ada yang lain. Dia terlalu malas untuk berjalan-jalan ke taman ataupun bioskop, karena dia tidak memiliki pacar ataupun crush.
"Ini baru namanya kedamaian hidup."
Alesha mulai memfokuskan kedua indra penglihatannya ke laptop. Tetapi ia sedikit kurang merasa puas.
"Gak bakalan puas nih kalo gue nontonnya di laptop."
"Gue sambungin ke tv keknya bakalan mantap!"
Alesha segera bangkit dengan membawa laptop dan semua cemilannya. Ia segera turun ke lantai satu untuk menonton drakor lewat televisi.
Setelah berhasil menyambungkannya ke televisi, Alesha duduk dengan anteng di sofa. Matanya sangat fokus melihat setiap adegan di layar. Sesekali ia mengumpat saat ada adegan yang menurutnya sangat membuat emosi.
"Kenapa malah ngumpet di samping lemari, padahal dia bisa ngumpet di dalemnya. Dasar bego!"
Alesha mengumpat saat melihat pemeran utama yang hampir ketahuan oleh ibunya membawa seorang cewek ke dalam kamarnya. Dan si cewek berusaha sembunyi dengan berdiri di samping lemari yang ukurannya padahal muat untuk tubuhnya.
"Eh, anjir. Lo jatoh bukannya lari malah bengong. Lari woy, astaga!"
Alesha meneguk segelas air soda dengan sekali tegukan hingga tandas tak tersisa.
"Kok jadi gue yang emosi?"
Saat itu dari arah depan rumah terdengar kebisingan seperti beberapa orang tengah saling berbicara. Alesha menoleh ke arah pintu utama, dan dia melihat anak inti Zelvaros memasuki rumahnya.
"ASSALAMUALAIKUM PARA PENGHUNI RUMAH! ASLAN ALVAREZ YANG GANTENGNYA PERMANEN DATANG.... "
"Berisik lo, kutil kuda!" ucap Alesha kesal karena sudah menganggu aktivitas menontonnya.
"Eh, Esha. Bikinin gue minum, dong," suruh Aslan tidak tau diri.
"Lo kata gue pembantu? Bikin sana sendiri!"
Anggota Zelvaros bergabung bersama Alesha. Membuat Alesha semakin kesal. Padahal dia menginginkan kedamaian hidup yang sesungguhnya.
"Galak amat lo, Esha. Biasanya juga lemah lembut kek pantat bayi," ucap Jefrin.
Alesha menghela napas panjang. "Lo
semua kenapa pada diem di sini, sih? Ganggu gue aja."
"Lah, kalo gak di sini terus dimana? Kamar mandi?" saut Aslan.
"Rumah gue luas. Mau di ruang tamu
kek, di dapur kek, ataupun dimana
terserah! Asal jangan di sini."
"Di kamar lo?" tanya Alvaska yang langsung dihadiahi bantal sofa terbang dari Alesha.
"Itu sebuah pengecualian," ucap Alesha tajam. Alvaska hanya mengedikkan bahunya.
"Si Devano mana?" tanya Bima yang merupakan teman dekatnya Devano.
"Lagi semedi di kamarnya, panggil aja."
Sebelum Bima memanggil Devano, laki-laki itu terlihat turun dari lantai dua. Dan berjalan menghampiri mereka.
"Panjang umur juga abang gue," gumam Alesha yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
__ADS_1
"Lo pada baru datang?" tanya Devano sambil duduk di sebelah Alesha.
"Ya, kita baru datang sekitar lima menit yang lalu," jawab Jefran.
"Tadinya kita mau ke basecamp, cuma
kata si Alvaska mending ke rumah lo
aja."
Mendengar ucapan Alvero, Devano langsung mengalihkan pandangannya ke Alvaska. Yang ditatap hanya fokus ke layar ponsel.
"Tumben lo gak jalan sama si Morra," ujar Devano.
Semua mata langsung mengarah ke Alesha. Alesha yang menjadi pusat perhatian menatap mereka bingung.
"Kenapa pada natap gue? Yang ngomong abang gue, noh."
" Morra lagi ada acara keluarga, jadi gue gak jalan sama dia," jawab Alvaska.
"Lo berdua tiap hari ketemu di sekolah, ngebucin di sekolah, apa engga bosen?" tanya Aslan. Sudut matanya melirik
ke arah Alesha, seolah-olah sengaja ingin memanas-manasi gadis itu.
"Gue gak pernah bosen sama si Morra, karena gue bahagia sama dia."
"Alay, njir!"
Mereka kembali menatap Alesha saat gadis itu mengucapkan dua katanya barusan. Alesha terdiam sedikit kikuk.
"A-ah, maksud gue adegannya alay," ucapnya gugup seraya menunjuk ke layar televisi yang tengah menampilkan adegan bapak-bapak dikejar anjing.
"Dikejar anjing, alay?" beo Aslan tidak mengerti.
Alesha yang merasakan atmosfer yang tidak mengenakkan segera mengubah raut wajahnya menjadi tidak bersahabat.
"Lo keberatan kita duduk di si-?"
"IYA!"
Padahal Jefran belum menyelesaikan perkataannya, namun Alesha sudah memotongnya.
"Gue tuh butuh ketenangan buat nonton drakor. Jadi, tolong kerja samanya."
Alesha mencoba berbicara dengan nada lembut agar mereka bisa pergi dari sini.
"Kenapa lo gak nonton di kamar aja? Kita biasa kumpul di sini, si Devano juga gak keberatan."
"Setan, lo! Gue cincang juga lo jadi perkedel," umpat Alesha kepada Aslan yang sudah membuatnya sangat emosi sedari awal.
Selain mengganggu ketenangannya, mereka bahkan memakan cemilan milik Alesha. Dasar kurang ajar emang.
"Anjir mereka ciuman!" seru Jefrin heboh.
Seketika semua mata langsung
mengarah ke layar televisi. Mata mereka semua nyaris membulat sempurna, sedangkan Alesha melihatnya dengan mata berbinar. Ini lah adegan yang Alesha nanti-nantikan sedari tadi.
"Mereka romantis banget...."
Devano tersadar, ia langsung menutup kedua mata Alesha menggunakan tangannya.
"Ish, apaan, sih? Awasin tangan lo, gue mau liat."
"Dibawah umur gak boleh liat beginian," ucap Devano dengan nada dingin.
"Gue udah tujuh belas tahun, jadi udah bisa liat beginian. Lepasin tangan lo, ih!"
__ADS_1
Devano melepaskan tangannya, namun Alesha memajukan bibirnya sembari memasang muka masam karena adegan favoritnya sudah terlewati.
"Nah, kan. Gue kehilangan momen berharganya," sungut Alesha.
"Gak baik buat lo liat begituan, Esha," papar Alvero.
"Begituan apaan, sih? Itu cuma ciuman doang. Kek gak pernah ciuman aja," cibir Alesha. Dia sangat kesal sekarang.
"Emang lo pernah?" timpal Bima yang sedari tadi hanya menyimak.
Alesha terlihat berpikir, semua orang menanti jawabannya.
"Pernah!" jawabnya dengan semangat tanpa ragu sedikitpun.
"Anjir, seriusan pernah?" tanya Aslan memastikan. Dengan mantap Alesha mengangguk.
"Sama siapa?" tanya Alvaska dan Devano nyaris bersamaan. Keduanya menatap Araya dengan tajam, tapi gadis itu tidak menyadarinya.
"Sama tutut."
"TUTUT?!" ucap mereka serempak.
Araya yang merasa puas dengan respon mereka hanya mengangguk.
"Yakali namanya tutut?" ulang Aslan tak percaya.
"Seriusan namanya tutut. Kalian gak tau dia siapa?"
Mereka lagi-lagi menggeleng dengan bersamaan. Rasanya Alesha ingin tertawa ngakak sekarang, namun dia harus menahannya.
"Pantesan lo kaya jauhin si Alvaska. Ternyata udah dapet si Tutut, mana udah ciuman, lagi," ucap Alvero.
Alvaska mendelik tajam ke arah Devano. Kenapa dia jadi terbawa-bawa?
"Berapa kali lo ciuman sama dia?" Kali ini Devano yang bertanya.
"Berapa, ya?" Alesha terlihat sedang berpikir. "Sering kayaknya," lanjutnya.
Kedua mata Devano dan Alvaska membulat sempurna. Bahkan saking terkejutnya mulut Aslan dan Jefrin sampai menganga.
Melihat ekspresi mereka membuat Alesha tidak tahan untuk menahan tawanya. Akhirnya tawanya meledak saat itu juga.
"Anjir, komuk lo semua bikin gue ngakak!"
Alesha tertawa terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya yang sakit saking puasnya dia tertawa.
"Hahaha, lo semua kocak."
Mereka yang merasa dikerjai oleh Alesha memandang gadis itu datar.
"Jadi, siapa si Tutut, Esha?" tanya Devano dengan nada mengintimidasi.
"Kenapa? Kalian mau tau siapa dia?"
Mereka serempak mengangguk.
"Kenapa mau tau? Bukannya lo semua gak peduli sama gue?" ucap Alesha blak-blakan.
Perkataan Alesha mampu membuat mereka mati kutu. Tidak ada yang mengeluarkan suara satu pun.
"Tenang, gue orangnya baik hati. Jadi bakalan gue tunjukin ke kalian siapa itu si tutut.'
Alesha mengambil ponselnya dan mengotak-atiknya, dan seperti tengah mencari sesuatu namun tidak menemukannya sama sekali.
Seketika Alesha menyadari kebodohannya.
"Dasar, bego! Di dunia fiksi mana ada tutut, Alesha."
__ADS_1
-bunga suci-