
-Happy Reading-
"Baiklah, untuk pembelajaran kali ini dicukupkan sampai di sini. Selamat beristirahat."
Anak-anak kelas pada bersorak. Jam istirahat adalah waktu yang sangat dinanti-nantikan bagi semua murid. Alesha menutup buku pelajarannya, matanya mencari seseorang.
"Jefran!"
Alesha hanya memanggil Jefran, namun yang menoleh ke arahnya hampir semua murid yang ada di kelas. Dia segera berlari ke arah Jefran yang sepertinya akan keluar dari kelas.
"Al, lo mau kemana?" teriak Melita namun tidak dihiraukannya.
"Jefran, ke kantin yuk."
Semua orang kini dibuat terkejut mendengar ajakan Alesha kepada Jefran. Biasanya gadis itu berkata seperti barusan kepada Alvaska, bukan Jefran.
"Lo gak salah ajak orang?" tanya Jefran heran.
Alesha menggeleng. "Gue ajak lo. Emangnya di kelas ini ada yang namanya Jefran selain lo? Enggak, kan?"
"Biasanya kan lo ngajak Alvaska, bukan gue."
Araya menghela napas sembari memutar bola matanya searah jarum jam.
"Gua ajak lo, Jefran Aswatama."
"Tapi-"
"Lo mah lama!"
Alesha menarik tangan Jefran keluar dari kelas mereka. Hampir semua mata di ruangan tersebut membulat saat melihat kejadian barusan.
"Gak dapet Alvaska, temennya pun jadi," celetuk Jefrin masih syok dengan kembarannya yang tiba-tiba ditarik oleh Alesha.
"Gue turut prihatin sama lo, ska," saut Aslan seraya menepuk pundak Alvaska yang terdiam.
Sedangkan Alvaska hanya terdiam dengan mata menatap lurus ke depan. Lain halnya dengan seorang gadis yang tengah mengepalkan kedua tangannya tanpa seorang pun tau.
***
Berita tentang kejadian yang baru saja terjadi, seketika langsung melesat ke penjuru sekolah. Bahkan berita Alesha yang mengajak Jefran ke kantin dan menarik laki-laki tersebut sampai masuk di instagram lambe turah milik sekolah mereka.
Sedangkan Alesha hanya acuh saja. Lagian dia melakukan hal ini hanya sebagai permintaan maaf atas kejadian tadi malam yang ia memukul laki-laki itu menggunakan centong sayur.
"Makan yang banyak, Jef," ucap Alesha sambil menyodorkan satu mangkok bakso.
"Lo kenapa ngelakuin hal ini? Orang lain bisa salah paham sama kita, Esha."
"Ngapain sih, peduli sama omongan orang? Gak ada manfaatnya."
Sedangkan Alvaska hanya terdiam dengan mata menatap lurus ke depan. Lain halnya dengan seorang gadis yang tengah mengepalkan kedua tangannya tanpa seorang pun tau.
****
Jefran memasukkan satu sendok bakso ke dalam mulutnya. Matanya melihat ke arah meja tempat anak Zelvaros berkumpul. Bahkan mereka kini tengah memandang ke arahnya.
__ADS_1
"Adanya gue di sini bakal jadi masalah baru, Esha."
Alesha tau akan maksud perkataan laki-laki itu. Ekspresi wajahnya seketika mendingin.
"Lo mau, nama lo jadi buruk dengan gosip yang gak bener karena ngeliat kita berduaan?" tanya Jefran.
"Bukannya nama gue emang udah buruk, ya?"
Pertanyaan Alesha sontak membuat Jefran terdiam. Kenapa Alesha yang sekarang terlihat sangat berbeda?
Alesha berdiri lalu meletakkan selembar uang berwarna biru di atas meja.
"Gak usah berpikiran terlalu jauh, gue cuma mau nepatin ucapan gue tadi malam sama lo.
Setelah mengucapkan perkataannya barusan, Alesha berniat akan pergi. Namun sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya. Ia berbalik, tetapi saat berbalik ia disiram oleh orang yang mencekalnya.
"Zoya!" gertak Jefran tidak percaya terhadap perlakuan gadis yang bernama Zoya.
Semua orang membelalak melihat keberanian Zoya yang menyiram Alesha dengan air minum. Siapapun pasti tau, jika ada yang berani mengganggu ketenangan seorang Alesha liondra, pasti langsung mendapatkan balasan dari gadis itu.
"Zoya, kamu apa-apaan, sih?" tanya Morra tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Dia udah kelewatan, Ra!"
"Zoya, minta maaf sama Alesha."
"Enggak! Gue gak salah nyiram dia pake air, cewe gatel kek dia pantes buat dapetin hal itu," ucap Zoya emosi.
Sedangkan Alesha hanya diam, gadis itu terlihat menyeka air yang mengenai wajahnya.
"Hobi banget rebut cowok orang, gak laku?!"
"Zoya!" gertak Jefran. Karena gadis itu sudah sangat kelewatan.
"Apa? Lo mau belain dia? Si Alvaska aja gak mau sama cewek macam dia, kenapa lo belain nih cewek gatel?!" ujar Zoya semakin emosi.
"Zoya! Kamu udah keterlaluan sama Alesha."
"Morra, hati lo terbuat dari apa, sih? Dia selalu buli lo, jahatin lo, dan berusaha rebut Alaskar dari lo! Kenapa lo masih baik sama dia?!"
"Hati dia terbuat dari baja, kali," saut Alesha dengan santainya.
Mereka langsung diam saat mendengar suara Alesha yang terkesan tidak ada emosi sama sekali. Jelas-jelas kini semua mata mengarah ke mereka, termasuk anak Zelvaros.
"Wah, bakalan seru nih," ujar Aslan bersemangat.
"Bentar lagi bakalan ada acara jambak-jambakan kayaknya," saut Jefrin.
Sedangkan Alvaska, Alvero, Devano, dan Bima yang merupakan sahabat Devano, hanya mengamati kejadian yang sedang berlangsung.
"Zoya Amanda," ucap Alesha membaca papan nama baju gadis di depannya.
"Nama lo cantik, tapi engga sama mulutnya."
Alesha bisa melihat Zoya yang tengah menahan amarahnya. Tangan kanannya meraih segelas minuman yang tadi dipesannya. Hal itu sontak membuat Zoya mundur.
__ADS_1
"Eh, kok mundur? Takut disiram balik, ya?" tanya Alesha dengan nada meremehkan.
Alesha meminumnya hingga habis tak tersisa. Ia menatap Zoya dengan tatapan mengintimidasi sembari menampilkan senyuman smirknya.
"Gue beli nih minuman pake duit, gak mungkin gue siram ke lo gitu aja. Sayang banget soalnya, nyari duit itu susah. Walaupun gue orang kaya, sih."
"Berbicara tentang harga diri ... emangnya lo lebih baik dari gue?"
"Dan, setau gue Jefran itu bukan pacar ataupun mantan lo. Benar, kan?"
Zoya terlihat terkejut mendengar penuturan Alesha. Bahkan bukan hanya gadis itu yang terkejut, tapi semuanya yang ada di sana. Pasalnya, selama ini semua orang mengira kalau Zoya adalah pacarnya Jefran karena selalu berduaan terus.
"Lo sama kaya gue, Zoya. Jadi, gue rasa semua ucapan lo berlaku buat diri lo juga."
"Lo tau apa tentang gue, hah?" tanya Zoya memberanikan dirinya.
Alesha memperdekat jarak diantara mereka. Ia mendekatkan kepalanya ke telinga Zoya.
"Gue tau semuanya yang gak orang lain tau, Zoyalia Amanda," bisik Alesha sambil menjauhkan kepalanya dari telinga gadis itu.
Zoya langsung mematung mendengar bisikan Alesha barusan. Alesha melirik Morra yang sedang terdiam sembari menunduk tidak berani menatap dirinya.
"Dan buat lo, Morrania Alianna."
Merasa namanya disebut, Morra memberanikan untuk menatap lawan bicaranya.
"K-kenapa Alesha?" tanya Morra takut.
Alesha menatap Morra lama, membuat gadis itu kembali menunduk.
"Anjir, si Esha mau apain Ayang Morra?" tanya Aslan.
"Paling kaya biasanya," saut Alvero.
"Wah, gak bisa dibiarin, nih," balas Jefrin yang sudah akan menghampiri mereka, namun ditahan oleh Devano.
"Gak usah ikut campur."
Jefrin pun mengurungkan niatnya, dan kembali memperhatikan Alesha. Sedangkan Jefran hanya diam, tidak berani ikut campur, karena menurutnya ini bukan urusannya.
Alesha memandang Morra dari atas sampai bawah, dan lalu pergi begitu saja dari area kantin. Membuat mereka semua melongo.
Mereka pikir Alesha akan membulli Morra seperti biasanya. Dan mereka sudah mengira saat Zoya menyiramnya dengan air minum, gadis itu akan mengamuk. Namun kini semuanya berbeda, bahkan Alesha tampak lain dari biasanya.
"Heh, anjir! Gak terjadi apa-apa?"
"Cuma gitu doang?"
Dua curut, Aslan dan Jefrin, merasa kurang puas dengan kejadian barusan. Bukannya mereka ingin melihat Morra dibuli, tetapi ini tidak seperti biasanya.
"Adek lo gak kaya biasanya," celetuk Bima.
Tanpa menghiraukan perkataan temannya, Devano langsung meninggalkan area kantin begitu saja.
"Dia benar-benar berubah," batin sang ketua Zelvaros.
__ADS_1
-bunga suci-