
Drrrt.. Drrrt.. Drrrt..
"Ya halo, ada apa dek" Ucap mbak dewi
"Maaf mbak. Lia ganggu malem malem, apa mbak sudah tidur? " Ucap aulia
"Oh iya gak papa. Belum kok kenapa? "Tanya mbak dewi
"Apa mbak, punya nomor telfonnya kak angga? " Ucap aulia
"Angga? Oh seperti nya ada. Kenapa ya dek? " Tanya mbak dewi
"Gini mbak. Barusan lia cek data keuangan perusahaan Atmaja, sepertinya ada yang tidak beres" Ucap aulia menjelaskan
"Oh gitu, yasudah nanti mbak kirimin nomornya ya" Ucap mba Dewi kemudian sambungan pun terputus
(Ting..)
Mba Dewi
(+62xxxxx)
Aulia pun dengan segera menelpon nomor tersebut
"Haloo, " Jawab seseorang disebrang sana
"Ya halo, kak ini gue, aulia bisa kasih tau. Siapa bagian keuangan di kantor? " Ucap aulia
"Pak budi. Emang ada apa lia? " Jawab angga
"Terjadi sedikit masalah. Tolong besok suruh dia datang ke ruangan saya. " Ucap aulia tegas
Angga yang mendengar nada tegas aulia merasa sedikit tertekan, aura yang aulia keluar kan tidak bisa dianggap remeh
"Ba baik" Ucap angga gugup
Kemudian telpon pun terputus secara sepihak
Tut.. Tut.. Tut..
"Ternyata aura anak ini lebih mengerikan kan dari pada ibunya" Gumam angga sedikit merinding
"Kenapa lia? " Ucap kyung mi
"Hanya masalah kecil. " Ucap aulia memijit alisnya
"Yakin cuma masalah kecil? Lo gak butuh bantuan " Tawar kyung mi
"Yaa. Masalah kecil doang, gue keatas duluan ya. Ngantuk banget" Ucap aulia beranjak dari sana
Kyung mi hanya mengangguk saja, kemudian lanjut menonton flim nya
****
__ADS_1
"Rapi banget. Lo mau kemana? " Tanya kyung mi
"Kantor, eh ntar tolong lo belanja isi kulkas ya. Uang dan catatan nya gue tarok di atas nakas kamar" Ucap aulia sambil berlalu
"Iyaa, " Jawab kyung mi teriak
"Kak, ayo chung ha udah siap" Ucap chung ha yang baru saja turun
Kyung mi menoleh " Sarapan dulu sini." Ucap kyung mi
"Kak aulia mana kak? " Ucap chung ha sambil meletakan tasnya
"Barusan pergi. Katanya si kekantor, udah cepetan makan gue masih ada kerjaan lain" Ucap kyung mi
Chung ha pun menurut kemudian memulai sarapannya, setelah selesai ia pun meminum susu yang telah dibuatkan oleh kyung mi.
"Sekolah yang rajin lo" Ucap kyung mi saat tiba disekolahan
"Iyaa, " Jawab chung ha kemudian turun dari dalam mobil
"Huft,! Sendirian kan disekolah" Ucap chung ha berjalan lesu menuju kelasnya.
Ya selama chung ha bersekolah di SMA parditaa ia sama sekali tidak memiliki teman. Sedari awal datang hingga sekarang ia hanya berteman dengan kyung mi, aulia dan yang lainnya
"Beli apa lagi ya" Ucap kyung mi melihat melihat sekitar
Ya setelah mengantar chung ha kesekolah. Kyung mi langsung menuju minimarket untuk membeli kebutuhan dapur, sesuai perintah dari aulia tadi
"Oh iya. Kayanya stok mi juga habis deh, lia pasti lupa ni makanya gak dicatet" Gumam kyung mi kemudian berjalan menuju rak sebelah
Hingga mie tersebut diambil oleh tangan kekar milik seseorang
"Nih, " Ucap orang tersebut
"Eh sean, i-iya makasi" Ucap kyung mi seraya mengambil mie tadi
"Hmm." Gumamnya
Ya pria yang menolong kyung mi tadi adalah Sean. Sungguh suatu yang kebetulan bukan. Pertemuan mereka kali Ini tanpa disengaja
"Lo disini juga. " Ucap kyung mi dengan pertanyaan konyolnya
"Menurut lo" Jawab Sean seadanya,
Kyung hanya tersenyum canggung " Dasar bego. Udah tau dia didepan mata lo pake acara nanya, lagi huh dasar bodoh bodoh" Batin kyung mi memukul pelan kepala nya
Sean yang melihat itu pun merasa heran, " Lo sehat? "Tanya Sean
Kyung mi pun berhenti dengan aksi memukul kepalanya dan mengangguk " Iya gue sehat"
"Trus, kenapa lo mukulin kepala lo" Ucap Sean
Sekali lagi, kyung mi hanya bisa melipat bibirnya dan merutuki betapa bodoh sekali dirinya ini
__ADS_1
"Hehe gak papa kok. " Ucap kyung mi Sean hanya ber-oh ria saja
"Lo kesini beli apa? " Tanya kyung mi sambil memilih bahan dapur
"Nemenin bocil" Jawab Sean
Kegiatan kyung mi terhenti saat Sean mengatakan bocil
"Bocil? Maksudnya lo udah punya anak" Ucap kyung mi
Sean menggeleng " Bukan, tapi ponakan gue"
"Uncle" Panggil anak kecil
"Liat apa yang Rafa beli" Ucapnya lagi
Sean kemudian menggendong bocah tersebut " Kenapa kau suka sekali membeli ini hmm, sudah berapa kali uncle bilang jangan terlalu sering membeli coklat. Coklat itu bisa merusak gigimu" Ucap Sean pada Rafa
Rafa yang diomelin oleh Sean hanya bisa tertunduk " Maaf uncle"
Kyung mi tersenyum melihat itu "hei adik kecil. Jangan sedih gitu dong, benar apa yang diucapkan oleh uncle mu jangan terlalu sering makan makanan yang terlalu manis. Nanti giginya bisa ompong kaya nenek sihir, kamu mau"
Rafa dengan cepat menggeleng kan kepalanya. "Tidak aunty Rafa tidak mau, " Ucapnya sambil menutup kedua mulutnya.
Mereka pun tertawa bersama dan melanjutkan berbelanja, diselingi oleh candaan candaan kecil. Jika dilihat lihat mereka seperti pasangan pengantin baru yang memiliki satu orang anak
Ya Rafa adalah anak dari kakaknya Sean. Rafa sendiri cenderung lebih dekat oleh Sean ketimbang orang tua kandung nya sendiri. Itu semua dikarnakan kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan hingga tak memiliki waktu luang untuk bermain dengan Rafa..
Braaak
"Apa begini cara kerja mu selama ini tuan budi" Ucap aulia marah
Seluruh karyawan yang berada diruangan dibuat terkejut oleh suara gebrakan meja tadi.
"Maaf nona. Saya mengaku salah saya khilaf" Ucap pak budi
"Maaf. Anda mengatakan maaf setelah berhasil korupsi uang kantor. Apa hanya dengan kata maaf anda bisa mengembalikan seluruh uang yang telah anda ambil" Ucap aulia
Pak budi terdiam. Ia tak mengira kesalahan yang ia buat akan ketauan seperti ini. Ia juga tak mengira bahwa anak kecil seperti aulia amat sangat detail memeriksa keuangan.
"Jawab. Kenapa anda malah terdiam" Sentak aulia
"Sekali lagi maafkan saya nona. Saya salah saya rela bekerja disini tidak digajih untuk menutupi kesalahan-kesalahanmu saya, " Ucap pak budi memohon
"Sayang nya, dikamus saya tidak tertera kata maaf. Untuk itu anda saya pecat, dan saya pastikan anda tidak akan diterima dipekerjaan mana pun" Ucap aulia
Pak budi melotot dan syok" Tolong jangan nona. Saya masih memiliki keluarga, jika saya tidak anak dan istri saya mau makan apa nona"
"Kak angga. Seret pria tua ini keluar dari ruangan saya" Ucap aulia
Kak angga pun mengangguk paham. Kemudian memerintah kan anak buah nya untuk membawa pak budi keluar dari ruang tersebut.
Saat ini pandangan aulia tertuju pada seorang pria tua yang sebaya seperti Pak budi. Pria tua tersebut sudah menggigil ketakutan akibat tatapan aulia yang begitu tajam dan menusuk. Keringat sebesar biji jagung pun tak henti hentinya bercucuran
__ADS_1
"Apa kau tau kesalahan mu" Ucap aulia dingin
"Am-ampun nona maafkan saya, tolong jangan pecat saya" Ucapnya bersimpuh dilutut aulia