TRIO JONES

TRIO JONES
Episode 1 - Arya Xaverio Saputra


__ADS_3

Arya Xaverio Saputra


Arya Xaverio Saputra, cowok dengan


ciri khas kulit berwarna kecoklatan serta hidungnya yang mancung dan rambutnya yang hitam pekat, cowok itu tengah melangkahkan kakinya dengan riang dan tersenyum lebar sambil membawa buket bunga mawar putih, ya hari ini cowok itu sangat senang karena hari ini adalah peringatan anniversary-nya yang ke dua tahun dengan pacarnya, Anjani.


“Semoga Anjani suka sama bunga ini,” gumam Arya sambil menatap bunga yang berada di genggamannya itu. Jujur saja cowok berambut berambut hitam itu merasa sangat gugup karena ia akan menemui kekasihnya itu. Entahlah cowok itu pun tidak tahu kenapa ia merasa gugup seperti ini.


Arya menghentikan sejenak langkahnya ketika ia sudah berada tujuh meter dari rumah kekasihnya, entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak seperti akan terjadi sesuatu padanya. Detik berikutnya Arya menggelengkan kepalanya menyingkirkan semua pemikirannya itu, dan ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju rumah


kekasihnya.


Arya menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Arya pun menekan bel rumah kekasihnya itu tak berapa lama kemudian pintu pun terbuka dan Arya pun tersenyum lebar melihat siapa yang membukannya pintu, ya itu Anjani, kekasihnya.


“Hai Sayang.” Sapa Arya masih dengan senyum yang terpatri di wajahnya.


Anjani, gadis yang memiliki paras cantik, hidung mancung dan berlesung pipi, gadis itu takkalah senangnya melihat Arya datang kerumahnya, “A...Arya,” Kata Anjani sedikit terkejut melihat Arya yang berada di hadapannya saat ini.


“Untuk kamu.” Ucap Arya seraya memberikan buket mawar putih itu pada Anjani. “Happy Anniversary sayang.” lanjut Arya.


Anjani terpaku, selama ia berpacaran dengan Arya baru kali ini ia mendapatkan perlakuan seromantis ini, sampai-sampai Anjani merasa terharu. Karena jujur  ia tidak mengingat bahwa hari ini adalah perayaan anniversary mereka, perlahan Anjani mengambil buket mawar itu lalu langsung memeluk erat Arya.


“Makasih, Ar.” Gumam Anjani di dada bidang Arya.


Sementara Arya, cowok berambut hitam pekat itu tertegun sesaat karena Anjani tiba-tiba memeluknya tanpa aba-aba, perlahan Arya pun mulai tersenyum dan membalas pelukan Anjani. “Kok terimakasih sih? Bukannya wajar ya, aku kasih bunga ke kamu. Kan hari ini hari jadi kita?” Tanya Arya sedikit bercanda.


“Ya, gimana pun ini adalah bunga pertama yang aku dapet dari kamu tay, jelas aja aku seneng banget... intinya ini adalah anniversary terindah dalam hubungan kita.” Kata Anjani sambil tersenyum-senyum sendiri mengamati buket mawar itu.


“Anjani, siapa itu?” Teriak orang dari dalam rumah, sontak Anjani langsung melepaskan


pelukkannya. Arya yakin betul itu adalah suara Ayahnya Anjani.


“Ini Arya, Pa.” Sahut Anjani.


“Oh... suruh dia masuk.”


“I...iya, Pa.” Sahut Anjani ragu.


“Gimana nih Ar kalo Papaku nyanyain ini itu ke kamu?”


Arya tersenyum melihat tingkah panik kekasihnya itu, jujur saja Arya pun merasa was-was kali ini, entah kenapa perasaannya kembali mendadak tidak enak. Tapi, demi meyakinkan kekasihnya, Arya berusaha bersikap biasa-biasa saja agar ia tidak terlihat panik.

__ADS_1


“Nggak apa-apa kok, ini kan kedua kalinya aku ketemu sama Papa kamu... ya walaupun kesan pertama ketemu sama Papa kamu waktu itu kurang mengenakan sih,” ujar Arya jujur. Ya ini adalah kali keduanya Arya bertemu dengan Ayah Anjani, kesan pertama pertemuan mereka sangatlah tidak mengenakan bagi Arya, bagaimana tidak. Ia diberondongi dengan banyak pertanyaan bertubi-tubi dari Ayah Anjani.


“Yaudah Ar, kalo papaku nanya yang nggak-nggak, gak usah kamu jawab ya cukup kasih senyum aja ke dia.” Saran Anjani. “Yuk masuk,”


Anjani dan Arya pun memasuki ruang tamu dimana di sofa, Christian—ayah Anjani—sedang membaca koran disana.


“Selamat siang Om.” sapa Arya sambil mendekat pada Christian dan mengulurkan tangannya, Christian pun menurunkan korannya lalu menatap Arya sekilas, lalu beralih pada tangan Arya yang masih menunggu jabatannya.  Namun Christian hanya mengabaikannya saja dengan wajah datar.


Perlahan Arya menarik kembali tangannya. Lalu ia beralih menatap Anjani yang berada di sebelahnya dengan tersenyum kikuk, Anjani pun merasa tidak enak pada Arya karena sikap ayahnya yang acuh terhadap Arya.


“Duduk.” Perintah Christian sambil menyilangkan kedua tangannya didada.


Baik Arya maupun Anjani, keduanya pun duduk teratur di hadapan Christian tentunya dengan perasaan yang sangat was-was


“Anjani, bisa tinggalkan Papa dan Arya sebentar?” pinta Christian sambil menatap putrinya itu.


Jujur saja Anjani semakin panik dibuatnya karena jika Ayahnya sudah meminta meninggalkan mereka berdua, pasti Ayahnya akan membrondongi berbagai pertanyaan lagi pada Arya seperti waktu itu.


“Pa, Anjani disini aja ya?” pinta Anjani dengan manja, berharap ayahnya itu akan menuruti keinginannya.


“Anjani, papa mau bicara empat mata sama dia.” Ucap Christian tegas.


“Tapi, Ar.”


“Udah An, aku nggak apa-apa kok,” ucap Arya lagi. lalu Anjani menatap Ayahnya yang berada di hadapan mereka itu. Christian hanya menatap putrinya datar.


Dengan berat hati Anjani pun meninggalkan ayah dan kekasihnya dalam satu ruangan, ingatan akan beberapa waktu lalu saat Arya bertemu dengan Ayahnya kembali berkelebat di pikirannya, waktu itu Ayahnya benar-benar terlihat tidak menyukai Arya karena perbedaan agama di antara mereka.


Sepeninggalan Anjani, keringat mulai mengucur didahi Arya, sedangkan Christian yang berada di hadapannya. Hanya menatap dingin ke arahnya. Arya hanya bisa meneguk salivanya sendiri ia takut kejadian pertama kali bertemu dengan Christian akan kembali terulang lagi, Arya hanya bisa berdoa, semoga Christian tidak bertanya yang tidak-tidak lagi seperti pertemuan mereka dulu.


“Jangan tegang.” kata Christian dengan wajah datar, sebenarnya Christian juga tidak tega akan membicarakan hal ini, tetapi ia harus segera menyelesaikannya sebelum pemuda itu terluka nantinya.


“I...iya,  Om.” balas Arya berusaha untuk setenang mungkin, saat ini ia pasrah saja apapun yang akan di katakan atau di tanyankan oleh Christian nantinya.


“Bagaimana kabar kamu?” Arya terkesiap mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Christian, jelas saja itu adalah pertanyaan yang bisa membuatnya sedikit bernapas lega karena Christian sepertinya sudah mulai bisa menerima dirinya. “Ba-baik, Om.” Jawab Arya sambil tersenyum samar, “Om apa kabar?” Tanya Arya balik.


“Seperti yang kamu lihat saat ini, saya juga baik.” jawab Christian, meskipun tidak terkesan ramah. Namun itu sudah cukup membuat Arya merasa tenang.


“Syukurlah, Om.” kata Arya. “Jadi... Om mau... ngomong apa?” tanya Arya akhirnya, karena jujur saja sedari tadi ia sangat menunggu apa yang sebenarnya akan dibicarakan oleh Christian padanya. Semoga saja itu tidak menyangkut hubungannya dengan Anjani, pikir Arya.


Terlihat Christian menarik napasnya sejenak sambil menutup matanya lalu membuka matanya kembali seraya menghembuskan napasnya perlahan. Lalu tatapannya tertuju pada Arya yang berada di hadapannya itu, “Apa kamu mencintai Anjani?” Tanya Christian dengan tatapan intensnya.

__ADS_1


Arya mengerjapkan matanya beberapa kali, apa dia salah dengar? Tentu saja ia sangat mencintai Anjani, “Tentu Om... saya mencintai Anjani.” jawab Arya tegas sambil memperlihatkan kesan sopannya dengan memberikan senyuman.


Christian tampak manggut-manggut mengerti, itu semakin membuatnya tidak enak untuk membicarakan hal ‘ini’, sepertinya pemuda itu benar-benar mencintai putrinya. “Sudah berapa lama hubungan kalian?” Tanya Christian berikutnya.


Lagi, Arya kembali tersenyum mendengar pertanyaan Christian. Sangat berbeda sekali  dengan apa yang ditanyakan Christian saat pertama kali mereka bertemu, “Tepat hari ini dua tahun, Om.”


“Apa kamu berniat serius sama putri saya dikemudian hari nanti?”



“Tentu Om, jika nanti saya sudah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan tetap saya akan melamar Anjani.” Jawab Arya bersungguh-sungguh, memang itulah rencana yang sudah ia persiapkan. Meskipun sekarang ia masih duduk di bangku kelas sebelas SMA tetapi Arya sudah memikirkan masa depannya nanti. Christian sedikit tertegun mendengar jawaban Arya, pemuda itu benar-benar menunjukan keseriusannya, tapi apa boleh buat ia harus segera  mengakhirinya saat ini juga sebelum salah satu diantara mereka tersakiti. “Apa kamu tahu perbedaan kalian?” tanya Christian lagi.


Deg...


Itu... itulah pertanyaan yang ditakutkan Arya sedari tadi, ia sangat paham apa yang dimaksud Christian, Arya meneguk salivanya sendiri mendadak detak jantungnya berdegup dengan kencang, apa Christian akan membahas persoalan itu lagi? “Saya tau, Om.” Jawab Arya gemetar.


“Saya tahu kamu benar-benar serius dengan putri saya, tapi kamu sudah tau sendiri apa perbedaan kalian bedua kan? Itu yang menjadi pertimbangan saya dikemudian hari nanti... misalkan kamu suatu saat nanti melamar putri saya apa kamu siap beralih agama? Saya tidak memaksa kamu untuk beralih agama seperti yang kami


anut, tapi saya juga tidak bisa membiarkan putri saya beralih agama pada agama seperti yang kamu anut.” Christian menghentikan sejenak ucapannya, lalu ia menatap Arya yang tampak menundudukan kepalanya itu.


“Jadi... Jika kamu tidak sanggup untuk melakukannya lebih baik kamu mengakhirinya sekarang, karena saya tahu kamu juga pasti tidak bisakan beralih keyakinan, sebenarnya saya berat mengatakan ini padamu, Nak. Tapi inilah kenyataannya, kalian tidak akan bisa bersatu jika salah satu dari kalian tidak ada yang bisa mengalah. Walaupun akhirnya putri saya yang mengalah untuk beralih ke agama yang kamu anut, saya tidak akan membiarkannya.” Jelas Christian.


Itulah kenyataan pahit yang harus didengar Arya... jujur saja ia sangat mencintai Anjani tanpa memandang perbedaan agama diantara mereka. Namun semua yang dikatakan Christian barusan memang benar, cepat atau lambat ia harus menyadari semua itu, menyadari bahwa mereka itu tidak akan bisa bersatu apabila tidak ada


yang mau mengalah, tentu saja Arya tidak bisa melakukannya karena ia tidak bisa menduakan Tuhannya. Apalagi jika orang tuanya mengetahui hal ini, tentu saja orang tuanya tidak akan membiarkan itu anaknya beralih agama hanya karena seorang gadis.


Arya menarik napasnya dalam lalu mulai menghembuskan napasnya perlahan, Arya mencoba menegakkan kembali kepalanya menatap Christian yang juga menatapnya itu. “Tapi Om... saya benar-benar sayang dan cinta sama Anjani.” Ucap Arya lirih.


Christian menatap Arya iba, anak itu benar-benar menyayangi putrinya. Christian tidak enak dibuatnya, tapi Christian tetap dengan pendiriannya. Ia tidak akan membiarkan putrinya yang mengalah masuk ke agama Arya. “Saya mengerti akan hal itu... maka dari itu jika kamu cinta dan sayang sama Anjani lepaskan dia karena


kalian itu berbeda. Biarkan Anjani mendapatkan laki-laki yang satu ‘keyakinan’ dengannya, saya tahu kamu


tidak akan bisa untuk beralih keyakinan kan? Seperti yang sudah saya katakan tadi... saya tidak akan memaksamu untuk beralih keyakinan... tapi itu semua terserah padamu!” Ucap Christian Final.


Arya tidak percaya akan hal ini, kenapa kisah cintanya begitu serumit ini? Arya memang sangat mencintai Anjani tapi jika disuruh memilih antara Anjani dan keyakinannya tentu saja Arya akan tetap pada keyakinannya dan tidak akan beralih pada keyakinan yang di anut gadisnya. Apa kisah cintanya akan berakhir semenyedihkan ini? tentu saja Arya sangat terpukul dengan kenyataan pahit ini, tapi apa boleh buat semua yang dikatakan Christian sangat benar. Baiklah mungkin ini yang terbaik untuknya dan Anjani... Arya sudah memutuskannya bahwa ia akan... Mengakhirinya.


Setetes bulir bening jatuh di pelupuk mata cowok berambut coklat itu, betapa menyedihkannya kisah cintanya, “Baik Om... Om benar, saya tidak akan bisa beralih keyakinan. Maka dari itu saya sudah ikhlas jika harus... Mengakhiri hubungan saya saat ini meskipun dengan berat hati.” Putus Arya... terserah mau beranggapan Arya adalah cowok yang mudah menyerah atau cowok yang terlalu lemah. Arya tidak peduli akan hal itu, tapi itulah kenyataannya. Ia tidak bisa memaksakan kehendakknya.


Mungkin ini adalah skenario Tuhan untuk membuatnya sadar bahwa perbedaan itu tidak akan bisa bersatu, mungkin saja bisa hanya saja itu sangat bersiko besar baginya.


***

__ADS_1


__ADS_2