
HAPPY READING😉
BEBERAPA SAAT SEBELUM KEJADIAN
Langkah kaki itu semakin terdengar jelas di telinganya. Namun, ia hanya begeming di pijakannya sembari menatap kosong hamparan pemandangan gedung-gedung kota dari atas atap gedung ini. Setelah mengirim pesan kepada Arya Mahyuda segera menyalakan video percakapan yang di rekamnya tempo hari lalu di rumah sakit saat mengikuti gadis yang ia curigai tepat saat derap langkah itu berhenti di belakangnya.
Athala seketika menegang di pijakannya saat mendengar obrolannya dengan wanita medusa itu. Seketika Athala merasa pasokan oksigen di sekitarnya menipis ketika sosok yang memakai sweater berwarna hitam itu membelikkan tubuhnya yang ternyata bukan Arya. Athala membelalak lebar melihat Mahyuda yang berada di hadapannya saat ini.
"Lo?!" gumam Athala tidak jelas.
Mahyuda mematikan rekaman yang ia putar, melihat raut wajah gadis itu yang begitu pucat pasih disertai dengan bulir-bulir keringat yang mulai berjatuhan dari dahinya. "Gue mohon tolong hentikan rencana lo itu, Thal. Gue udah tau semuanya! Apa lo tega membunuh orang yang sayang tulus sama lo? Lo gila Thal?!" ujar Mahyuda seraya menghembuskan napasnya kasar.
Athala tidak menjawab lidahnya terasa kelu, ketakutanlah yang menyelimuti dirinya saat ini saat Mahyuda mulai melangkah maju mendekatinya dan kakinya pun spontan ikut mundur, peluh sudah membanjiri wajah Athala, gadis itu *** ujung roknya untuk meminimalisir ketakutannya. Namun, tetap saja gadis itu benar-benar merasa terancam karena Mahyuda telah mengetahui segalanya.
"Bu-kan urusan lo," ucap Athala gemetar.
Mahyuda berdecak kesal mendengarnya. "Bukan urusan gue lo bilang? Jelas ini urusan gue, Thal. Arya itu sahabat gue, bahkan lebih dari sekedar sahabat bagi gue Thal, gue sudah menganggap Arya itu saudara gue sendiri, gue nggak bisa biarin ini semua."
__ADS_1
"ternyata ini alasan lo muncul tiba-tiba di kehidupan kami? Lo ingin bunuh Arya dan lo ingin balas budi sama orang yang sudah menafkahi lo dan adik lo itu, iya kan? Tapi apa lo tega Thal? Arya itu sayang tulus sama lo. Gue tau lo juga terlibat atas kematian Om Xavier, ayah Arya. Tapi gue tetap bungkam Thal, itu karena apa? karena gue nggak mau bikin Arya semakin hancur kalau tau yang sebenarnya... Arya sudah cukup menderita Thal semenjak kepergian ayah dan mantan pacarnya. Dan kalo dia tahu semua rahasia tentang lo yang berhubungan dengan Nyokapnya, lo bisa bayangin sendiri gimana hancurnya Arya, Thal."
Air mata sudah membanjiri wajah cantik gadis itu. Namun, lidahnya tetap kelu untuk menyangkal perkataan Mahyuda. Bahkan hatinya juga ikut tercabik di dalam sana karena ia merasa bukan seperti dirinya sendiri saat ini, ia merasa telah menjadi seperti monster yang tak berperasaan. Jika Athala bisa memilih antara Arya yang mati atau dirinya jelas saja Athala lebih memilih dirinya yang harus mati bukan Arya, tapi pilihan itu hanya angannya saja. Yang ada Athala malah di hadapkan antara Arya yang harus mati atau Adiknya yang akan mati di tangan wanita medusa itu, jelas saja Athala akan memilih opsi pertama.
"Lo pikir berada di bawah kekuasaan wanita iblis itu enak, he? Lo nggak ngerasin Yud, gimana sensaranya jadi gue. Nyawa adik gue ada di tangan wanita itu, sekali aja gue menyimpang dari perjanjian, nyawa adik gue bisa melayang saat itu juga... gue akui, gue datang ke kehidupan kalian hanya untuk melaksanakan apa yang dia perintahkan. Tapi gue juga nggak bisa nyangkal perasaan gue Yud, gue juga suka sama Arya. Gue juga tersakiti di sini Yud, gue harus milih antara nyawa adik gue atau nyawa Arya, jelas gue bakal pilih nyelamatin nyawa adik gue, karena gue Cuma punya dia Yud, gue nggak punya siapa-siapa lagi selain adik gue, bahkan gue rela harus bunuh Arya untuk nyelamatin nyawa adik gue dari ancaman wanita iblis itu," ujar Athala panjang lebar seraya menyeka air mata di akhir kalimatnya.
"Nggak dengan cara bunuh orang juga Thal, pasti ada cari lain supaya lo bisa terbebas dari Tante Saras, gue mohon banget sama lo hentikan misi lo itu, kalo lo mau terbebas dari Tante Saras lo Cuma perlu jujur aja sama Arya tentang semua ini, gue yakin Arya pasti maafin lo, apalagi Arya sayang banget sama lo Thal, gue kenal banget sama Arya. Kalo dia sudah sayang sama seseorang sebesar apapun kesalahan orang itu dia pasti bakal mencoba untuk memaafkannya, percaya sama gue Thal. Kalo lo jujur Arya pasti akan bantuin lo terbebas dari Tante Saras," Tangan Mahyuda sudah terkepal keras dengan rahangnya yang juga mulai mengeras. Ingin rasanya Mahyuda menumpahkan semua kemarahan pada gadis itu. Namun, tetap saja Mahyuda berusaha mengendalikan dirinya agar tidak tersulut emosi ketika berhadapan dengan gadis di hadapannya ini.
Athala mundur dua langkah seraya tertawa sumbang mendengar penuturan dari Mahyuda. Sejenak Athala berpikir untuk mempercayai ucapan Mahyuda. Namun, segera di singkirkannya pemikiran itu, sekali saja dia salah langkah maka nyawa adiknya taruhannya. Athala tidak akan membiarkan wanita iblis itu membunuh adiknya. Terlebih Athala juga tidak ingin percaya bahwa Arya akan memaafkannya jika ia mengakui semua kesalahannya yang secara tidak sadar sudah menanamkan boom waktu pada diri Arya dan dirinya sendiri. Jika ia mengungkapkan semuanya, sudah pasti bukan hanya Arya saja yang merasakan sakit tetapi dirinya juga pasti meraskannya.
Mahyuda menghembuskan napasnya kasar mendengar perkataan gadis itu. Oke, sudah cukup Mahyuda menahan gejolak emosinya. Jika dengan cara berbicara baik-baik gadis ini masih saja tidak bisa mengerti, mungkin dia harus pakai kekerasan dan sebuah ancaman. "Lo benar-benar manusia yang mengerikan Thal, lo lebih mengerikan dari pada wanita iblis seperti Tante Saras yang tega bunuh suaminya sendiri. Dan sekarang bahkan lo mau melakukan perintah wanita iblis itu untuk membunuh orang yang benar-benar tulus sayang sama lo. ITU SAMA AJA DENGAN LO YANG UDAH NGGAK WARAS THAL!!" teriak Mahyuda di akhir kalimatnya. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun saat ini, Athala benar-benar sudah seperti gadis psychopat, itulah yang dapat Mahyuda simpulkan tentang gadis itu sekarang.
Athala terlonjak kaget mendengar teriakan Mahyuda. Jantungnya memompa secara tidak wajar, keringat dingin pada sekujur tubuhnya kembali ia rasakan. Aura Mahyuda benar-benar tampak mengerikan saat ini, bahkan wajah cowok itu saja sudah memerah karena menahan amarahnya.
Bunuh orang yang menghalangi jalanmu untuk menyelesaikan tugas yang saya berikan.
Tiba-tiba suara wanita iblis itu terngiang lagi di benaknya. Membuat Athala mengabaikan segala amarah yang Mahyuda lampiaskan padanya, gadis itu malah memberikan senymanan sinis yang begitu menyeramkan seraya mengepalkan kedua tangannya dan berjalan maju mendekati Mahyuda. Lalu dengan cepat Athala menarik geram kerah baju Mahyuda seraya memancarkan aura intimidasi dari sorot matanya yang sudah memerah.
__ADS_1
"YA! GUE EMANG UDAH NGGAK WARAS LAGI, PUAS LO, HE? GUE BAKAL LAKUKAN APAPUN UNTUK ADIK GUE. BAHKAN GUE NGGAK AKAN SEGAN-SEGANG BUNUH ORANG YANG MAU MENGHALANGI MISI GUE!" teriak Athala menggebu-gebu seraya terdorong kebelakang secara kasar oleh Mahyuda yang secara refleks menepis tangan gadis itu dari kerah bajunya.
"Keterlaluan lo Thal, kalo aja lo mau berpikir positif sedikit saja. Pasti ada jalan keluarnya Thal, percaya sama gue. Kalo lo nggak mau mengakui semua kesalahan lo itu. Gue nggak ada cara lain, Thal. Selain memberitahu semuanya ke Arya. Biar bagaimanapun gue nggak akan rela biarin sahabat gue suka sama pembunuh kayak lo," Ujar Mahyuda berusaha sekuat tenaga agar ia tidak kembali tersulut emosi. Gadis ini benar-benar berbahaya, jika ia memakai emosi yang ada gadis itu akan lebih membalasnya dengan emosi pula. Dan ujung-ujungnya Mahyuda tidak akan bisa meluluhkan hati gadis ini untuk mengakui kesalahannya sendiri pada Arya.
"AKHHH... LO BISA DIAM NGGAK, ***!" teriak Athala di sela-sela tangisnya seraya menjambak rambutnya frustasi. Rasa takut itu terus saja menyelimuti dirinya, tubuhnya semakin gemetar dan banyak mengeluarkan peluh dari dahinya.
Athala terduduk lemas dengan kedua bahunya yang gemetar hebat. "Waktu gue tau anak wanita iblis itu Arya, gue awalnya juga nolak. Tapi gue terus-terusan di paksa agar segera menyingkirkan Arya. Hingga waktu sehari sebelum gue masuk ke sekolah ini, gue sudah mengawasi Arya dari kejauhan. Gue perhatiin gerak-geriknya sampai hari pertama gue mau berangkat ke sekolah, gue sengaja ikutin mobil Arya, dan saat itu pula otak gue Cuma mikirin gimana cara nyingkirin dia secepat mungkin... maka dari itu gue sengaja nabrak mobilnya.... Dan gue nggak nyangka ternyata saat gue pingsan di mobil, dia yang malah nolongin gue. Dari situ gue mulai goyah untuk membunuh manusia baik seperti Arya." Isak tangis gadis itu semakin menjadi-jadi kala menceritakan sebenarnya pada Mahyuda. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia menumpahkan semua ini pada Mahyuda. Entahlah, tiba-tiba Athala merasa muak dengan semua ini. Bahkan ia sendiri tidak bisa menahannya sendirian.
"Sampai pada detik ini Yud, gue mulai tertarik sama kepribadian Arya yang begitu hangat dan periang. Gue suka sama dia, gue sayang sama dia, dan tanpa sadar Arya mulai masuk mengisi kekosongan hati gue."
Mahyuda bungkam seribu bahasa. Mendengarkan tanpa berniat untuk mengintrupsi sediktipun kebenaran yang di ungkapkan gadis itu padanya dan untung saja sebelum semua percakapan ini di mulai Mahyuda sudah siaga merekam semua percakapan dengan Athala melalui ponsel tepat saat ia mematikan video yang ia putar tadi untuk menjadi barang bukti berikutnya kalau-kalau rencananya membujuk Athala ini gagal.
Gadis itu mendadak terdiam sepersekian detik sebelum kemudian ia tiba-tiba bangkit dengan wajah yang sudah merah padam. "SESAYANG APAPUN GUE SAMA ARYA, TETAP AJA GUE LEBIH MILIH ADIK GUE DARI PADA DIA!! JADI, GUE NGGAK ADA CARA LAIN SELAIN MENYINGKIRKAN LO KARENA SUDAH BERANI MENGHALANGI JALAN GUE UNTUK BUNUH DIA!" Tanpa pikir panjang Athala pun dengan beringas mendorong tubuh Mahyuda hingga Mahyuda yang masih terkejut tidak bisa menghindari cengkraman keras di kedua bahunya itu dan tubunya terdorong kebelakang sampai ke perbatasan atap gedung dan setelah itu Mahyuda merasa tubuhnya melayang di udara sebelum kesadarannya benar-benar hilang total karena tubuhnya membentur sesuatu yang sangat keras.
***
TBC
__ADS_1