
"Akhirnya tuh bocah udah normal lagi," Gumam Mahyuda lega sambil tersenyum samar ketika melihat Arya tengah melakukan free style menggunakan bola dengan gerakan yang tentunya bisa mengundang terikan-teriakan alay para siswi SMA Bakti Mulya, untungnya saat ini masih jam enam lewat lima belas menit sehingga suasana sekolah belum terlalu ramai. lihat saja tiga puluh menit lagi jika cowok itu tidak beranjak dari lapangan pasti aksinya pagi hari ini akan mengundang berbagai reaksi histeris para siswi SMA Bakti Mulya yang mengidolakannya.
"Tumben lo udah dateng jam segini?" Tanya Mahyuda ketika ia sudah berada tepat limat meter dari tempat Arya berdiri, sontak Arya langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara berikut dengan menghentikan aksinya.
Arya tersenyum melihat temannya itu, "Thanks Bro." Kata Arya masih setia mempertahankan senyumnya.
Mahyuda terkekeh melihat reaksi temannya itu, Arya tampak aneh pagi hari ini. tapi baguslah setidaknya temannya itu sudah kembali normal lagi setelah insiden itu, "Kenapa lo senyum kek gitu? Kesambet lo?" Ujar Mahyuda sambil geleng-geleng kepala, lalu Mahyuda duduk di salah satu kursi panjang yang berada di pinggir lapangan itu. Arya pun ikut duduk juga di samping Mahyuda.
Tatapan Arya lurus kedapan sesekali cowok itu tersenyum sendiri, entah kenapa sebabnya. Mahyuda jadi semakin bingung sendiri melihat tingkah temannya itu. apa separah itukah kondisi Arya saat ini sampai-sampai mentalnya juga ikut terganggu?
"Lo kenapa sih? Dari tadi senyam-senyum nggak jelas gitu? gue merinding sumpah." Kata Mahyuda sambil bergidik ngeri.
Arya menolehkan kepalanya pada Mahyuda yang tengah menatapnya dengan tatapan heran, lagi, cowok itu terkekeh sendiri tanpa sebab. "Gue lagi berkamuflase Yud," Ucap Arya datar berikut menghentikan kekehannya.
Mahyuda mengernyitkan alisnya sebelah, makin bingung saja dengan ucapan temannya itu, sepertinya dugaan Mahyuda benar. Mental temannya ini benar-benar terganggu, "Apaan sih Ar, lo ngaur deh. Emang lo bunglong yang bisa kamuflase?" Tanya Mahyuda heran sambil meggelengkan kepalanya.
"Bukannya lo sendiri yang bilang kalo gue harus menerima semua kenyataan ini? Ya udah, Alhamdulillah gue sudah bisa terima, sekali pun itu membohongi perasaan gue sendiri yang sebenarnya sangat hancur." Ucap Arya tanpa memandang Mahyuda sama sekali.
Mahyuda tertegun mendengar ucapan temannya itu, dia sangat tahu tidak semudah itu bagi Arya untuk bisa menerima semuanya dengan lapang dada, Mahyuda tahu temannya itu sangat terluka, ia bahkan tak menyangka ucapannya di rumah sekit tempo hari akan berdampak pada temannya itu, yang seolah-olah sedang berkamuflase dari kesedihannya kembali menjadi sosok Arya yang seperti semula. Sosok yang periang.
"Tapi nggak gini juga Ar," Kata Mahyuda dengan tatapan iba menatap temannya itu.
Arya malah menggelengkan kepalanya, "Gue harus mencoba, kalo nggak gue coba gue nggak bakal tahu, bisa atau nggak melupakan Anjani. Lo jangan natap gue iba kayak gitu, anggep aja di kehidupan gue nggak pernah terjadi hal-hal yang buruk. Thanks atas nasihat lo di rumah sakit tempo hari, dari ucapan lo gue jadi mikir, kalo tak selamanya makhluk yang bernyawa itu akan kekal di dunia ini... awalnya terasa amat berat nerimanya Yud, tapi... gue juga mikir, kalo gue terus-terusan kek gini, gue yakin hal itu akan menghambat perjalan Anjani menuju tempat yang 'semestinya'." Ucap Arya panjang lebar sambil tersenyum di akhir kalimatnya.
Mahyuda hanya mengangguk setuju dengan ucapan temannya itu, "Segablek-gableknya teman gue, ternyata lo berdua ada gunanya juga di saat gue seperti ini." Ujar Arya sambil berdiri dari duduknya
"Kita itu bukan teman, Ar... kita kan saudara," Balas Mahyuda ikut berdiri sambil merangkul temannya itu.
"Yoi bro... sekali lagi thanks for your support,"
"Yaudah yok, kita ke kantin gue laper banget... Fikri tadi chat gue keknya tuh anak bakal telat datang ke sekolah, dia lagi di sidang sama Om Dirga atas kasusnya." Ujar Mahyuda yang hanya di balas gelengan kepala oleh Arya, lalu mereka mulai berjalan beriringan munuju kantin.
***
Hal yang paling di benci oleh semua murid di SMA Bakti Mulya ini adalah di saat matahari tengah terik di atas sana dan mereka di suruh berkumpul di lapangan yang konon katanya ada pengumuman penting yang akan di sampaikan oleh Pak Bento selaku guru BK di SMA Bakti Mulya ini, peluh mengalir deras dari dahi hampir semua murid yang tengah berbaris di lapangan ini, terlebih si Pak Bento belum juga menampakkan batang hidungnya di podium yang biasa digunakannya untuk memberikan amanat yang berpersis berada tak jauh dari tiang bendera.
"Ya Tuhan... itu Kak Arya kok ganteng banget ya, apa lagi kalo keringatan kayak gitu," Entah dari siswi kelas berapa itu yang bergumam, yang pasti telinga Arya mendengarnya, namun tentu saja Arya mengabaikannya.
__ADS_1
"Ehh...ehh denger kabar katanya pacar kak Arya itu ikut tewas karena insiden pesawat yang jatuh itu deh...yeay gue jadi punya kesempatan deh deketin Kak Arya." Kata murid cewek yang memakai bendana merah yang tak juah berbaris dari Arya dan Mahyuda.
"Pokonya gue duluan yang harus deketin Kak Arya," Kata cewek yang berada di samping cewek berbendana merah itu.
Mahyuda yang juga mendengar adik-adik kelasnya merumpi, hanya bisa geleng-geleng kepala saja sambil menatap punggung Arya yang berbaris di depannya itu. temannya itu benar-benar tidak peduli akan sekitarnya meskipun itu menyangkut dirinya sendiri.
"Lo lagi di gosipin tuh, sama adek-adek rumpi." Kata Mahyuda sambil menepuk pelan pundak temannya itu.
Arya hanya menoleh sekilas sebelum pandangan kembali beralih menatap lurus kedepan, "Biarkan mereka berkembang," Sahut Arya kalem.
Selang beberapa menit kemudian, akhirnya Pak Bento dengan ciri khas kepala botaknya baru saja menaiki podiumnya yang membuat sebagian murid-murid ingin tertawa karena kepala pelontos gurunya itu terlihat silau karena pantulan cahaya matahari, tak ayal, Mahyuda dan Arya pun mati-matian menahan tawanya ketika melihat Pak Bento dengan percaya dirinya berdiri di atas podium itu.
"Selamat siang anak-anakku, yang selalu Bapak banggakan." Pak Bento memulainya.
"Siang Pak," Balas mereka semua kompak, alih-alih terdengar semangat mereka justru tampak tidak punya tenaga sama sekali, namun Pak Bento tidak mau memusingkan reasksi murid-muridnya itu.
"Sebelumnya Bapak mau minta maaf sama kalian. Karena sudah menyita waktu belajar kalian," Ucap Pak Bento sambil memandang murid-muridnya itu, hampir dari suma murid yang berbaris di hadapannya saat ini benar-benar sudah seperti ikan asin yang tengah di keringkan di bawah sinar matahari.
"Baiklah, Bapak tidak akan berbasa-basi lagi. Bapak mau mengumumkan sesuatu... sesuai kurikulum yang berlaku tahun ini dan kebetulan semua kamar asrama sudah jadi semua, mulai hari ini kalian harus tinggal di asrama yang sudah di sediakan di sekolah kita ini, karena akan ada kelas tambahan di waktu malam hari selama dua jam, kebijakan ini juga sudah di setujui orang tua kalian." Tentu saja banyak reaksi yang tidak setuju dengan kebijakan yang Pak Bento keluarkan barusan.
Tentu saja, berbeda dari reaksi yang di tunjukan Arya, cowok itu malah mengembangkan senyumnya. Itu artinya ia tidak tinggal lagi bersama Mama dan pria brengsek yang merebut posisi Ayahnya itu, "Akhirnya." Kata Arya bergumam lega.
"Itu artinya gue nggak tinggal bareng si brengsek itu lagi," Jawab Arya mantap masih setia memperhatikn Pak Bento di depan sana.
"Keputusan ini tidak bisa di ganggu gugat lagi, jika kalian tidak mau mematuhi aturan di sekolah ini, kalian bisa langsung mengurus surat pindah sekarang juga." Kata Pak Bento lagi, sontak membuat suasana sunyi kembali.
"Tenang saja, selama kalian tinggal di asrama semua urusan makan kalian akan di tanggung oleh pihak sekolah yang menerapkan sistem ini, kecuali kebutuhan pribadi kalian. Tentu saja kebutuhan pribadi kalian tidak akan di tanggung oleh sekolah melainkan di tanggung oleh kalian sendiri," Ada perasaan lega menghampiri murid-murid SMA Bakti Mulya mendengar kalau urusan makan sekolah yang akan menanggungnya, itu artinya mereka tidak terlalu membebani kedua orang tuanya.
"Setiap kamar asrama akan di tempati empat orang, tentunya ada perbatasan di antara asrama laki-laki dan perempuan, siapa pun yang ketahuan, baik laki-laki yang ketahuan berada di asrama perempuan atau sebaliknya. Siap-siap saja mendaptkan sanksinya."
Mereka masih terdiam menunggu kelanjutan dari Pak Bento.
"Setelah ini kalian bisa lihat penempatan kamar kalian yang sudah ditempel di mading depan perpustakaan, setelah itu kalian bisa pulang mengemasi barang kalian dan kembali lagi kesini dalam dua jam ke depan, sekian pengumuman dari saya."
***
Brak....
__ADS_1
Dirga yang merupakan Papa Fikri baru saja menggebrak meja kerjanya karena kesal dengan perbuatan anaknya itu, yang tentunya mencoreng namanya sebagai direktur di perusahaannya sendiri, akibat video Fikri yang di cium oleh April tempo hari lalu viral di berbagai media sosial, karyawan perusahaan Dirga banyak yang bertanya tentang hal itu, dan tentu saja itu membuatnya malu.
"Mobil, dan laptop kamu Papa sita dan atm kamu hari ini resmi Papa blokir," Ucap Dirga menatap putra semata wayangnya itu dengan tatapan kesal, Fikri hanya bisa menunduk sama sekali tidak berani menatap Papanya yang di kuasai oleh amarah.
"Kamu itu udah buat Papa malu sama karyawan-karyawan Papa di kantor, bahkan ada yang terang-terangan bilang kalau Papa itu salah mendidik anak, Papa kecewa sama Kamu, Fik. Papa rasa hukuman yang Papa beri ke kamu itu belum ada apa-apanya di banding malunya Papa sama karyawan Papa sendiri." Ujar Dirga lagi seraya menghembuskan napasnya, bukan berarti ia tidak menyayangi putranya itu, hanya saja ia ingin membuat Fikri tersadar akan apa yang sudah di lakukannya.
Evi, yang merupakan Mama Fikri, hanya bisa menyaksikannya dalam diam sambil menatap anaknya iba, kalau sudah suaminya yang bertindak seperti ini, perempuan itu sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.
"Pa...Aku...aku minta maaf, Pa." Akhirnya Fikri memberanikan diri berkata sambil menatap sang Papa yang menatapnya tajam.
"Papa maafin, tapi hukuman harus tetap kamu jalani." Kata Dirga tegas sambil menutup laptop yang berada di hadapannya itu.
"Pa, udah jangan marah-marah lagi ya, kasihan Fikri." Ujar Evi menenangkan suaminya itu, Fikri menatap Mamanya terharu karena sudah membelanya.
"Justru kalau kita mengabaikannya, pasti dia akan bertindak lebih jauh lagi dari ini Ma," Kata Dirga beralih menatap istrinya yang berada di sampingnya.
"Aku, ngaku salah Pa, aku bakal terima hukuman yang Papa beri," Ucap Fikri, biar bagaimana pun ia sangat merasa bersalah karena kejadian itu pasti reputasi Papanya memburuk terutama itu di perusahaan Papanya sendiri, biarlah ia menanggung hukuman yang di beri Papanya jika itu yang terbaik, Evi memandang anaknya dengan iba. Namun apa daya ia sama sekali tidak bisa ikut membantah apa yang telah di ucapkan suaminya tadi.
Fikri menatap Mamanya sambil tersenyum, "Aku nggak apa kok, Ma. Mama tenang aja." Kata Fikri.
"Ya sudah kalau begitu kamu bereskan semua baju-baju kamu, termasuk baju sekolah kamu. Karena tadi pihak sekolah telpon kalau hari ini sistem tinggal di asrama akan di terapkan," Jelas Dirga dan itu sempat membuat Fikri tercengang karena Fikri sejak kecil tidak terbiasa pisah begitu lama dengan Mamanya.
***
Arya baru saja selesai mengemasi barang-barang yang di perlukannya selama di asrama nanti, Arya mengganti baju sergamnya dengan baju kaus betuliskan 'You touch me, I Kill You' salah satu kenangan yang di berikan Anjani saat mereka masih bersama dulu, Arya tersenyum ketika mengingat momment di mana Anjani memberikannya baju kaus ini, kenangan itu benar-benar membekas di ingatannya.
Arya menghembuskan napasnya kasar lalu menarik resleting kopernya. Tinggal di asrama tidak begitu buruk, justru tinggal di sana akan membuatnya bisa lebih tenang di banding tinggal di rumahnya sendiri. "New life, I am coming." Gumam Arya semangat sambil menggeret kopernya keluar kamar, tak lupa Arya mengunci kamarnya terlebih dahulu sebelum berlalu dari kamarnya.
Saat Arya melewati ruang tamu, dua makhluk yang paling tidak ingin di temuinya berada di sana sambil bersenda gurau seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, Arya muak akan pemandang itu. terlebih terhadap pria bajingan yang kini duduk di samping Mamanya itu, pandangan Arya dan Mamanya tak sengaja bertemu. Saras menghentikan gelak tawanya menatap tajam Arya yang juga entah kenapa mendadak berhenti.
"Mau kemana kamu?" Tanya Saras datar.
Arya terkekeh sinis, "Kemana aku pergi sekarang bukan urusan Mama lagi," Ujar Arya mantap dengan tatapan menusuk pada iris mata Mamanya itu.
Saras malah tertawa, ya tertawa jahat maksudnya. "Bagus... Mama harap kamu nggak bakal kembali lagi ke rumah ini." Kata Saras sambil bersedekap dada, Rava yang berada di samping istrinya hanya membisu, mendengar adu mulut antara anak tiri dan istrinya itu.
"Sayangnya aku nggak bakal biarin Mama dan lelaki brengsek Mama itu menguasai harta Papa, aku bakal kembali lagi ke rumah ini." Ucap Arya seraya berlalu meninggalkan Mama dan Papa tirinya itu yang melongo mendengar ucapannya.
__ADS_1
***
TBC...