
Hiduplah Indonesia raya.
Mahyuda mengusap wajahnya frustasi. Pasalnya, sang Ketua OSIS itu baru saja sampai di lapangan upacara tepat setelah lagu Indonesia Raya berakhir, jadilah sekarang dia jadi bahan tontonan para guru dan ratusan temannya yang lain. Mahyuda menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal itu, ia benar-benar menyesal karena sudah terburu-buru lari dari asrama menuju lapangan kalau nyatanya dia tetap saja telat.
Tau tadi gue ngumpet dulu deh kalo jadinya kayak gini, kan malu di liatin.
Mahyuda tersenyum canggung menatap Pak Naga yang memelototinya sedari tadi, lalu Mahyuda beringsut mengambil barisan di barisan para siswa-siswi yang telat. Diliriknya Arya dan Fikri yang tengah menahan tawanya itu di barisan paling depan tepat di seberang barisan Mahyuda dan beberapa murid yang telat lainnya, lalu cowok itu mengacungkan bogemannya pada kedua temennya itu. Mahyuda berjanji dalam hati. Setelah selesai dari hukumannya nanti dia akan membinasakan kedua teman laknatnya itu.
Awas aja ya, abis lo berdua gue cincang. Umpat Mahyuda dalam hati, ia benar-benar gondok setengah mati dengan kedua temannya itu, bagaimana tidak? Alarm ponselnya yang semula di settingnya tepat pukul setengah enam pagi malah di ubah menjadi jam delapan tepat, ingin sekali Mahyuda mencekek keduanya saat ini juga.
Mahyuda sudah gerah setengah mati menahaan terpaan sinar matahari yang tepat mengarah ke arah dirinya. amanat dari Pak Naga begitu panjang terlebih Pak Naga menyinggung status Mahyuda yang sebagai ketua OSIS telah memberikan contoh yang tidak baik kepada teman-temannya yang lain, cukup sudah Mahyuda menanggung malu karena dirinya telat, dan sekarang dia harus mendengarkan ceramahan bandot tua itu di depan teman satu sekolahnya. Kadar malunya semakin bertambah karena beberapa murid lainnya terang-terangan menyorakkinya dengan sorakan mencemooh.
Tepat saat upacara akan berakhir Mahyuda memelotot tak percaya. Bukan hanya dia yang datang di saat bendera sudah berkibar ternyata masih ada yang lebih telat dari dirinya. Dan itu adalah cewek dua puluh lima juta, Oke... ralat—Dara—gadis itu Dara Septiara, mantannya. gadis itu bahkan dengan santainya mengambil barisan di samping barisan Mahyuda, benar-benar tidak tahu malu, pikir Mahyuda. Wajah gadis itu sama sekali tidak menyiratkan rasa bersalah dan itu cukup membuat Mahyuda tambah gondok setengah mati karena harus di hukum bersama gadis yang diberinya gelar cewek duapuluh lima juta itu
Upacara sudah berakhir, tinggallah barisan para siswa-siswi yang telat. Pak Naga sudah berdiri tepat di hadapan mereka. Mahyuda memutar bola matanya jengah karena Pak Naga sedari tadi terus-terusan menatapnya tajam.
Ni bandot tua, naksir gue kali ya?
"Kenapa sih, Pak, dari tadi liatin gu—maksudnya, liatin saya?" tanya Mahyuda akhirnya. Namun, akhirnya Mahyuda menyesali pertanyaannya karena detik selanjutnya yang terjadi adalah Pak Naga malah menjewer telinganya cukup kuat.
"Pak... kalo telinga saya putus, Bapak harus tanggung jawab, lapasin Pak." rengek Mahyuda sesekali mencoba melepaskan. Namun, tenaga Bandot tua itu jauh lebih kuat dari dirinya.
"Berani kamu masih bercanda, he? Kamu itu panutan Mahyuda. Tapi, kenapa kamu malah memberikan contoh yang buruk kepada teman-teman kamu?" ujar Pak Naga setengah emosi seraya melepaskan jewerannya.
Mahyuda menundukkan kepalanya malu. Pak Naga benar, seharusnya ia bisa jadi panutan, bukan malah memberikan contoh yang buruk pada teman-temannya. Ini semua karena kedua teman terlaknatnya itu, awas aja. Mahyuda akan membalas setelah ini selesai. "Saya juga manusia, Pak, wajar kalau saya melakukan kesalahan," sesal Mahyuda.
"Yaelah, udah telat aja masih ngeles. Semua juga tau lo manusia. Tapi setidaknya dengan jabatan yang lo pegang, lo bisa bersikap layaknya panutan dong," sahut Dara yang tepat berada di samping Mahyuda.
Mahyuda langsung mendongakkan kepalanya menatap ke arah gadis yang baru saja menyahut tadi dengan tatapan tajam. "Cewek murahan kayak lo, lebih baik bungkam aja deh. Apa perlu gue bungkam pake dua puluh lima juta lagi?" sindir Mahyuda sarkastik.
Gadis itu lantas mengatupkan bibirnya rapat lalu mengalihkan pandangannya. Ucapan Mahyuda benar-benar telak mengenai hatinya, entah kenapa Dara merasakan sakit hati saat Mahyuda mengatakan hal itu, rasanya ia benar-benar ingin menghilang dari hadapan cowok itu saat ini juga karena merasa malu.
"Sudah-sudah, kalian ini apa-apaan lagi? mulut kamu, Mahyuda di jaga, jangan asal bicara kamu. Dan kamu, Dara, kamu juga telat. Jadi diam saja, jangan asal menimpali." Pak Naga mengusap wajahnya gusar. Ia sudah tahu rumor sepasang remaja itu sudah kandas karena si gadis berselingkuh, entah dari mana ia mendengarkan gosip seperti itu, tapi itulah yang ia ketahui. Hubungan Mahyuda dengan gadis bernama Dara itu sudah kandas.
__ADS_1
Mahyuda memilih bungkam, perasaannya berkali-kali lebih gondok karena cewek dua puluh lima juta itu. Sebelum ucapan Pak Naga selanjutnya benar-benar membuatnya ingin mati saat itu juga, "Selain Mahyuda dan Dara, kalian pungut sampah di seluruh area sekolah." Perintah Pak Naga dan langsung di sambut dengan lengosan dari beberapa siswa-siwi yang ketiban sial karena telat juga.
Setelah beberapa murid membubarkan barisannya. Pak Naga menatap sepasang mantan kekasih itu, dalam hati ingin sekali ia tertawa keras karena hubungan kedua remaja itu sudah kandas. Pasalnya, saat mereka masih berpacaran Mahyuda kerap kali memamerkan kemesraannya di depan para guru-guru, termasuk Pak Naga. Maka dari itu, setelah mengetahui mereka sudah putus Pak Naga ingin sekali menertawakannya dan berkata "mampus".
"Bapak kasih kalian dua pilihan, bersihkan toilet atau cabutin rumput di belakang sekolah, mau yang mana?" kata Pak Naga memberikan penawaran.
"Bersihkan toilet, Pak," jawab keduanya kompak, lalu Mahyuda melirik sekilas ke arah Dara yang juga melirik ke arahnya lalu keduanya membuang pandangan seraya mendengus sebal.
Pak Naga tersenyum penuh arti, tidak apalah menyatukan sepasang mantan dalam satu hukuman, pikirnya. Barang kali mereka bisa kembali baikkan. Kurang baik apalagi saya ini, memberikan kesempatan muridnya untuk berbaikkan. Ujar Pak Naga membanggakan dirinya dalam hati.
"Yasudah, kalau begitu, kalian harus kerja sama bersihkannya. Bapak tidak mau tahu pokoknya kalian harus membersihkannya secara bersama-sama. Mulai dari toilet cowok lalu toilet cewek, tidak ada terpisah-pisah. Awas kalau terpisah, Bapak akan minta kalian mengulangnya," putus Pak Naga.
Mahyuda baru saja hendak membuka mulut. Tapi, Pak Naga sudah terlebih dahulu memberikkannya isyarat melalu gerakkan tangan agar tidak berkomentar sama sekali. "Tidak terima penolakkan, ini perintah," kata Pak Naga tegas.
Mending gue bersihkan kamar jenaza sendirian, dari pada harus di hukum sama cewek duapuluh lima juta satu ini.
Mahyuda mendengus sebal mendengar ucapan Pak Naga, ingin sekali ia mencakar wajah Pak Naga yang tampak sekali sengaja menyatukannya dengan gadis sialan itu dalam satu hukuman. Bandot tua sialan, gue tau, lo pasti sengaja jebak gue agar satu hukuman sama cewek dua puluh lima juta ini. kata Mahyuda dalam hatinya.
***
"Kerja sendiri lo," ketus Mahyuda.
Dara menghentakkan kakinya lalu melangkah mendekati Mahyuda sambil membawa pel yang sudah ia celupkan ke ari lalu menyodorkan pel tersebut pada Mahyuda, Mahyuda melotot tak percaya melihat aksi cewek duapuluh lima juta itu, "Mau lo apa sih? Nyingkir sana lo, apa perlu gue bayar lo duapuluh lima juta lagi, agar lo bisa kerja sendiri?"
Lantas Dara menurunkan pel yang ia sodorkan pada Mahyuda tadi, matanya menyorotkan tatapan tajam menatap nyalang cowok itu. Ucapan Mahyuda lagi dan lagi berhasil menyentil emosinya. Dara jadi malu sendiri dibuatnya, kenapa dia melakukan cara itu dulu terhadap cowok itu, dan sekarang ia baru menyesalinya karena cowok itu terus-terusan mengungkit hal itu.
"Berhenti sebut gue cewek duapuluh lima juta," ujar Dara tajam. sama sekali tidak ada rasa gentar kala sorot tajam cowok itu juga menghujam bola matanya.
Lalu Mahyuda mendengus sinis sebelum berkata, "Gelar itu cocok buat cewek kayak elo." Ujarnya sebelum berlalu melewati Dara sambil merampas pel dari tangan cewek itu secara kasar.
Dara menggeram kesal mendengarnya, matanya memanas mendengar penuturan Mahyuda. Hatinya benar-benar terasa teriris. Jauh di lubuk hatinya yang paling terdalam. Posisi Mahyuda masih menempati posisi yang sama di hatinya. Ia benar-benar tidak bisa melupakan cowok itu, maka dari itu, saat kata-kata manis yang dulu di ucapakan cowok itu berubah menjadi kata-kata sinis bernada sindiran. Hati Dara benar-benar sakit mendengarnya.
"Gue akan kembaliin semuanya," ucap Dara lirih di sertai dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
__ADS_1
Mahyuda menghentikan langkahnya, ia tertegun sejanak kala mendengar suara lirih itu. "Nggak per—" ucapannya tertahan. Tepat saat ia memutar arah menghadap Dara. Ia kembali tertegun melihat cewek itu menangis sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
"Nggak usah nangis di depan gue," Mahyuda kembali berujar ketus, meskipun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam jujur ia tidak bisa melihat gadis itu menangis. Ia masih menyayanginya.
"Lo kenapa selalu nyakitin gue, sih, Yud?"
Mahyuda mengalihkan pandangannya dari Dara lalu menghembuskan napasnya berat sebelum berujar. "Jangan tanya kenapa, karena lo sendiri sudah tahu jawabannya apa." katanya sembari melirik lagi pada Dara.
Dara semakin tak kuasa menahan air matanya. Ia tahu betul kenapa cowok itu bersikap kasar kepadanya, jawabannya tak lain dan tak bukan karena dirinya sendiri. Ia menyadari semua kesalahannya pada cowok itu. andai saja dulu dia tidak bodoh mengikuti saran April untuk menyakiti perasaan cowok itu mungkin sekarang ia tidak akan merasakan sakit hati juga seperti saat ini.
"Gue tahu gue salah, tapi gue mohon, Yud, jangan berkata kasar lagi ke gue. plis, gue belum terbiasa dengan sikap lo yang kasar seperti ini," lirih Dara di sela isak tangisnya.
Hati Mahyuda semakin terasa di remas-remas, ia tidak bisa melihat gadis itu bersedih. Terlebih, jika alasannya bersedih adalah karena dirinya. Mahyuda tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya untuk segera bergerak dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Rasa itu kembali menguar kepermukaan, Mahyuda benar-benar merindukan gadis ini. Dirasakannya gadis itu melingkarkan kedua tangan ke pinggangnya. Membiarkan gadis itu terisak di dada bidangnya.
"Jangan nangis, Ra, aku nggak bisa liat kamu gini," ucap Mahyuda lembut sembari mengelus rambut gadis itu. Dan Mahyuda tidak menyadari kalau ia kembali menggunakan bahasa "aku kamu" seperti saat mereka masih berpacaran dulu.
"Aku nggak bisa terbiasa dengan sikap kamu yang kasar itu, Yuda. Aku sakit tiap kali kamu menyindirku dengan kata-kata tajam itu," Dara semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang cowok itu, sudah lama sekali ia tidak menghirup aroma cowok itu, aroma yang selalu mampu membuatnya tenang. Jujur, Dara merindukan pelukan Mahyuda. Pelukkan yang begitu terasa hangat dan membuatnya nyaman.
"Maafin aku yang bersikap kasar, Ra, aku nggak mungkin begini kalau kamu nggak mulai duluan. Aku bersikap kasar karena aku kesal sama kamu, Ra, kamu udah buat aku merasakan patah hati,"
Mahyuda dapat merasakan kepala Dara menggeleng di dadanya sebelum gadis itu berkata. "Kamu nggak salah, Yuda, aku yang salah. Aku sengaja melakukan itu agar kamu patah hati karena aku ingin balas dendam atas perlakuanmu dulu ke aku. Namun, tak dapat kupungkiri kalau balas dendamku berimbas melukai hatiku sendiri,"
Mahyuda tak dapat berkomentar apa-apa lagi, ia tidak bisa menyalahkan Dara sepenuhnya. Karena alasan gadis itu balas dendam adalah dirinya. Mahyuda tahu betul, betapa fatalnya kesalahan yang pernah dulu ia perbuat terhadap gadis itu. Mahyuda benar-benar merasakan penyesalan itu sekarang, di rasakannya Dara semakin mempererat pelukkannya. "Aku juga belum terbiasa tanpamu, Yuda." Lirih gadis itu lagi.
Mahyuda mengurai pelukkannya seraya menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya, lalu di hapusnya sisa-sisa air mata di wajah gadis itu dengan kedua ibu jarinya. Ditatapnya lekat bola mata berwarna kecoklatan itu, tatapannya berubah menyendu. Mahyuda benar-benar menyesali karena sudah menyakiti gadis ini. "Jangan nangis lagi ya, Ra, aku nggak bisa liat kamu nangis, apalagi alasanmu menangis karena aku," ucap Mahyuda seraya menghela napas panjang.
"Yuda, bisa kasih aku kesempatan untuk kembali dekat denganmu? Aku tidak memaksamu untuk kembali berpacaran denganku. Tapi, setidaknya kasih aku kesempatan untuk bisa menjadi temanmu." Ucap gadis itu.
Mahyuda mengangguk mengiyakannya sebelum berkata. "Aku nggak ada alasan untuk menolak permintaan kamu, Ra,"
Dara tersenyum mendengarnya lalu kembali menghambur kepelukkan cowok itu, diam-diam Mahyuda **** senyumnya. Semenyakitkan apapun perlakuan gadis itu dulu terhadapnya. Namun, tetap saja Mahyuda tidak bisa menyingkirkan perasaan terlanjur sayangnya pada gadis itu.
Thanks Pak Bandot Tua, karena Bapak, gue bisa kembali deket dengan cewek yang masih gue sayangi.
__ADS_1
***
TBC