
Bau obat-obatan menusuk indra penciuman Arya, kepalanya terasa nyeri luar biasa membuatnya kesulitan untuk membuka matanya, perlahan kejadian sewaktu di tangga tadi berputar kembali di otaknya, mengingat akan hal itu membuat kepalanya semakin nyeri hingga ringisan tertahan berhasil lolos dari mulutnya, dan beberapa detik kemudian Arya berhasil membuka matanya dengan perlahan,di rabanya bagian kepalanya di rasakannya sesuatu yang melingkar di kepalanya itu, ya kepalanya di perban setelah mendapatkan empat jaitan pada bagian batok kepalanya.
Arya mengedarkan pandangannya ke sekitar, di rasakannya lagi tangannya sangat berat untuk di angkat, pandangan Arya beralih ke samping sebelah kanannya, dilihatnya seseorang tengah terlelap di atas tangannya. Arya berusaha menggerakkan tangannya pelan-pelan agar orang itu tidak terbangun dari tidurnya. Namun orang yang tertidur di atas tangannya itu malah menunjukan reaksi sebalaliknya, ya orang itu terbangun karena merasakan pergerakan.
Orang itu mengangkat kepalanya, lalu beralih menatap Arya yang seutuhnya belum sadar total karena matanya masih mengabur, "Ar... lo udah sadar?" Kata orang itu.
Sontak Arya mengerutkan dahinya serasa mengenal suara itu, perlahan Arya mengedip-ngedipkan matanya berharap pandangannya bisa normal kembali, di kedepidan ketiga Arya baru dapat dengan jelas melihat orang itu, seorang perempuan dengan rambut panjang, kulit putih serta hidungnya yang macung. Tentu Arya mengenal perempuan itu.
"At—thala?" Gumam Arya tak jelas namun masih bisa didengar perempuan yang berada di sampingnya itu, ya perempuan itu adalah Athala, perempuan yang tempo hari menabrak mobilnya.
"Iya, gue Athala. Ar," Kata Athala, "Maaf, gara-gara gue lo jadi gini." Katanya lagi sambil menundukkan kepalanya.
Arya kembali mengingat kejadian tadi, Arya ingat betul sebelum ia terjatuh dari tangga ada seseorang yang berlari ke arahnya hingga menyebabkannya jatuh terguling dari tangga itu, "Jad—i, lo yang nubruk gue tadi?" Tanya Arya susah payah karena masih sulit mencerna situasi.
"Tadi gue liat ada salah satu murid di SMA kita nggak sengaja numpahin minyak sayur di tangga itu, makanya pas gue liat lo mau turun tangga gue... gue, ya gitu." Kata Athala yang merasa tidak enak untuk menjelaskannya. Athala pun bingung kenapa ia bisa melakukan hal seperti itu, bukannya menolong ia justru malah makin memperburuk keadaan.
"Sejak kapan lo sekolah di sini?" Tanya Arya yang sudah berhasil merubah posisi berbaringnya menjadi duduk sambil menatap Athala.
"Tiga hari yang lalu," Jawab Athala masih dengan mendudukkan kepalanya.
"Gue ngomong dengan lo, bukan dengan rambut lo yang panjang itu." Kata Arya datar.
Sontak Athala langsung mendongakkan kepalanya, dan ya tatapan mereka saling mengunci satu sama lain, benar kata Fikri. Wajah Athala benar-benar tidak asing lagi bagi Arya, sepertinya ia pernah bertemu dengan seseorang yang wajahnya mirip dengan gadis yang berada di sisi brankar tempatnya saat ini, merasa tatapan Arya semakin aneh terhadapnya, Athala memutuskan kontak matanya dengan Arya, berusaha mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang UKS.
"Kenapa lo tiba-tiba lari ke arah gue?" Tanya Arya dengan sorot mata mengintimidasi, ia baru menyadari satu hal, jika gadis itu hanya berniat menolongnya waktu itu pasti gadis itu tidak sampai berlari dan menubruk tubuhnya, hal ini terasa janggal di benak Arya. Entah apa itu, ia pun sulit untuk mendeskripsikannya.
Athala terdiam sesaat, ia semakin bingung untuk menjelaskannya pada Arya, ia tidak mungkin memberitahukan alasan yang sebenarnya pada cowok itu, "It—u... gue..." Ucapan Athala terpotong karena pintu ruang UKS tiba-tiba terbuka lebar.
Sontak Arya dan Athala mengalihkan pandangan pada pintu UKS yang terbuka dengan suara debaman yang cukup keras itu, terlihat Mahyuda dan Fikri terengah-engah menstabilkan napas masing-masing, ketika mendengar dari salah satu teman satu kelasnya yang mengatakan Arya jatuh dari tangga, Mahyuda dan Fikri segera bergegas ke UKS seperti kedua orang yang sedang mencemaskan anaknya.
Mahyuda dan Fikri segera menghampiri temannya itu, "Arya lo nggak papa, kan?" Tanya Mahyuda panik sambil menggucang kedua bahu temannya itu.
Arya menyingkirkan kedua tangan Mahyuda yang memegang kedua bahunya itu, "Kepala gue keknya bocor," Kata Arya cuek.
__ADS_1
"Oh God, lo hobby banget sih Ar, bikin kita khawatir gini." Ketus Fikri sambil menjitak kepala temannya.
Tentu saja Arya meringis ke sakitan karena jitakkan Fikri barusan tepat mengenai jaitan di kepalanya itu, "Kepalanya tadi jait," Kata Athala tiba-tiba yang ikut meringis melihat Arya meringis kesakitan seperti itu.
Fikri garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu merasa bersalah atas apa yang baru saja ia lakukan, "Hehehe... Sorry, gue nggak tau." Katanya polos.
"Lo sih Fik, temen lagi kek gitu lo asal jitak aja," Kata Mahyuda menyudutkan temannya itu. lalu tatapannya beralih pada sosok yang sedari tadi tidak di lihatnya, ya Mahyuda menoleh ke Athala yang berada di sebelah kiri brankar tempat Arya saat ini.
"Siapa?" Tanya Mahyuda pada Fikri.
Baru Fikri hendak menjawabnya, suara dering di ponsel Athala berbunyi yang membuat gadis itu segera menyambar ponselnya yang berada di atas nakas samping brankar itu, "Ar, gue keluar duluan ya, sekali lagi sorry udah buat lo kek gini," Kata gadis itu tampa menunggu reaksi Arya maupun kedua teman Arya itu, Athala segera beranjak keluar dari UKS itu.
Arya masih bergeming di tempatnya, ingin sekali ia memaki gadis itu, karena untuk yang kedua kalinya ia di buat sial karena gadis itu, namun entah kenapa setiap rasa ingin memakinya itu ingin ia luapkan seketika hilang saat Arya menatap mata gadis itu, mendadak lidahnya semakin kelu untuk mengeluarkan makiannya itu.
"Cewek tadi siapa, Ar?" Tanya Mahyuda lagi.
"Athala," Jawab Arya singkat dengan tatapan mata masih tertuju lurus menatap pintu keluar UKS itu.
"Ceritanya panjang," Kata Fikri ikut menyahut.
***
Malam pertama berada di asrama masih terasa asing bagi Mahyuda, cowok itu type orang yang sulit beradaptasi pada lingkungan sekitarnya, sedari tadi Mahyuda merasa gelisah karena tidak bisa tidur, lalu disini lah Mahyuda sekarang. Di taman belakang asrama yang mereka tempati saat ini.
Sejuknya udara malam menusuk permukaan kulitnya karena cowok itu hanya menggenakan baju kaos berlengan pendek saja, namun itu tidak membuatnya beranjak dari bangku taman itu, matanya mulai menerawang ke atas melihat bintang-bintang yang bertebaran di langit malam, sesekali ia tersenyum karena mengingat sesuatu, namun perlahan senyum itu pudar seketika saat pandangannya teralihkan pada satu objek yang sangat di bencinya saat ini.
Ya, berjarak dua puluh meter Dara tengah berdiri sendirian sambil menatap bintang-bintang di langit juga. Kejadian beberapa hari lalu kembali berputar di otak Mahyuda mengingat betapa menjijikkannya cara gadis itu memerasnya lalu mencampkannya begitu saja seperti permen karet yang sudah kehilangan rasa manisnya.
Tangan Mahyuda terkepal keras dengan sorot mata yang tak lepas memperhatikan Dara dari ke jauhan, ingin sekali lagi Mahyuda memakinya abis-abisan. Perlakuan gadis itu kepadanya benar-benar membuat harga dirinya jatuh seketika, beberapa detik kemudian dara menolehkan kepalanya tepat mengarah kepada Mahyuda yang juga menatapnya tentunya dengan sorot mata yang tidak bersahabat, baru saja Dara hendak berucap Mahyuda sudah berlalu dari pijakannya, ada perasaan aneh yang menghampiri Dara ketika melihat sorot mata kebencian dari Mahyuda itu. Dan entah kenapa dia merasa bahwa saat ini ia benar-benar menyesal karena telah mempermainkan perasaan Mahyuda.
***
Jam sudah menunjukan pukul 00.00 waktu indonesia barat tanggal yang awalnya 22 Maret berganti menjadi 23 Maret yang artinya umurnya bertambah satu tahun. Arya menghembuskan napasnya panjang sambil menatap keluar jendela, ia sendirian di kamar karena kedua temannya itu entah kemana. Disaat-saat seperti ini Arya benar-benar merindukan seseorang, seseorang yang dua tahun belakangan ini selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya disaat umurnya bertambah.
__ADS_1
"An... apa kamu nggak mau ngucapin sesuatu ke aku gitu?" Tanya Arya pada foto Anjani dan dirinya yang tengah dipegangnya itu.
Lalu Arya tersenyum pilu menatap foto itu,setidaknya ia bisa membekukan waktu difoto itu. rasanya Arya ingin sekali mengulang setiap waktu yang pernah ia lewati bersama Anjani, namun Arya sadar harapannya itu hanyalah sebatas angan-angan yang tidak akan pernah terwujud selamanya. Arya berusaha mengubur segela kenangan itu, setidaknya untuk saat ini Arya bisa menunjukkan senyum palsunya disaat hatinya benar-benar berduka saat ini.
Detik berikutnya Arya kelabakan sendiri karena lampu kamarnya tiba-tiba mati, Arya berusaha meraih saku celananya untuk mengambil ponsel, namun saat ia mencoba menghidupkan ponselnya, Arya baru teringat kalau ponsel itu mati total karena ia belum mengisi daya batrainya. Bulu kuduk Arya meremang seketika saat mendengar gedoran pintu diluar sana.
"Siapa?" Tanya Arya berusaha untuk tidak takut. Namun jujur saja ia takut dengan kegelapan.
Tidak ada sahutan dari luar sana, yang ada malah suara gedoran di pintu itu semakin keras, Arya berusaha meraih knop pintu itu dengan perasaan was-was. Perlahan tapi pasti Arya memutar knop pintu itu lalu menariknya kedalam perlahan, dan Arya dibuat terjengkang dengan pemandangan di depannya.
Seketika lampu kamar kembali menyala diikuti dengan suara terompet yang ditiup oleh Fikri sedangkan Mahyuda menyemprotkan busa-busa pada Arya yang masih belum sadar dengan keterkejutannya. Diliriknya orang yang terakhir masuk ke kamar mereka sambil membawa cake coklat yang diatasnya terdapat lilin berangka 18. Arya tersenyum sekilas melihat gadis itu.
"HAPPY BRITHDAY BROKU," Teriak Fikri lalu kembali meniup terompet yang ia bawa tepat didepan telinga Arya. Arya hanya **** senyum melihat kekonyolan temannya itu.
"HAPPY BRITHDAY YAYA," Kini Mahyuda yang ikutan berteriak sambil menyemprotkan busa-busa itu diwajah Arya, Arya tertawa lepas sambil menghindari semprotan busa-busa itu. Mahyuda semakin gencar mengejar Arya dan menyemprotkan busa-busa itu diwajahnya.
"Happy Brithday, Ar." Kata gadis yang sedari tadi hanya **** senyumnya melihat aksi ketiga cowok itu.
Arya dan Mahyuda pun menghentikan aksi kejar-kejaran mereka yang tentunya berakhir dengan Arya yang sudah dipenuhi dengan busa-busa hasil semprotan Mahyuda tadi, Arya tersenyum sekilas melihat gadis itu. "Thanks Thal," Ucapnya tulus, lalu tanpa aba-aba Mahyuda dan Fikri sudah mememeluknya dari sisi kiri dan kanan.
"Udah besar temen gue rupanya," Kata Mahyuda disela-sela pelukan mereka, Arya hanya bisa terkekeh mendengarnya.
"Semoga dengan bertambahnya umur lo, berkurang pulalah kersean lo," Sahut Fikri diakhiri dengan gelak tawa ketiganya. Setidaknya masih ada yang patut disyukuri oleh Arya karena ia masih memiliki kedua temannya itu setelah perlahan orang-orang yang ia sayang pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Thanks guys, lo berdua emang saudara gue yang ter-ter dah pokoknya," Kata Arya disisa-sisa gelak tawa mereka, sangking senangnya Arya sampai melupakan rasa sakit dikepalanya bekas jahitan itu dan... melupakan satu fakta lagi, kenapa Athala bisa bersama kedua temannya? Ah ia benar-benar tidak ingin memikirkannya saat ini, anggap saja gadis bernama Athala itu tidak sengaja ikut-ikutan kedua temannya untuk memberikannya kejutan, namun jujur saja Arya bingung kenapa seolah-olah takdir selalu mempertemukannya dengan gadis bernama Athala itu?
Tuhan, aku minta hentikan waktu sekarang bisa? aku tidak ingin kebersamaan ini berakhir begitu saja.
Athala yang menyaksikan ketiga cowok itu berpelukan hanya bisa tersenyum simpul, ia tahu ia belum menjalankan misinya. Ketika misi itu sudah dijalankannya Athala dapat menjamin gelak tawa ketiga cowok itu tidak lagi terdengar menyenangkan justru kepahitan yang akan mereka rasakan nantinya. Athala sungguh ingin mengulur waktu agar misi itu tidak ia laksanakan, Athala tidak tega melakukannya. Tapi ia harus melakukan misi itu apapun yang terjadi.
***
TBC..
__ADS_1