
Happy Reading😉
"Ar, gue pinjem hp lo bentar dong. Pulsa gue abis, gue mau ngabarin Bokap, minta isiin pulsa," kata Mahyuda seraya mendudukan dirinya di kursinya.
Sejenak Arya menceka keringat di dahinya sebelum melihat kursi kosong di samping kursinya, gadis itu belum masuk kelas. Pikir Arya seraya menghembuskan napasnya panjang. "Woy Ar, denger gue nggak sih? Pinjem hp lo bentar woy." Teriak Mahyuda seraya menendang kaki kursi Arya sontak saja cowok itu terkejut dan mencondongkan tubuhnya sembilan puluh derajat untuk menoleh ke belakang.
"Anjir lo ya Yud, bakat banget buat gue pagi-pagi senam jantung." Kata Arya jengkel seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana dan menyerahkannya pada Mahyuda yang duduk di balakang kursinya.
"Abis pulsa gue, jangan lupa di ganti." Peringat Arya dan hanya di balas dengan delikkan mengejek dari sahabatnya itu.
"Pelit banget woy, bakal gue ganti kok. Janji dah," kata Mahyuda seraya mengotak-atik ponsel Arya. Jelas saja ia bukan ingin menghubungi orang tuanya untuk membelikannya pulsa melainkan mengirim pesan kepada Athala menggunakan akun LINE milik Arya.
Lima belas menit lagi temui gue di atap!
Setelah pesan itu terkirim Mahyuda segera menghapus pesan yang ia kirim itu untuk menghilangkan jejaknya. Sekali lagi Mahyuda meyakini dirinya bahwa yang ia lakukan kali ini adalah yang terbaik untuk Arya, Mahyuda yakin itu. Ia tidak akan menyesal jika memaksa gadis itu untuk mengakui semua kesalahannya pada Arya.
"Ar... Ar, nih hp lo." Kata Mahyuda seraya mendorong-dorong bahu Arya yang tengah fokus mengatur lensa kameranya.
Arya menoleh dengan wajah jengkelnya seraya mengambil ponselnya kembali dengan sekali sentakan. "Abis pulsanya gue minta ganti dua kali lipat," ujarnya dan hanya di balas dengan kekehan saja oleh Mahyuda.
"Ar, kalo bu Marta atau Pak Naga masuk kelas, tolong izinin gue ya, gue ada urusan bentar." Kata Mahyuda seraya ingin melintasi bangku Arya namun tentu saja tanganya langsung di cekal oleh Arya.
"Eiits... Mau kemana lo? Bentar lagi jam Bu Marta bakal mulai, gue nggak mau bohong kalo niat lo Cuma mau bolos," kata Arya menatap tajam sahabatnya itu.
Mahyuda menghembuskan napasnya kasar seraya melepaskan cekalan Arya dari tangannya. "Gue nggak bolos bangke, gue ada urusan bentar. Urgent ini," kata Mahyuda sok dramatis. Lalu matanya tak sengaja menangkap sweater hitam milik Arya yang tersampir di kursi cowok itu.
__ADS_1
"Gue pinjam sweater lo bentar! Di luar dingin Bro," kata Mahyuda cepat seraya menarik paksa sweater itu lalu berlalu keluar kelas begitu saja tanpa mengindahkan panggilan Arya yang memanggilnya.
"Sialan tuh anak! Mau kemana sih dia?" gumam Arya gamang, tak berapa menit kemudian ponsel di atas mejanya berdering dan menampilkan nama Fikri di layarnya, tanpa pikir panjang Arya segera menjawab panggilan itu.
"Kenapa?" tanya Arya to the point.
"Jemput gue Ar, gue tadi ditinggalin sama Pak Bambang karena gue kelamaan berak di toilet mall, dompet gue juga ketinggalan di mobilnya Pak Bambang" kata Fikri di ujung sana.
Ingin rasanya Arya memaki sahabatnya yang satu itu, selalu saja membuat masalah-masalah konyol yang harus merepotkan dirinya. "Yaelah Fik, lo makan apaan sih sampe berak kelamaan? Jangan bilang lo makan jengkol lagi? bener-bener lo ya Fik! Kan udah gue peringati beberapa kali jangan kebanyakan makan jengkol." Cerocos Arya kesal.
"Berisik lo Ar, persis kek emak-emak yang ngomeli anaknya, tadi gue khilaf makannya sampe tiga porsi makanya gue berak jadi kelamaan, buruan deh lo jemput gue di halte yang nggak jauh dari lampu lalu lintas deket dengan apotek dan yang nggak jauh dari sekolah kita itu,"
Arya menghembuskan napasnya berat sebelum ia menjawab "Tunggu gue di sana dua puluh menit lagi, gue mau izin keluar dulu sama Bu Marta," kata Arya dan langsung saja mengkahiri sambungan itu secara sepihak. Baru beberapa detik ia memutuskan panggilan dengan Fikri satu pesan baru dari LINE masuk ke ponselnya, di sana tertera nama Mahyuda sebagai pengirim pesan tersebut. Lalu dengan gerakkan cepat Arya menekan notifikasi itu.
Sweater lo bagus Ar, gue foto pake ini muka gue jadi makin ganteng!
Itulah caption yang di tulis Mahyuda di bawah foto yang ia kirimkan kepada Arya yang membuat Arya ingin sekali membanting ponselnya karena merasa jengkel dengan kelakuan konyol temannya itu, benar-benar tidak berfaedah, pikirinya. Namun, kalimat selanjutnya yang masuk di roomchat yang dikirimkan Mahyuda membuat Arya seperti melupakan semua kekesalannya.
Maafin gue ya Bro kalo gue banyak salah! Lo udah seperti saudara sendiri bagi gue, maka dari itu gue minta maaf kalo sering buat lo jengkel... jangan tanya macem-macem kenapa gue kirim pesan kek gini ke lo, gue lagi kepengen aja ngucapin kata maaf lewat pesan nggak berani kalo ngomong langsung!
Kalimat terpanjang yang peranah Mahyuda tuliskan melalui pesan kepada Arya, yang sukses membuat Arya kebingungan dengan tingkah sahabatnya satu itu, kenapa Mahyuda begitu mencurigakan? Pikir Arya, kenapa juga Mahyuda tampak aneh? Apa Mahyuda lagi kesambet sesuatu atau semacamnya sehingga bertingkah aneh seperti itu. Banyak sekali dugaan-dugaan tidak masuk akal yang di pikirkan Arya saat ini. Maka dari itu Arya hanya membalas pesan itu dengan sebuah stiker anime berwarna merah yang tampak seperti orang marah.
Arya menekan tombol off pada ponselnya lalu memasukkan benda pipih itu ke saku celananya. Lalu segera ia bergegas keluar kelas, tepat setelah ia keluar kelas Bu Marta baru saja memasukki kelas tanpa banyak alasan Arya langsung saja meminta izin keluar sekolah untuk menjemput Fikri dan tentu saja Bu Marta mengizinkannya.
Setelah sampai di parkiran Arya malah kebingungan mau naik apa ia menjemput sahabatnya itu, ia baru ingat kalau dia sama sekali tidak membawa mobil maupun motornya. Arya pun mengetuk-ngetuk jarinya ke dagu layaknya orang yang tengah berpikir keras. Arya menyandarkan tubuhnya pada mobil sport berwarna putih dibelakangnya seraya masih berpikir keras mengenai kendaraan yang akan dia pakai. Arya baru saja memikirkan untuk memesan taksi namun ia langsung teringat kalau dompetnya tertinggal di dalam tas di kelasnya sana. Dan Arya paling malas untuk kembali ke kelas selain letaknya jauh dari parkiran pasti Bu Marta tidak akan mengizinkannya untuk keluar lagi.
__ADS_1
Arya menghembuskan napasnya berat sambil mengusap wajahnya gusar. "Fikri-Fikri, lo kok hobby banget buat gue bingung mikirin hal-hal yang nggak jelas kek gini," gumam Arya jengkel seraya mengeluarkan ponselnya yang baru saja berdering dari dalam saku celananya. Tentu saja, si bedebah sialan bernama Fikri itu yang tertera di layar ponselnya sebagai penelpon.
Dengan rasa sedikit jengkel Arya segera menjawab panggilan itu dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya. "WOY... UDAH SETENGAH JAM INI," Arya menjauhkan ponsel dari telinganya kerena baru saja si bedebah sialan itu meneriakkinya begitu keras.
"Gue bingung bangke, dompet gue ketinggalan di kelas. Mobil sama motor gue kan nggak gue bawa mau pake apa gue jemput lo ke sana? Lo tau sendiri kalau gue masuk lagi ke kelas gue nggak bakal di izinin lagi sama si Bu Marta,"
"Alasan apa kek gitu, ya kali gue kayak gembel di halte ini, ayolah Ar, buruan lo jemput gue." rengek Fikri di seberang sana yang sukses membuat Arya geleng-geleng kepala sendiri.
"Lo naik taksi aja pas nyampe biar gue yang ba—"
Bugghh.....
Suara seperti benda jatuh mengintrupsi ucapan Arya yang belum selesai, suara itu benar-benar terdengar sangat keras di telinga Arya sehingga Arya secara refleks menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan matanya membulat sempurna seraya meneguk salivanya sendiri, baru kali ini Arya merasa langit benar-benar runtuh dari atas kepalanya. Tubuhnya gemetar hebat ketika melihat tubuh manusia tak sadarkan diri di atas mobil itu mengeluarkan begitu banyak darah segar, mobil yang semula berwarna putih polos itu seketika berubah menjadi warna merah. Dan Arya dibuat cukup lama terpaku melihat wajah dari tubuh manusia yang berada di atas mobil itu lalu dengan napas terengah-engah Arya dengan sigap menarik tubuh itu turun dari atas mobil.
"YUDA... BANGUN WOY... BERCANDA LO NGGAK LUCU SUMPAH!" teriak Arya histeris sembari mengguncang-guncang tubuh yang sudah dipenuhi darah itu.
"YUDA BANGUN WOY! KENAPA LO LONCAT DARI ATAS SANA?" Teriakkan Arya semakin menggila dengan terus-menerus mengguncang-guncang tubuh tak berdaya yang berada di pangkuannya.
Darah semakin banyak yang keluar dari kepala Mahyuda membuat Arya semakin tidak bisa menstabilkan deru napasnya yang begitu menggebu-gebu. Tubuhnya gemetar hebat bahkan ia tidak memedulikan lagi teriakkan Fikri dari ponselnya. Otaknya di penuhi dengan berbagai spekulasi-spekulasi yang tidak wajar, bahkan ia sempat berpikir sejenak, bahwa Mahyuda ingin bunuh diri. Namun, langsung di tepisnya semua spekulasinya itu. Karena Arya sangat yakin bahwa Mahyuda bukanlah tipikal orang yang mudah putus asa sehingga melalukan tindakan bodoh seperti itu.
"SIAPA PUN TOLONG!!!"
***
TBC
__ADS_1