
"Tante mau ngapain?" teriak Mahyuda ketika pintu kamar itu ia buka secara paksa dan langsung melihat Tante Saras mengarahkan bantal tepat ke wajah Arya.
Tante Saras yang terkejut langsung melempar bantal itu kesembarang arah lalu ia berjalan keluar kamar tanpa mengindahkan pertanyaan Mahyuda tadi. "Tante pulang dulu, kamu jagain anak tante ya," ujar Tante Saras sambil lalu.
Mahyuda masih tercengang di depan ambang pintu dengan apa yang baru saja yang ia lihat, otaknya benar-benar lamban dalam mencerna situasi yang tampak jelas di depan matanya tadi.
Gue nggak salah liatkan, tadi?-gumam Mahyuda dalam hati.
Perlahan Mahyuda menolehkan kepalanya menatap punggung Tante Saras yang mulai menjauh. Degup jantungnya berdetak secara gila-gilaan. Mahyuda tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika dia terlambat datang, ia benar-benar bingung menyimpulkan situasi yang ia hadapai sekarang, akankah ia memberitahu Arya apa yang baru saja ia lihat? Ahh, tidak. Mahyuda tidak setega itu membuat sahabat terbaiknya kembali mengalami masa-masa buruk karena mengetahui satu fakta yang baru saja ia ketahui.
Gue harus selidiki Tante Saras, masa iya dugaan gue benar. Kalo dia mau bu-ah... otak gue pasti udah gak waras lagi, nggak mungkin Tante Saras sejahat itu.
Dan detik berikutnya Mahyuda terlonjak kaget karena Fikri baru saja melompat dari sofa sambil mengguncang kedua bahunya dengan tatapan serius. "Yud, kasih tau gue. Kalo gue salah liat kan tadi? Tante Saras nggak mungkin kan mau bunuh anaknya sendiri?" tanya Fikri menggebu-gebu.
Mahyuda membulatkan matanya sempurna, masih tak percaya dengan apa yang tanyakan sahabatnya ini. berarti bukan hanya dirinya saja yang melihat tindakan Tante Saras tadi, tetapi Fikri juga melihatnya. "Ja-jadi, l-lo liat ju-ga?" tanya Mahyuda susah payah sambil menstabilkan detak jantungnya.
Fikri mengangguk kuat, matanya menatap Mahyuda penuh dengan berbagai tuntuan pertanyaan. "Gue liat semuanya, dan gue dengar apa yang Tante Saras gumamkan-oh god, ingat itu aja buat bulu kuduk gue merinding Yud, ini sebenarnya kenapa sih? Gue nggak ngerti sumpah." Jelas Fikri dengan deru napas yang sama sekali tidak teratur.
Mahyuda terdiam sejenak mendengar penjelasan Fikri, diliriknya Arya yang masih tertidur pulas di atas sofa sana. Semoga Arya tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, pikir Mahyuda. Lalu di tariknya tangan Fikri lalu menyeretnya keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dengan sangat hati-hati.
Setelah cukup jauh jarak mereka dengan kamar. Mahyuda melepaskan cekalannya pada Fikri. Ditatapnya Fikri lekat. Ia semakin penasaran apa yang sebanarnya Fikri dengar tadi. "Lo dengar apa dari Tante Saras?" tanya Mahyuda serius.
***
__ADS_1
Beberapa menit setelah Mahyuda keluar dari kamar asrama.
Fikri merasakan pusing yang sangat luar biasa akibat menaiki berbagai wahana di taman bermain tadi. Perlahan kesadarannya kembali pulih. Fikri mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun, semua persendiannya terasa begitu kaku. Fikri membuka matanya perlahan, di liriknya ke sebelah kiri, di samping Arya benar-benar tertidur pulas dengan wajah pucat pasih. Namun detik berikutnya ia kembali mejamkan matanya ketika melihat sosok yang sangat ia kenali membawa bantal menghampiri ke arahnya.
"Maaf Arya. Jika hanya menyingkarkan Papamu tidak bisa membuatku menguasai semua hartanya karena kamu. Maka aku pikir ini jalan satu-satunya untuk mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini."
Detik itu juga, detak jantung Fikri memompa begitu cepat ketika melihat tangan wanita paruh baya itu yang memegang bantal mengarahkan tepat ke arah Arya. Untunglah detik berikutnya ia mendengar teriakkan Mahyuda dari ambang pintu sana.
***
Fikri mengusap wajahnya gusar. "Apa Tante Saras ada kaitannya dengan kematian Om Xavier?" tanya Fikri kemudian.
Yang sukses membuat Mahyuda menolehkan pandangannya pada Fikri, Itu juga yang baru saja ia pikirkan setelah mendengar cerita dari sahabatnya itu. "Kenapa lo berpikiran kayak gitu?" tanya Mahyuda serius.
Fikri mengusap wajahnya gusar. "Apa lagi sih Yud, yang harus kita ragukan. Jelas-jelas gue denger Tante Saras bergumam, kalo dia yang udah nyingkirin Om Xavier, pasti kematian Om Xavier ada campuran tangannya Tante Saras." Ujar Fikri pasti.
Fikri terperangah mendengar pertanyaan sahabatnya ini. "Maksudnya?" tanya Fikri semakin bingung, kemana sebenarnya arah pembicaraan Mahyuda saat ini.
"Gadis bermasker hitam dan topi hitam, lo inget?" kata Mahyuda memberikan clue pada Fikri.
Fikri semakin mengerutkan dahinya bingung, mencoba mengingat-ingat gadis bermasker hitam dan topi hitam yang di maksud Mahyuda barusan. Otaknya lamban untuk berpikir hingga beberapa kali Mahyuda melihat Fikri memijat-mijat dahinya layaknya seseorang yang tengah berpikir keras.
Menit berikutnya Mahyuda sedikit tersentak kaget karena Fikri tiba-tiba mencengkram bahunya erat dengan sorot mata tajam tepat ke arah pupil matanya. "Gue inget sekarang, maksud lo gadis kurir yang datang sehari sebelum Om Xavier meninggalkan?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
Mahyuda mengangguk pasti sebagai jawabannya. "terus apa hubungannya gadis kurir itu sama Tante Saras?" lanjut Fikri lagi.
"Tadi malam gue nggak sengaja liat Tante Saras sama gadis kurir yang waktu itu, kalo mereka nggak ada apa-apa lagi, nggak mungkin mereka sampai sekarang masih berhubungan sampai sekarang." Jawab Mahyuda.
"Gue bener-bener belum ngerti sumpah, dari penjelasan lo barusan, di mana buktinya lo bisa menduga kalo gadis kurir itu ikut andil dalam kematian Om Xavier?" Fikri semakin bingung dengan situasi yang baru saja ia hadapi. Benar-benar sulit untuk di cerna oleh otak ceteknya.
Mahyuda menghembuskan napasnya berat. Ia yakin betul, pasti gadis bermasker hitam itu juga turut andil dalam kasus kamtian Om Xavier, ayahnya Arya. "Lo inget apa yang di bawa gadis bermasker hitam itu waktu dia nganter pesanan Tante Saras? Dan lo inget gimana kondisi tubuhnya Om Xavier waktu di temukan udah nggak bernyawa lagi di dalam kamar? Dan lo inget, waktu Tante Saras nggak mau jenazah Om Xavier di otopsi saat Arya minta penjelasan kenapa Ayahnya bisa meninggal secara tiba-tiba? padahal hari itu sebelum kita bertiga main PS di ruang tengah Om Xavier masih sempat nyapa kita dengan keadaan segar bugar. Lo ngertikan maksud gue Fik?" jelas Mahyuda panjang lebar.
Otak Fikri mendadak semakin berpikir keras, ia dapat menangkap apa yang di terangkan Mahyuda barusan. Ia ingat betul semua yang di katakan Mahyuda tadi, dari benda yang di bawa oleh gadis kurir itu, keadaan tubuh Om Xavier yang tampak membiru, serta Tante Saras yang menolak permintaan Arya untuk melakukan otopsi terhadap jenazah Om Xavier. Fikri ingat semua itu, dan sekarang hanya satu yang ada di pikiran Fikri.
"Jangan bilang maksud lo Tante Saras ngera-" ucapan Fikri terhenti seketika karena ia masih tidak yakin dengan apa yang ia pikirkan saat ini.
"Gue masih sulit banget cerna apa yang baru saja gue pikirkan, dan gue harap yang gue pikirkan itu nggak bener Yud," kata Fikri akhirnya.
"Jangan ngelak dari pikiran Fik, gue yakin lo juga kepikiran kalo Tante Saras 'kan yang udah ngeracunin Om Xavier?" kata Mahyuda serius.
Fikri menghembuskan napasnya berat, Mahyuda benar. Ia tidak dapat membohongi dirinya sendiri dengan tidak percaya terhadap pemikirannya dengan analisis yang Mahyuda terangkan tadi. "Kalo emang iya Tante Saras yang udah ngeracunin Om Xavier, kira-kira menurut lo, apa motifnya?" tanya Fikri kemudian.
Mahyuda terdiam sesaat, mencoba mencerna pertanyaan Fikri barusan. Ia juga tidak yakin dengan pemikirannya sendiri, di dunia ini mana ada istri yang tega membunuh suami dan hendak membunuh anak sendiri, kecuali istri yang gila dengan harta. Pikir Mahyuda. "Dugaan gue, Tante Saras pengen menguasi harta Om Xavier sepenuhnya. Lo ingetkan sejak kematian Om Xavier dan bahkan sebelum kematian Om Xavier, Tante Saras dan Arya udah nggak kayak Ibu sama Anak lagi, dan gue yakin itu kerena Tante Saras pasti selalu mendesak Arya untuk mengalihkan harta yang di wariskan Om Xavier ke Arya beralih ke dia," jelas Mahyuda lagi.
Dan Fikri semakin mengerutkan dahinya bingung. Ini benar-benar rumit untuk di cerna oleh otak ceteknya itu. "Gue makin bingung dengan analis lo Yud, kepala gue makin pusing ini. Terus, gadis kurir yang bermasker hitam itu siapa?" tanyanya.
"Itu yang harus kita cari tahu sekarang, dan gue udah curiga sama seseorang." Sahut Mahyuda kemudian.
__ADS_1
***
TBC