
Tiga hari berlalu setelah acara ulang tahun sekolah mereka, Mahyuda semakin jengah melihat sikap Arya terhadap Athala. Sahabatnya itu semakin akrab dengan gadis yang belum lama ini mereka kenal, Mahyuda tetap saja merasa was-was terhadap gadis itu, terlebih saat dia masih mengingat dengan jelas obrolan gadis itu dengan seseorang melalui saluran telepon tempo hari lalu.
Sesekali Mahyuda melirik ke arah sahabatnya itu yang tengah asik membahas soal Matematika bersama gadis yang bernama Athala itu, akhir-akhir ini Arya terkesan mengabaikan kedua sahabatnya. Namun, itu hanya di rasakan oleh Mahyuda. Sementara Fikri mendukung seratus persen perubahan sikap Arya karena kehadiran gadis itu.
"Arya cocok banget ya sama Athala? Gue jadi berharap kalo Arya bakal punya perasaan lebih sama Athala. Karena yang gue lihat selama ini dia belum pernah lagi tersenyum kayak gitu setelah kematian Anjani," celetuk Fikri sambil sesekali tersenyum melihat intraksi sahabatnya dengan Athala.
Mahyuda melirik sekilas ke arah Fikri yang tepat berada di sebelahnya itu. Fikri benar, sejak kematian Anjani, Arya belum pernah lagi tersenyum sebahagia itu. Apa Mahyuda mengabaikan saja segala fakta yang ia ketahui tanpa menggali lebih dalam lagi fakta itu, Mahyuda ingin sekali mengabaikannya. Namun, ia semakin penasaran dengan gadis bernama Athala itu karena akhir-akhir ini gadis itu benar-benar seperti mencari perhatian Arya dari pertanyaan-pertanyaan sepelenya, mulai dari menanyakan makanan kesukaan Arya sampai menanyakan warna favorit sahabatnya itu, jangan tanyakan kenapa hal sekecil itu Mahyuda ketahui, karena Mahyuda pernah tidak sengaja melihat room chat Arya dengan gadis itu melalui WhatsApp.
"Gue belum tenang kalo belum mastiin satu hal," kata Mahyuda tanpa sadar.
Fikri yang mendengarnya menoleh pada Mahyuda sambil mengernyit bingung, "Lo ngomong apa barusan?" tanya Fikri.
Buru-buru Mahyuda menggelengkan kepalanya. "Nggak," jawab Mahyuda sembari beranjak dari duduknya.
"Mau ke mana lo?" tanya Fikri heran melihat temannya itu yang beranjak dari tempat duduknya.
"Gue bosan di kelas mulu, perut gue keroncongan. Gue mau ke kantin dulu, kalo mau ikut, kuy lah bareng gue," ujar Mahyuda.
Fikri ikut beranjak lalu melirik ke bangku bagian depan, di mana Arya dan Athala masih asik mengobrol sambil tertawa sesekali. Ya kali dia mau duduk diam saja di kelas sambil melihat sahabatnya itu yang lagi terkesan pedekate. "Ikutlah gue, dari pada gue jadi obat nyamuk. Yuklah, kantin," kata Fikri lalu berjalan mendahului Mahyuda, Mahyuda mendengus sebal karena Fikri berjalan mendahulinya. Lalu Mahyuda ikut menyusul Fikri dan basa-basi kepada Arya setelah melewati bangku sahabatnya itu, Namun. Jelas saja tawarannya di tolak mentah-mentah oleh Arya.
***
"Gimana, An? Udah ngerti nggak?" tanya Arya. Namun, detik selanjutnya ia mengatupkan bibirnya rapat karena salah menggunakan panggilan. Lagi dan lagi nama Anjani yang di sebutnya.
Athala menoleh pada Arya sambil mengangkat sebelah alisnya, menatap cowok itu bingung. "An? Gue Athala, Ar." Kata Athala berusaha mengabaikan debaran aneh yang mulai ia rasakan ketika Arya salah menyebut namanya, ada perasaan aneh yang sulit untuk di definiskannya.
Arya tersenyum canggung menatap gadis yang berada di sampingnya itu, "Sori, gue ke inget lagi sama seseorang," jawab Arya jujur.
__ADS_1
Athala memiringkan wajahnya menatap lekat cowok itu dengan kedua pipinya sedikit menggebung. "Bisa galau juga ya, Ar?" canda Athala sembari menahan gelak tawanya sambil terus memandangi Arya yang tampangnya mendadak berubah menjadi sendu.
Arya tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mengacak rambut gadis itu, gadis itu terlihat menggemaskan dimatanya. "Gue manusia normal, Athala, adakalanya gue merindukan seseorang, wajar kalo gue kangen, bukan galau ya," katanya di selingi dengan kekekhannya yang benar-benar terkesan manis di mata Athala, sejenak Athala terdiam ketika melihat cara cowok itu terkekeh, mata sipitnya benar-benar hanya tinggal segaris ketika ia terkekeh.
Lalu buru-buru ia menyingkirkan wajahnya yang agak dekat dengan cowok itu ketika Arya menoleh kepadanya. "Hm... lagi kangen? Kangen sama siapa emang, Cewek lo, ya?" tanya Athala.
Arya hanya berdehem menjawabnya, sedangkan Athala, gadis itu meneguk salivanya sendiri. Kenapa begitu terasa menyakitkan ketika Arya mengiyakan pertanyaannya tadi. "Oh... Kenapa nggak temui aja, kalo kangen?" tanya Athala lagi, berusaha meyakini dirinya sendiri kalau ia harus ingat pada misinya, tidak boleh goyah karena perasaan aneh ini, persaan semacam... cemburu.
Arya tersenyum tipis pada gadis itu sebelum menjawab. "Kalo deket gue bakal temui kok. Tapi, ya sekarang udah beda dimensi. Jadi peluang gue bisa ketemu dia tinggal 0%,"
Athala terkesiap mendengarnya, ia mengerti apa yang baru saja Arya ucapkan. Seseorang yang di rindukan cowok itu sudah berpulang ke sisi sang pencipta. "Sejak kapan—maksud gue, udah berapa lama dia pergi?" tanya Athala hati-hati.
"Lo inget pas pertama kali gue bawa lo ke rumah sakit?" tanya Arya dan Athala hanya mengangguk mengiyakannya.
"Saat lo lagi di toilet dan temen-temen gue dateng. Dari televisi tempat lo di rawat waktu itu ada pemberitaan tentang pesawat jatuh, dan dia... salah satu korbannya," jelas Arya.
"Gue ngerti, jadi alasan lo pergi waktu itu karena hal itukan?"
"Jangan berusaha dilupakan, Ar, semakin lo ingin berusaha melupakannya, semakin kuat pula lo merindukannya," kata Athala seraya menepuk bahu cowok itu.
"Bener banget, dan sekarang gue lagi merasakan itu." balas Arya.
"Udah deh, Ar, melownya. Kenapa jadi sesi curhat sih? Kita kan lagi belajar," Athala berusaha mencairkan suasana. Entah kenapa mendadak ia tidak tega melihat raut sedih cowok itu.
Arya kembali terkekeh dengan tingkah gadis itu yang sedang membolak-balikkan halaman buku paket yang berada di atas meja itu. "Yaudah, kita lanjut belajarnya... jadi, yang mana lagi yang belum paham?"
Mahyuda masih tertegun melihat intraksi sahabatnya itu dengan Athala di ambang pintu masuk kelas, Mahyuda baru tersadar ketika beberapa murid yang hendak masuk tidak sengaja menabrak bahunya. Buru-buru Mahyuda menyingkir dari ambang pintu sebelum Arya melihatnya. Mahyuda masuk ke kelas dengan sesekali melirik Arya dan Athala ketika ia melewati bangku Arya. Arya masih sibuk mengajari Athala beberapa rumus yang tidak diketahui gadis itu, dan itu sedikit membuat Mahyuda merasa khawatir karena ia sudah mulai merasakan frekuensi Arya bersamanya dan juga Fikri lebih minim di banding Arya bersama Athala. Ia takut hubungan persahabatannya menjadi renggang.
__ADS_1
"Ar, besokkan libur. Kita ke Dufan yuk? Refreshing gitu sebelum ujian." Ajak Mahyuda, sebenarnya hanya basa-basi saja, ia mau melihat reaksi Arya, apakah ia masih respect sama persahabatan mereka, atau malah sebaliknya.
Arya membalikkan badannya sembilan puluh drajat menghadap Mahyuda yang duduk di bangku belakangnya. "Sebentar lagi ujian, mending kita fokus belajar aja dulu," jawab Arya.
Mahyuda bungkam.
Tebakkan Mahyuda benar, jika sahabatnya itu sudah mulai berubah sejak kehadiran gadis bernama Athala itu, tidak ada lagi rasa kebersamaan yang Mahyuda rasakan, Arya semakin menjauh dari dirinya dan Fikri.
"Hebat ya, Ar, pengaruh satu cewek buat lo kehilangan rasa respect sama sahabat lo sendiri," tanpa sadar Mahyuda berucap karena tidak tahan lagi.
Arya kembali memutar tubuhnya menatap Mahyuda. "Ngomong apa sih, Yud? Jangan drama alay deh seolah-olah gue mengabaikan kalian, bentar lagi kita itu ujian kenaikkan kelas, bukannya belajar. Lo malah ngajakin main ke Dufan," jawab Arya sambil terkekeh pelan, ia mengabaikan ucapan Mahyuda tadi. Menurutnya Mahyuda lebay yang mengira dirinya sudah kehilangan rasa respect terhadap kedua temannya itu. Arya mengakui memang akhir-akhir ini ia sudah jarang menghabiskan waktu bersama kedua temannya itu, tapi bukan berarti ia mengabaikan keduanya. Arya hanya butuh ruang sedikit saja, ia ingin kembali merasakan apa itu jatuh cinta.
Mahyuda mendengus sinis sebelum berkata, "Ya ya ya, belajar ya? belajar melupakan sahabat sendiri dengan cara menyibukkan diri dengan orang yang belum lama dikenal," sindir Mahyuda seraya menghembuskan napasnya berat.
Arya tidak menjawab, kembali ia memposisikan tubuhnya keposisi semula. Berusaha mengabaikan ucapan sahabatnya itu, biarkan saja Mahyuda mikir yang aneh-aneh, toh Arya sudah paham betul dengan sikap sahabatnya satu itu. Selalu saja berpikiran negatif terhadap perempuan yang dekat dengannya.
Fikri baru saja masuk ke kelas, melirik Arya sekilas lalu beralih merlirik Mahyuda yang wajahnya sudah di tekut sedemikan rupa. Fikri mengernyit heran melihat perubahan temannya itu, bukannya bertanya Fikri malah mendiamkannya saja, tanpa bertanya Fikri juga sudah tahu apa alasan temannya itu uring-uringan. Pasti karena Mahyuda mengeluh karena Arya yang tempak mengabaikan mereka.
"Muka lo jelek kalo ditekut bego, jangan kayak cewek lagi cemburu deh. Biarin dia bahagia," ujar Fikri seraya menoyor kening Mahyuda lalu duduk di sebalah sahabatnya itu.
Mahyuda mendelik sebal menatap jengah sahabatnya itu. "Emang lo rela Arya ngelanggar janji yang udah kita buat?" tanya Mahyuda pelan.
Fikri mengedikkan kedua bahunya acuh sebelum menjawab. "Kalo itu buat dia bahagia, gue rela-rela aja sih. Abis gue nggak tega kalo liat curut satu itu berlarut-larut mikirin Anjani mulu," jawabnya.
Mahyuda menghela napas berat mendengar ucapan Fikri, Fikri benar. Seharusnya ia mendukung Arya bersama Athala agar sahabatnya itu bisa melupakan cinta pertamanya. Namun, tetap saja tidak bisa di pungkiri Mahyuda kalau dia masih menaruh curiga yang berlebihan terhadap gadis bernama Athala itu.
Tak lama kemudian Pak Satya masuk kelas dan kegiatan belajar langsung di mulai, selama Pak Satya menjelaskan beberapa rumus Matematika Mahyuda sama sekali tidak bisa memfokuskan dirinya ke pelajaran yang tengah berlangsung. Ia terus saja memikirkan cara-cara agar ia bisa membuktikan kecurigaannya itu benar atau tidak. Mahyuda harus segera mencari tahu semuanya sebelum ia semakin berlarut-larut mencurigai gadis itu tanpa fakta yang jelas dan akurat. Setelah mengetahuinya nanti barulah Mahyuda akan mempertimbangkannya lagi, apakah ia akan mendukung sahabatnya itu atau malah sebaliknya.
__ADS_1
***
TBC