
Mahyuda melambaikan tangannya ketika melihat sang Papa duduk disalah satu kursi tunggu yang tersedia di bandara itu, buru-buru Mahyuda berjalan cepat menghampiri Papanya yang tampak gagah dengans setelan jas hitam dan kemeja putih tak lupa juga kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya.
"Maaf telat, Pa." Kata Mahyuda saat sudah berdiri di depan Papanya sambil mencium tangan laki-laki paruh bayah itu, Papa membuka kaca mata hitammnya melihat anaknya itu sambil tersenyum, senyum yang jarang sekali di lihat oleh Mahyuda.
"Nggak apa, Papa ngerti kalo di Jakarta itu macet di jam segini." Kata Papa. "Duduk dulu sini." Lanjutnya memerintahkan Mahyuda untuk duduk di sampingnya, tanpa penolakan sama sekali Mahyuda langsung duduk di samping Papanya.
"Sekrang coba kamu jelaskan, kenapa kamu bolos kali ini?" Tanya Papa sambil menatap Mahyuda yang hanya bisa menundukan kepalanya, dari tadi Mahyuda sudah ketar-ketir memikirkan jawaban apa yang akan di berikannya jika Papa menanyakan hal ini. ia sama sekali belum menyiapkan jawaban apapun.
Mahyuda perlahan menoleh pada Papa yang menatapnya intens, jujur saja senakal apapun kelakukan Mahyuda, tetap saja bolos kali ini adalah bolos yang kedua kalinnya bagi Mahyuda, "Pa... itu... maaf." Ucap Mahyuda bingung sambil garuk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal itu.
Papa tanpak menahan tawanya melihat ekspresi Mahyuda yang begitu kelihat ketakutan, "Yuda, Papa juga pernah muda kok, bahkan Papa lebih sering bolos juga waktu masih sekolah. Nggak usah takut gitu, Papa nggak bakal marahin kamu. Asal jangan keseringan aja bolosnya, malu dong sama jabatan kamu sebagai ketua OSIS di sekolah." Kata Papa sambil menepuk-nepuk bahu Mahyuda.
Senyum tipis menghiasi wajah Mahyuda yang semula tegang, akhirnya ia bisa lega karena Papanya benar-benar tidak memarahinya, "Ja—di, Papa nggak marah 'kan?" Tanya Mahyuda memastikan.
"Tentunya saja Papa marah kalo kamu keseringan bolos, tapi untuk kali ini Papa maafkan." Kata Papa seraya beranjak berdiri, "Yasudah, sekarang kamu antarkan Papa pulang, terus kamu kembali lagi ke sekolah." Ujar Papa sambil memegang gagang koper yang di bawanya, Mahyuda pun ikut berdiri.
"Biar, Yuda aja Pa. Yang bawanya," Kata Mahyuda mengambil alih koper yang di bawa Papanya itu, Papa hanya tersenyum melihat tingkah anaknya itu.
Keduanya pun berjalan beriringan menuju mobil Mahyuda, setelah sampai di mobil Mahyuda yang terparkir, Mahyuda memasukkan koper Papanya ke bagasi, Papa langsung masuk mobil. Sementara Mahyuda mengecek ponselnya terlebih dahulu karena dring singkat berbunyi dari ponselnya menandakan ada notifikasi yang masuk.
Tiang Listrik :
Abis antar Bokap Lo pulang, langsung ke Rs. Harapan Jaya. Gue sama Arya ada disini, jangan lupa bawa makanan yang banyak.
Mahyuda menghembuskan napasnya kasar setelah membaca pesan tersebut, rasanya ia benar-benar ingin mencakar Fikri saat ini jug yang sudah mempengaruhinya untuk ikut membolos hari ini, tepat saat Mahyuda mengangkat kepalanya dari layar ponsel. Pandangannya langsung tertuju pada seorang gadis dengan membawa koper merah melintas memasuki bandara, tentu saja Mahyuda mengenal gadis itu.
"Anjani." Panggil Mahyuda agak keras, gadis yang di panggil itu pun menolehkan kepalanya pada sumber suara, gadis itu tersenyum pada Mahyuda sebelum menghampirinya.
"Gue kira gue salah orang, ternyata beneran lo, An." Kata Mahyuda saat Anjani sudah berada di hadapannya, gadis itu tersenyum lagi. bukan senyum manis dan bukan juga senyum pahit, intinya senyum itu sulit untuk di artikan Mahyuda.
"Kebetulan kita ketemu disini." Kata Anjani memulai pembicaraan, "Gue kira nggak bakal ketemu lagi sama salah satu di antara kalian bertiga." Lanjut Anjani.
Mahyuda tampak heran dengan gelagat gadis yang berada di hadapannya saat ini, "Lo mau kemana, An?" Tanya Mahyuda kemudian.
"Gue mau pergi ke Jepang, pindah sekolah di sana." Kata Anjani.
"Jepang? Gue nggak salah dengerkan?" Tanya Mahyuda memastikan.
"Iya, gue mau pindah sekolah di sana."
"Kenapa harus Jepang, An?"
"Gue mau melupakan segalanya, Yud. Harapan yang gue pupuk selama ini nggak berujung pada keindahan, yang ada jika gue terus di sini. Gue nggak bakal bisa melupakannya." Mahyuda sangat tahu apa yang di maksud gadis itu, ia tahu hubungan Anjani dan temannya itu sudah kandas karena orang tua Anjani.
__ADS_1
"Tapi Arya—"
"Jangan bicarain dia, Yud. Dia lebih milih mundur dibanding memperjuangkan gue." Ucap gadis itu sedih, lalu Anjani merogoh sling bag yang tersampir di bahunya itu mengeluarkan sesuatu dari dalammnya, amplop berwarna biru tua di sodorkan Anjani pada Mahyuda.
Mahyuda sempat ragu, namun akhirnya ia menerima amplop yang di sodorkan Anjani, "Tolong kasih ini ke dia, gue pergi dulu Yud." Ucap Anjani seraya berlalu menggeret kopernya menjauh dari hadapan Mahyuda.
Mahyuda hanya melongo menatap amplop dan punggung gadis itu yang mulai menjauh secara bergantian, entah kenapa firasatnya tidak enak akan hal ini.
***
Setelah mengantar Papanya ke rumah, Mahyuda langsung bergegas menuju rumah sakit yang yang di maksud Fikri pada pesan teksnya tadi, tak lupa juga Mahyuda sudah membeli berbagai makanan dari makanan ringan sampai makanan berat untuk kedua temannya itu. sampai sekarang Mahyuda masih bingung kenapa kedua temannya itu sampai berakhir di rumah sakit. Emangnya tidak ada tongkrongan lain lagi, selain di rumah sakit, pikir Mahyuda.
Tak butuh waktu lama, mobil Mahyuda sudah terparkir dengan rapi di parkiran yang tampak cukup padat itu, Mahyuda bergegas keluar dari mobilnya dan langsung memasuki rumah sakit tersebut menuju salah satu ruangan yang di maksud Fikri, setelah sampai di depan pintu ruangan yang di maksud Fikri, tanpa pikir panjang Mahyuda langsung membuka pintu itu dan masuk begitu saja.
"Gue heran deh sama kalian berdua, kenapa pada main ke rumah sakit sih? Emang tempat tongkrongan kita udah di gusur?" Omel Mahyuda tampa memedulikan siapa saja yang berada di ruangan itu sambil meletakkan kantong pelastik yang berisi makanan dan minuman ke atas nakas.
Sontak Fikri dan Arya yang berada di ruangan itu menoleh pada Mahyuda yang tiba-tiba mengomelinya, "Lo dateng kek tuyul aja, kasih salam kek sebelum masuk." Gerutu Arya sambil mendelik kesal pada temannya itu.
"Mana makannya, gue laper." Pinta Arya sambil memasang wajah memelasnya.
"Ambil aja noh." Kata Mahyuda sambil menunjuk makanan-makanan yang di bawanya dengan dagu.
Tanpa pikir panjang Arya langsung menyerbot kantong plastik yang di bawakan Mahyuda tadi dan membongkar isinya, matanya berbinar ketika menatap makanan yang di bawakan Mahyuda, satu kotak makan batagor dan tahu isi. Itu merupakan makanan favorit Arya.
"Nyusahin lo Ar, ngapain sih lo berdua sampai masuk rumah sakit gini? Terus siapa yang sakit coba?" Tanya Mahyuda bingung sambil menatap brankar kosong di hadapannya itu.
"Tadi Arya di tabrak." Sahut Fikri cuek sambil tetap fokus pada layar ponselnya yang menampilkan foto pujaan hatinya yang tega membuatnya malu berkepanjang.
"What?" Mahyuda memasang wajah sok paniknya sambil menatap horror Arya yang masih asik menghabiskan batagornya.
"Tapi lo belom matikan, Ar?" Satu bantal di atas brankar berhasil mendarat di wajah konyol Mahyuda itu, ya barusan Fikri yang melemparnya dengan bantal.
"Pertanyaan lo gila ya, Yud. Seharusnya lo itu tanya, 'Ar lo gak papa kan' lah ini lo malah nanyain dia udah mati atau belum, saraf lo." Cerca Fikri memandang bengis temannya itu.
Arya masa bodo dengan perdebatan kedua temannya itu, yang terpenting sekarang perutnya bisa terisi dengan penuh, sementara itu Mahyuda hanya memeletkan lidahnya memandang Fikri.
"Jelaskan ke gue sekarang, kenapa kalian bisa ada di sini?" Ujar Mahyuda menuntut penjelasan pada kedua temannya itu.
"Rempong lo Yud, ntar gue jelasin kenapa gue bisa ada disini, sekrang gue butuh asupan dulu," Sahut Arya dengan mulutnya yang masih tampak mengunyah, Mahyuda yang melihat itu bergidik jijik melihat gaya makan Arya yang benar-benar tidak etis.
Hanya suara penyiar berita di dalam televisi yang terdengar di ruangan itu. Semua sibuk pada aktivitas masing-masing, Arya yang masih dengan lahap beralih menyatap tahu isinya, Mahyuda dan Fikiri yang sibuk dengan ponselnya masing-masing.
"Oh ya. Ar, gue ada sesuatu buat lo." Kata Mahyuda yang sukses membuat Arya menghentikan makannya dan Fikri yang langsung menatap heran temannya itu.
__ADS_1
Mahyuda mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana seragamnya, sebuah amplop berwarna biru tua di sodorkan Mahyuda pada Arya, Arya memandang Mahyuda sesaat sebelum mengambil amplop yang di sedorkan temannya itu, "Apaan?" Tanya Arya bingung sambil memperhatikan amplop itu.
"Dari Anjani." Kata Mahyuda, yang membuat Arya beku seketika di tempatnya. Sekelebat kenangan pada gadis itu terlintas di benaknya.
Arya beralih menatap temannya itu, seolah tahu akan arti tatapan itu, Mahyuda langsung menjawab, "Tadi gue ketemu Anjani di bandara, dia pergi ke Jepang. Katanya dia mau pindah sekolah di sana, lebih tepatnya dia mau melupakan lo." Jelas Mahyuda dengan nada rendah di akhir kalimatnya.
Beberapa detik Arya terdiam mencoba mencerna apa yang temannya itu jelaskan barusan, rasanya otaknya benar-benar tidak bisa berpikir saat ini, sampai Mahyuda menepuk pundaknya barulah Arya tersadar dari lamunannya.
"Udah jangan bengong gitu, mending lo buka amplopnya." Usul Mahyuda, baik Mahyuda maupun Fikri sangat tahu perasaan Arya saat ini, temannya itu masih dalam masa-masa sulit pasca melepaskan Anjani demi mempertahankan keyakinannya.
Perlahan Arya membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya, ya isinya adalah secarik kertas yang terlipat, yang Arya dan kedua temannya yakini adalah sebuah surat. Arya meneguk salivanya sendiri sebelum membuka lipatan kertas itu.
Teruntuk kamu, orang yang menyerah sebelum bertarung.
Saat kamu baca surat ini, mungkin kita sudah berada di jarak yang sangat jauh, Ar. Lupakan tentang jarak.
Aku sengaja nulis surat ini buat kamu, aku Cuma mau menyampaikan kalau aku benar-benar kecewa sama keputusan yang kamu ambil, Ar. Ternyta kamu sepengecut itu, rasanya aku ingin tertawa ketika aku mengingat dimana kita membuat janji akan tetap mempertahankan hubungan kita apapun itu yang terjadi, tapi apa Ar? Kamu bohong Ar, kamu mengingkari janji yang kita buat dulu. Aku tahu kita berbeda agama Ar, tapi aku tetap mencintai kamu, Ar, aku bukan seperti kamu Ar, yang hanya karena perbedaan ini kamu menyerah begitu saja. Intinya aku benar-benar kecewa akan hal itu, Ar.
Tapi aku bisa apa Ar? selain menerima keputusan yang sudah kamu ambil untuk melepaskanku, dan aku akan belajar untuk melupakanmu perlhan Ar.
Ah.. rasanya aku tidak bisa meleupakannya, Ar. Bagaimana tidak? Kenangan yang kita lalui begitu banyak Ar, dari kenangan manis saat kita bertemu hingga kenangan pahit di saat kita dipisahkan secara paksa.
Aku tidak akan menyalahkanmu Ar, atas apa yang terjadi pada kita saat ini. dan aku juga tidak bisa memaksamu untuk selalu bertahan denganku sementara papaku sangat menentang hubungan kita ini. Jika perpisahan ini memang jalan yang terbaik untuk kita jalani, aku terima Ar, tapi satu yang harus kamu tahu. Perasaanku ke kamu nggak bakal pernah berubah.
Harapanku, tidak banyak Ar, semoga kamu selalu berbahagia dan semoga apa yang kamu impikan selama ini benar-benar tercapai.
Aku Anjani akan selalu mencintaimu Arya Xaverio Saputra.
Tertanda
Anjani.
Mata Arya memerah membaca tiap kalimat yang tertorehkan di atas kertas yang tengah ia pegang saat ini, tidak. Ia tidak boleh menangis saat ini walaupun sebenarnya ia benar-benar ingin menangis ketika membaca pesan itu, jujur saja Arya pun juga begitu. Masih tetap mencintai Anjani meskipun ia tahu itu adalah hubungan yang salah.
Baik Mahyuda maupun Fikri, keduanya menatap Arya dengan tatapan iba melihat reaksi temannya itu yang tampak murung ketika selesai membaca surat itu.
"Berita duka kali ini datang dari salah satu maskapai penerbangan dengan pesawat garuda boeing 77 jurusan Indonesia-Jepang, tepat pada pukul setengah satu siang hari ini. pesawat garuda boeing 77 tersebut jatuh di selat malaka, dan semua penumpang tewas setelah pesawat tersebut meledak, dugaan sementara pesawat meledak diakibatkan komplikasi pada mesin pesawat tersebut, dan sekarang tim basarnas tengah melakukan evakuasi terhadap korban dan melakukan pemeriksaan secara lanjut mengenai insiden ini."
Mahyuda meneguk saliva sendiri ketika mendengar berita yang baru di siarkan barusan, sementara Arya dan Fikri menegang di tempat ketika mendengar berita tersebut, Arya menggelngkan kepalanya berkali-kali bahwa yang ia dengar barusan hanyalah sebuah ilusi. Bagaimana bisa berita itu muncul tepat saat ia selesai membaca pesan yang di sampaikan Anjani, entah kenapa itu justru terasa seperti pesan terakhir.
"Ar... Anjani." Gumam Mahyuda tegang sambil menatap televisi yang menayangkan berita itu.
***
__ADS_1
TBC......