TRIO JONES

TRIO JONES
Episode 20 - Pernyataan


__ADS_3

DUA JAM SEBELUMNYA


Athala baru saja tiba di rumah sakit harapan jaya, setelah membayar sejumlah uang untuk oprasi adiknya minggu lalu. Athala segera bergegas melangkahkan kakinya menuju ruang rawat adiknya. Namun, matanya membulat sempurna ketika ia membuka ruang rawat adiknya yang ia lihat pertama kali adalah seorang wanita paruh baya yang di julukinya medusa selama ini tengah duduk di sisi kiri brankar tempat adiknya berbaring saat ini.


"Ngapain lo ke sini?" teriak Athala seraya berjalan cepat menuju sisi sebela kanan brankar tempat adiknya berbaring.


Wanita paru baya itu tampak tersenyum tipis melihat ekspresi Athala, wajah memerah serta air mata yang sudah siap merembes kapan saja. Melihat hal itu wanita paru baya tersebut malah ingin semakin menyeringai sinis.


"Begitu caramu berterimakasih pada seseorang yang telah memenuhi kebutuhan kalian selama ini?" tanya wanita paruh baya itu seraya bangkit dari duduknya.


"Rumah, biaya pendidikan, biaya rumah sakit dari tiga tahun yang lalu, sampai biaya rumah sakit yang baru saja kamu bayarkan tadi. Itu dari siapa? Tentu itu semua dari saya. Kamu harus ingat itu, tanpa saya kalian berdua tidak akan bisa hidup dengan baik sampai saat ini,"


Air mata Athala tumpah begitu saja, iya, dia tahu semua itu berkat wanita paruh baya berhati iblis itu. wanita itu yang telah memenuhi segala kebutuhannya selama ini, tanpa wanita itu mungkin dia dan adiknya sudah lama mati kelaparan karena telah di telantarkan oleh kedua orang tua mereka yang bercerai. Dan demi apapun sekarang Athala sangat menyesal karena menyetujui perjanjiannya dengan wanita itu tiga tahun yang lalu saat adiknya jatuh sakit dan di vonis gagal ginjal. Athala memambantu wanita itu untuk menjalankan rencananya, dan wanita itu membantu untuk memenuhi segala kebutuhannya dan adiknya. Itulah isi perjanjian mereka, saat itu Athala benar-benar tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran itu.


"Ya, gue tau. Lo yang sudah biayain hidup gue selama ini, dan lo sudah merubah gue dari orang biasa menjadi seorang monster yang mengerikan." Gumam Athala gematar di sela-sela isak tangisnya.


Dan lagi, Athala benci melihat wanita medusa itu tersenyum padanya. Wajahnya begitu cantik bahkan ketika ia sudah berumur empat puluhan. Tapi, tidak dengan hatinya. Hati wanita yang berada di hadapannya saat ini adalah hati iblis. Sangat-sangat mengerikan. "Perjanjian tetap perjanjian Athala, kamu tidak bisa melanggar kontrak yang telah kamu sepakati, saya sudah selesai memenuhi kebutuhanmu dan adikmu, hanya kamu yang belum menjalankan tugas yang saya berikan." Kata wanita itu seraya melipat kedua tangannya di bawah dada.


"tiga tahun saya masih bisa membiarkanmu hidup bebas menikmati segala fasilitas yang saya berikan. Adikmu hari makin hari juga sudah mulai membaik. Dan jika kamu mengulur waktu lagi, saya tidak punya waktu banyak untuk menunggu selesainya tugasmu." Lanjutnya.


"Ini sudah minggu ketiga bulan ini, dan itu artinya. Tugasmu harus selesai di awal atau akhir minggu keempat, dan jika tidak..." wanita itu menggantung ucapannya seraya membuka sling bagnya dan mengeluarkan botol kaca kecil berisi cairan bening serata suntikan lalu mengacungkannya pada Athala.


Athala semakin membulatkan matanya kala menyadari kedua benda itu. Ia tahu benda apa itu karena ia sendirilah yang mengantarkannya pada wanita itu tiga tahun yang lalu. "Potasium sianida, kamu masih ingat ini? Sesuatu yang akan menghilangkan nyawa adikmu dalam hitungan detik jika kamu melanggarkan perjanjian yang telah kita sepakati,"


"Dasar wanita iblis, demi Tuhan gue nyesal sudah tanda tangan perjanjian laknat itu, lo benar-benar ngebentuk diri gue jadi monster mengerikan. Brengsek," desis Athala tajam seraya menyaka air matanya kasar.


Wanita itu mendengus sinis. "Kamu memang sudah di takdirkan menjadi seorang monster Athala, kamu tidak bisa mengingkari perjanjian itu di saat saya sudah memenuhi segala keinginan dan kebutuhanmu. Dan kini giliranmu harus membalas segalanya yang telah saya berikan padamu itu."


"Lo benar-benar seorang wanita terlaknat dan teriblis yang pernah gue kenal, lo suruh gue bunuh seseorang hanya untuk hal itu? Kenapa nggak lo sendiri aja yang bunuhnya? Lo kira enak menghilangkan nyawa seseorang yang tanpa sadar lo sukai begitu aja?" ujar Athala setengah berteriak. "Lo gila... lo psyco," lanjutnya.


"Oh... Jadi kamu sudah mulai menyukainya? Wah... sepertinya kamu benar-benar siap ya, untuk kehilangan adik semata wayangmu ini?" kata wanita itu seraya menusukkan jarum suntik itu pada tutup botol kaca itu.


"Jangan sesekali lo sakiti adik gue atau lo yang di sini mau gue bunuh, ha?" Segera Athala menepis botol kaca serata jarum suntuk dari tangan wanita itu.


Wanita paruh baya itu menatap pecahan botol kaca itu di lantai seraya tersenyum sinis. "Selesaikan segera, atau kamu akan menyaksikan kepergian adikmu untuk selama-lamanya." Ucap wanita itu dengan rahang yang mulai mengeras.

__ADS_1


Athala menghembuskan napasnya berat sebelum berkata. "Kasih gue perpanjang waktu, akan sulit bagi gue kedepannya karena salah satu diantara mereka udah mulai mencurigai gu-"


"Bunuh orang yang menghalangi jalanmu untuk menyelesaikan tugas yang saya berikan," potong wanita itu sebelum Athala menyelesaikan ucapannya. jelas saja Athala tidak punya pilihan lain selain menuruti segala keinginan wanita itu. Lengah sedikit saja, ia bisa-bisa kehilangan adik lelakinya dalam hitungan detik.


"KENAPA LO NGGAK BUNUH GUE AJA SEKARANG, BANGS*T" teriak Athala frustasi.


***


Athala tersadar dari lamunannya ketika Arya tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya. Di liriknya sekilas cowok itu lalu tersenyum manis padanya. Arya yang menyadari ada sisa bulir bening di wajah gadis itu langsung memiringkan tubuhnya dan menangkup wajah gadis itu seraya menyeka air mata yang tersisa di wajah gadis itu dengan kedua ibu jarinya. "Thal, lo kenapa? Kok nangis?" tanya Arya pelan seraya menatap lekat kedua manik mata Athala yang diselimuti lapisan bening itu.


Gadis itu menggeleng lemah dan kembali mengulas senyum pada Arya. "Hanya pengen nangis aja," jawab gadis itu parau.


Arya menghela napasnya berat, lalu ia mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan mestikan tidak ada orang di taman ini kecuali mereka berdua, dan setelah memastikan tidak ada siapa-siapa Arya kembali menatap wajah gadis itu yang masih di tangkupnya dengan kedua tangannya. "Nangis aja kalo lo mau nangis, mumpung nggak ada orang di sini selain kita," ujar Arya.


Lagi, gadis itu menggeleng lemah sebelum berkata. "Ar, gue mau tanya satu hal sama lo." Ucap Athala.


Perlahan Arya menurunkan kedua tangannya dari wajah gadis itu sebelum menjawab. "Silahkan Thal, lo mau tanya apa aja kalo gue mampu jawab, pasti bakal gue jawab," sahut Arya di selingi dengan cengiran khasnya yang membuat matanya hanya terlihat seperti garis saja, dan itu adalah hal yang sangat di sukai Athala. Mana mungkin dia harus membunuh kebahagiaannya sendiri.


"Apa yang lo rasain ketika lo di khianati sama orang yang udah lo percaya dengan sepenuh hati?" tanya Athala tanpa menatap Arya yang berada di sebelahnya.


Arya menghembuskan napasnya perlahan sebelum menjawab. "Ya... gue bakal kecewa banget, apalagi kalo bentuk pengkhianatannya berpotensi nyakitin diri gue," jawab Arya santai.


Arya mengernyit bingung atas pertanyaan yang baru saja di dengarnya. "Mak-maksudnya apaan sih Thal? Lo mau khianati gue?" Arya malah balik bertanya yang sukses membuat Athala gelagapan sendiri.


"Bu-bukan gitu Ar, 'seandainya' Ar, gue mau tau aja, kalo gue yang khianati lo. Lo bakal maafin gue nggak?"


"Tergantung bentuk pengkhianatannya seperti apa, kalo nggak berpotensi nyakitin diri gue, sudah pasti gue maafin, dan walaupun itu berpotensi nyakitin diri gue kalo yang lakuinnya itu lo, gue bakal maafin juga kok, karena-"


"Karena apa Ar?" sahut Athala cepat.


Arya tersenyum sekilas melihat raut penasaran gadis di sampingnya ini sebelum menjawabnya. "Karena... gue udah mulai sayang sama lo. Thal," jawab Arya tanpa pikir panjang.


Athala bungkam mendengarnya.


Benarkah Arya menyayanginya? Athala masih belum percaya ini, ia bahkan belum genap satu bulan mengenal cowok ini. Kenapa dengan mudahnya cowok ini mengatakan sayang padanya? Namun, tak bisa di pungkiri juga kalau sebagian hatinya merasakan desiran aneh ketika mendengar kalimat yang Arya lontarkan barusan. Dan entah kenapa rasanya Athala tidak merasa cinta sendirian, ternyata Arya juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Dan itu membuatnya semakin dilema dengan tujuannya.

__ADS_1


"Kita belum genap satu bulan kenal Ar, dan lo dengan mudahnya ngomong sayang ke gue." kata Athala spontan tanpa menatap Arya yang tengah mentapnya intens.


Arya tersenyum mendengarnya, entah kenapa bawaanya ia pengin tersenyum terus ketika berada di dekat gadis ini, selain gadis ini mengingatkannya akan seseorang, gadis ini juga sudah mampu mengisi kekosongan hatinya selama ini. Dan Arya sekarang bisa bernapas sedikit lega karena sudah menyatakan apa yang ia rasakan belakangan ini.


"Lo pernah denger nggak, kalo cinta itu misteri? Kita nggak bakal tau Thal, kapan kita akan jatuh cinta dan kapan kita akan patah hati,"


"ketika kita merasakan jatuh cinta, kita nggak bakal peduli lagi Thal, seberapa lama kita mengenal seseorang itu, kalo sudah merasakan cinta kita juga nggak bisa nyangkal perasaan itu Thal, selain mengungkapkan kepada seseorang yang bersangkutan," lanjut Arya.


Dan lagi, Athala dibuat bungkam olehnya. Athala tidak bisa mengeluarkan suaranya. Lidahnya terasa kelu untuk menanggapinya. Benar apa yang dikatakan Arya, cinta itu misteri. Bahkan Athala sangat mempercayai itu. Karena ia juga mengalaminya, ia tidak menyangka akan jatuh cinta kepada target yang harus ia lenyapkan. Dan apa ini yang namanya cinta? kenapa begitu menyakitkan untuk membalas perasaan seseorang tersebut? Pikir Athala, ia harus berusaha mati-matian mengubur kebahagiaannya demi melanjutkan misinya. Ingin rasanya Athala menyuarakan seluruh isi hatinya yang sebenarnya kalau ia juga mulai merasakan rasa sayang pada Arya.


"Sekalipun kalo gue seorang pembunuh, apa lo bakal tetap sayang sama gue?" tanya Athala tanpa sadar.


Arya mengernyitkan dahinya semakin bingung, kemana sebenarnya arah pembicaraan gadis ini dan mana mungkin Arya percaya bahwa gadis di sampingnya ini adalah seorang pembunuh. Jelas tidak mungkin dan benar-benar tidak mungkin, pikir Arya. "Ngomong apaan sih Thal? Gue percaya sama lo Thal, cewek kayak lo nggak mungkin jadi seorang pembunuh." Sahut Arya.


"Terkadang apa yang lo lihat, belum tentu yang sebenarnya Ar," gumam Athala.


Arya menghembuskan napasnya berat, momen yang seharusnya ia gunakan sebaik mungkin untuk menyatakan lebih dalam perasaannya, malah jadi momen membingungkan seperti ini, karena pertanyaan-pertanyaan Athala yang sudah keluar dari topik yang ia inginkan. Kenapa pula gadis ini mengibaratkan dirinya sebagai seorang pembunuh? Kan jadi semakin canggung kalau ia mengambalikan ke topik awal, pikir Arya.


"Gue mau tanya sama lo Thal, lo sayang nggak sama gue? eeh.. maksudnya, lo suka nggak sama gue?" tanya Arya dengan sedikit salah tingkah.


Gue sayang dan suka sama lo, Ar. Teriak Athala dalam hati.


"Thal. Tolong buka hati lo buat gue, ya? Karena gue benar-benar tulus sayang sama lo."


Athala tidak berani menatap balik Arya yang tengah menatapnya intens, ingin sekali ia mengatakan 'Iya' Namun, kalimat itu benar-benar tertahan di ujung bibirnya. "Kita belum lama kenal Ar, jadi. Gue gak bisa buka hati gue sekarang, setidaknya kasih gue kesempatan untuk berpikir dulu sampai gue lulus SMA, dan kalo saat itu sudah tiba, gue akan mempertimbangkan untuk buka hati gue buat lo." Kalimat yang membuat Arya semakin bingung, dan dari kesimpulan atas jawaban Athala barusan berarti gadis itu juga sayang padanya, buktinya gadis itu mengatakan akan mempertimbangkannya.


Namun, Arya tidak bisa menunggu selama itu. Ia ingin segera mendapatkan kepastian dari gadis ini. "Lo tau kan hal yang paling menyakitkan di dunia ini apa? Menunggu! Ya, itu adalah hal yang paling menyakitkan Thal, dan gue takut kalo terlalu lama menunggu, gue takut kalo perasaan gue ke lo atau prasaan lo ke gue itu bakal berubah, lo taukan hati manusia itu juga ada batas kadaluarsanya?"


Athala bungkam, ia semakin bingung untuk menjawab apa. Semua yang Arya katakan itu benar, menunggu adalah hal yang paling menyakitkan. Bukan hanya dirinya tetapi Arya juga pasti akan merasakan rasa sakit itu, dan yang pasti harus di tegasi Athala pada dirinya sendiri adalah bahwa ia sama sekali tidak akan bisa membalas perasaan Arya demi menjalankan misinya yang sudah tinggal menghitung hari saja harus diselesaikannya.


"Gue tau menunggu itu adalah hal yang paling menyakitkan, tapi lo gak pernah tau gimana berada diposisi gue saat ini, gue benar-benar bingung mau jelasinnya gimana? Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk gue buka hati buat lo... Jika sudah waktunya nanti atau seiiring berjalannya waktu, gue yakin lo pasti paham kenapa gue gak bisa buka hati sekarang,"


"Bisa lo jelasin ke gue, kenapa lo nggak bisa buka hati lo sekarang? Apa karena kita belum lama kenal?"


"Ada beberapa alasan yang nggak perlu untuk di jelaskan Ar,"

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2