TRIO JONES

TRIO JONES
Episode 18 - Sesuatu Yang Janggal


__ADS_3

Happy reading!!


Berbagai wahana telah di naiki ketiga sahabat itu. Arya dan Fikri bahkan telah muntah berkali-kali ketika menaiki roller coaster yang membuat kepala mereka bedua pusing bukan kepalang. Lain dengan Mahyuda, cowok itu malah berteriak heboh mengekspresikan kesenangannya ketika roller coaster itu melaju kencang menanjak ke atas dan meliuk-liuk di bagian rell yang yang seperti berbeli-belit itu.


"GUE BELUM KAWIN PLIS STOP," teriak Fikri di tengah euforia teriakan orang-orang lain yang sedang menaiki roller coaster bersama mereka itu.


Sementara Arya, cowok itu wajahnya sudah pucat pasih sedari tadi sambil mengeratkan pegangannya pada pengaman sambil merapalkan doa-doa agar dia selamat sampai permainan sialan ini berakhir, mendadak ia jadi merasa menyesal sudah mengajak kedua temannya ke sini. For your information guys, Arya itu sebenarnya takut akan ketinggian.


"GILAAA SERU BANGET SUMPAH," itu teriakan Mahyuda yang berada tepat di samping sebelah kiri Arya, Arya memandang sahabatnya itu sekilas lalu mendengus sinis. Kalau bukan karena membujuk sahabatnya yang sensian itu demi Tuhan Arya tidak sudi berada di ketinggian yang bahkan mencapai ratusan meter ini.


"KAPALA LO SERU... KALO GUE JATOH KE BAWAH TANGGUNG JAWAB LO," seru Fikri takkalah nyaringnya dari teriakkan Mahyuda tadi.


Mahyuda malah tertawa kerasa melihat ekspresi kedua sahabatnya itu. Inilah yang ia inginkan. Quality time bersama kedua sahabatnya, sebenarnya Mahyuda sengaja mengajak mereka berdua menaik roller coaster alasannya ya Mahyuda ingin memberikan pelajaran kepada kedua sahabatnya itu, yang pertama tentu saja kepada Arya yang sudah membuatnya uring-uringan karena telah mengabaikan dirinya, yang kedua Fikri. Sahabat menyebalkannya itu sudah membuatnya kesal karena mengatakan hal yang tidak-tidak tentang Dara, gadis yang masih diam-diam menemapati sebagian ruang hatinya.


Roller coaster berhenti tepat di putaran ke sepuluh. Arya dan Fikri buru-buru membuka sabuk pengaman dan berlari menuju got terdekat untuk membuang muntah yang sudah tertahan di ujung mulut mereka. Mahyuda terbahak-bahak menyaksikan kedua sahabatnya yang tengah terbatuk-batu di depan got. Lalu pandangan mata Mahyuda beralih pada stand penjualan minuman di sampingnya. Segera ia membeli tiga botol minuman isotonik setelah itu segera ia bergegas menghampiri kedua sahabatnya yang masih terbatuk-batuk itu.


"Ck, dasar lemah, baru naik itu aja kalian udah K,O gitu? Payah," gumam Mahyuda di selingi dengan seringaian mengejeknya dan langsung dapat delikan tajam dari Fikri dan Arya yang menoleh serempak ke sumber suara.


Mahyuda melempar botol minuman isotonik yang ia beli tadi ke kedua sahabatnya, dengan sigap Arya dan Fikri menerima lemparan Mahyuda, walaupun dengan sedikit rasa jengkel pada Mahyuda, setidaknya Arya bisa bernapas lega karena Mahyuda sudah terlihat baik-baik saja sekarang, tidak uring-uringan lagi seperti beberapa hari belakangan ini.


"Yud, kita pulang sekarang ya?! Gue udah nggak sanggup lagi sumpah," ujar Arya setelah selesai menenggak air minumnya.


Mahyuda mendengus kesal mendengar keluhan Arya. "Yaelah Ar, baru tiga jam loh kita di sini dan lo udah minta pulang, nggak asik banget sumpah. Katanya kita bakal seru-seruan bareng di sini ampe sore."


Fikri melotot tak percaya mendengar ucapan sahabatnya itu, Cuma tiga jam katanya? Pikir Fikri. Bahkan kepalanya sudah mau pecah saat ini karena Mahyuda tidak henti-hentinya mengajak dirinya dan juga Arya mencoba hampiri separuh wahana yang ada di taman bermain ini.


"Wtf, lo bilang apa? 'Cuma tiga jam'? lo kira itu nggak cukup buat kepala kita ampir ngeluarin otak ini," sungut Fikri kesal.


Dan Mahyuda malah tegelak mendengar keluhan sahabatnya itu. "Mana tuh? Nggak ada gue liat otak kalian keluar?" ejek Mahyuda di sela-sela gelak tawanya.

__ADS_1


Arya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya itu. "Bener-bener minta di sate nih anak," gumam Arya kesal.


"Kita cari makan dulu gimana? Gue deh yang teraktir, gue tau kok kalian pasti laper." Seru Mahyuda.


"Pulang sekarang Yud, plis. Lo mau bunuh gue kalo lebih lama lagi di sini." Ujar Arya parau karena perutnya bergejolak lagi ingin memuntahkan cairan yang membuat perutnya terasa mual karena terguncang-guncang tadi.


Mahyuda menghembuskan napasnya seraya menatap bergantian kedua sahabatnya yang masih berjongkok di depan got itu dengan wajah pucat pasih. "Ck, kalian payah sumpah. Tapi, yaudahlah ya, setelah kita naik kora-kora baru kita pulang." Putus Mahyuda di selingi seringaiannya.


Arya menenggak salivanya sendiri membayangkan wahana kora-kora atau perahu ayunan yang bergerak ke depan dan kebelakang itu saja membuat perut Arya kembali mual, apalagi ketika menaikinya. Tidak dapat Arya bayangkan akan jadi apa ia ketika sepulang dari taman bermain ini. "Kenapa lo nggak bunuh gue aja sih, Yud." Gumam Arya pasrah ketika Mahyuda menarik paksa lengannya dan juga Fikri menuju wahana yang di maksud Mahyuda tadi.


***


Inilah akibat yang harus Mahyuda tanggung, setelah sampai di depan gedung asrama sekolah mereka. Mahyuda ketiban sial yang luar biasa, karena ia harus susah payah memapah kedua sahabatnya yang sudah tidak sadarkan diri sejak mereka dalam perjalan pulang di dalam taksi. Berat tubuh Arya dan Fikri tak bisa di remehkan. Kedua sahabat Mahyuda itu memiliki berat badan yang jauh dari kata berat badan ideal seorang pria. Mahyuda harus mati-matian menahan berat badan kedua sahabatnya itu.


Setelah sampai di depan pintu kamar asrama belum sempat Mahyuda mengeluarkan kunci dari dalam sakunya, pintu sudah di buka dari dalam menampilkan sosok yang Mahyuda sangat kenali. "Tante Saras? Tante sejak kapan di sini?" tanya Mahyuda refleks sambil masih menahan keseimbangan tubuhnya menopang kedua sahabatnya itu.


Saras diam, ia hanya memperhatikan Arya dan Fikri yang masih tak sadarkan diri secara bergantian, lalu tatapannya jatuh pada Mahyuda. "Mereka kenapa Yuda?" tanya Saras balik, tanpa mengindahkan pertanyaan Mahyuda sebelumnya.


"Yaudah sini. Tante bantuin," kata Saras seraya meraih lengan Arya lalu memapah anaknya itu menuju sofa di sudut kamar. Sementara Mahyuda, cowok itu masih bergeming di ambang pintu menyaksikan Tante Saras tampak begitu peduli sama anaknya, setahu Mahyuda selama ini, hubungan anak dan ibu antara Arya dan Saras benar-benar jauh dari kata harmonis.


"Yuda, kenapa kamu malah bengong di situ?" tegur Saras sambil mengernyit heran menatap Mahyuda yang tampak tak bergeming di ambang pintu sana.


Mahyuda pun tersadar dari lamunannya, buru-buru ia melangkahkan kakinya memasuki kamar lalu mendudukkan Fikri di sofa, tepat di sebelah Arya. "Tante mau minum apa? Nanti biar saya ambilin di kantin," tawar Mahyuda sopan seraya menarik kursi dari meja belajarnya untuk Saras duduki. "duduk dulu, Tan," ujarnya mempersilahkan wanita setengah baya itu untuk duduk.


Saras tidak banyak omong, ia langsung duduk begitu saja di kursi yang di tarik Mahyuda tadi yang posisinya tak jauh dari sofa tempat Arya dan Fikri yang masih terlelap. "Hem... kalo kamu nggak keberatan, ambilin Tante air putih aja Yud," kata Saras di selingi dengan senyumnya.


Mahyuda pun membalasnya dengan senyum kikuk sebelum menjawab. "Tentu Tan, saya ambiliin dulu ya, airnya."


Saras hanya mengangguk samar, sementara Mahyuda langsung melangkahkan kakinya keluar kamar, sejenak ia berhenti di ambang pintu berabalik menatap ke arah dalam kamar lagi, tepatnya menatap Saras yang tengah menatap Arya lekat.

__ADS_1


Ahh... mungkin Tante Saras udah berubah—pikir Mahyuda positif.


Lalu ia kembali melangkahkan kakinya menjauh dari ambang pintu. Kakinya terus melangkah menyusuri koridor yang tampak lengang, di weekend seperti ini murid-murid lebih banyak pulang ke rumahnya masing-masing ketimbang menghabiskan waktunya di asrama yang tampak membosankan ini, aaah... mendadak Mahyuda merindukan kedua orang tuanya yang berada di rumah.


"Mama sama Papa apa kabar, ya? Mereka udah turutin permintaan gue belom ya? Ah, seharusnya mereka udah dong buatnya, kan gue nggak ada di rumah." gumamnya seraya terkikik geli, ia masih ingat betul ekspresi Papa dan Mamanya ketika Mahyuda mengatakan keinginannya untuk mendapatkan seorang adik, mereka berdua tampak canggung satu sama lain dengan wajah sama-sama memerah. Benar-benar lucu ketika melihat ekspersi mereka saat itu, pikir Mahyuda.


"Yaah... gue jadi kangen sama mereka," gumammnya lagi seraya menghela napas berat, langkahnya terhenti di depan pintu kantin yang tampak sepi, bahkan penjaga kantinnya pun tidak ada, jadi Mahyuda langsung saja memasuki kantin yang memang khusus untuk murid-murid di asrama ini, semua fasilitas makanan dan minuman di kantin ini gratis untuk murid-murid yang berada di asrama.


Setelah selesai mengambil segelas air putih. Mahyuda menutup kembali pintu kantin lalu melangkahkan kakinya menuju kamar asramanya. Namun, di perjalan menuju kamarnya Mahyuda merasa merinding, ia merasa seperti ada langkah kaki lain yang mengikutinya di belakang, menghembuskan napasnya pelan seraya tetap berpikir positif. Mahyuda terus melangkahkan kakinya semakin cepat menyusuri koridor. Namun, semakin cepat langkah kakinya semakin terdengar jelas pula suara langkah kaki lain selain dirinya. Mahyuda menghentikan langkahnya. Perlahan tapi pasti ia menolehkan kepalanya ke belakang.


"OH GOD! Dara," Mahyuda berujar kaget setengah berteriak seraya menstabilkan detak jantungnya yang berdegup begitu kencang.


Sementara Dara, gadis itu tersenyum kikuk seraya menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga. "Lucu banget ekspresi kamu, Yud." Ujarnya seraya terkikik geli.


Mahyuda geleng-gelang kepala, emosinya meluap seketika kala melihat gadis itu terkikik geli. Gadis itu banar-benar menggemaskan dan lucu, pikir Mahyuda. "Hobby banget kamu ngagetin aku kayak gini," gumam Mahyuda seraya tersenyum dengan satu tangan mencubit gemas pipi gadis itu.


Mendadak pipi Dara menghangat seketika, semburat merah itu tampak jelas di kedua pipinya. "Hahaha... kamu yang lucu Ra, wajah kamu memerah." Kata Mahyuda yang sukses membuat Dara jadi malu-malu sendiri sambil mengalihkan pandangannya dari cowok itu.


"Apa sih, Yud. Cuacanya aja yang lagi panas," ujar gadis itu sambil memainkan jari-jarinya. Kentara sekali, kalau gadis itu benar-benar salah tingkah dengan sikap Mahyuda tadi.


"Ya ya ya, anggap saja cuacanya lagi panas." Sahut Mahyuda sambil senyum-senyum sendiri melihat tingkah laku gadis itu.


"Oh ya, Yud. Kamu ambil air minum buat siapa?" tanya Dara mengalihkan kecanggungannya pada cowok itu.


"Oh ini," kata Mahyuda sambil mengangkat gelas berisi air putih itu. "Ini untuk Tante Saras. Nyokapnya Arya, dia lagi di kamar," jawabnya.


"Tante Saras! Tadi malam sih, gue liat Tante Saras di parkiran. Sama cewek pake masker hitam dan topi hitam. Mereka kayaknya lagi ngobrol serius, terus aku juga liat Tante Saras ngasih paper bag warna hitam ke cewek itu, nggak tau deh apaan isinya."


Dan Mahyuda menegang di tempatnya berpijak. Ternyata bukan hanya dirinya yang melihat Tante Saras dan gadis bermasker hitam itu tadi malam. Dan detik berikutnya Mahyuda jadi berpikir yang tidak-tidak tentang kehadiran Tante Saras yang datang tiba-tiba ke kamar asrama mereka. Tanpa pikir panjang Mahyuda melempar gelas berisi air putih itu kesembarang arah lalu berlari kencang menyusuri koridor menuju kamarnya tanpa sama sekali mengindahkan teriakan Dara di belakang sana. Ada yang janggal dari kedatangan tiba-tibanya Tante Saras, pikir Mahyuda.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2