
Saat ditengah hiruk pikuk keramain dilapangan SMA Bakti Mulya karena tengah berlangsung acara peresmian asrama sekaligus merayakan anniversary yang ke lima tahun SMA Bakti Mulya, Mahyuda justru menghindari keramaian itu dengan duduk sendirian di taman belakang sekolah, ia benar-benar benci dengan keramaian, karena disaat berada pada keramaian disitu pula ia merasa keseipan.
"Kok nggak gabung sama temen lo yang lainnya?" Tanya seorang gadis, sontak Mahyuda ngelihkan pandangannya pada sumber suara, lalu ia hanya tersenyum sekilas melihat sosok gadis yang baru merek kenal beberapa hari ini.
"Boleh gue duduk disamping lo?" Tanya gadis itu, Mahyuda hanya menggangguk sebagai jawabannya.
Gadis itu duduk disamping Mahyuda, "Jadi... kenapa nggak gabung sama mereka?" Tanyanya lagi.
Mahyuda menghembuskan napasnya perlahan, entah kenapa ia merasa ada yang aneh pada gadis ini, "Gue benci keramaian," Jawab Mahyuda jujur.
"Pantes dari tadi gue nggak liat lo diantara mereka," Balas gadis itu.
"Lo sebenernya siapa sih? Kok lo selalu aja perhatiin kita bertiga?" Tanya Mahyuda penasaran, pasalnya ia menemukan hal-hal yang janggal pada gadis ini terlebih ketika mendengar cerita Arya bahwa gadis ini yang menabrak mobil temannya itu, terlepas dari cerita Arya. Mahyuda juga baru menyadari beberapa hal. Gadis ini seolah-olah selalu mencari perhatian mereka bertiga terutama Arya.
Athala gagu mau menjawab apa, tidak mungkin ia menceritakan maksud dan tujuannya kan? Itu sama saja membuatnya bunuh diri, "Gue... ya... Athala, gue tertarik aja temenan sama kalian bertiga, kalian itu asik beda dari yang lain," jawab Athala setengah jujur.
Mahyuda memicingkan matanya menatap gadis itu lebih intens lagi, lalu ia berdecak kesal karena otaknya sama sekali tidak bisa bekerja dengan baik untuk berpikir lebih dalam tentang gadis ini, Mahyuda sangat yakin sekali kalau dia pernah melihat seseorang yang mirip dengan gadis ini, entahlah Mahyuda lupa dimana ia melihatnya.
"Yakin nggak punya maksud dan tujuan lain, selain mau berteman?" Tanya Mahyuda lagi.
Dan Athala hanya mengangguk kaku menjawabnya, "Sebenernya sih gue agak curiga sama lo, kenapa seolah-olah lo tengah ngedeketin Arya dengan beberapa pristiwa yang menurut gue janggal, seperti dibuat-buat gitu. Jujur sama gue, lo sengaja kan nabrakin mobil lo ke mobil Arya waktu itu?" Mahyuda semakin gencar ingin mengetahui semuanya, jujur saja ia benar-benar aneh pada gadis itu yang seolah-olah sengaja membuat beberapa pristiwa yang mempertemukan mereka.
Athala semakin gelagapan mau menjawab apa, ia berusaha menghindari tatapan mengintimidasi yang dilayangkan oleh Mahyuda, apa sebegitu kentaranya caranya selama ini sehingga dapat diketahui oleh orang-orang yang bersangkutan? Sepertinya Athala harus berhati-hati lagi mulai sekarang, "Ng—gak, gue nggak sengaja nabrak dia waktu itu, suer." Kata Athala mencoba meyakinkan Mahyuda, namun Mahyuda bukan cowok bodoh yang mengabaikan segala fakta yang ada begitu saja. Ia akan mencari tahunya dilain waktu, ia yakin gadis ini punya maksud tertentu terhadap dirinya dan kedua temannya.
"Terus kejadian ditangga waktu itu lo juga mau bilang kalo itu juga nggak sengaja? Bisa lo kasih gue penjelasan yang logis, soalnya pas Arya cerita sama gue, gue rasa ceritanya nggak logis banget, kenapa lo bisa tau kalo ditangga itu ketumpahan minyak sayur. Kalo lo niat nyelametin Arya lo gak bakal nubruk dia sampe jatoh dari tanggakan? Lo bisa cukup teriakin dia aja,"
Athala beranjak dari duduknya, pertanyaan cowok itu semakin menyudutkannya. Sebelum glagat mencurigakannya makin kentara oleh cowok itu ia harus segera pergi dari sini, "Aduh.. Yud, perut gue mules ini... gue ke toilet dulu ya...kapan-kapan kita lanjut lagi deh obrolannya, byee." Ujar gadis itu langsung berlalu meninggalkan Mahyuda yang masih terpaku di tempat duduknya.
Jelas saja hal itu membuatnya semakin curiga terhadap gelagat Athala, kenapa gadis itu tiba-tiba menjadi gugup setelah mendengar pertanyaannya? Apa yang dipikirkan Mahyuda benar, kalau gadis itu memang mempunyai maksud dan tujuan tertentu untuk mendekati mereka bertiga.
Dan Mahyuda tidak menyadari ada satu hati yang benar-benar terluka karena melihatnya bersama Athala.
"Apa sekarang gue lagi cemburu? Kok nyesek-nyesek gimana gitu liat dia sama cewek lain,"
***
Jika disuruh memilih antara melanjutkan atau menghentikan misinya, Athala akan memilih opsi kedua. Karena jujur saja semakin ia dekat dengan ketiga cowok itu semakin ingin pula ia mengingkari kesepakatannya untuk menghancurkan salah satu diantara mereka. Athala benar-benar bingung akan hal itu. jika bukan karena ancaman itu ia benar-benar tidak sudi melakukan hal ini.
"Agh... bisa gila gue lama-lama kalo begini terus, gue harus cari cara untuk terbebas dari medusa itu,"
Baru saja ia memikirkan si medusa yang ia maksud, orang itu sudah menelponya. Athala berdecak kesal ingin sekali ia membanting ponselnya saat ini juga karena mendapat telpon dari si medusa itu. Pasti medusa itu akan menuntutnya untuk segera melakukan apa yang diperintahkannya. Dengan rasa kesal Athala menjawab panggilan itu.
__ADS_1
"Gak perlu basa-basi, saya Cuma mau ingetin kamu. Waktu kamu Cuma tinggal satu bulan saja, kalau kamu tidak segera melakukan apa yang saya perintahkan, kamu tahu sendiri apa resikonya, saya nggak main-main dengan ancaman saya waktu itu."
Athala memejamkan matanya sejenak sebelum menjawab, "Jangan lakukan apapun, gue bakal lakuin apa yang lo minta,"
"Kamu berbicara sama saya seperti kita seumuran saja?" terdengar gelak tawa dari seberang sana, "Kamu jangan lupakan satu hal, kalo saya lebih tua dari kamu. Jadi berbicara sopanlah kepada saya,"
"Terserah gue... kalau bukan menyangkut orang yang paling berharga satu-satunya yang gue punya, gue nggak bakal lakuin perintah lo itu," Sahut Athala sama sekali tidak ada rasa takut sama medusa itu, ia hanya takut jika medusa itu benar-benar melukai seseorang yang amat ia sayangi saat ini, ia tidak mau kehilangan orang satu-satunya yang ia punya.
"Saya nggak bakal apa-apain dia, asal kamu cepat selesaikan apa yang saya perintahkan," setelah itu panggilan diputus sepihak oleh medusa. Athala membuang napasnya berkali-kali mencoba menetralkan perasaannya saat ini, bagaimana mungkin ia harus menjadi seorang pembunuh berdarah dingin seperti ini hanya untuk memenuhi keinginan medusa itu. Athala harus memikirkan cara agar bisa terbebas dari ancaman medusa itu.
"Udah gue duga. Dia tampak mencurigakan," Gumam Mahyuda dari kejauhan sambil mengamati gadis itu dari balik pilar besar.
***
Mahyuda duduk sendirian di atas ranjangnya. Arya dan Fikri masih sibuk pada acara perayaan itu, sesekali ia memejamkan matanya mencoba mencerna apa saja yang telah ia dengarkan dari pembicaraan Athala dengan seseorang yang menelponnya tadi, entah kenapa ia memiliki firast buruk tentang gadis itu. dan untuk kesekian kalinya Mahyuda kembali mengamati foto Athala yang ia ambil secara diam-diam melalui kamera ponselnya. Mahyuda benar-benar yakin ia pernah bertemu seseorang yang sangat mirip dengan gadis bernama Athala itu, tapi Mahyuda lupa dimana ia pernah bertemu dan siapa orang itu? ahh rasanya Mahyuda ingin teriak sekarang karena ia tidak bisa menyimpulkan maksud dan tujuan gadis itu mendekati mereka.
"Gue harus cari tau siapa sebenarnya Athala itu," Gumam Mahyuda sambil manggut-manggut.
"Gue yakin banget pernah liat seseorang yang mirip banget sama dia, tapi siapa? Kok gue bisa lupa ya?" Kembali Mahyuda bermonolog sendiri sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuk seperti orang yang tengah berpikir keras.
"Woy kampret kemana aja sih lo?" Mahyuda terlonjak kaget mendengar suara Fikri yang tiba-tiba masuk ke kamar mereka.
Fikri hanya nyeri tanpa dosa sambil berjalan menghampiri temannya itu, "Gue cape muter-muter nyariin lo, ternyata lo ada disini." Kata Fikri yang duduk dikursi depan meja belajar.
"Siapa suruh nyariin? Udah tau gue nggak suka keramaian," Ketus Mahyuda, entah kenapa mendadak ia menjadi unmood seperti ini.
Fikri mengernyitkan dahinya heran melihat tingkah temannya itu, "Lo kenapa sih? Heran deh gue, gue ngomong baik-baik lo nyolot kek gitu, untung ya lo temen gue. kalo nggak abis lo gue banting." Kata Fikri diakhiri dengan kekehannya.
Mahyuda menoleh sekilas pada temannya itu, "Sorry," Katanya.
Fikri mencebikkan bibirnya, "Enak banget lo ngomong sorry, tanggung jawab lo. Gara-gara nyariin lo kaki gue jadi pegel kek gini," Ujar Fikri sambil menjulurkan kakinya pada Mahyuda dan tentu saja langsung ditepis Mahyuda. Percayalah tidak ada yang tahan dengan bau kaki cowok itu, karena Mahyuda sangat tahu temannya itu berganti kaos kaki dalam seminggu hanya satu kali. Jadi dapat dibayangkan sendiri betapa baunya kaki Fikri.
"Sekali lagi lo sodorin kaki bau lo itu, gue patahin Fik, sumpah." Kata Mahyuda sambil bergidik jijik memandang kaki temannya itu.
"Sialan lo kutu," Balas Fikri sambil mencoba menendang temannya itu, tentunya Mahyuda dengan sigap menghindar.
"Ganti kaos kaki deh Fik, gue yakin deh tuh kaos udah seminggu lebih nggak lo ganti,"
Fikri hanya nyengir kuda, semua yang dikatakan temannya itu benar, ia memang tidak mengganti kaos kakinya. Alasannya ya konyol, karena kaos kaki yang ia kenakan sekarang adalah kaos kaki kesayangannya katanya, "Kaos kesayangan gue ini," Kata Fikri sambil mengelus-elus kakinya yang terbungkus kaos itu.
"Amit-amit gue punya temen kek lo Fik-Fik," Sahut Mahyuda sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Serah lo deh Yud, semerdeka lo aja. Gue nggak mau bikin curut kecil gue marah," Kata Fikri sambil mencoba menoel-noel dagu Mahyuda. Namun dengan sigap Mahyuda beranjak dari duduknya.
"Gila lo Fik," Kesal Mahyuda.
"Arya mana?" Tanya Mahyuda.
Fikri tersenyum penuh arti sambil menatap temannya itu, "Keknya bentar lagi Arya bakalan move on deh dari Anjani," Kata Fikri yang tentunya membuat Mahyuda mengernyitkan dahinya bingung.
"Maksud lo?"
"Gue rasa Arya mulai suka sama Athala deh," Jawab Fikri santai.
Mahyuda memiringkan kepalanya menatap temannya itu, bagaimana mungkin Arya bisa suka sama seseorang yang baru beberapa hari ini dikenalnya, "Jangan ngaco deh Fik, ya kali Arya suka sama tuh cewek, lo tau kan kita baru kenal dia beberapa hari ini," Sangkal Mahyuda.
"Hemm... lo nggak liat sih, tadi si Arya ngajakin Athala nyanyi untuk ngisi acara, ya menurut gue tatapan Arya ke Athala itu udah cukup ngejawab pertanyaan tersirat gue. Kalo temen kita itu sudah mulai suka sama Athala," Jelas Fikri mencoba untuk meyakinkan temannya itu.
Mahyuda ingin sekali mengatakan apa yang ia dengar dari pembicaraan Athala dan seseorang melalui telepon yang sengaja ia dengar tadi, tapi Mahyuda belum punya cukup bukti untuk mengungkapkan itu semua, apakah gadis itu benar-benar mempunyai maksud dan tujuan tertentu atau Mahyuda saja yang terlalu berlebihan terhadap gadis itu, ia harus mengumpulkan bukti terlebih dahulu sebelum memberitahukan kepada Fikri.
"Sekarang Arya dimana?" Tanya Mahyuda mengabaikan penjelasan Fikri tadi.
"Tadi sih di rooftop sama Athala,"
"Kenapa lo biarin mereka berdua sih?"
"Apaan sih Yud, lo pikir Athala kriminal? sampe kita harus khawatirin Arya kerena mereka lagi berduaan?"
"Ah... bodo deh Fik, gue mau susulin mereka dulu," Mahyuda menulikan telinganya saat Fikri teriak memanggilnya yang tiba-tiba saja keluar kamar.
Entah kenapa firasat Mahyuda benar-benar mengatakan bahwa gadis itu memang seorang kriminal, Mahyuda terus menyusuri koridor menuju anak tangga menuju ke rooftop pikirannya benar-benar bercabang memikirkan kemungkinan-kemungkinan negatif tentang gadis itu, bagaimana kalau gadis itu ingin mencelaki temannya? Ahh Mahyuda menggeleng cepat mengalihkan semua pikiran buruknya tentang gadis itu, ia terus berjalan setengah berlari ketika menaiki anak tangga yang langsung menuju ke rooftop.
Setelah sampai di atas sana, Mahyuda mengedarkan pandangannya. Dan tatapan matanya tepat jatuh pada objek yang ditujunya, disana ada Arya dan Athala tengah duduk berdua. Mungkin ia terlalu parno sehingga memikirkan yang tidak-tidak tentang gadis itu. Ternyata Arya masih baik-baik saja, dengan langkah cepat Mahyuda menghampiri temannya itu dan setelah sudah tepat berada di belakang Arya, Mahyuda sedikit mengejutkan temannya itu hingga minuman isotonik yang hendak Arya minum jatuh begitu saja karena Arya terkejut.
Dengan sebal Arya menolehkan pandangnnya pada objek yang baru saja membuatnya kehilangan air minum yang bahkan belum ia minum sama sekali itu, "Lo bener-bener minta di tonjok ya Yud, gue belum minum itu." Kesal Arya sambil menjitak kepala temannya itu.
Sementara Mahyuda, cowok itu hanya nyengir tanpa dosa sambil mengok tumpahan minuman yang belum sempat temannya minum itu, "Nanti gue ganti deh," Kata Mahyuda yang tentu saja membuat Arya mengerlingkan tatapan jengah pada temannya itu.
Sementara Athala, cewek itu hanya tersenyum dalam diam melihat intraksi kedua cowok itu. Entah kenapa ia benar-benar merasa bersyukur atas kehadiran Mahyuda, karena kehadiran cowok itu setidaknya ia bisa mengulur waktu untuk menjalankan misinya, meskipun misinya gagal kali ini. Athala sama sekali tidak kecewa meskipun rasa takut diam-diam menyelimuti perasaannya, jika ia terus mengulur-ulur waktu seperti saat ini ia tau hidup seseorang akan terancam karena hal itu, biar bagaimana pun Athala tidak akan membiarkan itu terjadi ia akan segera menyelesaikan misinya ini agar bisa terbebas dari ancaman si medusa.
***
TBC
__ADS_1