
Dari tadi Mahyuda mondar-mandir di hadapan Fikri sambil berkali-kali menghubungi Arya namun dari tadi hanya oprator yang menjawab panggilannya, berkali-kali juga Mahyuda mengumpat karena Arya sama sekali tidak bisa di hubungkan, ini sudah jam 8 lewat tapi Arya sama sekali belum muncul. Dan tentunya hal itu membuat kedua sahabatnya itu sangat cemas terhadap Arya.
"Gimana Yud? Arya masih belom angkat juga?" Tanya Fikri yang mulai bosan melihat Mahyuda yang dari tadi mondar-mandir itu.
"Cewek mulu yang jawab, bosan gue dengernya." Kesal Mahyuda sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.
"Apa dia ada problem lagi sama tante Saras?" Tanya Fikri retoris sambil menatap temannya itu.
Mahyuda mengangkat bahunya tanda ia sama sekali tida mengetahuinya, Fikri mengabaikan respon temannya itu dan langsung beralih mengambil ponselnya lalu mengetikkan pesan teks kepada Arya menanyakan kabar sahabatnya itu, tidak bisa di pungkiri mereka berdua benar-benar khawatir jika terjadi sesuatu pada sahabatnya itu. persahabatan mereka sudah hampir mendarah daging, ketiganya sudah bagaikan saudara. Makanya mereka selalu cemas jika salah satu di antara mereka tidak ada.
"Kok perasaan gue gak enak ya?" Gumam Mahyuda sambil mengalihkan pandangannya ke bawah menatap kendaraan yang berlalu lalang dari atas atap sekolah.
Fikri langsung menatap horror temannya itu, "Lo jangan mikir macem-macem, Yud." Peringat Fikri.
Beberapa detik kemudian ponsel di saku celana Mahyuda berbunyi, Mahyuda segera mengeluarkan ponselnya berharap itu Arya yang menghubunginya, namun sayang ternyata yang menghubunginya adalah Papanya, tanpa pikir panjang Mahyuda segera menjawab panggilan dari Papanya itu.
"Kenapa, Pa?" Tanya Mahyuda to the point, Fikir menaikkan sebelah alis matanya bingung menatap temannya itu, seakan tau apa yang temannya itu pikirkan Mahyuda menjawab "Bokap gue" tanpa suara. Lalu Fikri hanya membalasnya dengan membulatkan mulutnya membentuk huruf 'O'
"Jemput Papa, di bandara. Papa gak mau naik taksi, sopir kita lagi cuti liburan." Jawab Papa Mahyuda dari seberang sana.
"Yuda masih belajar, Pa. Papa naik taksi aja ya." Dusta Mahyuda sambil menatap Fikri yang berada di depannya itu.
"Papa gak salah dengar kamu masih belajar? Terus emangnya guru kamu tadi bohong gitu, telfon Papa kasih tau kalo kamu bolos hari ini." Cerca Ayah Mahyuda di ujung sana. Ya benar saja Papa Mahyuda sudah mengetahui putranya itu bolos hari ini.
Skakmat...
Mahyuda menjerit tertahan sambil mengumpat tampa suara berkali-kali, tak lupa mempelototi Fikri yang mempengaruhinya bolos hari ini, namun yang di pelototin malah mengangkat bahu acuh, sudah ada bayangan di benak Mahyuda akan apa jadinya dia jika bertemu dengan Papanya nanti. Pasti ia akan di maki abis-abisan.
"Mampus gue." Gumam Mahyuda tanpa suara sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu. mendadak Mahyuda kehilangan suaranya untuk menjawab pertanyaan Papanya.
"Yuda, jangan bohong sama Papa. Kamu bolos kan hari ini?" Tanya Papanya lagi di ujung sana.
"Anu Pa... Itu...Anu..." Mahyuda jadi gagap sendiri menjawab pertanyaan Papanya. Percayalah senakal apapun Mahyuda ia tidak pernah membolos seperti ini.
"Jangan kebanyakan anu... buruan jemput Papa, Papa gak bakal marahin kamu kok tenang aja, kalo Mama kamu tau, itu Papa udah gak bisa lagi ikut campur." Kata Papanya, Mahyuda merasa sedikit lega mendengar penuturan Papanya barusan, berarti kemungkinan kecil ia hanya di omeli Mamanya. Itu pun kalau Papanya tidak bocor memberitahukan hal itu ke Mamanya.
"O-Oke Pa, Yuda jemput sekarang ya, Pa. Daaa Pa." Ucap Mahyuda cepat seraya langsung memutuskan panggilan telponya.
"Kenapa Lo? Ketahuan sama Bokap?" Tanya Fikri sambil menatap heran temannya itu.
"Ya jelas lah ketahuan... Bokap gue keknya udah nyewa guru buat mata-matain gue. Ampe gue dapat nilai 4 aja kemarin Bokap gue tau." Jelas Mahyuda panjang lebar. Tapi setidaknya Mahyuda kali ini bisa bernapas dengan lega karena mendapat jaminan tidak akan di marahi oleh Ayahnya karena ketahuan membolos.
__ADS_1
"Yaudah Fik.. Gue jemput Bokap gue dulu ya di bandara." Pamit Mahyuda, tanpa menunggu persetujuan dari temannya itu Mahyuda langsung melenggang turun dari atap sekolah.
"Tinggalin aja gue terus ampe sukses... Nggak Arya, gak si curut satu itu hobby banget ninggalin gue." Kesal Fikri saraya mengedarkan pandangannya kebawah sana, beberapa detik kemudian dring singkat di ponsel Fikri berbunyi menandakan ada notifikasi yang masuk. Buru-buru Fikri mengecek ponselnya. Dan benar saja ada satu nomor yang tidak di kenal mengerim pesan teks melalui WA-nya. Tanpa pikir panjang Fikri langsung membuka pesan itu.
+68123385xxxx : Fik, ini gue. Arya, gue lagi di RS Harapan Jaya. Lo buruan kesini. Selebihnya nanti gue ceritain. Kamar no.625
Fikri segera me-lock kembali ponselnya lalu bergegas turun dan pergi ke rumah sakit yang Arya maksud di pesan itu.
***
"Thanks, ya." Ucap Arya seraya tersenyum sambil mengembalikan ponsel Athala yang di pinjamnya tadi.
Athala mengambil kembali ponselnya tak lupa juga ia membalas senyum cowok itu. satu jam cukup membuat keduanya akrab.
"Sama-sama... Btw, sorry ya gue udah nabrak mobil lo, gue bakal ganti rugi kok." Kata Athala tulus.
Arya memandang iba gadis yang tengah terbaring itu sambil memberikan senyum termanisnya, "Udah, gak perlu ganti rugi. Nggak papa kok, kesel sih, iya. Tapi mau gimana lagi. udah kejadian juga." Jelas Arya. Entahlah Arya benar-benar kehilangan emosi yang seharusnya ia ungkapkan kepada gadis itu.
"Btw... lo udah hubungi Bokap-Nyokap lo?" Tanya Arya hati-hati.
Mendengar pertanyaan itu, senyum yang mengembang di wajah Athala mendadak pias berubah menjadi murung. "Gue gak punya Bokap Nyokap." Ucap Gadis itu sambil tersenyum paksa. "Gue Cuma punya Om." Lanjut gadis itu.
Athala kembali menolehkan pandangannya pada Arya yang berada di samping kanannya itu, "Nggak Papa." Sahut Athala.
Setelah itu tidak ada yang berbicara lagi, hening menyelimuti mereka. Arya benar-benar tidak tahu lagi harus membicarakan apa dengan gadis yang baru ia kenal hari ini. Sesekali Arya mencuri pandang ke arah gadis itu. Entahlah, Arya rasa wajah gadis itu sangat familiar di matanya.
"Ar... ngapain liat-liat gue mulu?" Tanya Athala yang merasa agak risih karena Arya terus sesekali melirik-lirik ke arahnya.
"Eh... nggak... itu... Eee—"
Cklek....
Pintu ruang rawat Athala terbuka menampilkan sosok cowok bertubuh jangkung tengah berdiri di ambang pintu itu, sontak baik Arya dan Athala mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara yang di timbulkan orang itu, Ya yang tengah berdiri di ambang pintu saat ini Fikri dengan peluh yang penuh di wajahnya. Dan Arya yakini temannya itu benar-benar panik terhadap dirinya.
"Ar... Lo gak papa kan? Kenapa lo bisa nyasar ke sini?" Tanya Fikri setelah berada di hadapan temannya itu sambil memutar tubuh Arya.
Arya tertawa keras, menertawakan kekonyolan temannya itu. "Apaan sih Fik, sumpah lo lebay banget. Gue gak papa kali, liat aja gue masih utuh dan sehat walafiat." Ujar Arya di tengah tawanya.
Pltak...
Fikri menjitak kepala temannya itu sontak saja Arya langsung menghentikan tawanya. "Lo pikir ini lucu, Ar... gue sama Yuda khawatir banget sama lo, bego." Kata Fikri kesal dengan tingkah temannya itu.
__ADS_1
Arya merasa tidak enak hati atas responnya tadi, ia tahu betul pasti Fikri benar-benar mengkhawatirkannya, "Ya... sorry, Fik." Ucap Arya kemudian. "Hp gue mati mendadak dan gak bisa nyala-nyala lagi, dan mobil gue di tabrak. terus sekarang berakhirlah gue disini, di rumah sakit nganterin dia." Jelas Arya panjang lebar sambil menolehkan pandangannya pada gadis yang menatap dirinya dan Fikri dengan tatapan heran karena tingkah mereka berdua.
Fikri pun mengikuti arah pandang Arya, dan mendapati seorang gadis tengah terbaring dengan kepala di perban serta selang infus yang terpasang di punggung tangannya. Fikri merasa lega karena temannya sama sekali tidak terjadi apa-apa.
"Siapa, Ar?" Tanya Fikri kemudian sambil menoleh ke Arya lagi.
"Athala kenalin ini temen gue Fikri." Ucap Arya memperkenalkan keduanya.
Athala tersenyum canggung sambil menatap Fikri, "Gue Athala." Ucap Athala memperkenalkan dirinya.
"Fikri." Sahut Fikri cepat seraya menatap intens gadis itu. Dan entah pikiran semacam apa, yang membuat Fikri merasakan kalau wajah gadis itu benar-benar familiar di matanya, rasa-rasanya Fikri pernah melihat wajah yang mirip dengan gadis itu, tapi dimana? pikir Fikri bingung.
"Fik... udah jangan di liatin terus." Suara Arya memasuki pendengarannya. Segera Fikri tersadar dari lamunannya.
"Ehh... Sorry." Gumam Fikri tak jelas.
"Yuda kemana?" Tanya Arya sambil duduk kembali di sisi brankar yang masih di tiduri oleh gadis bernama Athala itu.
Fikri menoleh sekilas pada Arya sebelum menjawab, "Jemput bokapnya di bandara,"
Arya menghembuskan napasnya perlahan, lalu tatapannya beralih pada gadis yang masih terbaring lemah di atas brankar itu, gadis itu memperhatikannya dengan mata yang hampir tak berkedip jika saja Arya tidak menoleh padanya. "Gimana keadaan lo? Udah mendingan?" Tanya Arya kemudian yang sukses menghancurkan lamunan gadis itu.
Athala sempat beberapa kali mengerjapkan matanya sebelum menjawab, "Gue...gue udah agak mendingan kok." Jawabnya terdengar ragu.
"Eh kita pernah ketemu gak sih? Kok muka lo nggak asing lagi ya bagi gue?" Tanya Fikri tiba-tiba setelah ia menyadari gadis itu benar-benar sangat tidak asing lagi dimatanya.
"He? Maksudnya?" Athala malah bingung dengan pertanya cowok itu, rasanya ia baru petama kali bertemu, terus kenapa cowok itu berlagak sok kenal dengannya?
"Udah, Thal. Nggak usah di tanggepin omongannya, dia emang gitu orangnya, sok-sok kenal. Padahal baru pertama kali ketemu." Kata Arya menyahut sebelum temannya itu menyakan yang tidak-tidak lagi pada gadis itu, Athala menatap Arya sekilas lalu mengangguk kaku sambil tersenyum tipis pada cowok itu.
"Gue serius bego, mukanya mirip banget sama seseorang." Kata Fikri keukeuh akan pendiriannya yang mengatakan gadis itu terlihat familiar baginya.
Arya hanya memutar bola matanya jengah menatap temannya itu, awal pertama bertemu dengan gadis itu, Arya juga memikirkan apa yang Fikri pikirkan saat ini. Namun Arya hanya mengabaikannya saja, mungkin bisa saja ia pernah berpapasan sebelumnya atau apalah itu, Arya tidak mau mempersulit pemikirannya.
"Mending lo chat Yuda, suruh dia kesini juga." Kata Arya kemudian.
Fikri hanya menoleh pada temannya itu, ia benar-benar kesal pada Arya karena tidak mempercayai ucapannya itu. Namun Fikri tetap mengikuti intruksi Arya untuk mengabari Mahyuda. "Oh ya, jangan lupa suruh tuh bocah bawa makanan agak banyakan, gue laper banget dari pagi belom makan," Tambah Arya sambil nyengir, Fikri hanya mendelikkan matanya sebal sambil mengetikan pesan teks pada Mahyuda.
***
TBC....
__ADS_1