TRIO JONES

TRIO JONES
Episode 17 - Gadis Bermasker (2)


__ADS_3

SEHARI SEBELUM KEMATIAN AYAH ARYA


Hari itu mereka bertiga berkumpul di rumah Arya. Menghabiskan waktu bermain playstation sepanjang hari di ruang tengah. Arya tidak ikut main, ia hanya menyaksikan kedua sahabatnya itu sedangkan dia malah asik bermain ponselnya sendiri.


Selang beberapa jam kemudian Saras, ibunya Arya. Baru saja pulang dari kerja. Arya membiarkan kedua sahabatnya menyapa Saras. Namun, ia sendiri tidak menyapanya. Arya kecewa dengan apa yang ia ketahui bahwa ibunya ternyata telah beselingkuh dengan dokter yang menangani Ayahnya selama ini.


"Nyokap lo baru pulang, kenapa nggak lo sapa?" tanya Mahyuda.


Arya hanya mengedikkan kedua bahunya acuh seraya menyibukkan dirinya pada ponsel yang tengah ia pegang. Ia belum menceritakannya pada kedua sahabatnya itu. Arya tidak ingin membebani pikiran kedua sahabatnya.


"Jangan gitu Ar, biar bagaimanapun dia tetap Nyokap lo," timpal Fikri. Namun, masih saja di abaikan Arya.


"Lanjut main sana... gue nggak mood bahas ginian." Ujar Arya seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa yang seukuran panjang dengan tubuhnya itu.


Fikri dan Mahyuda hanya bisa mendengus sambil menggelengkan kepala melihat sahabatnya itu. Tidak lama setelah itu terdengar suara bel dari luar sana. Melihat tidak ada respon dari Arya yang akan membukakan pintu, Mahyuda segera beranjak dari duduknya menuju pintu utama.


Dan setelah Mahyuda membuka pintu sosok yang begitu aneh berada di sana, sosok yang Mahyuda yakini adalah seorang gadis yang tampak seumuran dengannya, gadis itu memakai masker berwarna hitam serta topi berwarna senada dengan masker yang ia kenakan.


"Maaf, ada perlu apa ya?" tanya Mahyuda sopan.


Belum sempat gadis bermasker hitam itu menjawab Fikri datang menghampiri Mahyuda yang berada di ambang pintu.


"Siapa Yud?" tanya Fikri lalu tatapannya beralih pada gadis bermasker di hadapan mereka itu.


"Nyari siapa ya?" tanya Fikri pada gadis bermasker hitam itu.


Alih-alih menjawab gadis itu malah mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah kotak yang di balut dengan kertas berwarna coklat seukuran dengan kotak tempat sirup penurun panas, lalu gadis itu menunjukkan barang bawaannya pada Fikri dan Mahyuda yang bertuliskan "UNTUK IBU SARAS"


"Oh untuk Tente Saras," Gumam Mahyuda dan gadis itu hanya mengangguk sekilas.

__ADS_1


"Mbak kurir ya?" tanya Fikri lagi.


Dan lagi, gadis bermasker hitam itu hanya menjawab dengan anggukkan.


Aneh, kenapa ni orang nggak ngomong, apa dia bisu?—batin Mahyuda.


"Bentar saya panggil dulu orangnya," sahut Mahyuda.


Mahyuda pun kembali masuk ke dalam rumah mencari Tante Saras, setelah bertemu dengan Tante Saras beliau hanya berpesan pada Mahyuda untuk menyuruh kurir itu langsung masuk saja menemuinya, Mahyuda pun kembali menghampiri gadis bermasker itu.


"Kata Tante Saras, masuk aja. Beliau ada di kamar lantai dua." Ujar Mahyuda dan hanya di angguki gadis bermasker itu seraya melewati Mahyuda masuk ke dalam rumah sementara Mahyuda mengekor dari belakang.


Hingga melewati ruang tamu tempat mereka sedang bermain Mahyuda kembali ke posisinya di samping Fikri, sedangkan Arya yang sedari tadi terlihat acuh diam-diam mendudukkan dirinya lalu menoleh sekilas pada gadis yang tengah berjalan menaikki tangga itu seraya menghembuskan napas panjang.


Sehari setelah acara bersantai di rumah Arya, pagi harinya Arya di kejutkan dengan teriakkan histeris Saras dari kamarnya. Arya langsung berlari dari lantai tiga menuju kamar Saras yang berada di lantai dua lalu tanpa aba-aba Arya membuka secara kasa pintu kamar Saras, Arya tercekat menemukan Ayahnya terbujur kaku di atas ranjang dengan wajah pucat pasih dan tentunya sudah tidak bernyawa lagi.


***


Mahyuda masih ragu dengan spekulasi-spekulasi yang terpikir olehnya, tapi yang pasti satu yang Mahyuda yakini. Mahyuda yakin ia masih mengingat dengan jelas gadis bermasker beberapa tahun yang lalu ia temui di rumah Arya. Gadis itu benar-benar mirip dengan gadis bermasker hitam yang ia lihat beberapa menit lalu.


"Kalo emang itu cewek yang sama, kenapa dia masih berhubungan dengan Tante Saras? Bukannya tuh cewek Cuma kurir, ya?" Mahyuda kembali bermonolog sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidurnya.


Mahyuda merogoh saku celannya lalu mengambil benda pipih miliknya dari dalam sana, Mahyuda segera menyalakan ponselnya dan langsung beralih ke album foto, di sana ada beberapa foto gadis bermasker tadi dengan Tante Saras. Mahyuda kembali meneliti satu-persatu foto yang berhasil ia abadikan melalui kamera ponselnya itu, sesekali cowok itu tampak menge-zoom foto itu tepat ke arah gadis bermasker hitam serta bertopi dengan warna senada maskernya itu.


"Fiks, ini cewek yang sama dengan cewek beberapa tahun lalu itu," Gumam Mahyuda yakin.


***


Athala menghembuskan napasnya lega, pasalnya gadis itu baru saja berhadapan dengan seseorang yang di julukinya sebagai Medusa. Hatinya kacau luar biasa, bagaimana tidak? Ia terus di desak untuk segera melakukan misi yang di berikan Medusa tersebut. Ingin rasanya Athala hilang di telan bumi saat ini juga, ia benar-benar goyah terhadap perjanjian yang sudah ia sepakati bersama Medusa itu. Athala ingin berhenti saat ini juga, berhenti menjalankan misi konyol yang akan berdampak buruk pada seseorang yang diam-diam sudah menyusup ke relung hati terdalamnya—ya, Athala memiliki perasaan yang sulit untuk ia deskripsikan terhadap targernya.

__ADS_1


"Bunuh dia secepatnya, atau kamu akan tau resiko dari tindakmu yang terkesan sedang mengulur waktu,"


Kata-kata Medusa kembali terngiang-ngiang di telinganya. Lalu di tatapnya senjata api yang berada di gengamannya saat ini, senjata api yang baru saja di berikan oleh Medusa untuknya agar segera menjalankan misi yang sudah ia sepakati, tanpa sadar air matanya merembes begitu saja, hatinya sakit luar biasa karena tindakkannya kali ini bukan hanya menyakiti seseorang saja melainkan dirinya juga akan merasakan sakitnya, sakit karena ia harus rela kehilangan seseorang itu. Hanya karena ia tidak ingin orang yang juga berarti dalam hidupnya tersakiti. Biarlah Athala mengalah kali ini, ia harus merelakan kehabagiaannya hanya demi sang Adik.


***


Pintu kamar di buka secara kasar oleh Fikri yang langsung di susul oleh omelannya ketika melihat Mahyuda tengah berbaring santai di atas tempat tidurnya. "Lo kemana sih, Yud? Gue keliling nyariin lo, nyatanya lo ada di sini, kan bangke." Cerocosnya.


Mahyuda mengalihkan sejenak perhatiannya pada ponsel yang sedang ia gunakan untuk melihat foto gadis bermasker yang ia ambil tadi, ia tidak ingin berdebat sekarang, suasana hatinya dalam keadaan tidak baik saat ini. "Gue nggak nyuruh lo nyariin gue," jawab Mahyuda sekenanya lalu kembali menyibukkan diri dengan ponselnya.


Fikri menghembuskan napasnya perlahan, ia harus segera menyelesaikan perang dinginnya dengan sahabatnya itu, pelan Fikri melangkahkan kakinya menghampiri Mahyuda yang masih asik dengan ponselnya itu lalu setelah berada di depan Mahyuda lantas cowok yang di juluki tiang listrik berjalan itu menglurkan tangan kangannya pada Fikri seraya berkata. "Maaf, karena gue udah terlalu ikut campur masalah lo sama Dara." Ucapnya tulus.


Pegerakan tangan Mahyuda yang asik menscroll feed di instagramnya terhenti sesaat sebelum beralih melihat tangan Fikri yang menunggu untuk di jabat olehnya. Jika boleh jujur, Mahyuda sebenarnya tidak terlalu marah pada sahabatnya ini, ia hanya jengkel saja dengan sikap Fikri yang seenaknya mengata-ngatai Dara. Ia juga tidak ingin hanya karena masalah sepele seperti ini ia harus kehilangan sosok sahabat.


Dengan tampang gengsi, Mahyuda meraih tangan Fikri untuk berjabat sebelum berucap. "Gue maafkan, dengan syarat lo nanggung uang jajan gue selama satu minggu." Ujar Mahyuda.


Yang sontak membuat Fikri melepas tangannya lalu menjitak kepala Mahyuda keras. "Lo mau morotin gue atau ngebunuh gue sih, Yud? Udah tau uang jajan gue sekarang terbatas lo masih aja minta penanggulangan uang jajan, bener-bener ngelunjak nih anak." Fikri berujar sok dramatis yang langsung di sambut gelak tawa oleh Mahyuda.


"Gak ada penolakan, lo udah bikin mood gue ancur. Jadi, lo harus tanggung jawab." Ujar Mahyuda di sela-sela gelak tawanya.


Sementara itu Fikri geleng-geleng tak percaya melihat tingkah sahabatnya itu. Namun, tak ayal membuatnya ikut tertawa bersama Mahyuda seolah-olah sebelumnya tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Dan senyum samar terukir di wajah Arya yang sedari tadi menyaksikan intraksi kedua sahabatnya. Hatinya menghangat hanya dengan mendengar gelak tawa kedua sahabatnya itu.


Perlahan Arya melangkahkan kakinya mengarah pada kedua sahabatnya yang masih tertawa. Langkahnya terhenti ketika berada di antara kedua sahabatnya, berikut berhentinya suara gelak tawa kedua sahabat Arya itu. keadaan kembali hening dan canggung, Mahyuda memalingkan wajahnya dari tatapan Arya.


Arya menggaruk kepalanya sekilas sebelum berujar dengan nada canggung. "Gue... gue juga mau minta maaf sama lo Yud, karena akhir-akhir ini gue sibuk dengan dunia gue sendiri sampai-sampai gue jadi terkesan melupakan kalian... jadi, ayo besok kita ke Dufan," ujarnya.


Seketika Mahyuda menolehkan kepalanya menatap sahabatnya seraya mengangguk antusias, baik Arya maupun Fikri keduanya tersenyum pada Mahyuda. Sesederhana itu saja untuk membuat Mahyuda melupakan kejengkelanya pada kedua sahabatnya itu.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2