
Cuaca tampak mendung di langit Ibu Kota Jakarta, aroma petrichor khas setelah hujan turun menguar dari permukaan tanah. Langit seakan tahu bahwa ada beberapa makhluk yang sedang berduka, menyisakan seorang cowok sendirian tengah menatap nanar pada gundukan tanah yang bertaburkan bunga, ia sama sekali tidak peduli pada dirinya yang sudah basah kuyub karena hujan menerpa dirinya, bahkan menangis pun ia tidak ketika menyaksikan takdir yang begitu pahit menerpanya.
Rasanya baru kemarin ia merayakan anniversarynya yang ke dua tahun dengan gadis itu, kini gadis itu benar-benar pergi untuk selamanya, menyisakan kenangan manis dan pahit saat masih bersama gadis itu, dilubuk hatinya yang paling terdalam ia menyesali semua keputusan yang telah ia ambil, coba saja dulu ia tidak gegabah mengambil keputusan untuk melepaskan gadis itu. mungkin gadis itu masih bersamanya sampai detik ini.
Namun apa boleh dikata jika nasi sudah berubah menjadi bubur dan itu tidak akan bisa membuatnya menjadi nasi kembali, begitupun juga dengan takdir yang telah di gariskan oleh Tuhan. Takdir itu juga tak akan pernah bisa berubah, jujur saja perasaannya sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu sampai saat ini tidak pernah sama sekali berubah bahkan sedikit pun, meskipun ia sudah melepas gadis itu demi mempertahankan keyakinannya.
Mahyuda dan Fikri, mereka berdua berjarak 70 meter dari tempat Arya berjongkok di depan makam Anjani, keduanya tahu Arya sedang dalam suasana yang amat sangat berduka begitupun mereka berdua. Meskipun tidak mengenal Anjani terlalu jauh namun rasa kehilangan itu juga mereka rasakan, apa lagi ketika Mahyuda menyadari pertemuannya dengan Anjani di bandara saat itu adalah pertemuan terakhirnya. Ia tidak menyangka gadis sekuat dan ceria Anjani akan meninggal dalam tragedi yang menewaskan lebih dari dua ratus jiwa dalam sebuah kecelakaan pesawat yang ia naiki.
Karena merasa tidak sanggup lagi melihat temannya itu hampir tak berkedip menatap gundukan tanah yang berada di depannya, Mahyuda melangkahkan kakinya mendekati Arya yang masih setia dengan posisinya, sekali lagi Mahyuda menghembuskan napasnya perlahan sebelum ikut berjongkok di samping temannya itu.
"Kita harus ikhlas, Ar." Ucap Mahyuda sambil menepuk bahu temannya itu, tetap saja tidak ada reaksi yang di tunjukan oleh Arya. Cowok itu hanya memusatkan perhatiannya pada gundukan tanah yang masih segar di hadapannya itu.
"Ar... lo gak boleh kayak gini." Ucap Mahyuda lagi setelah tidak mendapatkan respon apapun dari temannya itu.
Tetap tidak ada respon yang di tunjukan oleh Arya, cowok itu masih bergeming menatap kosong pada gundukan tanah di hadapannya itu, Mahyuda sangat tahu betul Arya paling benci menangis. Buktinya sekarang semerah apapun mata cowok itu tetap saja setitik pun air mata tidak mengalir keluar dari matanya, seakan ia sudah mati rasa detik ia mengetahui jika Anjani menjadi salah satu korban akibat insiden naas itu.
"Kalo lo mau nangis... nangis Ar... nangis aja, jangan sakitin diri lo sendiri dengan menahan apa yang sedang lo rasakan saat ini, gue tau ini berat untuk lo terima. Tapi kita nggak bisa mutar waktu lagi Ar," Kata Mahyuda sambil mengguncangkan kedua bahu Arya. Namun Arya hanya menggeleng keras sebagai responnya.
"Lo bodoh Ar... lo manusia yang paling bodoh yang pernah gue kenal... dia itu Anjani Ar... Anjani, seseorang yang sangat berarti buat lo... kenapa lo nggak nangis Ar... Ayo nangis Ar, jangan lo tahan. Gue nggak bisa lihat teman gue begini, persis kayak orang bego." Mahyuda frustasi akan respon yang di tunjukan Arya, lelah sudah ia memaksa Arya untuk mengeluarkan air matanya namun Arya sama sekali tidak menunjukan reaksi yang di harapkan Mahyuda, dan setelah cukup lama menyaksikan Arya yang tidak menunjukan respon apapun selain menatap kosong pada gundukan tanah itu, Arya kehilangan keseimbangannya, tubuhnya limbung dan terhuyung kedepan dapan semuanya menjadi gelap untung sebelum Arya terjatuh di atas gundukan tanah di hadapannya Mahyuda dengan sigap menahan tubuh temannya itu.
***
__ADS_1
Bau obat-obatan khas rumah sakit menusuk indra penciumannya, perlahan kelopak matanya mulai bergerak-gerak, tangan dan kakinya terasa kaku seakan mati rasa. Perlahan kelopak yang semula menutup itu terbuka perlahan, Arya mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke indra penglihatannya, masih sedikit buram penglihatannya namun beberapa detik berikutnya ia berhasil menyesuaikan cahaya yang masuk pada indra penglihatannya, Arya mencoba menggerakkan salah satu tangannya namun terasa amat kaku terlebih dengan selang infus yang menempel pada punggung tangannya itu.
Melihat respon yang di tunjukan Arya, Mahyuda dan Fikri yang duduk di sofa tak jauh dari brankar tempat Arya berbaring langsung bergegas menghampiri temannya itu.
"Thanks god," Ucap Fikri lega setelah berada disisi brankar tempat Arya berbaring.
"Ya Tuhan, akhrinya lo sadar juga Ar." Ujar Mahyuda tak kalah leganya juga melihat Arya yang sudah tersadar dari tidur panjangnya selama tiga hari ini.
Mata Arya bergerak-gerak menatap kedua temannya secara bergantian, beberapa kali Arya hendak bicara tapi rasanya sangat sulit sekali tenggorokannya benar-benar terasa kering, kemudian mata Arya beralih pada gelas berisikan air yang berada di atas nakas samping brankar tempatnya barbaring. "Ha—us." Gumam Arya tak jelas.
Mahyuda yang mengerti pun langsung sigap mengambil gelas berisi air putih itu lalu membantu Arya untuk meminum air tersebut, setelah selesai membantu Arya minum, Mahyuda kembali membantu temannya itu untuk berbaring kembali.
"Gue mimpi buruk." Gumam Arya setelah mendapatkan kembali suarnya, baik Fikri maupun Mahyuda hanya menatap iba pada temannya yang tengah terbaring itu sama sekali tidak berniat menyela ucapan Arya.
Mahyuda menggelengkan kepalanya frustasi melihat tingkah temannya itu, sepertinya Arya benar-benar tidak menerima takdir yang telah di gariskan Tuhan itu. bahkan ia hanya merasa semua itu hanya mimpi belaka, sayangnya semua yang Arya ucapkan itu adalah kenyataannya, "Lo nggak mimpi Ar," Ucap Mahyuda menatap iba pada temannya itu yang seketika langsung menghentikan kekehannya.
"Maksud lo apa?" Tanya Arya serius menatap kedua temannya itu.
"Semua itu nyata Ar, lo harus terima kalau Anjani memang benar-benar sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya, Anjani sudah pulang ke pangkuan yang maha kuasa Ar," Bukan Mahyuda yang menyahutinya melainkan Fikri yang juga ikut angkat bicara karena Fikri pun benar-benar tidak tega melihat kondisi Arya yang seperti ini, temannya itu terlihat sangat tidak bisa menerima kenyataan.
Seketika tubuh Arya serasa mati rasa ketika mendengar penuturan temannya itu, sama sekali tidak ada nada bercanda pada ucapan Fikri barusan, kepalanya kembali menggeleng keras mengenyahkan semua pemikiran itu.
__ADS_1
"Nggak... kalian pasti bohongin gue kan?" Arya tetap tidak terima dengan pernyataan kedua temannya itu.
"Sayangnya untuk urusan ini kita berdua sama sekali nggak bisa bohong Ar," Mahyuda terdiam sejenak sebelum melanjutkannya, "Lo nggak boleh kayak gini terus Ar, lo harus belajar menerima semua ini, life must go on bro. Sesuatu yang telah terjadi itu nggak akan ada kata undo layaknya control + Z pada keyboard di laptop yang sewaktu-waktu jika kita berbuat kesalahan bisa di pebaiki kembali, inilah yang namanya siklus kehidupan Ar, sesuatu yang awalnya bertemu pasti suatu saat akan berpisah kelak, begitu pun juga dengan setiap makhluk yang bernyawa suatu saat pasti akan kembali kepada sang pencipta." Mahyuda tidak tahu entah dari mana ia dapatkan kata-kata sebijak itu, namun ia tidak perduli, sesekali perasaan Arya itu harus di tampar dengan kata-kata agar Arya bisa menerima semua ini, bahkan Fikri yang mendengarnya saja terperangah menatap Mahyuda dengan tatap kagum.
***
"Mama kira kamu nggak bakal pulang lagi ke rumah ini, kemana saja kamu tiga hari ini?" Tanya Saras sarkas pada Arya yang baru saja memasuki rumahnya setelah di antar oleh kedua temannya dari rumah sakit, Arya hanya terdiam sejenak di tempat memperhatikan perempuan yang kini berdiri di depannya dengan tangan yang bersedekap di dadanya persis menunjukan keangkuhannya.
Lalu Arya tersenyum sinis melihat Mamanya, ah bahkan menggap perempuan itu sebagai Mamanya tampaknya Arya akan mempertimbangkanya kembali, Mama yang dulu ia kenal tidak seperti perempuan di hadapannya saat ini, perempuan itu bahkan lebih terasa musuh baginya di rumah ini, "Apa perlu aku jelaskan ke Mama, kemana aku beberapa hari ini? Emangnya Mama bakal peduli? Ah... jelas sekali kalau Mama sama sekali tidak akan peduli." Balas Arya menatap tajam kedua bola mata milik Mamanya itu, dulu kedua mata itu adalah pemandangan yang indah bagi Arya namun entah sejak kapan sorot mata Mamanya berubah seperti sorot mata predator yang hendak memakan mangsanya.
"Jaga bicara kamu, Arya. Kamu itu masih tanggung jawab Mama selama kamu masih berada di rumah ini." Sahut Saras tegas dengan sorot mata tajam menatap anak semata wayangnya itu.
Arya menggelengkan kepalanya dengan kekehan sinisnya, lalu tatapannya kembali beradu dengan tatapan Mama, "Lupakan tentang tanggung jawab yang Mama katakan barusan, bahkan anak Mama sendiri mau MATI Mama sama sekali nggak peduli, jangankan untuk peduli, Mama tau aja nggak." Arya kembali mengeluarkan semua yang ada di benaknya, ia melupakan tentang dosa, biarlah ia di anggap anak kurang ajar atau anak durhaka. Itu semua adalah salah Mamanya sendiri, Mama-lah yang mengubah anaknya sendiri menjadi pembangkang seperti saat ini.
Saras terdiam mendengarkan ucapan Arya barusan, jauh di lubuk hatinya yang paling terdalam perempuan itu merasakan getaran di hatinya. Ucapan Arya barusan benar-benar menohok perasaannya, seakan-akan ia telah gagal dalam mendidik anaknya sendiri.
Tanpa mengeluarkan argumen apapun lagi, Arya berjalan melewati Mamanya begitu saja menaiki anak tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai dua, setelah masuk ke dalam kamarnya Arya langsung menghempaskan tubunya ke atas kasur dengan padangannya yang jauh menerawang menatap langit-langit kamarnya, benar kata Mahyuda siklus kehidupan itu tidak ada Control+Z yang bisa mengulang semuanya, lalu pandangan Arya beralih pada frame foto yang terletak di atas nakas di samping ranjangnya, Arya mengambil frame itu lalu menatapnya lamat. Di dalam foto itu terlihat dengan jelas dirinya dan juga Anjani sangat bahagia dengan pose sama-sama tengah menjilat es cream dengan tampang yang begitu lucu. Arya tersenyum ketika mengingat kenangan itu, kenangan demi kenangan terus berkelabat di benaknya menyisakan sesak di dada setiap kali kenangan itu teringat. Arya menghembuskan napasnya perlahan sambil tersenyum kembali pada frame foto itu.
"An... Aku Ikhlas."
***
__ADS_1
TBC...