TRIO JONES

TRIO JONES
Episode 16 - Gadis Bermasker (1)


__ADS_3

Dara : Lagi ngapain Yud?


Mahyuda tersenyum samar setelah membaca deretan pesan yang baru saja dikirim Dara melalui LINE padanya, entah kenapa hatinya menjadi menghangat. Yang tadinya ia merasa uring-uringan sekarang malah ia merasa senang karena gadis itu sudah kembali ke kebiasaannya dulu sebelum mereka putus. Yaitu selalu mengirimi Mahyuda pesan. Ya, walaupun hanya pertanyaan-pertanyaan sepele tapi itu sudah cukup untuk menjadi moodbosternya terlebih untuk malam ini.


Mahyuda : Lagi baring aja, kamu kenapa belum tidur?


Mahyuda kembali menyunggingkan senyumnya ketika ia melihat pesannya langsung dibaca oleh Dara, dan Mahyuda semakin senang karena belum sampai satu menit Dara sudah membalas pesannya.


Dara : Nggak bisa tidur, aku lagi kangen Mama.


Mahyuda : Kenapa nggak telpon Mama kalo kangen?


Dara : Udah, tapi Mama nggak angkat. Kayaknya lagi sibuk :(


Mahyuda : Jangan sedih ya, Ra, nanti kamu coba aja telpon lagi.


Pesannya sudah dibaca oleh Dara namun tak kunjung mendapat balasan dari gadis itu, entah kenapa mendadak Mahyuda jadi gelisah seperti ini. Namun, kegelisahannya usai ketika melihat id caller yang baru saja meneleponnya. Senyum kembali tercetak jelas di bibirnya. Lalu dengan semangat menggeser tombol hijau di layar ponselnya sebelum menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Aku ganggu nggak, Yud?"


"Nggak kok, Ra, btw. Kenapa telpon?" tanya Mahyuda hanya sekedar basa-basi, terus terang ia tidak tahu harus membicarakan hal apa dengan gadis itu.


"Nggak boleh ya aku telpon, Yud, yaudah ya kalo gitu aku matiin aja."


Mahyuda jadi gelapan sendiri. "Ehh-jangan dong, bukan gitu, kan, aku nanya, Ra, bukan berarti aku nggak bolehin kamu telepon aku,"


"Aku kira kamu keganggu,"


"Nggak kok, Ra."


"Lo masih telponan sama cewek yang udah morotin lo itu?" pertanyaan sarkas berasal dari Fikri yang berada di atas ranjangnya itu.


Mahyuda yang jengkel langsung menendang ranjang di atasnya itu hingga Fikri mengeluarkan sumpah serapahnya. "Bangke lo ya, Yud. Kalo lo masih berhubungan sama tu cewek, lo sama aja kayak barang yang nggak laku, mau-maunya sama cewek matre, tuh cewek kebanyakan makan bedak. Makanya nggak tau malu deketin lo mulu," ujar Fikri.

__ADS_1


Mahyuda bungkam.


Bahkan ia tidak sadar kalau apa yang baru saja Fikri ucapkan tadi masih dapat terdengar oleh Dara melalui sambungan telepon yang masih terhubung, buru-buru Mahyuda tersadar dari lamunannya. "Ra, jangan di dengerin. Fikri emang gitu orangnya," ucap Mahyuda pada Dara diseberang sana.


"Maaf sudah menganggumu, Yud. Fikri, benar. Seharusnya aku nggak pernah deketin kamu lagi," Dan sambungan terputus begitu saja.


Mahyuda yang mulai kesal beranjak turun dari ranjangnya dan menatap Fikri tajam yang sedang asik dengan ponselnya itu, "Lo bisa nggak sih, nggak usah ikut campur urusan gue?" tanya Mahyuda sarkas.


Fikri tercenang di tempat, pasalnya baru kali ini ia melihat Mahyuda semarah itu, lalu ia merubah posisinya menjadi duduk sambil mengernyitkan dahinya heran. "Lo kenapa sih, Yud? Gue ngomong fakta kali, lo kok sensian gitu?"


"Lo yang kenapa? hobby lo selalu ngurusin hidup orang lain, urusin aja dulu hidup lo." Balas Mahyuda dengan nada nyolot.


Fikri yang tak terima di bentak langsung melompat dari ranjangnya, raut wajahnya benar-benar berubah menyeramkan. Tidak ada lagi wajah tengilnya, ucapan Mahyuda berhasil menyentil emosinya. "Maksud lo apa, ha? Jadi lo pikir hidup gue nggak bener? ***," belum sempat Fikri menghajar Mahyuda, Arya melompat turun dari ranjangnya yang berada di posisi nomer tiga di atas dan langsung menahan tangan Fikri yang nyaris menyentuh rahang sahabatnya itu.


"Masih aja kalian kayak bocah, masalah sepele gini kalian sampe nyolot-nyolotan kayak mau perang," ujar Arya seraya melepaskann cengkramannya pada tangan Fikri lalu ia menatap kedua sahabatnya secara bergantian. "Gue nggak mihak di antara kalian berdua, buat lo, Yud. Jangan cepet emosian, lo kayak baru kenal sama Fikri aja. Dia emang suka gitu, lo aja yang terlalu ngambil hati apa yang dia omongkan," lalu tatapan Arya beralih pada Fikri. "Buat lo Fik, lo kalo ngomong juga perhatikan sikon dong... jangan sampai karena masalah sepele kayak gini bisa menghancurkan persahabatan kita,"


Mahyuda mendengus kasar. Lalu tatapannya beralih pada Arya sebelum berkata. "Lo ngomong soal persahabatan? bahkan lo sendiri nggak tau makna persahabatan itu yang sebenarnya, Ar. Dengan cara ninggalin sahabat karena orang yang baru dikenal, itu yang namanya persahabatan? Gue pikir lo harus banyak belajar makna persahabatan, Ar," ujar Mahyuda tajam seraya berlalu meninggalkan kedua sahabatnya itu yang masih mematung di tempat.


***


Arya yang berada di bangku urutan terdepan yang juga sedang duduk sendirian karena teman sebangkunya (Athala) tidak masuk juga, menghela napas berat melihat sahabatnya yang sedang melamun di belakangnya itu. Sebenarnya Arya juga merasa tidak enak pada Mahyuda, pasti sahabatnya itu jadi sensi seperti itu karena sikapnya yang terkesan mengabaikan persahabatan mereka. Arya jadi menyadarinya apa itu persahabatan yang sesungguhnya. Seharusnya ia bisa meluangkan banyak pada kedua sahabatnya itu dan mengesampingkan urusan pribadi. Arya benar-benar menyesali perbuatnya.


"Fik, fokus," ujar Arya pelan tanpa membalikkan badan mencoba menghancurkan lamunan sahabatnya itu.


"Dia marah gara-gara kita," sahut Fikri pelan.


Arya mengangguk mengiyakannya. "Abis kelas kita cari dia, minta maaf sama tuh anak."


"Gue jadi nggak mood lagi dengerin penjelasan gak perfaedah dari Pak Naga," Ujar Fikri tanpa sadar yang mengundang tatapan dari teman-teman sekelasnya yang lain.


Pak Naga yang mendengar ucapan salah satu muridnya langsung menghentikan penjelasannya. Menatap tajam ke arah Fikri yang entah kemana tatapannya itu. Arya yang berada di depan Fikri mencoba memberi kode dengan mendorong kursi yang ia duduki dengan tubuhnya ke meja Fikri. Namun, Fikri sama sekali tidak meresponnya.


Mati aja lo, Fik, gue nggak tanggung jawab kalo gini.

__ADS_1


"Fikri Dirgantara Firmanda, anda boleh keluar dari kelas saya sekarang juga," ucap Pak Naga yang sukses menyadarkan lamunan Fikri.


Fikri menatap Pak Naga dengan tatapan berbinar seraya berkata, "Beneran Bapak nyuruh saya keluar?" tanya Fikri tak percaya.


"Ya si bego," umpat Arya pelan merutuki kelakukan sahabatnya itu. mendadak ia malu mengakui Fikri sebagai sahabatnya.


"Hm... silahkan keluar, dan minggu depan kamu juga boleh nggak masuk kelas saya," jawab Pak Naga santai.


Lalu apa yang terjadi? Fikri malah berdiri heboh sambil mengumandangkan kata 'yes' berkali-kali, dan sontak membuat satu kelas tertawa keras karena kekonyolan cowok tinggi itu. sedangkan Pak Naga, beliau hanya bisa mengelus dadanya seraya mengucap istighfar berkali-kali.


"Fikri-Fikri, ganteng tapi kok bego ya."


"Anjir... malah kesenengan tuh nak,"


"Si bego weyy,"


Dan banyak lagi sahutan dari teman-temannya. Namun, Fikri malah tersenyum percaya diri sambil membereskan alat tulisnya memasukkannya semua kedalam tas lalu beranjak dari bangkunya dengan sekilas menepuk pundak Arya dan tersenyum ketika sudah berada di hadapan Pak Naga.


"Terimakasih Bapak telah mengizinkan saya keluar, Bapak tau aja kalo saya lagi bosan," ujar Fikri seraya menarik paksa tangan Pak Naga lalu mencium punggung tangannya. "Sekali lagi terimakasih Bapak tercintah," Ujar dengan cengiran lalu melenggang keluar kelas begitu saja.


"Bener-bener minta di santet tuh anak," geram Pak Naga sambil geleng-geleng kepala menyaksikan murid terlaknatnya itu melenggang begitu saja.


***


Ingin rasanya Mahyuda berteriak keras karena kekesalannya kepada kedua sahabatnya itu, mereka benar-benar tidak tahu apa yang tengah ia rasakan saat ini. Mahyuda juga jadi bingung sendiri kenapa dia sebegitu sensitif dengan apa yang Fikri ucapkan padanya tadi. Dan ia juga merasa sangat jengkel setengah mati terhadap Arya yang seolah-olah menjadi orang yang paling mengerti tentang arti persahabatan yang sesungguhnya. Padahal menurutnya Arya sama sekali tidak mengetahui apa itu arti persahabatan yang sesungguhnya, seharusnya Arya mengerti apa yang ia rasakan saat ini, Mahyuda hanya mengkhawatirkan sahabatnya itu, tidak lebih, tetapi sikapnya malah di anggap salah oleh Arya, Mahyuda menginginkan persahabatannya seperti dulu, penuh dengan kebersamaan dan kekonyolan bersama, tidak seperti saat ini, persahabatannya mulai merenggang hanya karena kehadiran sosok gadis yang belum lama ini mereka kenal.


Mahyuda berjalan menyusuri koridor yang tampak lengang karena jam pelajaran masih berlangsung, ia sengaja membolos karena ingin menghindari kedua sahabatnya itu, entah apa yang ia pikirkan sekarang. Ia juga merasa tidak enak pada Dara karena gadis itu pasti sakit hati dengan apa yang Fikri ucapkan tadi. Bagaimana ia harus menjelaskannya pada gadis itu kalau temannya itu hanya bercanda? Mahyuda benar-benar bingung memikirkannya.


Udara malam menusuk kulitnya, Mahyuda tidak peduli jika ia harus beku saat ini juga. Ia benar-benar bingung memikirkan semuanya. Namun, pikirannya langsung teralihkan kala ia melihat sesuatu yang familiar tak jauh dari tempatnya berdiri. Seorang wanita paruh bayah yang sangat-sangat ia kenali dan seorang gadis yang Mahyuda yakini seumuran dengannya memakai masker yang menutupi separuh wajahnya dan memakai topi hitam saling berhadapan.


Mahyuda mencoba mengingat-ngingat lagi, sepertinya ia pernah melihat gadis dengan masker dan topi itu, gadis itu benar-benar tak asing lagi di matanya. Tapi Mahyuda tidak bisa mengingatnya, yang ada di pikirannya saat ini adalah, apa yang di lakukan wanita paruh bayah itu dengan gadis yang memakai masker dan topi hitam di sana.


"Tante Saras lagi ngapain sama tuh cewek?" gumam Mahyuda.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2