TRIO JONES

TRIO JONES
Episode 24 - Amarah


__ADS_3

Happy Reading😉


Kedua tangan berlumur darah yang hampir mengering itu gemetar hebat, bahkan ia sendiri tidak sadar menitikan air matanya. Tidak hanya kedua tangannya, bahkan tubuhnya juga ikut gemetar. Kejadian tadi terus berputar-putar di otaknya ketika ia mendapati sahabatnya itu jatuh dari atap gedung sekolah yang tingginya lebih dari seratus limapuluh meter itu. Arya terduduk di depan pintu ruang UGD seraya menekuk kedua lututnya. Tentu saja ia menumpahkan semua kesedihannya.


Arya merasakan ada seseorang yang menyentuh kedua bahunya, barulah ia perlahan mendongakkan wajahnya dengan mata yang sudah memerah dan masih di sertai gematar hebat di sekujur tubuhnya. "Arya... tenangkan dirimu, Nak," dalam kondisi normal mungkin Arya akan menepis, bahkan menghajar seseorang yang berada di hadapannya saat ini, ya. seseorang yang memegang kedua bahunya tak lain dan tak bukan adalah Ayah tirinya sendiri. Pria yang benar-benar di bencinya di permukaan bumi ini. Namun, tidak dengan sekarang. Arya merasakan sesuatu yang berbeda dari Ayah tirinya itu, sorot matanya benar-benar menyiratkan rasa kekhawatiran terhadap dirinya, tanpa adanya kebohongan.


Rava menghela napas sejenak sebelum ia beralih menarik kedua tangan Arya lalu membersihkan perlahan noda darah di telapak tangan Arya menggunakan sapu tangannya. "Tenang Nak, temen kamu pasti baik-baik saja, doakan. Semoga tidak terjadi apa-apa sama dia," suara itu kembali terdengar ketelinga Arya, suara yang entah sejak kapan mampu membuatnya merasa sedikit tenang. Arya tidak bisa mengeluarkan suaranya sama sekali. Matanya hanya terfokus pada wajah Ayah tirinya itu yang tengah serius membersihkan darah di telapak tangannya. Bahkan Arya tidak menolak saat pria itu membantunya untuk berdiri dan menuntunnya untuk duduk di kursi yang telah tersedia di depan ruangan itu setelah pria itu selesai membersihkan telapak tangannya.


"Sa—ya... takut," gumam Arya akhirnya seraya mengepalkan kedua tangannya. Ya, dirinya takut akan kembali merasakan kehilangan orang yang di sayangnya. Bagi Arya, Mahyuda sudah lebih dari seorang sahabat. Arya benar-benar sudah menanggap Mahyuda sebagai saudaranya sendiri. Maka dari itu, arya benar-benar merasa takut jika terjadi apa-apa pada Mahyuda.


Perlahan Rava menggenggam tangan Arya seraya tersenyum menenangkan sebelum kemudian ia berkata. "Tidak ada yang perlu kamu takuti Nak, hidup dan matinya seseorang sudah ada yang mengaturnya. Jadi, jika kamu takut kehilangan sahabat terbaikmu. Teruslah memohon dan berdoa pada Tuhan. Agar Tuhan dapat mengabulkan permintaanmu."


Lagi, Arya merasakan sosok yang berbeda dari Ayah tirinya ini. Semua ucapannya benar-benar terdengar tulus. Sejenak Arya sempat berpikir, apa ia salah selama ini telah menilai pria ini sebagai seorang bajingan yang telah merusak keharmonisan keluarganya? Rasanya sekarang ia tidak ingin mempercayai itu semuanya ketika Arya melihat sisi baik dari sosok pria di sampingnya ini.


Belum sempat Arya membuka mulutnya untuk berbicara, seorang suster dengan wajah panik keluar dari ruang UGD itu seraya menghempiri Rava yang juga secara refleks beranjak dari duduknya. "Dokter Rava, pasien harus segera di oprasi karena beberapa tulang rusuknya patah, pasien juga banyak kehilangan darah Dok, golongan darah pasien AB negatif, dan kita kehabisan stock AB negatif, Dok." Ujar Suster itu seraya menceka keringat di dahinya.


Rava menoleh sekilas pada Arya sebelum beralih pada suster itu. "Segera pindahkan pasien ke ruang oprasi, saya akan mencoba menghubungi keluarga pasien untuk meminta persetujuannya dan menanyakan golongan darah AB negatif pada mereka,"


"Baik Dok," sahut suster itu sebelum kembali masuk ke ruang UGD.


"Arya, kamu jangan panik ya. Saya akan berusaha yang terbaik untuk menyelamatkannya, sekarang coba kamu ingat-ingat siapa yang punya golongan darah yang sama dengan Mahyuda." Kata Rava pada Arya yang tampak bergeming di tempatnya.


"Golongan darah saya AB negatif Dok, tolong ambil darah saya," Kata seorang gadis yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Arya dan Rava. Gadis itu masih tampak terengah-engah karena mencoba untuk menstabilkan deru napasnya yang tidak beraturan.


"Dara," gumam Arya tak jelas sekaligus merasa sedikit terkejut dengan kedatangan gadis itu, pasalnya yang Arya tau gadis ini sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengan Mahyuda, lalu kenapa gadis ini masih tampak peduli pada sahabatnya itu? Pikir Arya.


"Kita tidak punya banyak waktu lagi, Arya kamu tunggu disini, saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Mahyuda. Dan kamu, ayo segera ikut saya untuk pengambilan darah," kata Rava memotong. Baru saja Rava hendak beranjak melangkahkan kakinya, Arya mencekal tangannya. Dengan gerakkan refleks Rava menoleh pada Arya.

__ADS_1


"Saya mohon, lakukan yang terbaik. Selamatkan sahabat saya," pinta Arya dengan suara paraunya seraya menghembuskan napasnya lemah.


Rava hanya membelasnya dengan deheman dan senyum menenangkan lalu beranjak pergi meninggalkan Arya dengan Dara yang mengekor di belakangnya, sekarang yang Arya punya hanyalah sebongkahan harapan besar untuk kesalamatan sahabatnya.


***


Fikri yang mendengar teriakkan Arya dari ponselnya langsung segera bergegas berlari menuju sekolahnya, jantungnya berdetak tidak normal, firastnya mendadak tidak enak setelah ia tiba di gerbang sekolah dan melihat ada sekumpulan siswa siwi yang tengah berkeruman di parkiran, dengan susah payah Fikri mencoba menerobos kerumunan siswa yang memadati parkiran itu. Terdapat polic line yang melingkari sebuah mobil yang sudah di penuhi dengan darah.


"Gue nggak nyangka ya dia bunuh diri,"


"Gilaa... gue nggak nyangka murid kayak dia bisa bunuh diri kayak gitu,"


"Miris banget ya, ketua OSIS kita keknya depresi banget sampe-sampe bunuh diri gitu ... merinding gue jadinya,"


"Sumpah gue nggak nyangka banget kalo ketua OSIS kita nekat bunuh diri."


"LO SEMUA BILANG APA HA? YUDA NGGAK MUNGKIN BUNUH DIRI!!" teriak Fikri persis seperti orang ke setanan. Napasnya terengah-engah karena sekelilingan saat ini menatatapnya ketakutan. Kerumuanan padat tadi pun mulai merenggang karena Fikri terus-terusan menghajar siswa yang di pukulnya tadi sampai babak belur.


"YUDA NGGAK MUNGKIN BUNUH DIRI!!! KALIAN SEMUA HARUS PERCAYA SAMA GUE!" teriak Fikri lagi sambil menatap sekelilingnya.


"Kenyataannya emang gitu Fik, Yuda bunuh diri," kata siswa salah satu siswa yang ikut menyahut.


"Lo harus bisa menerimanya Fik, Mahyuda benar-benar bunuh diri, Arya sendiri nemuin Yuda di atas mobil itu setelah dia lompat dari atas sana," siswa lainnya pun ikut menyahut.


Fikri yang berada di tengah-tengah kerumunan itu pun menatap beringas sekelilingnya, Fikri sangat yakin dan sangat percaya Mahyuda tidak akan melakukan hal sekonyol itu meskipun Mahyuda tengah menghadapi keputusasaan dalam hidupnya. Ya, setidaknya itu yang benar-benar di percaya Fikri saat ini, pasti ada yang tidak beres dengan kejadian ini.


"GUE BILANG DIA NGGAK BUNUH DIRI!!! BUBAR LO SEMUA!" teriak Fikri sembari menunjuk beringas satu persatu siswa yang tengah mengelilinginya. Karena mereka belum pernah melihat sisi menakutkan dari Fikri yang saat ini, mereka pun memilih mundur dan bubar dari parkiran untuk menghindari resiko terkena amukan dari Fikri.

__ADS_1


Setalah berhasil menstabilkan deru napasnya. Fikri segera merogoh saku celananya setelah merasakan getaran dari ponselnya, tanpa basa-basi Fikri langsung membuka pesan via WhatsApp yang dikirm Arya.


Rumah sakit Peduli Kasih.


Setelah membaca pesan teks tersebut, Fikri segera bergegas keluar dari gedung sekolah dan mencegat taksi pertama yang melintas di depannya untuk segera menuju ke rumah sakit yang di maksud Arya. Setalah sampai di rumah sakit Fikri bahkan tidak memedulikan teriakkan sopir taksi yang meminta bayaran padanya, pikirannya terlalu kalut memikirkan keadaan sahabatnya saat ini.


Setelah menanyakan ruang rawat Mahyuda dengan seorang resepsionis. Fikri segera berlari menuju ruangan yang di maksud resepsionis tersebut, sejenak Fikri berhenti lima meter dari jarak Arya yang berada di depannya sana. Fikri mencoba menenangkan dirinya dengan cara menstabilkan deru napasnya yang masih terengah-engah. Setelah merasa cukup tenang Fikri pun mengambil langkah panjang mendakti Arya.


"Dia nggak mungkin bunuh diri kan?" gumam Fikri setelah berada tepat di depan Arya.


Arya yang tengah melamum sontak saja tersadar dari lamunannya seraya mendongak ke arah sumber suara sebelum ia membuka suaranya. "Hmm... Dia nggak mungkin sebodoh itu," Ujar Arya lemah seraya menundukkan kepalanya.


Fikri mengamati Arya sejenak, seragam putih yang di kenakan sahabatnya itu sudah banyak terdapat noda darah. Bahkan Fikri juga sempat melihat sisa-sisa noda darah yang masih ada di telapak tangan sahabatnya itu. Fikri pun mendudukan dirinya di samping Arya seraya menghela napas berat. "Dia nggak papakan, Ar? Dia pasti baik-baik aja, kan?" Tanya Fikri seraya mengguncang bahu sahabatnya itu.


Yang Fikri dengar hanyalah isakan menahan tangis tanpa suara dari sahabatnya itu. "Gu—gue nggak tau Fik, darahnya banyak banget tadi," Ujar Arya di sela-sela isakkannya.


"Dia nggak bunuh dirikan Ar? Yuda nggak mungkin gitu, kan Ar?" Tanya Fikri lagi semakin keras mengguncang bahu sahabatnya.


"Gue nggak tau Fik, sikapnya mendadak aneh pas dia bilang ke gue mau izin keluar kelas. Terus dia juga kirim pesan LINE ke gue, kata-katanya itu aneh Fik, dan nggak lama setelah itu, gue nemuin dia jatuh di atas mobil yang lagi gue senderin, gue benar-benar nggak tau apa yang sebenarnya terjadi sama dia," jelas Arya seraya mengusap wajahnya gusar.


"Gue yakin pasti ada yang nggak beres, Yuda nggak mungkin lakuin hal bodoh kayak gitu kalo lagi depresi, pasti ada hal lain yang dia sembunyikan dari kita." Kata Fikri yakin.


"Gue juga berpikir begitu Fik,"


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2