
Terhitung sudah tiga hari Arya tidak masuk ke sekolah setelah kejadian tiga hari yang lalu itu, Arya sangat terpukul dengan kenyataan pahit yang ia alami, ya. katakanlah dia seperti ABG lebay yang meng-galau hanya karena hal sepele seperti itu, tapi itulah kenyataannya. Hidupnya sekarang ini serasa benar-benar pelik, dia sangat menyayangi Anjani tetapi apa boleh buat? perbedaan di antara mereka memanglah hal yang tak bisa dipungkiri.
Arya menatap gundukan tanah di depannya sambil mengusap batu nisan itu, ingatannya menerawang jauh ke dua tahun yang lalu saat ayah-nya masih ada, biasanya disaat dia merasa gundah seperti ini Ayahnya-lah yang selalu memberikannya nasihat, sekarang ia benar-benar tidak ada lagi tempat untuk bisa berbagi keluh kesah. Orang yang selalu memberikannya kata-kata mutiara itu kini sudah terbaring didalam tanah sana.
Arya, rindu. Pa, sekali aja papa dateng ke mimpi Arya, Arya pengen cerita sama papa, tentang apa yang Arya
rasakan saat ini Pa.
Arya menghembuskan napasnya perlahan, diliriknya arloji yang melingkar dilengannya itu. jam sudah menujukan pukul 23.15, namun Arya sama sekali tidak merasa takut dengan sekitarnya yang banyak di penuhi gundukan-gundukan tanah itu, ia ingin lebih lama lagi disini, di samping makam Ayahnya.
“Pa, Arya boleh nggak ikut Papa aja? Arya udah gak betah, Pa. Tinggal bareng mereka.” Gumam Arya sambil menatap nanar nisan Ayahnya itu.
“Arya bosan, Pa. Lihat mereka seolah-olah peduli sama Arya, tapi nyatanya mereka hanya membutuhkan tanda tangan Arya saja, Pa.” Gumamnya lagi sambil tertawa hambar.
“Mama udah bukan mama yang Arya kenal dulu, Pa. Mama berubah saat ketemu lelaki bajingan itu.” Arya menggelengkan kepalanya saat mengingat sikap Ibu-nya yang seolah-oleh mengacuhkannya.
“Arya benci mereka, Pa.” Arya menceka air matanya yang sudah turun sedari tadi, kehidupannya benar-benar pelik setelah sang Ayah sudah pulang kepangkuan yang maha kuasa.
“Pa, andai papa tau, saat ini hidup Arya makin pelik, Pa. Terlebih dengan kenyataan pahit yang Arya alami beberapa hari yang lalu...” sejenak Arya menghentikan kalimatnya menghirup udara malam yang mulai dingin lalu menghembuskan perlahan, “Lucu banget, Pa... Hanya karena perbedaan agama Arya pisah sama dia!” gumam
Arya pilu sambil tertawa hambar. Malam ini ia benar-benar ingin menumpahkan segalanya pada sang-Ayah.
“Maaf ya, Pa. Arya jadi bego gini hanya karena hal itu... Arya Cuma belum bisa terima aja dengan kondisi seperti ini... Rasanya benar-benar gak adil, Pa. Dulu Papa yang pergi ninggalin Arya, sekarang Arya harus rela ninggalin orang yang Arya sayang... bukannya itu benar-benar nggak adil, kan. Pa?” Tanyanya retoris. Entah berapa tetes air mata yang sudah ia keluarkan malam ini, hanya di depan makam Ayahnya-lah ia berani menumpahkan air mata itu, air mata yang sudah dua tahun belakangan ini di tahannya. Akhirnya malam ini adalah puncak dari pertahannya itu, segala pertahannya runtuh begitu saja setelah ada hal yang membuatnnya semakin pelik lagi.
Arya tersenyum pilu menatap ukiran nama Ayah-nya itu, “Arya pamit pulang dulu, Pa... Arya janji gak bakal nangis kayak gini... janji, Pa... Papa bisa pegang janji Arya.” Arya menghapus kasar sia-sia air mata disekitar pinggiran matanya.
Arya berdiri dari duduknya, memandang sekali lagi makam Ayahnya itu sambil kembali tersenyum pilu lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan pemakaman.
***
Arya memarkirkan mobil-nya di garasi khusus mobilnya sendiri, setelah itu Arya memamsuki rumahnya dengan perlahan mendorong pintu masuk agar Mama atau-pun Papa tirinya itu tidak mengetahui kepulanganya, Arya sudah berada di ruang tengah, suasananya begitu gelap semua lampu sudah dimatikan, baguslah, pikirnya. Itu artinya mereka semua sudah tidur, lagian Arya sangat tidak ingin melihat dua orang itu.
Tepat saat ia melangkahkan kakinya ke anak tangga pertama, lampu ruang tengah tiba-tiba menyala membuat pergerakan langkah kaki Arya terhenti dan memutar tubuhnya menghadap kebelakang, ia sudah sangat tahu siapa orang itu? sial, ingin sekali rasanya Arya mengumpat ketika melihat dengan jelas orang itu, seorang pria berusia 13 tahun lebih tua darinya itu yang sekarang menyandang predikat sebagai ‘Ayah Tiri’-nya sendiri, kini tengah menatapnya.
Tidak...Bahkan untuk mengakui pria itu sebagai Ayah tiri-nya sendiri saja ia tidak sudi.
Arya menaikin sebelah alisnya menatap pria itu yang juga menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikannya. “Kenapa?” Tanya Arya datar.
Pria itu menghela napasnya sejenak sebelum berkata, “Dari mana kamu?” Tanyanya dengan nada suara rendah. Jujur saja meskipun Arya sangat membencinya sebagai Ayah tiri-nya tetap saja sekarang Arya adalah anaknya. Sudah menjadi tanggung jawabnya untuk mengkhawatirkan anak tirinya itu.
Arya berdecak sinis mendengar pertanyaan itu, “Apa saya harus lapor 24 jam kalo saya mau kemana saja?” Tanya Arya sarkas.
Pria itu menggelengkan kepalanya, tidak. Ia bahkan tidak marah ketika Arya berlaku tidak sopan padanya. Toh ia juga menyadari kesalahannya selama ini, kenapa anak itu bisa jadi se-temprament seperti ini. Itu semua karenanya.
__ADS_1
“Saya mengkhawatirkan, kamu.” Ujar pria itu tulus.
Lagi, Arya mendengus sinis sambil mengalihkan pandangannya dari pria itu. “Khawatir? Hahah... lucu sekali...” Tawa Arya hambar, lalu kembali menatap pria itu. “Sejak kapan anda peduli terhadap kehidupan saya? Bukannya anda senang jika saya sama sekali tidak tinggal lagi di rumah ini? bukankah itu yang anda inginkan ‘TUAN RAVA ADIWIJAYA’ yang terhormat?” Ujar Arya dengan menekankan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya itu. Arya benar-benar sudah muak dengan semua drama keluarga yang sudah seperti sinetron ini.
“Arya... dengarkan saya, saya sama sekali tidak mengingkan apapun dari rumah ini... sungguh, masalah harta warisan Papa kamu,itu mama kamu yang mengincarnya bukan saya.” Tegas Rava dengan rahang sudah
mulai mengeras.
Rava menghembuskan napasnya kasar, “Saya juga tidak tahu kenapa mama kamu jadi
seperti itu.” ucapnya frustasi.
Kembali Arya berdesis sinis menatap tajam Ayah-tirinya itu, “Mama saya berubah itu semua karena anda... Karena anda sudah dengan lancangnnya masuk ke kehidupan keluarga saya...” Ucap Arya sarkas.
“DAN ANDA JUGALAH YANG SUDAH BUAT PAPA SAYA MENINGGAL.” Teriak Arya emosi, dadanya naik turun mencoba menstabilkan pernapasannya.
Rava menundukan kepalanya sejenak sebelum menatap kemabli anak tirinya itu, “Ar... harus berapa kali lagi saya jelaskan, bukan saya yang buat Papa kamu meninggal... bukan sa--”
“BULLSHIT.” Potong Arya sebelum Rava menyelesaikan kalimat yang selalu membuatnya merasa muak itu.
“Omongan bajingan seperti anda itu tidak pantas untuk di perc--”
Plakk....
“ARYA jaga mulut kamu... dia itu sekarang PAPA kamu, jaga sopan santunmu!” Ucap Ibunya sambil menatap Arya tajam.
See? Bukankah sekarang dia sudah terlihat seperti anak tiri Ibu-nya sendiri sekarang? Arya benar-benar muak dengan semua ini, bahkan Ibu yang selalu ia banggakan selama ini kini sudah berubah menjadi monster mengerikan setelah menikah dengan pria bajingan itu.
Arya menatap datar sang Ibu sambil memegang pipi sebelah kanannya, “ Terimakasih Ma... Terimakasih atas tamparan pertama yang mama berikan, ini sudah cukup membuktikan Ma... Kalau Mama lebih memilih Pria bajingan ini ketimbang anak kandung Mama sendiri... Bahkan dengan bodohnya Mama membela orang yang sudah
membunuh Papa.”
Tidak... sebenarnya bukan kalimat itu yang ingin dia ucapkan pada sang Ibu, ia sangat menyayangi Ibunya... tetapi Arya harus mengucapkan kata-kata bodoh itu hanya karena ia ingin melampiaskan semuanya sekarang.
“DIA BUKAN PEMBUNUH AYAH KAMU ARYA.... AYAH KAMU MENINGGAL ITU KARENA SUDAH TAKDIR.” Jerit Mama frustasi, Rava segera menenangkan istrinya yang berteriak histeris.
“IYA MA TAKDIR... SEANDAINYA PRIA BAJINGAN INI GAK MASUK KE KEHIDUPAN KITA PASTI PAPA MASIH ADA MA!” Balas Arya tak kalah nyaringnya, Arya benar-benar emosi menghadapi sikap Ibu-nya yang seperti sekarang ini, tanpa banyak bicara lagi Arya memutar tumitnya beranjak meninggalkan kedua orang itu, Arya menulikan telinganya ketika sang ibu memanggil-manggilnya, Arya sama sekali tidak peduli akan hal itu.
Dengan kasar Arya membuka pintu mobilnya kembali mengendarai mobil itu dengan kecepatan yang tidak bisa dikatan rata-rata, ia mengendarai mobil persis seperti orang kesetanan, tak sedikit orang yang mengumpat karena ulahnya yang ugal-ugalan di jalan itu. Arya tidak peduli akan segala umpatan itu, yang ia butuhkan sekarang adalah... ketenangan.
Arya menepikan mobilnya dipinggir jalan yang sepi, sejenak ia menghembuskan napasnya perlahan sambil bersandar, kejadian saat Ibu menamparnya tadi sangat membekas diingatnya, itu adalah kali pertama pertengkarannya dengan sang ibu yang menyebabkannya mendapatkan tamparan itu, ibunya benar-benar berubah semenjak bertemu dengan pria itu.
Arya menghembuskan napasnya kasar ketika kejadian tadi berputar lagi dibenaknya, Arya pun merogoh saku celananya mengambil ponsel dan lalu mengeceknya, banyak notifikasi bermunculan ketika ia menghidupkan data selulurnya, hal yang di lihatnya pertama kali adalah miss call dari Anjani sebanyak 215x, Arya mengabaikan notif tersebut lalu beralih ke aplikasi LINE nya. Tentu saja notifikasinya jebol 999+, banyak sekali chat dari
__ADS_1
orang-orang yang tidak ia kenal. Mayoritas perempuan semua, Arya geleng-geleng kepala melihatnya namun ia sama sekali tidak membuka pesan itu, ia malah langsung tertuju pada salah groub chat-nya.
( STOCK COWOK GANTENG (3) )
Mahyuda Narendra :Arya, Fikri... lo berdua kemana nyet? (20.30)
Mahyuda Narendra :Woy kalian pada kemana sih? (22.30)
Mahyuda Narendra :Gue kesepian Bro. (22.35)
Mahyuda Narendra :Etdahh gue bener-bener dikacangin nih? BALES WOY BALES (22.40)
Fikri Dirgantara :Brisik bego! (22.50)
Mahyuda Narendra :Akhirnya... ada yang bales ugha! (22.51)
Gue kesepian bro. (22.51)
Bokap ama Nyokap gue keluar negeri, lo berdua kesini dong. (22.51)
Fikri Dirgantara :Gue otw, Nyet. Gue takut pulang kerumah. Ini gue lagi di club. (22.55)
Gue OTW sekarang jangan lupa siapin cemilan yang banyak. (22.55)
Mahyuda Narendra :Sip.. gue tunggu, Ajakin Arya juga ya! (23.00)
Fikri Dirgantara :Gue gak tau tuh bocah kemana, gue telpon cewek mulu yang angkat, oprator maksudnya (23.03)
@AryaXaverio, woy lo dimana Bro? (23.03)
Kan gak dibalesnya...yaudah gue otw rumah lo sekarang. (23.07)
Mahyuda Narendra : Buruan!! (23.10)
Arya Xaverio : Kalian dmn? (01.30)
Mahyuda Narendra : Lah, baru muncul bro... lo kemana aja sih? (01.30)
Buruan kerumah gue! (01.30)
Arya Xaverio : OTW! (01.31)
Arya menutup kembali aplikasi LINE, mungkin bersama mereka akan membuatnya sedikit lebih bisa melupakan semua permasalahan yang ia hadapi saat ini, kembali Arya menghembuskan napasnya kasar, lalu ia pun kembali mencap gas mobilnya dan melesat dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
***