TRIO JONES

TRIO JONES
Episode 21 - Rencana


__ADS_3

Happy reading 😊


Tidak ada Fikri hari ini, cowok jangkung itu tengah sibuk karena ia baru saja di tunjuk sebagai salah satu perwakilan sekolah untuk mengikuti kontes putra putri SMA se-Jakarta dan yang Mahyuda tahu Fikri ketiban sial yang amat luar biasa karena pasangannya mengikuti kontes itu adalah April, cewek yang sudah mempermalukan Fikri di depan umum yang sempat heboh beberapa waktu lalu. Jadilah Mahyuda sendirian hari ini, karena Arya pun juga sedang fokus dengan klub barunya, klub photography.


Saat Mahyuda sedang merasa uring-uringan di lapangan futsal. Matanya tak sengaja menangkap pergerakan mencurigakan dari seorang gadis yang tengah ia selidiki saat ini, buru-buru Mahyuda beranjak dari duduknya dan segera mengikuti gadis itu secara diam-diam. Mulai dari gadis itu keluar gerbang sekolah sampai gadis itu menghilang dari pandangan Mahyuda karena di bawa oleh taxi, buru-buru Mahyuda langsung menghentikan taxi yang baru saja lewat di depannya. Setelah Mahyuda menaikki taxi ia segera memberitahu sopir taxi tersebut untuk mengikuti taxi yang berada di depannya, kemana gadis itu akan pergi? Pikir Mahyuda bingung.


Dan Mahyuda semakin dibuat bingung karena taxi yang di naikki gadis yang diikutinya berhenti di depan salah satu rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan. Setelah membayar ongkos taxi-nya. Mahyuda segera keluar dari taxi dan mengikuti gadis itu dalam radius yang cukup jauh.


Mahyuda menghentikan langkahnya ketika melihat gadis itu memasuki salah satu ruang rawat kelas VVIP. Ia perlahan mendekati pintu ruangan itu. Namun, pergerakkan kakinya terhentik satu meter di depan pintu ruangan itu karena matanya tak sengaja menangkap seorang wanita paruh baya yang sangat ia kenali di dalam ruangan yang gadis tadi masukki.


Mahyuda meneguk salivanya sendiri, ternyata dugaannya benar selama ini. Gadis itu ada hubungannya dengan wanita paruh baya itu, tak satu pun percakapan antara wanita paruh baya dengan gadis itu terlewatkan olehnya, semua terdengar jelas di telinga Mahyuda bahkan ia juga merekam kejadian di dalam ruangan itu menggunakan kamera ponselnya. Setelah merasa cukup dengan segala bukti yang dibutuhkannya untuk membongkar kedok gadis itu cukup. Mahyuda segera pergi meninggalkan rumah sakit itu.


Setelah sampai di kamar asramanya Mahyuda segera mendudukkan dirinya di atas ranjang tidurnya seraya menstabilkan detak jantungnya yang berdetak secara tidak normal. Biar bagaimanapun fakata yang baru saja ia ketahui kali ini benar-benar diluar akal sehatnya. Bahkan Mahyuda berusaha meyakini dirinya sendiri bahwa semua yang baru saja ia ketahui itu hanyalah sebuah mimpi atau khayalannya saja. Namun, jelas saja ia tidak bisa menyangkalnya lagi dengan segala bukti nyata ini.


Oh god... kenapa jadi semakin membingungkan kayak gini sih?—Pikir Mahyuda gusar.


Sekali lagi ia menonton video yang ia rekam tadi. Mahyuda jadi semakin bingung bagaimana ia harus menyalamatkan sahabatnya dari gadis itu dan juga wanita paruh baya itu. Ah... rasanya kepala Mahyuda ingin pecah saat ini juga jika memikirkannya.


Dikirimnya video tersebut pada Fikri melalui whatsApp dan tidak sampai satu menit bukannya membalas pesan tersebut Fikri malah meneleponnya. Segera Mahyuda menggeser tombol berwarna hijau dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


"Dugaan kita bener Fik... Tante Saras ada hubungnya dengan dia,"


***


Setelah menceritakan semuanya pada Fikri. Mahyuda segera mencari Arya untuk menjelaskan semuanya. Berkali-kali Mahyuda mencoba menelepon Arya. Namun, ponsel sahabatnya itu sama sekali tidak bisa di hubungi. Mahyuda terus menyusuri koridor sekolah dan menanyakan keberadaan Arya pada siswa yang tak sengaja berpapasan dengannya. Namun satupun tidak ada yang tahu di mana keberadaan sahabatnya itu.


Mahyuda mengusap wajahnya gusar karena tidak menemukan Arya di ruang klubnya. Segera Mahyuda kembali menutup ruang klub potography dan kembali melangkahkan kakinya untuk mencari Arya. Langkah Mahyuda terhenti karena ia baru saja mengingat satu hal. Taman belakang sekolah, itulah yang di ingat Mahyuda. Biasanya sahabatnya itu selalu ke sana jika merasa bosan atau sekedar mencari objek untuk di fotonya.

__ADS_1


Buru-buru Mahyuda berjalan cepat menuju taman belakang sekolah yang berada di bagian selatan sekolah. Lagi, langkahnya terhenti tepat saat ia hendak berbelok ke arah taman ketika ia mendengar suara Arya.


"Karena... gue udah mulai sayang sama lo. Thal,"


Dan Mahyuda hanya bisa mendengarkan obrolan Arya dan Athala dalam diam. Kalau sudah menyangkut perasaan, Mahyuda jadi tidak tega untuk memberi tahu Arya yang sebenarnya tentang gadis yang sekarang duduk di samping Arya itu. Perlahan Mahyuda menghembuskan napasnya berat lalu berbalik arah dan mengurungkan niatnya untuk memberitahu Arya yang sebenarnya.


Gue harus cari cara lain agar Arya tahu dengan sendirinya, kalo gue yang ngomong, gue nggak bakal sanggup liat dia patah hati lagi—gumam Mahyuda.


Segera Mahyuda mengeluarkan ponselnya dan mendial nomor Fikri, tak berapa lama terdengar nada sambung dan di jawab oleh Fikri di seberang sana.


"Fik, Arya suka sama Athala, gue nggak bakal sanggup kasih tau dia yang sebenarnya tentang Athala, Fik. Gue nggak mau liat dia patah hati lagi," gumam Mahyuda dengan suara paraunya.


"Kayaknya kita harus cari cara agar Athala sendiri yang ngakuin semua perbuatannya selama ini,"


Terdengar helaan napas dari ujung sana, sebelum Fikri berkata. "Gue setuju sih Yud, tapi apa nggak kelamaan ya, kalo kita cari cara lain supaya Athala ngakuinnya sendiri? gue takutnya perasaan Arya semakin dalam, Yud!"


"Sialan lo bangke Kuda," umpat Fikri di ujung sana.


"Udah ah, gue mau mikir dulu. Good luck Bro," kata Mahyuda seraya memutuskan panggilannya secara sepihak.


Bagaimana pun caranya Mahyuda harus bisa membuat Athala mengaku dengan sendirinya kepada Arya, Mahyuda tidak peduli jika itu harus mengancam kesalamatannya. Setelah berpikir sejenak akhirnya satu ide terlintas di benaknya, lalu ia tesenyum kecut. Mungkin kali ini dia harus kembali menyaksikan sahabat terbaiknya itu patah hati lagi.


"Ini yang terbaik buat lo Ar, gue nggak bisa biarin lo jatuh cinta sama orang yang mau ngebunuh lo sendiri," gumam Mahyuda gamang.


***


"Dari mana aja Ar?" tanya Mahyuda tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel tepat saat Arya memasuki kamar.

__ADS_1


"Dari taman anggrek yang nggak jauh dari sekolah kita itu, loh. Yang baru aja di resmikan sama wali kota seminggu yang lalu." Jawab Arya sumringah seraya menghempaskan bokongnya di samping Mahyuda yang tengah duduk bersandar di atas sofa panjang di sudut kamar.


"Cerah banget lo hari ini, Ar? Emang di taman abis ngapain aja sih? Jangan bilang lo abis ngintipin emak-emak yang lagi senam poco-poco ya?" cerocos Mahyuda seraya menatap penasaran sahabatnya itu.


"Ngintip palak lo pitak, yakali gue mesum sama emak-emak Yud, ngaco aja lo. Gue juga pilih-pilih kali kalo mau ngintipin orang." Kata Arya di selingi dengan gelak tawanya, dan Mahyuda terpaku beberapa detik melihat gelak tawa sahabatnya itu. Jelas saja Mahyuda tahu apa sebab sahabatnya itu bisa secerah ini, tentu saja karena Athala. Gadis yang di sukai Arya. Bagaiamana mungkin Mahyuda tega jika ia harus mengatakan segala fakta dan rahasia tentang gadis itu? Mahyuda tidak sanggup melihat sahabatnya itu kembali merasakan patah hati lagi.


"Gimana? Lo di terima sama Athala?" tanya Mahyuda tiba-tiba.


Sontak Arya menghentikan gelak tawanya seraya memicingkan matanya menatap Mahyuda. "Anjir, berarti lo ngintipin gue pas di belakang perpust tadi ya? Wah... bener-bener bedebah sialan lo Yud, kan malu guenya." Ujar Arya sok dramatis.


"Ckk... aelah... jawab aja woy, gue tadi nggak sengaja denger lo nembak dia pas gue lagi nyariin lo."


"Dia belum mau jawab sih, Yud. Tapi, yah... gue merasa lega aja karena udah bisa jujur sama dia. Gue... duh gimana ya Yud ngejelesinnya. Tiap deket sama Athala itu gue berasa kek deket sama si Anjani," sahut Arya seraya bangkit dari duduknya.


Mahyuda menghela napas sejenak, benar apa yang Fikri katakan. Arya sudah semakin jatuh terlalu dalam pada gadis bernama Athala itu. "Hmm... serah lo ajalah Ar, lo seneng gue ikut seneng juga. Apapun pilihan lo, gue bakal tetep support lo kok,"


"Thank you Bro, gue mandi dulu ya, gerah banget ini," kata Arya seraya meletakan ponselnya di atas nakas dan mengambil handuk lalu segera masuk ke kamar mandi.


Mahyuda hanya bisa geleng-geleng kepala karena frustasi,Satu sisi ia ingin membertahu Arya yang sebenarnya tentang Athala dan tentu saja hal itu akan menyakiti perasaan Arya jika dia mengetahui yang sebenarnya tentang gadis yang di sukainya, dan di satu sisi lainnya Mahyuda juga ingin melihat sahabatnya itu bahagia bisa mencintai orang yang di cintainya. Namun tentu saja Mahyuda tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Mahyuda tidak akan tega melihat sahabatnya harus mencintai seorang pembunuh seperti Athala.


Setelah Arya memasuki kamar mandi, pandangan mata Mahyuda jatuh pada ponsel Arya yang terletak di atas nakas, sejenak Mahyuad menghembuskan napasnya berat lalu di raihnya ponsel Arya dan segera membuka aplikasi LINE di ponsel sahabatnya itu lalu membuka roomchat Arya dan gadis itu. Tanpa pikir panjang Mahyuda langsung mengetikan pesan yang di tujukakn kepada gadis itu.


Temui gue di atap gedung kelas kita, setelah upacara. Ada sesuatu yang harus gue kasih tau ke lo.


Send, pesan pun terkirim pada gadis itu, lalu Mahyuda langsung menghapus pesan yang telah ia kirimkan tadi. Sekali lagi Mahyuda menghembuskan napasnya berat. semoga rencananya berjalan dengan lancar dan tidak menyakiti siapa pun di antara keduanya.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2