TRIO JONES

TRIO JONES
Episode 6 - Meet a Girl


__ADS_3

Untuk yang kesepuluh kalinya, Arya mematikan alarm yang berasal dari jam weker di samping nakasnya itu. Arya masih setia bergelung dibawah selimutnya. Ia benar-benar ngantuk karena ia baru tidur tepat pukul 03.00 dini hari setelah pulang dari rumah Mahyuda. Dan beberapa saat kemudian jam weker itu kembali berbunyi lagi, kali ini Arya benar-benar kesal karena waktu tidurnya di ganggu oleh benda sialan itu, ia pun menyingkap selimutnya secara kasar lalu duduk dikasurnya dan menggambil jam weker itu secara kasar, dan tepat saat ia mematikan jam tersebut ia baru melihat jarum jam itu mengarah keangka berapa, 06.45.


"What the ****? Gue kesiangan, mampus dah gue kalo telat." Gumamnya frustasi sambil menepuk jidatnya, lalu dengan langkah seribu cowok berkulit coklat itu segera bergegas ke kamar mandi yang kebetulan berada di dalam kamarnya, tidak butuh banyak ritual. Yang Arya lakukan ketika masuk di kamar mandinya hanyalah membasu muka dengan gel anti jerawat, gosok gigi, dan tak lupa membasahi rambutnya.


Arya melihat pantulan dirinya dicermin, "Gak papa deh gue gak mandi, yang penting gue tetap ganteng." Ucapnya pada diri sendiri sambil cengengesan, lalu kembali masuk kemarnya. Dan Arya segera mengobrak-abrik lemarinya mencari seragamnya, setelah ketemu seragam itu langsung ia kenakan dengan asal-asalan.


Tak butuh waktu lama, Arya sudah mengunci pintu kamarnya agar tak seorang pun masuk ke kamarnya, termasuk ibunya sendiri. Arya menuruni anak tangga menuju lantai satu rumahnya dan ketika ia melewati meja makan ternyata disana masih ada ibunya plus pria bajingan yang sekarang menyandang predikat sebagai Ayah tirinya. Arya memandang tajam keduanya, tanpa berpamitan sama sekali Arya langsung pergi tanpa sama sekali mengindahkan panggilan ibunya itu.


Setelah sampai di garasi tempat penyimpanan mobilnya, Arya segera mengeluarkan mobil itu dan melaju kencang membelah jalanan ibu kota yang tampak ramai itu, ia bahkan tidak peduli dengan teriakan-teriakan orang yang memakinya yang terpenting ia bisa sampai ke sekolah sebelum upacara di mulai.


Brakkk......


Arya mengerem mendadak, kepalanya sampai terbentur stir. Mobil kesayangannya ditabrak oleh seseorang. Dengan geram Arya turun dari dari mobilnya dan melihat bagian belakang mobilnya yang penyok itu semua disebabkan oleh mobil BMW berwarna putih yang sekarang masih persis menempel di bagian belakang mobilnya.


"WOY KELUAR LO! LO BISA NYETIR GAK SIH?" Kesal Arya sambil memukul keras kap mobil BMW itu.


"WOY LO DENGER GAK SIH? BUKA PINTU LO SEKARANG ATAU GUE PECAHIN KACA MOBIL LO." Arya semakin kesal saja karena tidak ada yang menyahutinya, Arya mencoba melihat pemilik mobil itu dari balik kaca film yang tebal itu, namun ia tidak melihat adanya pengendara di dalam sana, Arya sekali lagi memicingkan matanya melihat lebih jelas siapa orang yang berada di dalam sana. Namun ia malah melihat rambut saja.


Mendadak perasaannya menjadi tidak enak, apa penggendara itu tewas? Pikirnya. Kalau tewas bisa saja dia yang disalahkan. Arya mengenyah segala pikiran buruk itu. lalu ia mengitari mobil itu menuju pintunya, sekali lagi Arya melihat dengan teliti siapa pengendara yang sudah menabrak mobilnya sampai penyok seperti itu. Arya meneguk salivinya sendiri ketika menyadari ternyata sang pengendara itu pingsan, tidak bahkan pengendara itu bisa saja mati? Ahhh Arya gila memikirkan segala kemungkinan itu.


"WOY BUKA WOY... LO DENGER GUE GAK SIH? WOY BUKA." Teriak Arya sambil berusaha membuka pintu itu.


"Gila... gue harus lakuin sesuatu kalo gak tuh orang bisa mati di dalam sana." Gumam Arya gusar sendiri sambil mengedarkan pandangannya kesekitar, dan ya pandangannya langsung tertuju pada batu yang berukuran cukup besar yang berada di tepi jalan itu.


"Ya... gue harus lakuin itu." Gumam Arya sambil memanggutkan kepalanya, lalu ia Arya pun mengambil batu di pinggir jalan itu, ada sedikit rasa ragu di hatinya. Bisa saja orang yang berada di dalam mobil itu akan marah nantinya jika kaca mobilnya di pecahkan. Namun Arya tidak memperdulikan hal itu, dengan tangan yang sedikit gemetar Arya menghujamkan batu itu ke kaca pintu mobil BMW.


Dengan napas memburu Arya segera membuka kunci mobil itu, dan matanya terbelalak kaget saat melihat dengan jelas siapa pengendara itu, ya seorang perempuan dengan seragam sekolah yang ia yakini seumuran dengannya itu tidak sadarkan diri dengan dahi yang berlumur darah akibat berbenturan dengan stir.


Arya pun segera mengeluarkan gadis itu dari dalam mobil, setelah berhasil membawa gadis itu keluar, Arya segera membopongnya masuk ke dalam mobilnya.


"Gue harus bawa dia ke rumah sakit kalo gini." Gumam Arya bingung, di keluarkannya ponsel dari saku celanya, niat hati hendak menelpon salah satu di antara kedua temannya itu malah notifikasi dari instagram bermunculan secara beruntun sehingga ponselnya mati mendadak.


"Shit!" Umpatnya kesal.


"Ini pasti karena Si Curut itu masukin foto semalam." Geram Arya sambil kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celanya.


"Anjir... gue telat." Ucapnya histeris ketika melihat arlojinya yang menunjukan pukul 7.48.


"Gue harus anter dulu ni cewek baru gue ke sekolah." Gumamnya lagi sembari memasuki mobilnya dan melaju dengan kecepatan kencang.


***


"Gila... Fik gue gak sanggup lagi liat mereka yang nguber-nguber kita kayak gini." Ucap Mahyuda yang masih ngos-ngosan karena mereka berdua baru saja terbebas dari kejaran adik dan kakak kelasnya yang terlalu fanatik meminta foto bareng dan tanda tangan.


"Lo pikir kenapa kita bisa gini? Ini semua karena lo bego." Sahut Fikri sedikit kesal.


Mahyuda memandang temannya itu tidak terima, "Kenapa lo malah salahin gue sih?" Tanya polos.


"Kan lo masukin foto kita bertiga malam tadi, dan asal lo tahu karena notif dari IG ponsel gue mendadak mati ndiri." Jelas Fikri menggebu-gebu.


"Populer sih populer Yud, tapi gak gini juga kan?" Ucap Fikri frustasi sambil menggedikan dagunya kedepan tepatnya mengarah di belakang Mahyuda, dan Mahyuda pun memutar kepalanya perlahan, dan matanya hampir copot ketika segerombolan cewek-cewek berlarian menuju mereka dan bukan hanya cewek saja di gerombolan itu bahkan cowok juga ada yang menguber-nguber mereka.


"Fik... LARI..." Teriak Mahyuda sebelum gerombolan itu berhasil lagi menyerbunya.

__ADS_1


Keduanya pun terpingkal-pingkal berlari, bahkan sangking tidak sanggupnya Fikri melepaskan sepatunya dan menenteng sepatu itu sambil berlari, dan kontan saja hal itu menjadi sorotan bagi siswa siswi di SMA Bakti Mulya bahkan ada yang merekam aksi mereka yang berlarian karena di kejar oleh fans fanatik itu.


"KAK YUDA JADI MODEL IKLAN PRODUK BEDAK AKU YA!"


"WOY BRO JADI MODEL PRODUK CELANA DALAM GUE YA!"


"KAK FIKRI, KAK YUDA FOTO BARENG YUK!"


Dan masih banyak lagi jeritan-jeritan yang di abaikan oleh Mahyuda dan Fikri, ini benar-benar sudah di luar batas, mereka tidak menyangka kepopuleran semenyiksa seperti ini. Dan akhirnya mereka berhenti di atap sekolah.


Pltakk...


"Sakit Njir!" Gaduh Mahyuda sambil mengelus-elus kepalanya karena baru saja Fikri menjitaknya.


"Tanggung jawab lo." Gerutunya sambil kembali memasang sepatunya.


"Lo tau, anak-anak tadi ngetawain gue karena gue nenteng sepatu sambil lari-lari kek bocah... otomatis kelar dah harga diri gue." Ucapnya frustasi.


"Santai aja kali Fik.. mungkin gini ya rasanya jadi populer ya... meskipun sedikit menyiksa gini." Ucap Mahyuda sambil menyengir lebar.


Fikri hanya menghembuskan napasnya kasar melihat respon temannya itu, temannya satu itu benar-benar gila akan popularitas. "Untung Si Arya nggak ada, kalo ada pasti dia yang bakal kelar di kejar cabe-cabean itu." Gumam Fikri sambil mengedarkan pandangannya ke bawah sana.


"Ehh... iya, itu Si Arya kemana sih? Kok jam segini belum nongol-nongol tuh anak." Kata Mahyuda sambil celingak-celinguk memandangi parkiran sekolah dari atas atap gedung sekolah.


"Keknya kita hari ini terpaksa harus bolos." Gumam Fikri.


"Nggak ah... gue gak mau, ntar kalo ketahuan Bokap-Nyokap gue abis gue jadi sate padang." Sergah Mahyuda tak terima dengan usul temannya itu.


Mahyuda menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, "Lah kok pilihannya itu sih? Lo bego atau gimana sih Fik? Ya nggak kedua-duannya lah."


"Ehh salah maksud gue, lo pilih mati di uber cabe-cabean itu atau kita bolos aja?" Koreksi Fikri.


"Sama aja bego... kalo gue pilih bolos sama aja pasti gue bakal di jadiin sate padang sama Nyokap Bokap gue." Kata Mahyuda tak mau kalah.


"Bawel lo." Ketus Fikri sambil menjawil telinga temannya itu persis seperti seorang ibu yang sedang marah kepada anaknya. "Sekali bolos gak bakal buat lo jadi bego kok."


***


Tiga puluh menit berlalu, tiga puluh menit pula Arya mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan, tak berapa lama kemudian seorang dokter yang menangani gadis yang ia bawa ke rumah sakit ini keluar dari ruang pemeriksaan, Arya pun segera menghampiri dokter itu.


"Dok? Giman kondisinya?" Tanya Arya to the point.


"Apa anda keluarganya?" tanya balik dokter itu.


"Saya temannya Dok." Jawab Arya cepat, "Jadi gimana keadaan teman saya sekarang?" Ulangnya lagi.


"Teman anda hanya mengalami geger otak ringan, dan sekarang dia sudah siuman."


"Oh syukurlah." Kata Arya lega sambil mengusap wajahnya, entah kenapa tadi sewaktu gadis itu di periksa ia benar-benar mencemaskannya, padahal ia sama sekali tidak mengenal gadis itu.


"Boleh saya masuk, Dok?" Tanya Arya lagi.


"Ya, silahkan. Dia juga sudah bisa pulang hari ini kalau kondisinya sudah benar-benar membaik." Kata Dokter itu, "Saya permisi dulu." Lanjut sang dokter sambil berlalu dari hadapan Arya.

__ADS_1


Dengan pelan Arya mendorong pintu ruangan itu agar tidak terdengar suara deritannya. Arya melangkah masuk perlah, di lihatnya seorang gadis tengah terbaring di brankar itu dengan selang infus yang terpasang di punggung tangannya. Dan gadis itu tempak... menangis.


"Lo udah sadar?" Tanya Arya pelan setelah berada di samping brankar gadis itu.


Merasa terpanggil, gadis itu buru-buru menghapus air matanya secara kasar, lalu pandangannya beradu dengan mata Elang milik Arya itu sambil menatapnya bingung.


"Lo siapa?" Tanya gadis itu parau namun masih bisa di dengar oleh Arya.


Arya tersenyum canggung melihat gadis itu, "Gue orang yang mobilnya lo tabrak." Kata Arya jujur.


Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya sesaat, rasa pusing di kepalanya masih terasa sakit sampai sekarang, dan bayangan ketika ia mengendari mobilnya dengan kencang pun berputar kembali di ingatannya, dan gadis itu kembali mengeluarkan air mata.


"Ehh... kok lo malah nangis sih?" Tanya Arya panik sendiri sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu.


"Sorry." Gumam gadis itu di sela isakan tangisnya.


"Iya... iya gak papa kok, udah ya gue bingung gimana cara ngadapin cewek nangis." Kata Arya lagi sambil duduk di kursi yang berada di samping brankar gadis itu.


"Udah ya, gak usah nangis lagi... mobil gue gak papa kok, penyok doang." Kata Arya lagi jujur.


"Justru gue yang mau minta maaf sama lo, karena gue udah mecahin kaca BMW lo." Ucap Arya hati-hati.


Gadis itu sama sekali tidak marah atau apapun, gadis itu malah menatap Arya intens.


"Eh... kok lo nantep gue horror gitu?" Tanya Arya hati-hati.


Tangan gadis itu terulur menyentuh dahi Arya, dan bodohnya Arya sama sekali tidak tidak menghindar sentuh seperti ini aslinya ia paling anti di sentuh-sentuh sama cewek sembarangan.


"Dahi lo luka!" Ucap gadis itu lemah.


Arya buru-buru memundurkan kepalanya dari tangan gadis itu. "Oh ini... gak papa kok." Kata Arya cepat.


"Arya Xaverio Saputra." Gumam gadis itu menyebutkan nama lengkap Arya.


Refleks Arya lengsung memandang gadis itu, "Ya?" Katanta, "Eh kok lo tau nama gue?" Tanya Arya ketika menyadari ia bahkan sama sekali belum memperkenalkan dirinya kepada gadis ini.


"Name Tag." Kata gadis itu.


Arya pun melirik ke bagian baju sergam sebelah kirinya, ia baru menyadari kalau gadis itu tahu namanya dari name tag yang terpasang pada seragam sekolahnya itu.


"Oh iya, itu nama gue." Kata Arya sambil tersenyum. Entah kenapa emosi yang seharusnya ia keluarkan untuk memaki gadis ini karena telah membuat mobil kesayangannya itu penyok telah sirna begitu saja.


"Gue, Athala." Kata gadis itu memperkenalkan namanya.


"Oh, Athala. Kalo gitu salam kenal." Kata Arya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat.


Dengan ragu gadis itu menerima uluran tangan Arya sambil tersenyum menatap mata Elang cowok itu.


***


TBC


__ADS_1


__ADS_2