
Happy Reading Guys😉
Oprasi berjalan dengan lancar, baik Arya maupun Fikri keduanya tak henti-hentinya mengucapkan ribuan kata syukur. Dan untuk pertama kalinya terjadi didalam hidup Arya dan sekaligus fenomena langkah yang pernah Fikri lihat adalah Arya mengucapkan terima kasih dengan tulus kepada Rava karena telah berhasil melakukan oprasi pada Mahyuda.
"Bokap tiri lo benar-benar debest Ar, berkat beliau Yuda berhasil melewati masa kritisnya," gumam Fikri ketika Rava sudah berlalu meninggalkan mereka di depan ruang oprasi. Arya tidak menjawabnya, ia hanya melihat punggung Rava yang mulai menjauh dari pandangannya itu seraraya menghela napas berat.
Tak lama setelah Rava meninggalkan ruang oprasi. Para perawat pun segera memindahkan Mahyuda ke ruang rawat biasa. Arya dan Fikri belum di perbolehkan masuk untuk menjenguk, karena Mahyuda saat ini masih dalam kondisi yang tidak begitu stabil.
"Lo udah hubungin Om Rendra soal ini?" tanya Fikri sambil menyikut lengan sahabatnya itu.
"Udah tadi, Om Rendra langsung ambil penerbangan, dan mungkin dua atau tiga jam lagi dia bakal sampai ke sini," sahut Arya seraya mendudukkan kembali tubuhnya.
Fikri menoleh sekilas pada sahabatnya itu, wajah Arya tampak pucat dan seragamnya banyak bercak darah. Fikri menghela napas sejenak sebelum membuka hoodie hitam yang ia kenakan lalu ia melempar hoodie itu pada Arya. "Pakai hoodie gue, kesannya lo yang jadi kayak korban pembunuhan disini," ujar Fikri sebelum ikut duduk di samping sahabatnya itu.
"Thanks," gumam Arya seraya mengenakan hoodie yang dilemparkan Fikri tadi padanya. "gue ke toilet dulu, Fik," lanjut Arya sambil beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Fikri menuju toilet.
Fikri mengembuskan napasnya kasar, pikirannya kacau sekarang. Fikri sangat yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan insiden jatuhnya Mahyuda dari atas gedung, dan entah kenapa Fikri langsung memikirkan nama gadis itu, gadis yang tengah mereka selidiki saat ini. Apa gadis itu yang menyebabkan Mahyuda seperti itu? Disaat Fikri memikirkan semua sepekulasi-sepekulasi yang bermunculan di kepalanya, seorang perawat baru saja keluar dari rauang rawat Mahyuda dan mendekatinya.
"Apa Anda salah satu keluarga pasien atas nama Mahyuda?" tanya perawat itu.
"Iya dok, saya saudaranya," jawab Fikri seraya bangkit dari duduknya.
Perawat itu mengulurkan sebuah benda pipih pada Fikri. "Ini ponsel pasien," kata sang perawat itu. "Kalau begitu saya permisi dulu, jika anda mau menjenguk pasien bisa langsung masuk ke ruang rawatnya. Tapi dengan syarat tidak membuat keributan di dalam karena kondisi pasien belum begitu stabil," lanjut perawat itu undur diri dari hadapan Fikri.
Fikri masih bergeming di tempatnya sambil menatap penuh arti ponsel milik sahabtnya itu. tepat saat ia menekan tombol on pada ponsel itu, terpapampang jelas gambar dirinya, Mahyuda dan juga Arya di wallpaper ponsel Mahyuda. Fikri masih ingat betul kapan foto itu di ambil, tepat saat mereka menginjakkan kaki di sekolah menengah atas. Persahabatan mereka bertiga sudah mendarah daging, satu terluka semua ikut merasakannya. Begitulah yang dirasakan Fikri dan Arya saat ini.
"Gue harap lo cepat sembuh Yud," gumam Fikri tanpa sadar mengeluarkan air mata di sudut matanya.
Fikri pun memasukkan password yang telah ia ketahui pada ponsel Mahyuda untuk membuka kuncinya. Dan Fikri cukup lama terdiam menatap layar ponsel itu karena layar ponsel sahabatnya itu menampilkan aplikasi perekam suara yang masih beroprasi. Tanpa pikir panjang Fikri langsung menjeda rekaman itu lalu menyimpan berkas rekaman yang entah apa isinya itu sampai-sampai mencapai durasi hampir dua jam lamanya. Karena Fikri merasa ada yang ada yang janggal segera ia mengirim berkas rekaman itu ke ponselnya melalui pesan LINE. Sebelum Arya semakin mendekat ke arahnya. Buru-buru Fikri memasukkan ponselnya dan juga ponsel Mahyuda ke saku celananya.
"Hoodie gue nggak kedean, kan?" tanya Fikri ketika Arya sudah kembali duduk di sebelahnya.
"Nggak, pas kok ke gue." sahut Arya seraya menyenderkan kepalanya pada senderan kursi yang sedang ia duduki.
__ADS_1
"Oh ya, gue baru inget. Dara ada disini," kata Arya tiba-tiba.
"Dara? Emang kenapa dia?"
"Dia yang udah donorin darah buat Yuda," jawab Arya seadanya, dan langsung membuat Fikri menolehkan kepalanya pada sahabatnya itu.
"Seriusan lo? Si Dara donorin darahnya ke Yuda?" tanya Fikri lagi untuk memastikan.
Dan Arya hanya membalasnya dengan anggukkan kepala saja sebagai kata 'iya'. "Lo inget nggak sih, gue pernah ngomong yang nggak-nggak sama tuh anak? Gue merasa bersalah banget sekarang, pasti dia sakit hati pas gue ngomong gitu," kata Fikri lesu ketika ia mengingat kembali apa yang ia umpatkan pada gadis itu saat Mahyuda dan gadis itu tengah bertelponan tempo hari lalu.
"Jangan lupa minta maaf sama dia, kalo nggak ada dia mungkin pihak rumah sakit udah kewalahan nyari darah yang cocok sama Yuda," kata Arya dan hanya dibalas deheman oleh Fikri.
"Gue udah lupain soal itu," ujar seorang gadis tiba-tiba dan sontak saja baik Fikri maupun Arya langsung mendongakkan kepalanya dan melihat gadis yang sedang mereka bicarakan barusan. Gadis itu tampak pucat dan mata yang tampak memerah, dan Fikri sangat yakin pasti gadis itu habis menangis.
"Dara," gumam Fikri. "Gue bener-bener minta maaf karena udah pernah ngomong yang nggak-nggak tentang lo, dan gue juga mau berterima kasih karena lo mau donorin darah buat saudara gue," ujar Fikri tulus.
"Nggak perlu minta maaf, lo nggak salah," kata Dara seraya ikut duduk di sebelah kanan Fikri.
"Gimana keadaannya sekarang?" tanya Dara sedikit gemetar karena ia berusaha mati-matian agar ia tidak kembali menangis ketika ia mengingat kondisi Mahyuda saat itu yang penuh dengan darah di sekujur tubuhnya.
"Boleh gue liat dia?" tanya Dara dengan suara paraunya.
Fikri menoleh pada gadis itu sesaat sebelum berkata. "Sekarang kita belum bisa jenguk dia, Yuda harus istirahat dengan tenang dulu untuk saat ini, lebih baik lo pulang dulu Ra, biar gue dan Arya yang jagain Yuda di sini," ujarnya.
Namun, Dara menggeleng. Ia menolak apa yang Fikri katakan, bagaimana mungkin Fikri menyuruhnya pulang saat ia tahu kondisi Mahyuda tidak baik-baik saja? Dara ingin disini, Dara ingin menemani Mahyuda hingga dia sadar. Dia tidak akan sanggup jika mengabaikan semua ini. "Nggak Fik, gue mau tetap disini. Gue mau jagain Yuda, gue mau liat dia sadar dulu baru gue bisa tenang," ujar gadis itu.
"Ra, lebih baik lo pulang dulu untuk istirahat, kalau dia sadar, gue janji bakal hubungin lo, gue yakin Yuda nggak bakal suka liat lo yang pucet kayak gini," sambung Arya seraya memberikan tatapan meyakinkan pada gadis itu.
Dan setelah berkali-kali dibujuk oleh Fikri dan Arya akhirnya Dara menurut juga untuk pulang ke asrama dengan dijemput oleh salah satu guru di sekolah mereka yang datang untuk memastikan keadaan Mahyuda.
***
Rendra, pria paruh baya itu baru saja tiba di rumah sakit tempat anaknya di rawat dengan masih mengenakan pakaian kerjanya, tepat setelah mendepat kabar dari Arya, Rendra langsung segera membatalkan rapat pentingnya di Thailand dan langsung mengambil jadwal penerbangan saat itu juga. Setelah menanyakan ruang rawat anaknya pada resepsionis Rendra segera mengambil langkah panjang menuju ruang rawat anaknya.
__ADS_1
Tepat saat ia berada di depan ruang rawat anaknya, pandangannya jatuh pada dua orang yang tengah terlelap dengan posisi terduduk di kursi, Fikri dan Arya, dua sahabat anaknya yang sudah ia anggap sendiri sebagai anaknya juga. Rendra sangat berterimakasih kepada kedua anak itu karena mereka sudah setia bersahabat dengan anaknya. Mereka bedua pasti kelelahan, pikir Rendra.
"Arya," ujar Rendra seraya menyentuh pundak Arya pelan.
Arya menggeliat sejenak karena merasa ada sesuatu yang mengusik tidurnya, matanya terbuka perlahan. "Om Rendra?" gumamnya setengah sadar sambil mengucek matanya seklias.
"Om kapan sampainya? Maaf ya Om kita ketiduran," Lanjut Arya seraya memperbaiki posisi duduknya.
"Om baru saja sampai, bagaiamana kondisi Anak Om? Yuda baik-baik aja kan, Ar?" tanya Rendra dengan raut wajah khawatirnya.
"Yuda baik-baik aja Om, oprasinya berjalan dengan lancar dan sekarang kita Cuma tinggal nunggu dia sadar," jawab Arya.
Rendra mengusap wajahnya seraya mengucapkan kata syukur kepada Tuhan karena masih memberikan keselamatan kepada anak semata wayangnya itu. Rendra terduduk lemas di samping Arya sambil menyandarkan punggungnya. "Ar, bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Yuda hari ini?"
Arya mengangguk sekilas sebelum akhirnya menceritakan semua detail kejadian hari ini kepada Rendra, mulai tingkah Mahyuda yang mendadak aneh pada saat ia izin keluar kelas, pesan LINE aneh yang ia kirimkan kepada Arya sampai Arya yang menemukan tubuh Mahyuda yang sudah bersimbah darah di atas mobil. Rendra semakin mengusap wajahnya gusar, sebanarnya apa yang terjadi pada anaknya? Mahyuda tidak mungkin dengan sengaja menjatuhkan dirinya dari atas gedung itu, pikir Rendra.
***
Pagi harinya, Rendra beserta kedua sahabat anaknya sudah diperbolehkan untuk menjenguk Mahyuda. Rendra sampai tak kuasa melihat anaknya dengan berbagai balutan perban di tubuhnya. Mulai dari perban di kepala, penyangga leher sampai perban di tangan. Rendra menangis melihat kondisi anaknya. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya, betapa bersalahnya dia karena jarang memberikan waktu berkumpul dengan anaknya. Begitupun dengan Arya dan Fikri, keduanya terduduk lemas melihat keadaan sahabatnya saat ini.
"Kenapa separah ini Ar?" gumam Fikri pelan pada Arya.
Arya menggelengkan kepalanya sembari mengusap wajahnya kasar. "Seharusnya waktu itu gue peka dengan perubahan sikapnya, dan seharusnya waktu itu gue ikutin kemana perginya dia, mungkin ini nggak bakal terjadi Fik. Gue yang salah Fik," jelas saja Arya merasa sangat bersalah dengan insiden ini, andai saja apa yang ia katakan itu dilakukannya, mungkin Mahyuda akan baik-baik saja sekarang.
"Ar... ini bukan salah lo," ujar Fikri sembari menepuk pundak sahabatnya itu.
"Gue bakal cari tau sendiri apa yang sebenarnya terjadi, dan yang pasti itu bukan kesalahan lo," lanjut Fikri dan Arya hanya memandang Fikri sekilas dan memilih bungkam.
Setelah Rendra mengatakan akan membelikan Arya dan Fikri makanan, hanya tersisa mereka bertiga di ruang rawat ini. Baik Fikri maupun Arya keduanya juga merasakan sakit melihat sahabat mereka tengah terbaring di atas brankar itu. Jujur saja di sini Arya yang sangat merasa bersalah pada sahabatnya itu. Andaikan saja dia peka akan perubahan Mahyuda, dan andaikan saja Arya mengikuti kemana perginya Mahyuda ketika keluar kelas mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi.
"Yud, gue mohon cepet sadar... tanpa lo TRIO JONES nggak bakal lengkap," gumam Fikri seraya berusaha keras agar air matanya tidak jatuh.
"WakeUp Bro, maafin gue yang nggak peka sama perubahan sikap lo, maafin gue yang kadang buat lo jengkel, maafin gue Yud," ujar Arya seraya menceka air mata yang tanpa sadar keluar disudut matanya.
__ADS_1
***
TBC