
"Menurut lo Hendri ga bakal cari masalah sama Aksan kan?" Cassie yang sudah berbaring di tempat tidur tiba-tiba terpikirkan hal itu, dia khawatir mantannya akan berbuat masalah dengan Aksan karena kejadian tadi
"Seharusnya nggak, kecuali dia benar-benar berengsek" Alora mematikan lampu bersiap lalu bergegas ke tempat tidur sudah siap untuk tidur
"Tapi dia emang berengsek Al" Cassie menatap Alora yang sudah berbaring di sampingnya, mengingatkan Alora kenyataannya
"Maksud gue, berengsek yang berkali-kali lipat sampe gatau malu harus cari masalah dengan teman mantannya. Sudah gausah dipikirkan lagi! Jangan sampai besok kita telat ngantor!" Alora mencoba menenangkan Cassie namun tampaknya Cassie masih merasa khawatir, dia juga mulai merasa takut setelah mengalami perlakukan kasar mantannya itu
"emm, semoga aja dia nggak seberengsek itu" harap Cassie, dia tak menceritakan perbuatan hendri padanya tadi saat Alora belum datang, dia juga tak memberitahu Alora ketakutannya saat ini terhadap Hendri, dia tak ingin membuat Alora merasa khawatir juga tak ingin menambah beban pikirannya karena itu dia memilih untuk memendamnya sendiri
"Oh iya, kok lo tadi bisa bareng Aksan?"
"Oh itu, ga sengaja ketemu di The Hermitage" "Bareng Allen?"
"Allen udah pergi"
"Terus?"
"Terus dia nyamperin gue di meja dan ya kita keluar bareng dari resto" Alora menceritakan pertemuannya dengan Aksan
"Hmm dia sendirian di resto?"
"katanya reuni teman kantor lama"
"Ohhh"
"Shhh, kenapa gue lo tiba-tiba kepo soal Aksan?" Alora merasa aneh
"Eheh... gue nangih janji lo tadi!"
"Masa?"
"Iyaaa! Oh iya, jadi lo tadi bahasa apa sama Allen? Kenapa dia ngotot bangen buat bicara sama lo dan terus ngejar-ngejar lo?" Cassie segera mengubah topik pembicaraan dan memang Cassie penasaran soal hal itu hanya saja tadi sempat teralihkan
"emm, gue bingung harus mulai dari mana" Alora merasa kebingungan untuk menceritakan pembicaraannya dengan Allen
"hahh? Kok bingung? Apa jangan-jangan lo rahasiain sesuatu dari gue?!" Cassie memasang wajah cemberut, ekpresinya itu terlihat lucu dilihat Alora yang berada tepat di depannya
"Bukann! Tapi butuh waktu buat berpikir"
"Kenapa? Apa jangan-jangan... dia nembak lo?!" Cassie yang terlalu bersemangat bangun dari tidurnya dan terduduk menatap Alora
"Nggak!"
"Serius?" Alora mengangguk
"Terus apa? Apa yang buat lo harus berpikir dulu?"
"Bisa kasih gue waktu? Setelah gue berpikir dan menemukan jawaban gue pasti cerita, oke?"
"Hmm...Okee!" Cassie tersenyum dan langsung menyetujuinya, Cassie paham betul ada beberapa hal yang memang tak bisa dipaksakan termasuk untuk berbagi cerita kepada orang lain, bukan karena tak percaya hanya saja terkadang memang membutuhkan ruang untuk sendiri, seperti yang sedang dialaminya, Cassie yakin Alora juga seperti itu, entah tak ingin membuat orang lain khawatir atau memang ada rahasia yang tak ingin dibaginya dengan orang lain atau saja dia memang belum siap untuk membagikannya, apapun alasannya yang jelas itu pilihan terbaik menurutnya.
"Oke, Good Night!"
"Sweet dream!" Balas Alora, Mereka kemudian terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga akhirnya mereka terlelap tidur. Sementara itu, Aksan baru sampai di rumah dengan beberapa luka di wajahnya. Mendengar suara mobil kakaknya, Kalea yang merupakan adik bungsu Aksan segera bergegas dari kamarnya menuju lantai dasar hendak mengejutkan Aksan dengan kepulangannya ke Indonesia, dia berdiri di depan pintu masuk menunggu Aksan masuk ke dalam rumah
"Surprise!!!" Teriaknya begitu Aksan membuka pintu namun bukan hanya Aksan yang terkejut Kalea pun dibuat terkejut dengan luka-luka di wajah Aksan
__ADS_1
"yaa!" Aksan yang terkejut langsung memeluk Kalea yang khawatir
"Sebentar-sebentar!" Kalea langsung melepaskan pelukan Aksan
"Wajah kakak kenapa?" Kalea menyentuh beberapa luka di wajah Aksan
"Shhhh" Aksan meringis kesakitan
"Bagaimana? Terkej... Ada apa ini?" Orang tua Aksan yang baru sampai di lantai dasar juga terkejut melihat Aksan dengan luka-luka di wajahnya
"Ayoo, Lea obatin!" Kalea langsung menarik Aksan menuju sofa di ruang tamu, sementara itu ibunya segera bergegas mengambil kotak p3k dan ayahnya juga membantu mengambil air es untuk mengompres luka Aksan
"Ada apa ini? Kenapa bisa luka-luka begini?" Ibunya yang setengah berlari segera memberikan kotak p3k itu kepada Kalea
"Berantem karena apa?" Ayahnya juga tak kalah khawatir, sedangkan Kalea segera mengobati luka Aksan dengan cekatan
"bukan berantem! Awww... pelan-pelan dek!"
"Sakit?" Aksan mengangguk
"siapa suruh luka-luka gini!" Kalea memukul lengan Aksan
"siapa juga yang mau!"
"yaa terus ini kenapa kok bisa jadi begini?" Tanya Ibu Aksan
"Tadi ada orang yang tiba-tiba cekat mobil Aksan, begitu Aksan keluar dia langsung menghajar, gakasih Aksan waktu buat ngebales"
"Kenapa kakak nggak lawan?"
"udah kakak lawan, tapi mereka berdua!" Aksan menjelaskan situasinya
"Mereka pake helm"
"Tuh kan! Mama udah bilang jangan pulang malem-malem! Lagian kamu dari mana kok pulangnya malem banget, ademu udah nungguin dari tadi tuh!" Aksan segera menatap Kalea yang sudah mulai cemberut
"Ada apa ini? Tiba-tiba pulang? Ga ngabarin kakak dulu?"
"Tadinya mau bikin surprise eh malah aku yang dikasih surprise yang lebih besar!" Kalea masih merajuk
"Sorry! Lagian siapa juga yang mau membiarkan wajah tampan ini terluka kalo bukan karena kecelakaan" Aksa mencoba membujuk
"Cihhh... Pokoknya kakak harus..."
"Besok kita jalan-jalan kakak traktir apapun yang ade kesayangan kakak ini mau, gimana?"
"Okeey!" Kalea langsung tersenyum
"Tapii... jangan gini lagi! Apa kita perlu lapor polisi ma, pah?"
"Nggak perlu!"
"Kenapa? Gimana kalo mereka mau celakain kakak lagi?"
"Benar! Kita lapor polisi aja pah!" Pinta Ibunya kini
"Nggak Usah ma!"
__ADS_1
"tapii..."
"Beneran gausah! Nanti kalo emang dia mau celakain Aksan lagi baru kita lapor polisi, oke?"
"ya janganlah! Jangan nunggu sampe mereka mau celakain kakak lagi! Harus lapor sekarang!" Protes Kalea
"iyaaa..."
"bukan gitu maksudnya, mungkin aja mereka salah orang atau mereka orang iseng, lagian Aksan juga gatau apa-apa tentang mereka mau lapor gimana?" Aksan berbohong setidaknya dia tahu salah satu diantara mereka yaitu pria yang sempat berdebat dengannya tadi, mantan Cassie
"benar kata Aksan!" Ayahnya menimpali setelah mendengarkan penjelasan Aksan
"Udah ma, pah kalian tidur aja! Aksan udah gapapa kok!"
"Beneran?" Ibunya masih merasa khawatir
"Bener ma!"
"Yaudah iya, yuk ma! Ada ade juga, setelah ini pasti kaka kapok kena omel" Ayah Aksan membujuk Ibunya, setelah berkali-kali membujuk akhirnya berhasil mereka kemudian kembali ke kamar meninggalkan Aksan dan Kalea yang masih menatap Aksan di ruang tamu
"Emm, jantungnya baik-baik sajakan? Ada yang ga nyaman? Udah bisa lari-lar..."
"Jangan ngalihin pembicaraan!" Kalea memukul lengan Aksan lagi
"Siapa yang ngalihin pembicaraan?! Kakak bertanya dengan serius terkait kondisi jantung barumu, kakak khawatir!"
"Sudah 2 tahun! Jelas semuanya baik-baiknya!" Kalea tampak kesal dengan alasan Aksan
"dan kakak? Kenapa menyambutku dengan wajah jelek begini?!" Kalea mulai protes lagi
"Kakak udah jelasin tadi..."
"Oke! Lalu wanita itu? Kak Alora, gimana?" Kalea langsung mengalihkan pembicaraan, lebih tepatnya fokus kembali ke tujuan awalnya setelah teralihkan sebelumnya yaitu mengetahui perkembangan cinta kakaknya yang tak kunjung diungkapkannya
"tiba-tiba?"
"Jangan bilang kakak masih belum berani ngajak dia ngedate?!"
"Dia udah punya pacar!" Jawab Aksan sambil tersenyum
"Hah?" Kalea tak percaya dengan apa yang didengarnya
"She has boyfriend!"
"Seriously?" Aksan mengangguk
"Sejak kapan?"
"Entahlah!"
"Terus gimana?"
"Unrequited love!"
"Nyerah gitu aja?"
"Menurutmu? Apa kakak harus merebutnya dari pacarnya?" Kalea mengangguk tanpa ragu
__ADS_1
"heuhh! Dasar!" Aksan memukul pelan jidat Kalea, membantunya tersadar dari pikiran anehnya