
"Cassiee"
"Papah!" Rengek Cassie begitu melihat ayahnya yang tampak berlari menghampirinya. Cassie langsung memeluk ayahnya begitu ayahnya sudah dihadapannya
"Kamu gapapa sayang?" Ayahnya memeriksa tubuh Cassie memastikan putrinya baik-baik saja
"Wajahmu... tanganmu juga... siapa si berengsek itu!" Teriak saya Cassie begitu menemukan luka di wajah juga tangan Cassie
"Siapa dia?!"
"Hendri pah!" Jawab Cassie sambil menunduk
"Hendri?" Cassie mengangguk
"Apa aja yang dia lakukan? Dimana dia sekarang?!"
"Dia udah ditahan pah, besok baru kita menyelesaikan semuanya, sekarang ayo kita pulang pah!"
"Nggak bisa! Papah harus kasih dia pelajaran!"
"Pah... Cassie pengen pulang!" Cassie memohon pada ayahnya, dia ingin segera pulang, hari ini terlalu melelahkan untuknya. Mendengar suara Cassie yang terdengar sendu juga wajahnya yang kelelahan membuat ayahnya sadar untuk segera membawanya pulang
"Huhh, maafkan ayah sayang! Ayo kita pulang" ayahnya segera merangkul Cassie dan memapahnya untuk berjalan namun langkahnya terhenti begitu menyadari keberadaan Aksan dan Raksa
"Mereka..." ayah Cassie memandangi mereka
"Ahh... mereka yang menolongku" Cassie memperkenalkan mereka
"Ini kak Aksan, atasanku di kantor dan ini kak Raksa, dia teman kak Aksan" Cassie menjelaskan siapa mereka pada ayahnya
"Ohh, terima kasih! Terima kasih banyak!" ayah Cassie segera mengulurkan tangan untuk berterima kasih pada mereka
"Sama-sama om!"
"Terima kasih banyak!"
"Sama-sama"
"Ayo lain kali kita makan bersama, saya traktir untuk berterima kasih!"
"Papah..." Cassie segera menghentikan ayahnya karena khawatir membuat mereka berdua tak nyaman
"Tentu, lain kali" Aksan menjawab, jawaban yang membuat Cassie terkejut pada awalnya namun kemudian segera menyadarkan pikirannya, tentu saja Aksan harus menjawab seperti itu, sebagai bentuk sopan santun, pikir Cassie.
"Oke, kita cari waktu secepatnya!"
"Baik om" Aksan menjawab lagi, sedangkan Raksa hanya diam mendengarkan percakapan mereka
"Oke, pah ayo kita pulang! Kak Aksan, kak Raksa kita permisi pulang"
"Oh iyaiya silahkan!" Setelah berpamitan Cassie langsung menarik ayahnya untuk segera menjauh dari mereka
"Pah... jangan suka bicara sembarangan!" Protes Cassie
"Bicara sembarangan apa?" Ayahnya tampak bingung
"Mengajak mereka makan bersama!"
"Papah hanya ingin berterima kasih! Tidak baik jika papah tidak membalas kebaikan mereka setidaknya papah harus mentraktir mereka. Apa papah salah?" Ayahnya memang tak salah tapi Cassie khawatir hal itu justru membuat mereka merasa terbebani terutama Aksan.
"Ayo kita pulang!"
"Kamu belum menjawab papah! Apa papah salah?"
"Nggak!" Jawab Cassie dan menarik ayahnya untuk berjalan lebih cepat.
__ADS_1
"Jadi sejak kapan lo di Jakarta?" Aksan mulai bertanya pada Raksa begitu Cassie dan ayahnya sudah tak terlihat
"Pagi tadi" Jawab Raksa sambil berjalan meninggalkan Aksan
"Kalea tahu?" Aksan menyeimbangkan langkahnya dengan Raksa
"Yap, kita makan siang bersama"
"Oke! Kok lo bisa menolong Cassie?"
"Seseorang diculik di depan gue jelas harus gue tolong"
"Lo pernah ketemu Cassie sebelumnya?" Raksa menggeleng
"Terus gimana caranya lo minta tolong ke Defi?"
"Dia lewat di depan gue dan gue jelasin ciri-ciri Cassie"
"Tapi kenapa lo ada disana?" Aksan terus bertanya seperti sedang menginvestigasi Raksa
"Kenapa rasanya gue seperti tersangka?" Raksa berhenti dan menatap Aksan
"Gue hanya bertanya! Lagian lo tiba-tiba ada disana"
"Beruntung gue ada disana kalo nggak mungkin kita belum bisa menyelamatkan kekasih lo!"
"Dia bukan pacar gue!"
"Oke!"
"Lo belum jawab gue! Lo lagi ngapain disana?"
"Gue cuma lewat"
"Shh... kenapa lo lebih cerewet dari ibu gue?!"
"Jangan ngalihin pembicaraan!"
"Untuk menemui seseorang"
"Siapa?"
"Bukan urusan lo!"
"Seorang wanita?!"
"Bukan urusan lo!" Raksa segera masuk ke dalam mobilnya tak ingin terus ditanyai oleh Aksan
"Raksa!" Raksa mengabaikan Aksan yang masih berusaha untuk berbicara dengannya dengan mengetuk-ngetuk kaca mobilnya namun Raksa benar-benar tak perduli, dia menancap gas dan pergi meninggalkan Aksan yang hanya bisa menghela napas memandangi mobil Raksa yang melaju semakin jauh
***
Allen menutup buku yang dibacanya, dia masih tak bisa tidur bahkan setelah berharap dapat mengantuk dengan membaca buku dia masih tetap terjaga walau jam di dinding kamarnya sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Allen akhirnya memilih untuk bangun dari tempat tidurnya, dia mengambil sebuah kamera yang terletak di atas rak buku, sudah lama dia tak menggunakan kamera itu lagi, kamera yang dibelinya bersama Alana untuk memotret berbagai kegiatan mereka. Allen memeriksa kamera itu, tak disangka dia lebih berani untuk melihat beberapa potret Alana dengan dirinya di kamera itu, dia lebih berani setelah 2 tahun tak melihatnya. Kamera itu dipenuhi tawa Alana yang terabadikan, Allen terus menekan tombol DISP di kamera itu untuk melihat lebih banyak senyum Alana namun Allen tiba-tiba tertegun, sebuah foto menarik perhatiannya. Allen memperbesar foto itu untuk melihat dengan jelas wajah seorang wanita yang tersenyum kepada dua orang anak kecil
“Alo-ra?” wajah itu terlihat sangat mirip dengan Alora, Allen segera menekan tombol DISP untuk beralih ke foto berikutnya dan Allen semakin terkejut saat melihat wajah Alora yang terlihat jelas di foto itu, Alora yang sedang berdiri di seberang jalan
“ini memang Alora” Allen tak bisa menyangkal lagi
“tapi kenapa dia ada di kamera ini?” Allen semakin bingung
“apa dia mengenal Alana? Nggak! Dia pernah melihat foto Alana dan dia tak mengenalinya” Allen dipenuhi dengan rasa penasaran, pikirannya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan yang tak mendapat jawaban, seandainya saja Alana memberitahu Allen saat itu mungkin Allen tak akan bingung seperti sekarang. Tiga tahun yang lalu saat dirinya dan Alana menghabiskan liburan musim panasnya di Indonesia, saat dia membawa Alana ke pameran lukisan Avi di Jakarta, saat mereka berhenti di depan supermarket untuk membeli beberapa minuman juga beberapa camilan, saat itulah Alana mengambil foto Alora. Dia memotret Alora yang tersenyum pada kedua anak kecil setelah dirinya memberikan 2 kotak makanan juga satu plastic yang entah apa isinya, saat itu Alana tak mengetahuinya. Alana juga memotret Alora yang sedang berdiri di seberang jalan menunggu lampu merah untuk menyebrang.
“aku harus bertemu dengannya lagi!”
"dengan siapa?" Allen yang baru masuk ke dalam mobil dapat mendengar dengan jelas tekad Alana
__ADS_1
"Calon adik iparku"
"Adik ipar sudah punya kekasih?"
"Segera, setelah aku mengenalkannya"
"Shh... Sayang, sekarang udah tahun berapa? Masa kamu mau jodoh-jodohin adikmu?!"
"Kenapa tidak?! Aku harus pastikan dia mendapatkan yang terbaik"
"Memangnya kamu yakin pilihanmu pasti yang terbaik?"
"100%!" Alana menjawab tanpa ragu
"1000% juga akan percuma kalo adikmu tidak setuju"
"Dia akan setuju!"
"Seyakin itu?"
"Emm" Alana mengangguk
"Oke! Lagian aku juga tidak akan bisa menghentikanmu"
"Aku yakin kamu juga akan setuju!"
"Shh...Kenapa? Apa karena dia cantik?"
"Dia memang cantik, sangat cantik tapi bukan itu poin utamanya"
"lalu apa?"
"Dia... luar biasa! Berani, cerdas, dan baik hati"
"Kamu begitu menyukainya?"
"Karena itu aku harus menjadikannya adik iparku!"
"Bagaimana kamu mengenalnya?"
"Dia pernah menolongku, 2 kali. Bukankah itu takdir?" Alana terdengar bersemangat
"Sepertinya kamu lebih menyukainya dari padaku!" Allen tiba-tiba merajuk
"Aigoo... kekasihku cemburu?" Alana memiringkan wajahnya untuk menatap Allen
"Tentu! Tapi aku maafkan dia karena sudah menolong kekasihku!" Allen tersenyum lalu mengelus rambut Alana
"Jadi siapa dia? Apa aku mengenalnya?" Tanya Allen
"Belum"
"Jadi kapan kamu akan mengenalkannya padaku?"
"Setelah aku mengenalnya pada adikku"
"Oke! Aku akan menunggu"
"Okee" Alana tersenyum dan menautkan jemarinya pada tangan Allen
"Untuk sementara kamera ini aku simpan. Kamu tidak boleh melihatnya!"
"Tiba-tiba? Kenapa? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Protes Allen
"Emm, aku menyembunyikan sebuah rahasia disini!"
__ADS_1