Trust In Timing

Trust In Timing
Inilah hidup


__ADS_3

"Alora?" Seseorang memanggil Alora yang masih terdiam di meja nya setelah Allen meninggalkannya


"Kak Aksan?" Suara milik Aksan yang memanggilnya, Aksan merupakan teman sekantor Alora, mereka tidak terlalu dekat namun keadaanya menjadi canggung setelah Alora berkali-kali menolak ajakan Aksan untuk berkencan, Aksan menghampiri Alora


"Ternyata benar!" Aksan tersenyum


"hah?"


"Emm, tadi ga sengaja liat pacarmu di lobby"


"ahh... sebenarnya..."


"tapi kayaknya dia langsung pulang, kalian ga pulang bareng?" Alora menggeleng


"Saya masih ada urusan kak"


"Ohhh... dikira masih berantem!" Aksan mencoba bercanda untuk mengilangkan kecanggungan di antara mereka, Alora tersenyum sedikit kikuk


"Oh iya, sebelumnya sorry yaa, saya gatau kalo kamu ternyata udah punya pacar makanya saya terus-terusan coba ngajak kamu kencan eh ternyata udah ada yang punya" Aksan menjelaskan situasi yang membuat mereka canggung berharap kecanggungan itu segera berakhir di antara mereka


"Ahh... untuk itu..."


"Lebih baik kita ga bahas lagi! Tapii... bolehkan kalo kita berteman?" Aksan menjulurkan tangannya


"Mulai saat ini, gue mau jadi temen lo! Sama kayak anak-anak lain di kantor yang bisa saling bercanda walaupun sering lo abaikan, ga ada kecanggungan dan bisa saling membantu, boleh?" Alora tersenyum lalu mengangguk tanpa ragu


"Boleh dong!" Alora segera menerima uluran tangan Aksan, tak ada salahnya berteman dengan pria seperti Aksan, pria yang sopan, menghargai dan yang penting tidak gila seperti Allen, pikir Alora


"Oh iya kak.."


"Panggil Aksan dong! Kan udah berteman!"


"Gabisa! yang lain aja pada sopan manggilannya"


"itu di kantor, di luar kantor kan kita teman, bukan atasan ataupun bawahan. Oke?!"


"Okeey! Kalo gitu, gue permisi dulu udah ditungguin Cassie"


"Mau bareng? Kebetulan gue udah selesai juga" Aksan menawarkan diri, Alora lalu mengangguk, mereka kemudian pergi berbarengan setelah Aksan membayar bill makanannya


"Sejak kapan disini?" Tanya Alora, ada sesuatu yang dia khawatirkan yaitu pembicaraannya dengan Allen sebelumnya, dia khawatir Aksan tak sengaja mendengarnya


"dari sepulang ngantor, barengan sama cowo lo tapi tadi gue langsung menuju ruangan di sebelah kanan" Aksa menjelaskan, mendengar penjelasan Aksa membuat Alora merasa lega karena itu berarti mereka berada di ruangan yang berbeda


"Cassie?" Aksa berhenti saat melihat Cassie sedang bertengkar dengan seorang pria yang dengan paksa menahan Cassie untuk pergi dengan memegang erat tangan Cassie


"Sial!" Alora langsung berlari menghampiri Cassie begitu melihat Cassie yang sedang bertengkar dengan mantannya yang berengsek


"Berengsek!" Alora langsung menendang kaki kanan mantan Cassie membuat pria itu langsung melepaskan tangan Cassie, kini tangannya memegangi kaki kananya sembari meringis kesakitan


"Lo..." Pria itu terhenti begitu melihat Alora yang menatapnya dengan penuh kebencian


"Apa?! Masih berani lo muncul di hadapan kita?!"


"Lo... bisa ga ikut campur?! Ini urusan gue dan pacar gue!"


"Mantan! Lo lupa?"


"Hahh... gue belum terima! Baru dibilang mantan kalo kedua pihak udh terima"


"Heh... lo jangan kurang ajar ya!" Cassie menunjuk pria berengsek itu dengan penuh amarah


"Sayang, gue bisa jelasin..."


"Stop! Masih berani lo manggil gue sayang?! Wahh lo bener-bener udah ga waras!" Cassie kini kehilangan kesabaran dan menjadi lebih berani setelah Alora ada di sampingnya


"Sayang..." Alora langsung menatap marah begitu mendengarnya masih memanggil Cassie dengan panggilan 'Sayang'


"Ada apa ini?" Tanya Aksan begitu tiba di tengah-tengah mereka


"Siap lo?" Tanya mantan Cassie terdengar ketus

__ADS_1


"Bukan urusan lo! Sekarang gue udah gaada urusan lagi sama lo jadi gue minta lo pergi!" Cassie menunjuk mantannya dan dengan berani dia mengusirnya


"Ohhh, jadi dia cowo baru lo?" Cassie mengernyitkan keningnya tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya


"Lo bilang gue selingkuh dan liat... lo sendiri?"


"Lo bener-bener berengsek ya!" Alora sudah tak tahan mendengar omong kosongnya lagi


"Hehh... Udah gue bilang lo jangan ikut campur!" Pria itu tampak marah menunjuk Alora


"Lo ga denger?! Cassie minta lo segera pergi! Lo masih ga tahu malu?" Aksan segera menarik Alora agar berada di belakang badannya lalu dia menatap pria itu membuatnya terdiam tak berkutik, melihat mata Aksan yang terlihat marah juga melihat orang-orang di sekeliling memperhatikan mereka membuatnya tak punya pilihan lain selain menuruti mereka yaitu segera pergi dari hadapan mereka


"Ok! Tapi ingat! Urusan kita belum selesai!" Ucapnya lalu pergi dengan penuh amarah, dia berjalan menuju parkiran cafe yang tak jauh dari tempat mereka, dia terlihat menaiki sebuah motor lalu bergegas pergi


"Lo gapapa Cas?" Alora segera menghampiri Cassie, Cassie menggeleng


"Thanks yaaa"


"Lo tadi pasti takut, sorry yaa gara-gara gue lama lo jadi ketemu dia" Alora terlihat menyesal


"Nggak Al, dia kayaknya ngikutin gue dari sejak gue di kantor"


"Serius?" Cassie mengangguk


"Tadi siang ada yang ga sengaja liat dia dan ngabarin gue, gue kira dia udah pergi setelah gue telepon dan suruh dia pergi ehh ternyata dia malah ngikutin gue"


"Wahhh tuh orang..."


"dia mantan lo?" Aksan ikut bergabung dengan pembicaraan mereka sebelum semakin dilupakan oleh mereka


"Ohh iya, thanks ya kak and sorry!" Ucap Cassie begitu tersadar akan keberadaan Aksan


"Panggil Aksan aja!"


"Ohhh, oke" Cassie tersenyum mencoba mengurangi kecanggungannya


"bener, di mantan gue"


"mantan paling berengsek!" Alora menimpali


"Okee, gabakal!"


"Kalo ada apa-apa lo bisa minta tolong gue!" Ucap Aksan ingin mencoba membantu


"Okee!" Jawab Cassie, mereka kemudian terdiam selama beberapa detik, masih ada kecanggungan diantara mereka karena memang tak mudah untuk tiba-tiba berteman dengan seorang atasan


"Lo nginep di kos gue aja ya! Gue takut dia makin nekad" Alora masih merasa khawatir


"kayaknya gaakan berani ke kost deh Al"


"siapa yang tahu?! Tadi aja dia ngikutin lo dari kantor"


"tapi dia ga gitu kok!"


"lo juga waktu itu bilang gitu, waktu gue bilang dia selingkuh!"


"Waktu itu karena gue masih bucin"


"mana tau sekarang juga"


"Aloraaa"


"Nginep yaaa?!" Pinta Alora sekali lagi


"Hmm... Okeey deh! Tapi balik kostan gue dulu buat ambil barang-barang" Cassie langsung menyetujui tak ingin berdebat lagi, Alora langsung mengangguk


"Kostannya dimana?" Tanya Aksan setelah mereka mencapai kesepakatan


"Kost siapa?" Tanya Cassie


"Kalian!"

__ADS_1


"di Setiabudi"


"Satu kostan?"


"Bedaa, satu arah aja" Jelas Cassie


"Oke, gue anter"


"Gausah!"


"Lo takut pacar lo marah ya?" Aksan tersenyum


"Pacar?" Cassie tak mengerti arah pembicaraan mereka


"nanti ngerepotin!" Alora segera mengalihkan pembicaraan


"mana ada! Sekalian aja, rumah gue juga daerah Setiabudi"


"yaudah iya boleh!" Cassie akhirnya menengahi sebelum perdebatan mereka semakin panjang


"oke, gue ambil mobil dulu. Tunggu disini!" Aksan segera bergegas mengambil mobilnya di parkiran The Hermitage


"Pacar? Apa maksudnya?" Cassie mulai mengintrogasi Alora begitu Aksan pergi


"Allen"


"Ouhhh sejak kapan?" Cassie menggoda Alora


"Nanti gue cerita!"


"Lo beneran pacaran?!"


"Nggak mungkin!"


"Terus?"


"Nanti gue ceritain!"


"Kenapa ga sekarang?"


"Panjang ceritanya! Nanti keburu Aksan datang"


"Okee, tapi nanti lo janji harus cerita!" Alora mengangguk dan tak lama Aksan datang dengan mobilnya, mereka kemudian memasuki mobil Aksan, sesuai permintaan Alora, Cassie duduk di kursi depan sementara Alora di kursi belakang setelah itu mereka melaju menuju kostan Cassie untuk mengambil beberapa barang Cassie lalu berangkat menuju Kost Alora, mereka menghabiskan waktu selama 30 menitan untuk sampai di kost Alora


***


"Lo serius ngajak dia nikah?" Avi tak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya sementara itu, Allen terlihat tenang sembari memperbaiki beberapa bagian dari mobilnya


"Sejak kapan lo kenal dia?"


"Sebulan? Kurang lebih"


"Lo baru kenal dia sebulan tapi lo udah ngajak nikah, lo udah gila? Gimana kalo dia juga beranggapan lo gila?"


"She did!" Allen masih sibuk dengan Rear Spoiler yang hendak dipasangnya


"Lo terpaksa ya? Makanya lo ga perduli!"


"Nyokap gue bilang, gue harus tetap menjalani hidup dan inilah hidup gue!"


"Tapi lo keterlaluan! Itu artinya lo manfaatin dia!"


"Makanya gue pilih dia!"


"Maksud lo?"


"Dia ga percaya cinta, dan gue udah hilang harapan soal cinta, kita bisa menikah tanpa cinta"


"dia setuju?" Meski masih bingung Avi juga merasa penasaran


"Masih gue bujuk!"

__ADS_1


"Len, gue rasa cara lo ini ga bener! Kalopun dia setuju pasti karena terpaksa"


"Kalo gitu, lo coba ngomong ke nyokap gue, minta dia buat ga terus-terusan maksa gue buat lupain Alana" Allen segera memasang Rear Spoiler yang sejak tadi di pegangnya pada bagian belakang mobil tua nya sementara itu, Avi memandanginya dengan rasa iba, sudah 2 tahun berlalu dan sahabatnya masih saja terjebak dengan kenangan tentang Alana, Cinta pertama juga tunangannya. Siapapun tahu cinta mereka begitu besar tapi Avi tak menyangka Allen akan terjebak selama ini dan akan semenderita ini dan tak ada yang bisa dilakukan untuk sahabatnya itu


__ADS_2