Trust In Timing

Trust In Timing
Do anything


__ADS_3

Pagi kembali datang setelah malam yang tenang, pagi yang seringkali dibenci oleh orang-orang yang enggan pergi bekerja, pagi yang dihindari oleh orang-orang dengan berbagai masalah, pagi yang tak diharapkan oleh orang-orang dengan berbagai alasan. Dan kini pagi juga hendak dibenci Alora, pagi yang terus memaksa Alora untuk bangun dengan alarm yang berkali-kali berdering tetapi Alora tetap tak kunjung bangun dia malah semakin menarik menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Pagi ini tidak seperti biasanya, Alora terlihat sangat kesal dengan bunyi alarmnya, dia juga merasa sangat malas untuk bangun bahkan dia berkali-kali terdengar menggerutu


"kenapa udah pagi aja?!"


"Aduh berisik!"


"Gue bolos ngantor aja!"


"Ahhh! Kenapa harus ketemu dia sih!" Akhirnya Alora menyingkirkan selimutnya, dia terduduk di tempat tidur dengan kekacauan pikirannya, ternyata Allen lah alasan dia membenci pagi ini. Semakin mengingat hari kemarin semakin membuatnya kesal. Alora berharap hari ini sabtu atau minggu hari dimana dia tidak perlu berangkat kerja namun nyatanya hari ini baru hari selasa, hari dimana dia harus tetap bekerja. Seharusnya Alora tak semalas itu untuk berangkat bekerja di hari selasa tetapi kejadian kemarin membuatnya tak ingin bertemu dengan orang-orang di lingkungan kantornya karena Alora melihat beberapa orang-orang di kantornya menyaksikan kejadian kemarin.


"Tenang Alora, mungkin mereka tak perduli!" Alora mencoba berpikiran positif


"Tentu saja mereka tak akan perduli! Kenapa mereka harus perduli? Seharusnya mereka tak punya waktu untuk mengurusi urusan orang lain! Ayo kita berangkat kerja!" Setelah merasa sedikit tenang karena pikiran positifnya Alora memutuskan untuk berangkat bekerja, bagaimanapun bekerja merupakan kewajibannya namun ternyata Alora salah. Pikiran positifnya seketika hancur begitu dirinya tiba di lobby kantor. Orang-orang terlihat memerhatikannya bahkan beberapa diantara mereka berbisik-bisik saat Alora melewatinya.


"Seharusnya tidak seperti ini!" Gerutu Alora


"Kenapa mereka begitu suka memperhatikan juga bergosip untuk hal ke-cil!" Alora berhenti menggerutu saking kagetnya melihat sesuatu di hadapannya


"Tentu saja ini bukan hal kecil!" Alora menghela napas lalu menghembuskannya mencoba meredam amarahnya saat melihat namanya tertulis dengan jelas di sebuah buket bunga berukuran raksasa di samping mesin akses masuk dan keluar. Meski sangat kesal Alora mencoba bersikap tenang, dia berjalan mendekati Cassie yang tampak kebingungan sedang memandangi buket bunga itu


"Maafkan aku telah mengusikmu Alora. Aku tahu kesalahanku, beri aku kesempatan untuk menjelaskannya" Alora membaca tulisan di buket bunga itu, Alora merasa sangat marah setelah membacanya. Sebuah pesan yang sangat ambigu itu jelas akan menarik perhatian, membuat orang-orang berpikiran aneh hingga akhirnya memancing gosip pantas saja orang-orang itu begitu memperhatikan Alora.


"Dia sungguh gila!" Alora mengepalkan tangannya karena sangat marah


"Alora!" Cassie yang menyadari Alora di belakangnya tak sengaja memanggil namanya dengan cukup keras membuatnya semakin diperhatikan oleh orang-orang yang bahkan tak mengenalnya, Alora menatap Cassie dengan kesal, kenapa dia juga semakin membuatnya merasa malu


"Sorry!" Cassie yang sadar akan kesalahannya langsung menggandeng tangan Alora


"Ada apa ini? Siapa yang mengirimnya?" Cassie tak bisa menahan rasa penasarannya


"Pria gila!"


"Siapa?" Tanya Cassie semakin merasa penasaran, Alora tak bisa diam saja dia harus segera menghilangkan buket bunga itu sebelum semakin banyak orang yang melihatnya. Alora melepaskan gandengan tanyan Cassie dan segera berjalan menuju security yang berjaga dan Cassie masih terdiam dan dipenuhi rasa penasaran


"Pak, bisa bantu buang buket bunga itu?" Alora meminta bantuan security sembari menunjuk buket bunga raksasa itu


"Maaf kak, tapi saya tidak bisa membuangnya begitu saja"


"Kenapa? Kenapa gabisa dibuang?" Tanya Alora terdengar sedikit kesal


"Maaf pak, maksud saya kenapa gabisa dibuang?" Alora langsung sadar tak seharusnya dia kesal dengan security dan akhirnya dia bertanya dengan lebih sopan


"harus ada perintah dulu kak"


"karena itu saya meminta bapak untuk membuangnya"


"tapi bukan perintah dari kakak..."


"itu bunga untuk saya!" Alora langsung memotong


"Nama saya Alora, tertulis jelas disana. Dan saya sebagai orang yang bersangkutan meminta tolong ke bapak untuk membuangnya, apakah bisa?"


"Tapi kak..."

__ADS_1


"Ini pak..." Alora menunjukan id cardnya, disana terlihat jelas namanya


"Saya tidak berbohong, nama saya beneran Alora dan bunga itu dari orang gil..." Alora terhenti


"bungan itu dari kenalan saya!" Alora memperbaiki perkataannya


"Atau begini saja, bapak boleh tanya dulu kepada siapapun itu saya akan menunggu yang penting bunga itu bisa dihilangkan, maksud saya dibuang secepatnya!" Pinta Alora


"Baik kak, saya coba tanya dulu" Alora mengangguk sementara itu Security itu pergi ke meja resepsionis, mereka terlihat berdiskusi


"Alora?" Cassie menghampiri Alora


"Cass, gue harus singkirin bunga itu dulu, secepatnya!" Cassie langsung mengangguk dan memilih menemani Alora dengan diam, setelah beberapa menit akhirnya security itu selesai berdiskusi dan kembali menghampiri Alora


"Baik kak, bunga itu memang untuk kakak. Sesuai permintaan kakak saya akan bantu untuk segera membuang bunga itu"


"Baik pak, tolong dibantu secepatnya!" Alora terdengar lebih tenang


"Baik kak"


"Baik, terima kasih pak!"


"Sama-sama kak" Jawab security itu dengan tersenyum lalu Alora pergi namun dia terhenti lagi setelah melihat bunga itu, dia berlari menuju security lagi


"Pak, saya sudah boleh membuangnya kan?"


"Iya kak, tapi biar kami saja yang membuangnya"


"bukan bunganya, tapi pitanya" Alora menjelaskan


"Saya harus membuang pitanya lebih cepat pak" "Baik, boleh kak!" Security itu sepertinya paham maksud Alora, di pita terpangpang jelas namanya, Alora mengangguk lalu berterima kasih dan langsung berlari menuju bunga itu, dengan kesal Alora mencopot pita bunga itu, meremas-remasnya dan segera memasukannya ke dalam tong sampah. Cassie yang dari tadi hanya memperhatikan kini terlihat semakin bingung


"Ayo!"Ajak Alora, Cassie langsung mengikuti Alora, mereka melakukan tap in pada mesin akses lalu berdiri menunggu lift untuk menuju ruangannya yang berada di lantai 8


"Dia benar-benar sudah gila!" Gerutu Alora dengan penuh kekesalan, wajahnya bahkan terlihat memerah, Cassie bahkan tak berani untuk mengganggunya saat ini.


"Wahh Alora, you have the sweetest boyfriend" Seseorang berteriak begitu Alora dan Casssie tiba di ruangan dan kini di ruanganpun Alora kembali menjadi pusat perhatian, Alora yang masih kesal hanya membalas dengan senyuman


"Boyfriend?" Cassie menatap Alora


"Extremely a crazy man" Alora langsung melangkah menuju mejanya, menghidupkan komputernya, mengeluarkan beberap barang dari dalam tasnya, dan mulai bekerja seolah tak perduli dengan tatapan orang-orang yang terus memperhatikannya juga tatapan penuh penasaran milik Cassie


***


"Jadi maksud lo, cowo itu tiba-tiba ngajak lo nikah?" Alora mengangguk, waktu makan siang kali ini dia gunakan untuk memenuhi rasa penasaran Cassie, lebih tepatnya membayar penjelasan yang dijanjikannya.


"Shhh, tuhkan apa gue bilang! Tuh cowo naksir sama lo!"


"Hah?" Alora benar-benar terkejut mendengar ucapan Cassie


"Kalo nggak ngapain dia ngajak nikah Alora?!"


"Cassie, denger! Coba lo pikirkan baik-baik, emang ada orang normal yang langsung ngajak nikah orang yang baru dia temuin, bahkan mereka belum saling kenal??" Alora menjelaskan dengan sabar

__ADS_1


"Ada, cinta pada pandangan pertama" Jawaban Cassie membuat Alora terbelalak


"Langsung ngajak nikah?!"


"Iya, lo bukti nyatanya!" Alora tersenyum berusaha getir, bahkan kini Cassie membuatnya merasa kesal


"Percuma gue ngomong sama lo!"


"Kok lo gitu sih Al?! Emangnya gue salah?"


"Menurut lo?"


"Gue nggak salah! Apa salahnya orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, apa salahnya orang yang ingin menikahi orang yang dicintainya?!"


"Bukan begitu Cassie, Please jangan masukan imajinasi romance lo kedalam hal gila yang sedang gue hadapi. Lo bayangkan seorang pria asing yang lo bahkan gatau siapa dia, dari mana asalnya tiba-tiba ngajak lo nikah! Setelah itu dia membuat kegaduhan di kantor lo, dan mengirimkan bunga yang mengerikan"


"Buket bunga itu indah Alora nggak ada ngeri-ngerinya!"


"Bunganya indah, tapi reaksi orang-orang yang mengerikan"


"Sejak kapan lo perduli dengan reaksi dan pandangan orang-orang?!"


"Sejak orang gila itu bikin gue jadi pusat perhatian! Lo paham ga sih?!" Alora mulai merasa frustrasi


"Shhh, bener juga sih! Kenapa dia tiba-tiba ngajak lo nikah padahalkan bisa ngajak pacaran dulu" Akhirnya Cassie mulai berpikiran normal


"Nah! Dan dia juga mengatakan hal-hal yang tak kalah gila"


"Apa?"


"Lo ga percaya cinta dan gue gamau jatuh cinta lagi, kita bisa menikah tanpa cinta" Alora masih dengan jelas mengingat ucapan Allen


"dia bilang apa Alora?!" Cassie semakin penasaran


"dia bilang..."


"Alora!" Seseorang tiba-tiba berteriak memanggil Alora, seorang wanita yang juga merupakan teman kantor Alora, dia berjalan menghampiri mereka


"Alora, lo ditungguin tuh!"


"Ditungguin siapa?"


"Pacar lo!" Jawab wanita itu


"Dia bawa bunga lagi, so sweet banget sih!" wanita itu tersenyum dan tidak tahu darah Alora yang mulai mendidih


"Oke, permisi!" Alora berdiri dan langsung bergegas pergi meninggalkan mereka, dia berjalan dengan sangat kesal menuju lobby


"Dasar orang gila! Dia pasti benar-benar gila! Dan gue juga udah mulai gila, ngapain gue perduliin orang gila itu?!" Gerutu Alora yang kemudian membuatnya tersadar


"Benar, ngapain gue perduli?!" Alora terhenti


"Biarkan saja! Biarkan dia melakukan apapun yang dia mau dan gue hanya perlu mengabaikannya!" Alora tersenyum lalu segera memutar balik langkahnya, dia memutuskan untuk kembali ke ruangan dan tidak memperdulikan Allen

__ADS_1


"Oke, do anything you want! I don't care anymore! Alora bertekad untuk tak terpengaruh lagi olehnya


__ADS_2