Trust In Timing

Trust In Timing
Let it hurt then let it go


__ADS_3

"Mah?" Alora melihat ibunya begitu masuk ke dapur yang terlihat sedang sibuk memasak


"Kamu udah lapar?" Tanya ibunya begitu Alora menghampirinya, Alora menggeleng


"Mama masih lama?"


"Sebentar lagi matang, tunggu sebentar ya" Alora mengangguk


"Ada yang bisa Alora bantu?"


"Nggak ga usah, kamu tunggu di ruang tamu aja nanti mama panggil kalo sudah siap" Alora mengangguk lalu menuangkan air mineral kedalam gelas dia kemudian kembali ke kamarnya setelah melihat ruang tamu yang tampak ramai oleh sepupu juga pamannya. Ada sesuatu yang harus dipikirkannya secara baik-baik sebelum mengatakannya pada ibunya karena itu Alora memilih untuk menunggu di kamarnya sembari memainkan ponsel, memeriksa beberapa pesan lalu membaca sebuah buku yang terletak di mejanya. Setelah beberapa menit berlalu terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Alora dan muncul wajah ibunya dari balik pintu


"Ayo kita makan"


"Mah...Ada yang mau aku bicarakan"


"Sekarang?" Alora mengangguk


"Boleh kita bicarakan setelah makan?" Setelah berpikir Alora mengangguk lagi mungkin lebih baik jika seluruh keluarganya hal yang hendak dibicarakan Alora


"Ayo kita makan" Alora segera berdiri dan menghampiri ibunya, mereka kemudian turun ke lantai 1 berbarengan untuk menuju ruang makan dan disana sudah berkumpul seluruh anggota keluarganya, paman dan bibinya, neneknya dan beberapa sepupunya, mereka sengaja berkumpul untuk makan bersama di rumah Alora. Mereka kemudian menyantap makanan mereka sembari sesekali bercerita juga bercanda-gurau hingga mereka merasa kenyang dan mulai membereskan meja makan


"Ada yang mau aku bicarakan" Ucap Alora membuat ibu dan juga bibinya berhenti membereskan meja makan


"Ada...apa lora?" Pamannya bertanya setelah semua orang tiba-tiba terdiam


"Mah... ayo duduk kita bicarakan semuanya dengan paman"


"Lora... ada apa? Jangan membuat mama takut!" Ibunya terlihat gelisah namun tetap menurut dan duduk di samping Alora


"Ini berita bagus mah"


"Benarkah?" Alora mengangguk dengan yakin


"Mah, paman, bibi, nek... Tanahnya sudah terjual" Alora tersenyum sedangkan mereka tampak terkejut dengan pernyataan Alora


"Mah... tanahnya sudah terjual dan kita bisa segera menyelesaikan semua hutang2 ayah" Alora memegang tangan ibunya


"Sungguh?" Ibunya tampak tak percaya juga terlihat haru


"Emm, minggu lalu. Aku sengaja pulang untuk mengurus semua ini dan tentu aku akan butuh bantuan paman"


"Paman pasti bantu!"


"Terjual dengan harga berapa?"


"Sesuai yang kita harapkan mah, 1 M. Cukup untuk melunasi semua hutang-hutang ayah"


"Akhirnya... makasihh sayang!" Ibu Alora memeluk Alora


"Mah... Besok aku sama paman akan mengurus semuanya, aku dan paman akan berusaha menyelesaikannya dengan sebaik mungkin. Setelah semuanya selesai aku akan jemput ade dari Bandung, dia bisa tinggal sama mama lagi tanpa rasa takut dan khawatir jadi..." Alora terhenti, dadanya tiba-tiba terasa sesak


"Jadi... Bisakah kita melepaskan semua luka itu mulai sekarang?" Alora memegang tangan ibunya lebih erat


"Bisakah kita memaafkan ayah dan melepaskannya dengan tenang? Bisakah kita berhenti mencari alasan dibalik semua perbuatan ayah sebelumnya? Bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi? Tanpa ayah juga tanpa luka yang ditinggalkannya?"


"Alora..."


"Mah... terus mengingat luka itu hanya akan membuat kita semakin terluka. Bisakah kita melepaskan luka itu pergi? Bukankah sekarang sudah saat yang tepat? Setelah 2 tahun tolong bantu aku untuk melepaskan kepergian ayah dengan tenang. Bantu aku untuk menghilang sesak, kecewa, juga dendam yang terus menghantuiku selama 2 tahun. Tolong mah..yah?" Alora memohon pada ibunya, dia tahu itu tak akan mudah terutama bagi ibunya namun dia harus berani, dia harus kuat, dia harus membuat hidup keluarganya menjadi lebih baik lagi

__ADS_1


"Alora benar kak" pamannya menatap ibu Alora


"Benar, tak ada gunanya untuk terus hidup di masa lalu apalagi terus menggali masa lalu" neneknya pun mulai setuju


"Kak... Ayo kita mulai semuanya dari awal. Tinggal semua luka itu, aku akan berusaha dengan sebaik mungkin untuk membantu Alora menyelesaikan semua masalah setelah itu ayo kita mulai lagi dengan tenang, tanpa dendam yang bahkan tak kita ketahui alasannya" Pamannya berusaha membujuk ibu Alora


"Mah... Ada aku dan ade" Alora menatap mata ibunya


"Emm, ayo kita coba!" Ibunya tersenyum dan langsung memeluk Alora


***


"Sore kak Aksan" Sapa Cassie begitu berhasil mengejar langkah Aksan


"Sore, Shh... sepertinya ada hal baik yang terjadi. Benar?" Aksan mengamati wajah Cassie yang tersenyum terlihat gembira


"Benarkah?"


"Sepanjang hari ini kamu terus tersenyum"


"Wah! Kak Aksan merhatiin aku?"


"Ehem, seisi ruangan bisa terlihat jelas dari ruanganku!"


"Oh iya!" Cassie menyetujui alasan Aksan


"Mau pulang?"


"Hmm, boleh minta waktunya sebentar?" Aksan menunjuk dirinya setelah mendengar permintaan Cassie karena tak yakin dengan maksudnya


"Emm, waktu kak Aksan. 15 menit atau 10 menit. Boleh?"


"Sekarang?" Cassie mengangguk


"Oke, janji nggak akan lebih!"


"Oke, dimana?"


"Lobby cafe?"


"Oke!" Setelah setuju mereka kemudia bergegas menuju lift dan tak lama lift terbuka, mereka segera masuk ke dalam lift. Mereka kini sudah tiba di lobby kemudian mereka bergegas menuju cafe, memesan 2 gelas kopi di kasir kemudian membawanya ke sebuah meja kosong di pojok kanan, agak menjauh dari orang-orang yang sudah lebih dulu di cafe itu


"Ada apa? Apa mantanmu mengganggumu lagi?"


"Justru seharusnya dia nggak akan berani menggangguku lagi dan juga kak Aksan" Cassie tersenyum, mendengar hal itu tentu saja Aksan merasa lega namun juga merasa penasaran


"Sesuatu terjadi?"


"Aku melawannya"


"Maksudnya?"


"Aku memperingatinya untuk tidak mengganggu kita lagi"


"Dan dia setuju?"


"Nggak awalnya karena itu membuat jebakan. Aku merekam percakapan kami dan merekam kejadian saat dia menguntitku dengan bukti itu aku mengancamnya" Cassie menceritakannya pada Aksan


"Cassie... Kau yakin dia nggak akan berbuat macam-macam?" Kini Aksan merasa khawatir

__ADS_1


"Tenang saja kak! Dia memang pengecut, aku jamin dia nggak akan berani untuk mengusik kita lagi"


"Tapi..."


"Kak Aksan. Terima kasih banyak selama ini udah ngebantu aku dan karena masalahku udah selesai mulai saat ini kak Aksan nggak perlu pura-pura lagi untuk jadi pacar aku dan kurasa saat ini aku menjadi semakin berani juga sadar bahwa si berengsek itu memang tak pantas untukku"


"Baiklah! Itu terdengar lebih baik"


"Sekali lagi terima kasih sudah membantuku selama ini dan maaf aku tetap tak bisa membantu balik kak Aksan"


"Membantu balik? Maksudnya?"


"Seperti sebelumnya membantu kak Aksan untuk mendekati Alora karena seperti yang kak Aksan tahu saat ini Alora sudah punya pacar"


"Heuhh... kau ini! Siapa bilang aku masih mau mendekati Alora?!"


"Jadi kak Aksan sudah menyerah?"


"Terpaksa menyerah lagian Allen terlihat cocok untuk Alora"


"Benar! Itu adalah keputusan yang tepat! Tapi ternyata kak Aksan cukup tidak setia" Cassie menjahili Aksan


"Tidak setia katamu?"


"Emm, baru beberapa minggu Alora punya pacar kak Aksan sudah melupakannya"


"Shhh... bukankah 1 tahun lebih cukup untuk membuktikan kesetiaanku?!" Aksan merasa tak terima dengan tuduhan Cassie dan mencoba mengingatkan Cassie


"Ahh benar! Kak Aksan sudah menyukai Alora sejak setahun lalu, sejak pertama Alora bekerja disini"


"Apa itu cukup?!"


"Hmm, sepertinya cukup!" Cassie tersenyum, tentu saja dia tak bisa lama-lama untuk menjahili Aksan


"Ayo.. aku antar kamu pulang!"


"Nggak usah kak! Aku bisa sendiri"


"Gapapa aku antar aja"


"Gapapa aku sendiri ajaa"


"Beneran?"


"Beneran! Lagian juga aku udah ambil waktu kakak 15 menit nggak mungkin aku nambah lagi"


"Oke kalo gitu! Kamu hati-hati saat pulang!"


"Oke kak.. kak Aksan juga hati-hati!"


"Oh iya... kalo ada apa-apa kamu jangan ragu untuk minta tolong, Oke?"


"Shh... tapi gimana kalo nanti aku ga bisa bales lagi?"


"Cassie..."


"Hehehe... okeoke!"


"Oke! Bye"

__ADS_1


"Bye bye" Setelah berpamitan Aksan segera pergi, hari ini dia sudah ada janji dengan adiknya sementara itu Cassie juga segera bergegas pulang, seperti biasanya dia berjalan menuju halte busway, menunggu beberapa menit kemudian menaiki busway, dan berhenti di pemberhentian biasanya. Cassie berjalan sendirian, jalanan menuju kostnya malam ini tampak sepi dan tanpa Cassie sadari seseorang mengikutinya dari belakang, langkah kakinya semakin dekat dan saat Cassie menyadarinya dia sudah terlambat karena orang itu sudah lebih dulu membius Cassie dengan sapu tangan yang dibawanya


***


__ADS_2