
Pukul 07:00 Alora dan Cassie sudah tiba di kantor dan kini mereka sedang menunggu lift untuk menuju ke lantai 9 tempat ruang kerja mereka berada. Pagi ini mereka sengaja berangkat lebih awal karena ada weekly di masing-masing tim, begitu pintu lift terbuka mereka segera masuk dan saat lift hendak tertutup Aksan masuk ke dalam lift dengan beberapa memar di wajahnya, Alora dan Cassie yang sudah di dalam lift melihat Aksan lalu mereka tersenyum untuk menyapa Aksan
"Ada apa dengan wajahnya?" Cassie berbisik kepada Alora, Alora menggeleng tentu saja dia tidak tahu
"Pagi san" Sapa seorang temannya begitu Aksan keluar lift
"Pagi"
"Ehh, kenapa muka lo?" Tanya temannya begitu melihat wajah Aksan
"Kecelakaan!" Jawab Aksan singkat lalu dia segera bergegas menuju ruangannya, setelah melihat Aksan di ruangannya Cassie langsung menghampiri Alora yang berjalan menuju mejanya setelah mengambil air minum
"Al, lo ga penasaran?"
"Soal?"
"Aksan!"
"Kenapa wajahnya bisa luka-luka gitu" Cassie memperjelas maksudnya
"ahh lo khawatir hendri pelakunya?!" Alora mulai mengerti kekhawatiran Cassie
"Lo bener, gue nggak mengenal Hendri dengan baik. Gue takut kalo dia ngelakuin hal gila termasuk menghajar Aksan"
"Alora, ayo weekly!" Aksan tiba-tiba memanggil Alora untuk memulai weekly mereka di tengah pembicaraan Alora dengan Cassie
"Okee!" Jawab Alora, dia mengambil laptop, buku catatan dan penanya, tak lupa juga botol minumnnya
"nanti kita lanjutkan, okeey?" Cassie mengangguk dan Alora segera bergegas menuju ruang rapat tim nya yang tepat berada di sebelah ruangan Aksan sementara itu Cassie juga segera bergegas untuk menghaditi menghadiri weekly tim nya. Selama satu jam lebih Cassie berada di tengah rapat tim nya namun pikirannya tak berada di ruangan itu beberapa kali dia juga salah menjelaskan perkembangan progress pekerjaannya beruntung dia segera sadar dan memperbaiki penjelasannya kembali dan tepat di jam 9 weekly tiap tim harus selesai dan saat itulah Cassie segera mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya
"lo lagi ada masalah?" Tanya seorang teman yang duduk di sebelah Cassie
"Lagi banyak pikiran aja!"
"Ohh oke! Gue balik ke meja duluan" pamitnya
"Oke!" Jawab Cassie lalu dia mengetik sebuah pesan di ponselnya
"Lo apa-apaan tiba-tiba nyerang Aksan?!" Dengan ragu dia mengirim pesan itu kepada Hendri, dia tak yakin Hendri melakukan itu tetapi dia mencoba untuk memprovokasi mantannya itu
__ADS_1
"Wahh wahh! Cupu juga dia ngadu ke lo!" Cassie langsung mendapat balasan dari Hendri
"Sialan!" Hardik Cassie, cukup keras beruntung sudah tidak ada orang lain di ruangan itu
***
"Jadi beneran Hendri pelakunya?" Tanya Alora, begitu selesai mendengarkan cerita Cassie, Cassie yang melihat Alora sedang bersiap-siap untuk pulang segera menghampirinya, hari ini dia memutuskan untuk pulang bareng Alora setelah selesai melewati masa-masa kritis di timnya akhirnya dia bisa kembali pulang tepat waktu di jam 5 sore dan bukan hanya mereka yang sudah siap untuk pulang beberapa orang sudah berpamitan untuk pulang lebih dulu dan mereka terlihat bersemangat mungkin karena besok weekend
"yap! Dan gue belum sempat minta maaf sama Aksan, tiap kali gue mau ngomong selalu aja ada halangan di tambah hari ini seharian dia keliatan sibuk banget"
"terus gimana? Apa nggak lo pindah ke kost gue aja?!" Alora merasa khawatir lagi dengan Cassie setelah mendengar betapa gila mantannya itu, Cassie menatap Alora tak mengerti dengan maksudnya itu
"dia menghajar Aksan, bisa saja dia melakukan hal gila lainnya ke lo! Apalagi dia tahu kostan lo" Alora menjelaskan kekhawatirannya
"lo bener tapi sekarang masalah utamanya gimana gue minta maaf ke Aksan!"
"hmm, atau lo tunggu dia pulang kerja dan jelasin semuanya. Gue temenin lo tapi setelah itu lo nginep lagi di kostan gue, gimana?" Cassie melihat ke arah ruangan Aksan setelah mendengar ide Alora dan disana dia melihat Aksan masih terpaku dengan laptop di hadapannya
"lo gapapa nemenin gue?"
"Ayoo kita tunggu di lobby aja! Sekalian gue pengen ngemil!" Alora segera menggandeng tangan Cassie dan bergegas menuju lift beruntung lift langsung terbuka begitu mereka menekan tombol lantai 1 sehingga mereka tak perlu menunggu lama begitu tiba di lobby mereka melihat Allen dengan segelas kopi di mejanya dan tablet di tangannya di cafe lobby itu
"Entah lebih rumit atau lebih masuk akal"
"hah?"
"yuk, lo pesen minum duluan! Gue ada yang perlu dibicarain" Alora segera bergegas menghampiri Allen yang masih belum sadar dengan kehadiran Alora sementara itu Cassie mengikuti Alora di belakang namun dia lurus menuju kasir untuk memesan minuman dan beberapa makanan, dia juga mengeluarkan ponselnya, mengetikan sesuatu disana
"Bisa bicara sebentar? Di lobby cafe" dia juga segera mengirim pesan kepada Aksan, meminta waktunya untuk mengobrol sebentar
"Datang untuk menagih jawaban?" Alora langsung duduk di hadapan Allen, Allen yang melihat Alora sudah berada di hadapannya segera mematikan tablet juga melepaskan earphonenya
"Udah ada jawaban?"
"hmm, sampai kapan?" Tanya Alora ragu-ragu
"hem?" Allen tak mengerti maksud Alora
"Pernikahannya, sampai kapan?" Alora memperjelas maksudnya
__ADS_1
"Selamanya" Jawab Allen tanpa ragu
"hah?" Alora mengernyitkan dahinya tak percaya dengan apa yang didengarnya
"lo gila ya?! Lo mau pura-pura nikah seumur hidup lo?"
"Pura-pura nikah? Bentar, lo pikir gue ngajak lo untuk nikah itu cuman nikah pura-pura atau bohongan?"
"ya iyalah!" Allen terdiam untuk beberapa detik lalu menatap Alora dan tiba-tiba dia tersenyum
"kenapa lo?" Alora merasa aneh dengan ekspresi Allen
"gue nggak ngajak nikah bohongan! Pernikahan yang gue maksud, Pernikahan beneran artinya pernikahan seumur hidup" Allen memberikan penjelasan kepada Alora, penjelasan yang membuat Alora semakin bingung
"kenapa?"
"kenapa apanya?"
"kenap lo mau nikah sama gue seumur hidup?! Lo... nggak beneran jatuh cinta sama g-ue kan?"
"hahh! Lo..." Allen terhenti karena tertawa, entah bagaimana Allen merasa perkataan Alora sangat konyol
"Lo bisa kurangin narsistik lo?!"
"Ya terus kenapa?"
"Karena gue ngerasa lo takdir gue"
"atas dasar apa?!"
"Lo dan gue, membutuhkan satu sama lain"
"Gue..."
"Lo dan gue, terlalu memiliki banyak kebetulan. Jawab gue, apa namanya kalo bukan takdir?!" Allen menatap Alora, tatapan yang tak dimengerti Alora
"Menikah? Seumur hidup dengan orang yang bahkan nggak gue kenal?" Kini Alora mulai kebingungan lagi, setelah semalaman Alora memikirkannya kini Alora harus berpikir ulang tentang keputusannya untuk menyetujui pernikahan yang Allen maksud. Awalnya Alora hanya berpikir kalo itu hanya pernikahan bohongan semacam pernikahan kontrak tapi siapa yang sangka bahwa yang Allen maksud pernikahan sungguhan, seumur hidup bagi Alora itu terlalu lama
"hei?!" Allen memukul pelan meja mencoba untuk menyadarkan Alora dari lamunannya
__ADS_1