Trust In Timing

Trust In Timing
I do my best


__ADS_3

"Jadi apa katanya?" Cassie menghampiri Alora yang sedang bersiap-siap hendak pulang


"Siapa?"


"your boyfriend!" Cassie tersenyum menggoda Alora


"Cassie!!!" Alora memasang wajah serius


"Bercanda ah! Serius amat" Cassie langsung merasa ciut setelah melihat Alora yang tampak tak menyukai candaanya, bahkan terlihat membencinya


"Jangan pernah bercanda soal itu lagi!" Alora masih terlihat serius


"Okeoke, sorry yaa!" Cassie tersenyum namun Alora langsung melangkah pergi telah siap untuk pulang


"Aloraaa" Cassie mengejar Alora yang meninggalkannya menuju lift


"Lo beneran marah?" Alora menggeleng


"Yang penting jangan lo ulangi!" Cassie mengangguk


"Jadi apa katanya pas lo samperin?"


"Nggak gue samperin"


"bukannya tadi lo pergi pas maksi?" Alora menggeleng


"Gue putuskan untuk mengabaikannya"


"Ckkk... menurut lo itu nggak bakal jadi masalah?"


"Masalah apa? Itu hak gue mau ketemu atau nggak"


"Gimana kalo dia membuat lebih banyak keributan?" Alora terdiam mencoba memikirkan perkataan Cassie


"Keributan?"


"Hal gila lainnya, tak ada yang tahu!" Cassie mencoba memperingatkan Alora


"Gue--nggak perduli!" Meski merasa ragu Alora berusaha terlihat tenang


"Okeey! Tapi gimana kalo dia masih nungguin lo?!"


"Dia pasti udah gila! Lagian emangnya dia bisa nungguin gue selama itu kecuali kalo dia pengangguran" Mereka akhirnya tiba di lantai 1, begitu lift terbuka mereka segera keluar kemudian berjalan melewati mesin akses masuk dan keluar dengan melakukan tap id card

__ADS_1


"dia sungguh gila Alora!" Cassie terhenti karena melihat Allen yang berdiri di depan mobilnya saat mereka sudah di depan pintu keluar


"Sial!" Kutuk Alora saat melihat Allen yang kini sudah menatapnya


"Apa pengangguran akan membawa tesla x plaid?" Tanya Cassie setelah selesai mengamati mobil mewah di belakang Allen


"Belum tentu miliknya!"


"apa dia berani bersandar jika bukan miliknya?"


"Apa itu penting Cassie?"


"Tidak!" Cassie segera menjawab tak ingin membuat Alora semakin kesal


"Ayo!" Alora berjalan menggandeng tangan Cassie


"Lo mau nyamperin?"


"Menurut lo gue segila itu?"


"Tentu tidak!"


"Benar! Gue ga segila itu! Ayo kita pergi!"


"Tentu, tinggalkan saja dia!" Cassie segera menjawab pertanyaannya sendiri tak ingin membuat Alora kesal lagi. Mereka berjalan lebih cepat berusaha menghindari Allen


"Alora!" Allen berteriak dan berjalan menghampirinya namun Alora mengabaikannya dan semakin mempercepat langkahnya


"Apa dia perlu menghindar begitu?" Allen terlihat bingung melihat Alora yang berjalan semakin cepat dan ini pertamakalinya dia merasa diabaikan


"Oke! Gue nggak mungkin nyerah, kita lihat saja hal terbaik apa yang bisa gue lakukan!" Allen tersenyum tipis merencanakan hal gila lainnya sembari menatap Alora yang semakin menjauh


"Aloraa, udah! Dia ga ngejar kok!" Cassie berhenti setelah menyadari mereka sudah semakin jauh dari Allen, Alora juga berhenti, dia melihat ke belakangnya dan benar saja Allen sudah tak terlihat, Alora langsung melepaskan tangan Cassie dan kini dia mulai merasa lebih tenang. Mereka langsung berjalan Lagi menuju halte busway dengan lebih santai


"Alora, kok dia tau lokasi kantor lo?" Alora menggeleng


"Gue bahkan gatau dari mana dia tau nama gue"


"hah? Bukannya lo bilang dia ngajak kenalan waktu di perpustakaan?"


"iya, dan gue gamau kenalan"


"terus gimana caranya dia bisa tau ya?"

__ADS_1


"Entahlah!"


"dia tau nama lo tapi lo..."


"Allen" Alora memotong dan Cassie kini menatapnya


"Allen namanya! Gue tau nama dia"


***


Pagi hari yang cerah, tak seperti biasanya pagi ini Allen membuka gorden di kamarnya dan membiarkan matahari pagi menyinari kamarnya. Allen juga terlihat lebih bersemangat pagi ini, dia berbegas olah raga dengan berlari mengelilingi kompleks perumahaannya begitu alarmnya berbunyi pada pukul 05.30 dan kini dia sedang menyantap sarapan paginya sembari memeriksa beberapa pekerjaan di tabletnya.


"Alo-ra" Allen tiba-tiba terpikir Alora saat memandang langit usai menghabiskan sarapannya, entah kenapa akhir-akhir ini Alora terus mengganggu pikirannya, dia bahkan membuatnya harus memikirkan berbagai cara hanya untuk berdiskusi dengannya, begitu Allen menyebutnya, berdiskusi. Allen yang biasanya tak punya waktu untuk mengurusi hal yang dianggapnya tidak penting kini dia terlibat di dalamnya, kini dia sendiri yang mengurusi hal yang katanya tidak penting. Beberapa rencana telah disiapkannya untuk memaksa Alora agar mau berbicara dengannya. Tepat pukul 07.10 Allen terlihat sudah siap untuk menjalankan aksinya, dia berangkat menuju kantor Alora setelah memastikan semua rencananya sudah siap.


Sementara itu, Alora yang tak tahu apa-apa sedang berjuang dengan kemacetan Jakarta untuk menuju kantornya, pagi ini Alora berangkat lebih pagi karena akan ada meeting dengan tim nya dan setelah kurang lebih 10 menit akhirnya busway yang ditumpangi Alora berhasil keluar dari kemacetan dan dalam waktu 5 menit kini dirinya sudah sampai di halte tujuannya dan untuk selanjutnya dia akan berjalan kaki menuju kantornya. Alora berjalan sembari menikmati musik dengan earphonenya, dia sama sekali tak tahu bahwa di depannya ada Allen sudah menunggu dirinya. Alora yang melihat keramaian di depan gedung kantornya berhenti melangkah, dua buah food truck terlihat ramai pelanggan namun bukan itu yang menarik perhatiannya, ada namanya di kedua food truck itu


"Ayo kita berbicara, Alora" dan "Kita butuh solusi jadi mari kita berdiskusi" Alora menghela napas setelah membaca kedua tulisan itu lalu dia mulai mencari sumber masalahnya dan ya disana dia, pria dengan kemeja biru langit dipadukan dengan celana hitam dan sandal yang tengah menatap Alora seolah tak perduli dengan banyaknya wanita yang sedang menatap ke arahnya. Meskipun Alora sangat membencinya tapi dalam hatinya Alora mengakui bahwa Allen terlihat menawan dan hal itu yang membuat dirinya kini menjadi pusat perhatian terutama di mata wanita. Meski enggan Alora akhirnya menghampiri Allen


"Bravo! What's are you doing?!"


"I do my best!" Allen tersenyum, senyum yang membuat dirinya terlihat semakin tampan


"Okee! Ayo kita bicara!" Pikir Alora mungkin ini satu-satunya cara untuk menghentikan semua kegilaan yang Allen buat dan akhirnya dia harus mengalah dan membiarkan Allen menang.


"Oke, 18.30 gue jemput"


"Gue bisa dateng sendiri!"


"The Hermitage" Allen menentukan lokasinya


"Ok, bisa lo bereskan semua kekacauan ini?!"


"Lo mau ngebubarin mereka yang udah ngantri?" Tanya Allen setelah melihat antrian di kedua food truck yang disiapkannya


"Awas kalo bikin ulah lagi!" Alora mengancam lalu bergegas pergi meninggalkan Allen tanpa menjawab pertanyaanya. Sementara Allen dia juga langsung bergegas dengan mengendarai mobil mewahnya keluar dari area gedung kantor Alora


"Starbucks di pagi hari Alora? Dia pasti sangat mencintaimu" Alora hanya tersenyum menanggapi omongan beberapa temannya dan dengan kekesalannya Alora langsung melepaskan banner yang tertulis namanya di sisi salah satu food truck itu, aksinya cukup menarik perhatian


"Food truck ini untuk saya jadi saya berhak memilih untuk melepaskan banner ini" Alora menunjukan id card nya dan segera memberi alasan atas aksinya saat seorang pegawai food truck itu menghampirinya


"kalian bisa tanyakan pada orang itu!" Alora menunjuk seorang pria dengan kacamata hitam yang duduk manis di bangku pelanggan sembari mengawasi mereka, staff itu menanti jawaban dari pria itu dan tak butuh waktu yang lama dia mengangguk dan Alora berjalan menuju food truck kedua untuk melakukan hal yang sama yaitu merobek banner yang juga tertulis namanya, dia membawa kedua banner itu menuju tong sampah dan langsung melemparkannya


"Dasar gila! Manja pula! Untuk apa masih mengutus body guard"

__ADS_1


__ADS_2